Dasar/landasan pendidikan dalam islam

Makalah Dasar/landasan pendidikan dalam islam

BAB I

PENDAHULUAN

Ditinjau dari sila pertama dari dasar negara kita yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, yang memberikan kesempatan untuk rakyatnya melaksanakan ajaran agamanya masing-masing, maka model sistem Pendidikan yang dikemukakan ini adalah model sistem pendidikan yang ditinjau dari sudut Agama Islam.

Dalam Islam, peran ibu sangat penting, karena ia adalah pelahir manusia pembina dan pengurus generasi. Nabi mengatakan bahwa ibu adalah tempat pendidikan anaknya. Menyiapkan ibu dengan baik sama dengan menyiapkan suatu bangsa yang mempunyai moral yang baik.

Pendidikan dalam keluarga harus mengacu pada pendidikan agama sehingga menampakkan kondisi moral yang terpuji. Pendidikan agama di dalam keluarga yang sekarang ini dilaksanakan, pada umumnya adalah pendidikan tentang pelaksanaan ritual peribadatan, sedangkan tingkah laku para anggotanya dibiarkan mengikuti keadaan zaman walaupun seringkali bertentangan dengan aturan agama.

Pendidikan agama haruslah mengacu pada perbuatan beribadah, yaitu menyerahkan diri kepada Allah, dengan konsekuensi rela melakukan semua perbuatan demi Allah dan sesuai dengan ketentuan Allah. Allah memberikan aturan dalam kehidupan manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat dengan memberikan aturan-aturan pada setiap langkah. Langkah yang dilakukan dari bangun tidur sampai menjelang tidur, begitu juga dalam perbuatan yang berhubungan dengan lingkungan, baik dalam menuntut ilmu maupun dalam bekerja dan mengabdi pada negara.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Arti, Dasar, dan Tujuan Pendidikan Islam

1. Pengertian Pendidikan.

Pendidikan adalah suatu aktivitas untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia yang berjalan seumur hidup. Dengan kata lain pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi berlangsung pula di luar kelas. Pendidikan bukan bersifat formal saja, tetapi mencakup pula yang non formal.

Sejalan dengan penentuan prioritas bidang pembangunan, lebih-lebih pada bidang yang bersifat material, maka terdapat kecendrungan dalam pendidikan untuk menjejalkan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan bidang material tersebut. Kecenderungan ini sebenarnya bertujuan baik. Ia bermaksud menyesuaikan diri dengan iklim pembangunan dan kemajuan teknologi. Ia juga bermaksud memenuhi kebutuhan tenega-tenaga yang masih sangat kurang pada bidang-bidang tersebut. Akan tetapi karena bahan-bahan yang diberikan bersifat ekstern dari inti kepribadian manusia, dengan sendirinya ciri pendidikan yang sangat nampak hanyalah lebih bersifat pengajaran. Sedangkan menurut Charles E. Siberman bahwa pendidikan tidak identik dengan pengajaran yang hanya terbatas pada usaha mengembangkan intelektualitas manusia. Tugas pendidikan bukan melulu meningkatkan kecerdasan, melainkan mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia. Pendidikan merupakan sarana utama untuk mengembangkan kepribadian setiap manusia. Pendidikan agama tentunya mempunyai fungsi dan peran yang lebih besar daripada pendidikan pada umumnya, lebih-lebih yang hanya menitikberatkan pada aspek kognitf semata.

Secara umum pendidikan dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk menbina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dengan demikian, bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat, di dalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. Oleh karena itu sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang peradaban umat manusia. Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha manusia melestarikan hidupnya. Pendidikan diartikan juga sebagai proses timbal balik dari tiap pribadi manusia dalam menyesuaikan dirinya dengan alam, dengan teman, dan dengan alam semesta.

Pendidikan adalah proses, dalam mana potensi-potensi ini (kemampuan, kapasitas) manusia yang mudah dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan supaya disempurnakan oleh kebiasaan-kebiasaan yang baik, oleh alat/media yang disusun sedemikian rupa dan dikelola manusia untuk menolong orang lain atau dirinya sendiri mencapai tujuan yang ditetapkan.

