Selamat Datang di emakalah.com

Semoga Anda dapat menemukan apa yang anda cari,

dan semoga emakalah.com dapat bermanfaat bagi Anda

Untuk keluar dari menu/halaman ini silahkan klik LIKE / SUKA

..

Hadist Persaudaraan

PERSAUDARAAN MUSLIM

Cukup banyak himbauan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk menjalin hubungan persahabatan dan persaudaraan diantara kaum Muslimin, antara lain bisa dilihat misalnya dalam:

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu saling bersaudara” (Q.S. AL-Hujurat 49:10)

Dalam beberapa Hadistnya Rasulullah SAW pun bersabda:

“Janji keselamatan bagi kaum Muslim berlaku atas mereka semua dan mereka semua seia sekata dalam menghadapi orang-orang selain mereka. Barangsiapa melanggar janji keamanan seorang Muslim, maka kutukan Allah, Malaikat dan manusia sekalian tertuju kepadanya dan tidak diterima darinya tebusan atau pengganti apapun pada hari kiamat kelak”.

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Tidak boleh ia menganiaya dan tidak pula membiarkannya dianiaya. Barangsiapa mengurusi keperluan saudaranya sesama Muslim, niscaya Allah akan memenuhi keperluannya sendiri. Dan barangsiapa membebaskan beban penderitaan seorang Muslim, maka Allah akan membebaskan penderitaannya dihari kiamat kelak. Dan barangsiapa menutupi aib seorang Mukmin, maka Allah akan menutupi aibnya dihari kiamat”.

“Hindarkan dirimu dari persangkaan buruk, sesungguhnya yang demikian itu adalah sebohong-bohong perkataan. Jangan mencari aib-aib orang lain, jangan memata-matai, jangan bersaing menawar barang dengan maksud merugikan orang lain, jangan saling menghasut, jangan saling bermusuhan dan jangan saling membenci”.

Anas Bin Malik r.a berkata: Rasulullah SAW, bersabda:

“Kalian jangan saling benci-membenci dan jangan hasud-menghasud, dan jangan belakang-membelakangi, jadilah kalian hamba Allah bagaikan saudara dan tidak dihalalkan seorang Muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga hari. (Bukhori, Muslim)

“Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan tidaklah halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya sesama Muslim lebih dari 3 hari”.

Abbu Ayub Al-Anshari r.a berkata: Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak dihalalkan bagi seorang Muslim memboikot saudaranya lebih dari 3 hari sehingga jika bertemu saling berpaling muka dan sebaik-baik keduanya ialah yang mendahului memberi salam. (Bukhori, Muslim)

Telah diketahui secara pasti bahwa hanya dengan Islam dan beriman secara sungguh-sungguh, seorang hamba dapat meraih puncak keridhoan Allah azza wajalla. Ulama-ulama dari Ahlus – Sunnah bersepakat bahwa hakikat Islam dan Iman adalah pengucapan 2 kalimat syahadat, pembenaran adanya hari kebangkitan, mendirikan sholat 5 waktu karena Allah, melaksanakan ibadah haji bila mampu, berpuasa di bulan Ramadhan serta mengeluarkan zakat.

Bukhori dalam kumpulan Hadistnya telah meriwayatkan beberapa sabda Rasulullah SAW

“Barangsiapa bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, menghadap kiblat kita, mengerjakan sholat kita memakan hasil sembelihan kita, maka ia adalah seorang Muslim. Baginya berlaku hak dan kewajiban yang sama sebagai Muslim lainnya”.

Berdasarkan ayat-ayat Allah dan fatwa Nabi Muhammad SAW diatas, adalah tidak pada tempatnya kita selaku manusia yang mengaku beragama Islam dan mengaku telah beriman secara Kaffah menciptakan suasana rusuh dan mengobarkan semangat perpecahan dikalangan sesama Muslim.

Tidak urung ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist-Hadist Nabi justru dijadikan ujung tombak untuk menghantam lawan bicaranya sesama Muslim, entah itu mereka yang menisbahkan diri dalam jemaah Ahlus – Sunnah, Syi’ah, Muktazillah, Khawarji, Ahmadiyah dan sebagainya.

Tidaklah mereka sadar bahwa yang mereka perdebatkan ini tidak lain adalah sesuatu penafsiran terhadap hal yang sama dalam sudut pandang yang berbeda.

Imam Ali bin Abu Thalib r.a adalah contoh teladan kedua sesudah Rasulullah SAW yang mengajarkan mengenai hakikat persaudaraan sesama Muslim, menghargai keutuhan persatuan umat di bawah panji-panji kebenaran Tauhid.

Beliau menolak mengikuti keinginan sebagian dari pada sahabat untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Khalifah Abu Bakar sepeninggal Rasulullah SAW, dan di saat ia menjabat selaku Khalifah, sikap ini terus dipertahankannya bahkan dalam medan pertempurannya menghadapi gerakan ‘Aisyah pada peristiwa perang Jamal dan disaat menghadapi pemberontakan Muawiyah.

Imam Ali bin Abu Thalib r.a, begitu mengedepankan rasa persaudaraan antar umat Muslim diatas perasaan dirinya pribadi sehingga beliaupun rela mendapat kecaman dari sejumlah orang atas sikapnya yang lunak dengan Muawiyah yang mengakibatkan pecahnya pemberontakan kaum Khawarji sampai terbunuhnya beliau dalam salah satu kesempatan.