Dalam hal ini Dosen FKIP Malang menyimpulkan pengertian pendidikan adalah :

a. Aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya rohani (pikir, rasa, karsa, cipta dan budi nurani) dengan jasmani (panca indera serta keterampilan-keterampilan).

b. Lembaga yang bertanggung jawab menetapkan cita-cita (tujuan) pendidikan, isi, sistem dan organisasi pendidikan.

Lembaga-lembaga ini meliputi : keluarga, sekolah dan masyarakat (negara).

c. Hasil atau prestasi yang dicapai oleh perkembangan manusia dan usaha lembaga-lembaga tersebut dalam mencapai tujuannya. Pendidikan dalam arti ini merupakan tingkat kemajuan masyarakat dan kebudayaan sebagai satu kesatuan.

Dari rumusan ini masih banyak terlihat keumuman pengertian pendidikan. Pembentukan pribadi misalnya belum memberi gambaran konsep kepribadian model yang mana. Demikian juga perkembangan manusia yang dikehendaki nketerpaduannya dengan kemajuan masyarakat dan hasil budaya, belum menunjukan adanya kualifikasi tertentu.

2. Analisa Tentang Dasar-Dasar Pendidikan Islam.

Sebagai aktivitas yang bergerak dalam bidang pendidikan dan pembinaan kepribadian, tentunya pendidikan Islam memerlukan landasan kerja untuk memberi arah bagi programnya. Sebab dengan adanya dasar juga berfungsi sebagai sumber semua peraturan yang akan diciptakan sebagai pegangan langkah pelaksanaan dan sebagai jalur langkah yang menentukan arah usaha tersebut.

Dasar pelaksanaan pendidikan Islam terutama adalah Al-Quran dan Al-Hadits. Dalam Al-Quran, surat Asy-Syura, ayat 52 :

Artinya :

“Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Quran) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al kitab (Al-Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al-Quran itu cahaya yang kami beri petunjuk dengan dia siapa yang kamikehendaki di antara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalannya yang benar”.

Hadits Nabi Muhammad SAW yang artinya :

“Sesungguhnya orang mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak dan taat kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya, serta menasihati pula akan dirinya sendiri, menaruh perhatian serta mengamalkan ajarn-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memoleh kemenangan ia”

Dari ayat Al-Quran dan Hadits Nabi di atas dapat diambil titik relevansinya dengan atau sebagai dasar pendidikan agama, mengingat :

1. Bahwa Al-Quran diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk ke arah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk ke arah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk ke arah jalan yang diridhoi Allah SWT.

2. Menurut Hadis Nabi, bahwa di antara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan Islam.

3. Al-Quran dan Hadis tersebut menerangkan bahwa Nabi adalah benar-benar pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan Islam.

Prof. Dr. Moh. Athiyah al-A brasyi dalam bukunya “Dasar-dasar pokok Pendidikan Islam” menegaskan bahwa pendidikan agama adalah untuk mendidik akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadilah (keutamaan), membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya ikhlas dan jujur.

Bagi umat Islam maka dasar agama Islam merupakan fondasi utama dari keharusan berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran-ajaran Islam bersifat Universal yang mengandung aturan-aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dalam hubungan-hubungannya dengan khaliqnya yang diatur dalam ubudiyah, juga dalam hubungannya dengan sesamanya yang diatur dalam muamalah, masalah berpakaian, jual-beli, aturan budi pekerti yang baik dan sebagainya.

Urutan prioritas pendidikan Islam dalam upaya pembentukan kepribadian muslim, sebagaimana diilustrasikan berturut-turut dalam Al-Quran surat Luqman, mulai ayat 3 dan seterusnya adalah :

(1) Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT.

               

Artinya :

“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya. Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar”. (Luqman ayat 13)

Pendidikan yang pertama dan utama untuk dilakukan adalah pembentukan keyakinan kepada Allah yang diharapkan dapat melandasi sikap, tingkah laku dan kepribadian anak didik.

(2) Pendidikan Akhlaqul Karimah.

Sejalan dengan usaha membentuk dasar keyakinan/keimanan maka diperlukan juga usaha membentuk akhlak yang mulia. Berakhlak yang mulia adalah merupakan modal bagi setiap orang dalam menghadapi pergaulan antara sesamanya.

Firman Allah SWT :

   ••  •   •  •    •   

Artinya :

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.

(Luqman : 18).

(3) Pendidikan Ibadah.

Ibadah yang secara awam diartikan sesembahan, pengabdian, sebenarnya adalah istilah yang paling luas dan mencakup tidak hanya penyembahan, tetapi juga berhubungan dengan tingkah laku manusia meliputi kehidupan. Yang paling beradab, dari segi pandangan spiritual, adalah mereka yang mematuhi dengan sangat rapat kemauan Allah SWT, di dalam semua perbuatan-perbuatan mereka.

Islam memandang untuk manusia suatu tata tertib untuk kehidupannya sebagai suatu keseluruhan, baik material maupun spiritual. Upaya untuk ini Islam memberikan aturan-aturan peribadatan, sebagai manifestasi rasa syukur bagi makhluq terhadap khaliqnya.

4. Analisa Tentang Tujuan Pendidikan Islam.

Tujuan adalah dunia cita, yakni suasana ideal yang ingin di wujudkan. Dalam tujuan pendidikan suasana ideal itu nampak pada tujuan akhir (ultimate aims of education). Tujuan akhir biasanya dirumuskan secara padat dan singkat, seperti terbentuknya kepribadian muslim. Dan kematangan integritas – kesempurnaan – pribadi.

Sebagai dunia cita, kalau sudah ditetapkan, ia adalah idea statis. Tetapi sementara itu kualitas dari tujuan itu adalah dinamis dan berkembang nilai-nilainya. Lebih-lebih tujuan pendidikan yang di dalamnya sarat dengan nilai-nilai yang bersifat fundamental, seperti: nilai-nilai sosial, nilai ilmiah, nilai moral dan nilai agama. Di sini kiranya orang berkeyakinan bahwa pendidikan menyimpan kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan keseluruhan aspek lingkungan hidup dan dapat memberi informasi yang paling berharga mengenai pegangan hidup masa depan dunia, serta membantu anak-anak didik dalam mempersiapkan kebutuhan yang esensial untuk menghadapi perubahan.

Tujuan pendidikan dalam bentuk taksonomi (sistem klasifikasi) dapat dirinci sebagai berikut :

1. Pembinaan kepribadian (nilai formil).

- sikap (attitude).

- daya pikir praktis rasional.

- obyektivitas.

- loyalitas kepada bangsa dan ideologi.

- sadar nilai-nilai moral dan agama.

2. Pembinaan aspek pengetahuan (nilai materill), yaitu materi ilmu itu sendiri.

3. Pembinaan aspek kecakapan, keterampilan (skill) nilai-nilai praktis.

4. Pembinaan jasmani yang sehat.

2.2 Pendidikan Dan Pengajaran Tauhid

Pendidikan dan pengajaran merupakan hal yang pertama dan utama usaha manusia untuk mencerdaskan bangsanya dan sekaligus mempertinggi cita-cita bangsanya, akan tetapi pendidikan dan pengajaran Tauhid lebih dari itu, ia juga dapat menuntun orang mencapai kebahagiaan hidup di akhirat kelak.

Pendidikan Tauhid dimaksudkan adalah membimbing anak didik agar mempunyai jiwa tauhid, melalui bimbingan tidak hanya dengan lisan dan tulisan, akan tetapi juga melalui sikap, tingkah laku dan perbuatan. Segala tingkah laku, perbuatan dan perkataan orang tua atau guru adalah termasuk pekerjaan mendidik.

Pengajaran Tauhid dimaksudkan adalah memberikan pengertian tentang ketauhidan baik ia sebagai akidah yang wajib diyakini atau tauhid sebagai filasafat hidup manusia yang akan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.

Pendidikan dan pengajaran Tauhid, baik yang berhubungan dengan akidah atau ibadah, akan menanamkan keikhlasan dalam mengabdi kepada Allah. Keikhlasan mengabdi kepada Allah inilah yang membuat Tauhid laksana pisau bermata dua, satu segi untuk kehidupan di akhirat dan segi lain untuk kehidupan di dunia ini.