Dengan demikian, ehndaklah kiranya kaum Muslimin sekarang ini sudi untuk merenung dan menganalisa secara bijak mengenai perpecahan yang terjadi diantara mereka, perpecahan yang mengarah kepada permusuhan dan kebencian buka satu rahmat namun justru merupakan malapetaka.

Kehormatan seorang Muslim haruslah dijunjung tinggi meskipun mungkin Muslin tersebut memiliki sudut pandang berbeda dengan kita terhadap hal-hal tertentu, ini bukan alasan untuk mengkafirkan mereka apalagi menumpahkan darahnya dengan mengatasnamakan kebenaran.

Diriwayatkan oleh Bukhori dari Abdu Dzar:

“Telah berkata Nabi SAW kepadaku, bahwa malaikant Jibril berkata: Barangsiapa diantara umatmu meninggal dunia dalam keadaan tiada menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka ia akan masuk surga”. Kemudian aku bertanya: “Kendatipun ia pernah berzina dan mencuri?” Jawab Nabi Muhammad SAW: “Ya, walaupun ia pernah berbuat hal itu”.

Hadist diatas ini bukan bertendensikan menghalalkan tindakan kejahatan atas umat Muhammad SAW akan tetapi memiliki orientasi kepada pengagungan harkat dan martabat seorang Muslim.

Diberbagai tempat kita meributkan masalah ke-Khalifahan, orang Syi’ah merasa lebih tinggi dari Ahlus – Sunnah dan sebaliknya kaum Ahli – Sunnah pun tidak jarang malah memperolok-olokkan kaum Syi’ah dan bahkan beberapa diantaranya sampai mengkafirkan mereka hanya karena lebih mencintai ahli Bait Nabi Muhammad SAW dan mengeluarkan kritikkan-kritikkan pedas atas beberapa Muslim generasi awal.

Dikalangan Ahlus – Sunnah terdapat banyak Madzhab yang dipimpin oleh Imamnya masing-masing, diantaranya yang terbesar adalah Imam Hambali, Syafi’i, Maliki dan Hanafi. Ke – 4 Jemaah ini memiliki banyak sekali perbedaan-perbedaan di dalam penafsiran atas ayat-ayat Allah dan juga petunjuk Rasul-Nya, dimulai dari masalah Thaharah, Sholat, Puasa, Nikah, Talak dan seterusnya.

Dibalik beberapa kesamaannya, masing-masing mereka memberikan argumen dari sudut pandang yang berbeda tentang banyak hal yang sama.

Padahal, apabila kita ingin berbicara jujur, perselisihan yang terjadi antar umat Islam dan antar Jemaah maupun Mazhab hanyalah karena masing-masing memiliki penafsiran berbeda tentang Al-Qur’an dan Hadist Rasul, namun apakah hal ini bisa menjadikan satu alasan untuk memberikan vonis kekafiran kepada mereka.

Muslim dalam salah satu Hadist yang meriwayatkannya dari berbagai saluran ada menceritakan:

“Bahwa suatu hari ‘Utban bin Malik al-Anshari mengunjungi Rasulullah SAW dan meminta agar beliau mau singgah kerumahnya dan sholat didalamnya, karena ia ingin menjadikan Musholla. Dalam datu pembicaraan diantara mereka, Nabi menanyakan keberadaan salah seorang dari sahabat ‘Utban yang bernama Malik binAd-Dukhsyun bin Ghunm bin’Auf bin ‘Amr bin ‘Auf yang diketahui sebagai orang yang munafik.

Beberapa sahabat keheranan dan menncoba mengingatkan Nabi bahwa ‘Utban itu adalah orang yang munafik tapi Nabi mengeluarkan jawaban: “Jangan berkata demikian, tidaklah kamu melihatnya telah berucap “La ilaha Illah Allah” semata-mata demi kerodhoan Allah?” diantara para sahabat masih ada yang penasaran dan mencoba kembali mengeluarkan argumennya: “Memang benar ia mengucapkan yang demikian, anmun tidak disertai dengan ketulusan hatinya, sungguh kami sering melihatnya pergi dan berkawan dengan orang-orang munafik”.

Nabi menjawab: “Tiada seorangpun bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa aku adalah Rasul Allah akan dimasukkan ke dalam api neraka atau menjadi umpannya”.

Demikianlah seharusnya kita dalam berpijak, tidak mudah melemparkan tuduhan kepada seseorang atau sekelompok kaum hanya karena berbeda pendapat dengan diri kita, sedangkan bagi orang yang jelas-jelas seperti Malik bin Abd Ad-Dukhsyun saja Rasulullah SAW tidak melemparkan ucapan kekafiran atasnya dan malah mengedepankan rasa baik sangka sebagaimana yang diajarkan oleh Allah.

Kita mungkin sering jengkel dengan penafsiran segelintir Jemaah terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan juga Al-Hadist, mereka memuar balikkan semuanya sekehendak hati mereka sehingga masing-masing merasa bahwa ayat-ayat dan Hadist-Hadist tersebut memperkuat aliran mereka, namun sesuai amanat AL-Qur’an yang demikian tidak berarti harus kita sikapi dengan anarkis dan menghilangkan sudut keobjektifitasan kita.
Terima kasih atas waktunya untuk membaca Hadist Persaudaraan ini, dengan harapan semoga artikel Hadist Persaudaraan ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Hadist Persaudaraan terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Hadist Persaudaraan »