Usaha-usaha pendidikan dan pengajaran Tauhid harus dimulai sejak anak didik lahir ke dunia ini, anak adalah amanah Allah kepada orang tuanya. Fitrah anak yang mempercayai adanya Allah SWT. Harus disalurkan dengan sewajarnya, di bimbing dan diarahkan kepada rasa iman kepada Allah dan mencintai-Nya pula.

Proses pendidikan dan pengajaran tauhid harus dimulai sejak lahir anak ke dunia ini. Bukankah kehadiran seorang bayi ke dunia ini supaya didengungkan suara adzan sebagai pertanda pendidikan dan pengajaran tauhid telah dimulai.

“Sesungguhnya telah adzan Rasulullah saw. Pada telinga Husein (cucu beliau) ketika Husein baru dilahirkan – oleh Fatimah.” (Riwayat Ahmad dan Turmudzi).

Usaha-usaha pemupukan rasa iman sebagai fitrah manusia itu harus sungguh-sungguh mendapat perhatian orang tua/pengasuh, agar dapat bertumbuh dan berkembang dengan wajar. Usaha-usaha pemupukan rasa iman itu melalui dalam tiga proses, yaitu pembiasaan, pembentukan pengertian dan akhirnya pembentukan budi luhur.

Dalam taraf pembentukan pembiasaan, meliputi masa vital, masa anak-anak dan sebahagian masa sekolah. Dalam taraf pembiasaan ini hanya berupa pembiasaan pengenalan terhadap rasa iman kepada Allah dan adanya Allah.

Pada taraf ini anak dapat diumpamakan sebagai bibit tanaman yang baru bertumbuh, maka ia memerlukan pemeliharaan yang serius dari gangguan-gangguan yang dapat mematikan tanaman yang baru tumbuh itu, memerlukan siraman, perlindungan dari panas matahari dan sebagainya.

Anak mengenal Allah dengan perantaraan apa yang dilihat dan didengarnya dari lingkungan, mula-mula diterimanya secara acuh tak acuh, akan tetapi tatkala ia melihat atau mendengar lingkungan keluarganya menganggumi Allah, maka terjadilah pengalaman agamis dalam dirinya.

Anak pada permulaan sekolah, pembiasaan diperlukan peragaan-peragaan pengenalan kepada Allah – lebih baik secara spontan – yang dapat dilihat atau didengar anak seperti mengucapkan basmallah, shalat, mendo’a, mengucapkan salam bila bertemu sesama keluarga, mengucapkan syukur dan sebagainya.

Pada permulaan sekolah anak belum dapat menyerap pemikiran maknawy, pemikiran masih terbatas pada persoalan yang nyata dan suka meniru. Maka kesukaan meniru ini perlu dimanfaatkan dan diarahkan pada pengenalan kepada Allah.

Pada tahap pembentukan pengertian, meliputi pada masa sekolah sampai menjelang remaja. Ada suatu hal yang perlu diperhatikan pada anak usia menjelang usia sekolah yaitu anak suka berkhayal, karenanya kekhayalannya itu perlu mendapat penyaluran pada pengenalan kepada Allah, antara lain seperti mukjizat, malaikat dan sebagainya.

Masa remaja adalah masa peralihan dan persiapan untuk dewasa, ia bukan anak-anak lagi akantetapi dewasa pun belum matang pula. Masa remaja bagaikan pohon yang kita tanam mengalami hembusan angin dan tidak jarang pohon itu tumbang bila akar-akarnya tidak kuat

Menjelang usia baligh, anak diarahkan pada penginsafan tentang kenyataan, mengerti dan menyadari bahwa segala apa saja yang ada di dunia ini adalah makhluk Allah, semuanya diciptakan oleh Allah.

Apabila pertumbuhan dan perkembangan pengenalan kepada Allah itu berjalan dengan baik dan lancar, segala kebiasaan yang baik jadi amalannya., maka dalam usia remaja akan terbentuklah rasa iman kepada Allah dengan mendalam dan lebih di sempurnakan lagi pada usia dewasa yang dimatangkan dengan pendidikan dan pengajarannya atau pengalamannya.

Dari uraian di atas nyatalah bahwa lingkungan keluarga besar sekali perannya dalam pendidikan anak pada umumnya dan pendidikan agama khususnya. Pendidikan dan pengajaran dalam lingkungan keluarga itu akan lebih berhasil lagi bila tidak mengalami halangan dan rintangan antara lain seperti keutuhan struktur keluarga dan keutuhan interaksi antara sesama anggota keluarga.

Peranan utama pendidikan keluarga adalah ibu, ibu sebagai pendidik utama dalam lingkungan keluarga, tidak dapat digantikan oleh orang lain, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan rohani. Ibu mendidik anknya atas dasar kasih sayang yang dalam. Nilai ASI sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pisik dan mental anknya, hubungan ibu dan anak dalam menyusui yang disertai pelukan dan belaian sayang akan menghadirkan rasa aman dan nyaman dalam diri anak. Oleh karena itu peranan ibu dalam pendidikan keluarga, hendaknya perlu dimanfaatkan dan diarahkan pada penanaman ajaran ketauhidan kepada Allah. Karena ajaran tauhid adalah ajaran pokok dalam agama yang menentukan masa depan seseorang sebagai muslim atau sebaliknya menjadi kafir.

2.3 Dasar / Landasan Pendidikan Islam

Sebagai suatu agama, Islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan kompherhensif dibandingkan dengan agama-agama lainnya yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya. Sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman atau hingga hari akhir. Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut adalah al Qur’an dan al Sunnah. Sebagai sumber ajaran, al Qur’an sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan pengajaran.

Demikian pula dengan al Hadist, sebagai sumber ajaran Islam, di akui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Nabi Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup ( long life education ). Dari uraian diatas, terlihat bahwa Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya bersumber pada al- Qur’an dan al Hadist sejak awal telah menancapkan revolusi di bidang pendidikan dan pengajaran. Langkah yang ditempuh al Qur’an ini ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini di akui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan, serta dari ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya.

Dasar pelaksanaan Pendidikan Islam terutama adalah al Qur’an dan al Hadist Firman Allah :

“ Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benarbenar memberi petunjuk kepada jalan yang benar ( QS. Asy-Syura : 52 )”

Dan Hadis dari Nabi SAW :

“ Sesungguhnya orang mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya, serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan ia”

Dari ayat dan hadis di atas tadi dapat diambil kesimpulan :

1. Bahwa al Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kearah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang diridloi Allah SWT.

2. Menurut Hadist Nabi, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan Islam.

3. Al Qur’an dan Hadist tersebut menerangkan bahwa nabi adalah benar-benar pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan Islam.

Bagi umat Islam maka dasar agama Islam merupakan fondasi utama keharusan berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran Islam bersifat universal yang kandungannya sudah tercakup seluruh aspek kehidupan ini. Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya.

Corak pendidikan itu erat hubungannya dengan corak penghidupan, karenanya jika corak penghidupan itu berubah, berubah pulalah corak pendidikannya, agar si anak siap untuk memasuki lapangan penghidupan itu. Pendidikan itu memang suatu usaha yang sangat sulit dan rumit, dan memakan waktu yang cukup banyak dan lama, terutama sekali dimasa modern dewasa ini. Pendidikan menghendaki berbagai macam teori dan pemikiran dari para ahli pendidik dan juga ahli dari filsafat, guna melancarkan jalan dan memudahkan cara-cara bagi para guru dan pendidik dalam menyampaikan ilmu pengetahuan dan pengajaran kepada para peserta didik.

Kalau teori pendidikan hanyalah semata-mata teknologi, dia harus meneliti asumsi-asumsi utama tentang sifat manusia dan masyarakat yang menjadi landasan praktek pendidikan yang melaksanakan studi seperti itu sampai batas tersebut bersifat dan mengandung unsur filsafat. Memang ada resiko yang mungkin timbul dari setiap dua tendensi itu, teknologi mungkin terjerumus, tanpa dipikirkan buat memperoleh beberapa hasil konkrit yang telah dipertimbangkan sebelumnya didalam sistem pendidikan, hanya untuk membuktikan bahwa mereka dapat menyempurnakan suatu hasil dengan sukses, yang ada pada hakikatnya belum dipertimbangkan dengan hati-hati sebelumnya. Sedangkan para ahli filsafat pendidikan, sebaiknya mungkin tersesat dalam abstraksi yang tinggi yang penuh dengan debat tiada berkeputusan,akan tetapi tanpa adanya gagasan jelas buat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang ideal.

Tidak ada satupun dari permasalahan kita mendesak dapat dipecahkan dengan cepat atau dengan mengulang-ulang dengan gigih kata-kata yang hampa. Tidak dapat dihindari, bahwa orang-orang yang memperdapatkan masalah ini, apabila mereka terus berpikir,yang lebih baik daripada mengadakan reaksi, mereka tentu akan menyadari bahwa mereka itu telah membicarakan masalah yang sangat mendasar. Sebagai ajaran (doktrin) Islam mengandung sistem nilai diatas mana proses pendidikan Islam berlangsung dan dikembangkan secara konsisten menuju tujuannya. Sejalan dengan pemikiran ilmiah dan filosofis dari pemikir-pemikir sesepuh muslim, maka sistem nilai-nilai itu kemudian dijadikan dasar bangunan (struktur) pendidikan islam yang memiliki daya lentur normatif menurut kebutuhan dan kemajuan.

Pendidikan Islam mengidentifikasi sasarannya yang digali dari sumber ajarannya yaitu Al Quran dan Hadist, meliputi empat pengembangan fungsi manusia :

1) Menyadarkan secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah-tengah makhluk lain serta tanggung jawab dalam kehidupannya.

2) Menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakatnya.

3) Menyadarkan manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada Nya

Menyadarkan manusia tentang kedudukannya terhadap makhluk lain dan membawanya agar memahami hikmah tuhan menciptakan makhluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada manusia untuk mengambil manfaatnya

Setelah mengikuti uraian diatas kiranya dapat diketahui bahwa Filsafat Pendidikan Islam itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al Qur’an dan al Hadist sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof Muslim, sebagai sumber sekunder. Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan adalah filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya.

D. Tahap-Tahap Tujuan Pendidikan Islam

Abu Ahmadi menyatakan bahwa tahap-tahap tujuan pendidikan Islam meliputi : (1) Tujuan tertinggi/terakhir, (2) tujuan umum, (3) tujuan khusus, dan (4) tujuan sementara.

1. Tujuan Tertinggi/Terakhir

Tujuan ini bersifat mutlak, tidak mengalami perubahan dab berlaku umum, karena sesuai dengan konsep ketuhanan yang mengandung kebenaran mutlak dan universal. Tujuan tertinggi tersebut dirumuskan dalam satu istilah yang disebut “insan kamil” (manusia paripurna).

Dalam tujuan pendidikan Islam, tujuan tertinggi atau terakhir ini pada akhirnya sesuai dengan tujuan hidup manusia, dan peranannya sebagai makhluk ciptaan Allah. Dengan demikian indikator dari insan kamil tersebut adalah :

a. Menjadi Hamba Allah

Tujuan ini sejalan dengan tujuan dan penciptaan manusia, yaitu semata-mata untuk beribadat kepada Allah. Dalam hal ini pendidikan harus memungkinkan manusia memahami dan menhayati tentang tuhannya sedemikian rupa. Sehingga semua peribadatannya dilakukan dengan penuh penghayatan dan kekhusuan terhadap-Nya. Melalui seremoni ibadah dan tunduk senantiasa pada syari’ah dan petunjuk Allah. Tujuan hidup yang dijadikan tujuan pendidikan itu diambil dari Al-Quran.

Firman Allah SWT :

      

Artinya :

“Dan aku (Allah) tidak menjadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku”. (QS. Al-Zhariat :56)

b. Mengantarkan subjek didik menjadi khalifah Allah fi al-Ardh, yang mampu memakmurkan bumi dan melestarikannya dan lebih jauh lagi, mewujudkan rahmat bagi alam sekitarnya, sesuai dengan tujuan penciptaanya, dan sebagai konsekuensi setelah menerima Islam sebagai pedoman hidup.

c. Untuk memperoleh kesejahteraan kebahagiaan hidup di dunia samapai akhirat, baik individu maupun masyarakat.

Selanjutnya firman Allah SWT :

            

Artinya :

“dan carilah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) kampung akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan duniawi”. (Q.S Al-Qashash : 77)

2. Tujuan Umum

Berbeda dengan tujuan tertinggi yang lebih mengutamakan pendekatan filosofis, tujuan umum bersifat empirik dan realistik. Tujuan umum berfungsi sebagai arah yang taraf pencapaiannya dapat diukur karena menyangkut perubahan sikap, perilaku dan kepribadian peserta didik.

Dikatakan umum karena berlaku bagi siapa saja tanpa dibatasi ruang dan waktu, dan menyangkut diri peserta didik secara total.

3. Tujuan Khusus

Tujuan khusus adalah pengkhususan atau operasional tujuan tertinggi/terakhir dan tujuan umum (pendidikan Islam). Tujuan khusus bersifat relatif sehingga dimungkinkan untuk diadakan perubahan dimana perlu sesuai tuntutan dan kebutuhan, selama tetap berpijak pada kerangka tujuan tertinggi/terakhir dan umum itu. Pengkhususan tujuan tersebut dapat didasarkan pada :

a. Kultur dan cita-cita suatu bangsa

Setiap bangsa pada umumnya memiliki tradisi dan budaya sendiri-sendiri. Perbedaan antara berbagai bangsa inilah yang memungkinkan sekali adanya perbedaan cita-citanya. Sehingga terjadi pula perbedaan dalam merumuskan tujuan yang dikehendakinya di bidang pendidikan.

b. Minat, Bakat, dan Kesanggupan Subyek Didik

Islam mengakui perbedaan individu dalam hal minat, bakat, dan kemampuan. Hal itu bisa dilihat dari keterangan-keterangan Al-Quran Al-Karim.

Firman Allah SWT :

Artinya :

“katakanlah : Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar menentukan.”

c. Tuntutan Situasi, Kondisi pada kurun Waktu Tertentu

Apabila tujuan khusus pendidikan tidak mempertimbangkan faktor situasi dan kondisi pada kurun waktu tertentu, maka pendidikan akan kurang memiliki daya guna sebagaimana minat dan perhatian subyek didik;

4. Tujuan Sementara

Tujuan sementara pada umumnya merupakan tujuan-tujuan yang dikembangkan dalam rangka menjawab segala tuntutan kehidupan.

BAB II

PENUTUP

Kesimpulan

Pendidikan adalah suatu aktivitas untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia yang berjalan seumur hidup. Dengan kata lain pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi berlangsung pula di luar kelas. Pendidikan bukan bersifat formal saja, tetapi mencakup pula yang non formal.

Islam dengan sumber ajarannya al Qur’an dan al Hadist yang diperkaya oleh penafsiran para ulama ternyata telah menunjukkan dengan jelas dan tinggi terhadap berbagai masalah yang terdapat dalam bidang pendidikan. Karenanya tidak heran ntuk kita katakan bahwa secara epistimologis Islam memilki konsep yang khas tentang pendidikan, yakni pendidikan Islam.

Demikian pula pemikiran filsafat Islam yang diwariskan para filosof Muslim sangat kaya dengan bahan-bahan yang dijadikan rujukan guna membangun filsafat pendidikan Islam. Konsep ini segera akan memberikan warna tersendiri terhadap dunia pendidikan jika diterapkan secara konsisten.

Namun demikian adanya pandangan tersebut bukan berarti Islam bersikap ekslusif. Rumusan, ide dan gagasan mengenai kependidikan yang dari luar dapat saja diterima oleh Islam apabila mengandung persamaan dalam hal prinsip, atau paling kurang tidak bertentangan.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Gazali, Ihya’ Ulumuddin hal.90

al Ghazali, Ihya Ulumuddin hal. 90
Terima kasih atas waktunya untuk membaca Dasar/landasan pendidikan dalam islam ini, dengan harapan semoga artikel Dasar/landasan pendidikan dalam islam ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Dasar/landasan pendidikan dalam islam terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Dasar/landasan pendidikan dalam islam » Makalah