Makalah Muamalah

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT dengan berkat, rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini yang membahas tentang “Muamalah”.

Sholawat serta salam semoga senantiasa dihaturkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, para sahabat dan para pengikutnya sampai di hari kiamat.

Tentunya dalam penulisan makalah ini banyak terdapat kekurangan-kekurangannya tanpa penulis sengaja atau penulis sadari, tetapi penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk meminimalisir kekurangan-kekurangan tersebut. Oleh karena itu sangat diharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun dari forum diskusi ini.

Semoga dengan adanya kritik dan saran tersebut dapat bermanfaat dan menjadi pedoman bagi penulis dalam penyusunan makalah ini pada khususnya dan para pembaca pada umumnya, segala kelebihan hanya milik Allah dan segala kekurangan milik hambanya.

Penulis

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN

Dalam mempelajari ilmu fiqih ada beberapa hal yang penting untuk diketahui dan untuk dipelajari salah satunya adalah mempelajari muamalah dan cabang-cabangnya serta hukum yang terkandung di dalamnya. Karena dengan mempelajari ilmu fiqih maka dapat membantu seseorang dalam memahami apa itu muamalah secara sempurna.

Penugasan ini dilakukan untuk mempelajari dan menambah wawasan dalam pelajaran ilmu fiqih dan merupakan salah satu mata kuliah yang berjudul muamalah dan cabang-cabangnya.

Dalam kesempatan ini kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan memberikan motivasinya. Demikianlah semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

BAB I

“MUAMALAH”

1.1. Jual Beli

Jual beli adalah menukar suatu barang dengan barang yang lain dengan cara yang tertentu (akad).

 •     

Artinya:

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Al-Baqarah:275)

a. Rukun jual beli

Syarat-syaratnya adalah:

1. Berakal sehat

2. Dengan kehendak sendiri (bukan dipaksa)

3. Tidak mubazir

4. Baligh (dewasa)

b. Uang dan benda-benda yang dibeli

1. Halal dan sah menurut agama

2. Bermanfaat

3. Keadaan barang dapat diserah terimakan

4. Keadaan barang diketahui oleh penjual dan pembeli

5. Milik sendiri

c. Lafaz ijab qabul

Ijab adalah perkataan penjual, umpamanya:

“saya jual barang ini sekian”

Kabul adalah ucapan si pembeli

“saya terima (beli) dengan harga sekian”.

d. Jual beli yang sah tetapi dilarang

Yang menjadi pokok sebab timbulnya larangan tersebut adalah:

a. Menyakiti sipenjual dan sipembeli atau orang lain

b. Menyempitkan gerakan pasaran

c. Merusak ketentraman umum

Maksudnya adalah:

1. Membeli barang dengan harga yang lebih mahal daripada harga pasaran, sedangkan dia tidak menginginkan barang itu tetapi semata-mata agar orang lain tidak dapat memilikinya.

2. Mencegat orang yang datang dari desa yang berada diluar kota lalu membeli barang-barangnya sebelum mereka sampai ke pasar dan sewaktu mereka belum mengetahui harga pasar.

3. Membeli barang yang sudah dibeli orang lain dengan harga yang murah sehingga dapat merugikan pihak tersebut.

4. Membeli barang untuk ditahan agar dapat dijual dengan harga yang lebih mahal, sedangkan masyarakat umum sangat membutuhkan barang itu.

5. Menjual suatu barang yang berguna, kemudian dijadikan alat maksiat oleh yang membeli.

6. Jual beli yang disertai tipuan.

e. Membatalkan jual beli

Apabila terjadi penyesalan diantara kedual pihak antara sipenjual dan sipembeli, disunatkan atas orang lain atau yang lain untuk membatalkan jual beli.

f. Hukum-hukum jual beli

1. Mubah (boleh) asal mula hukum jual beli.

- Khiyar adalah 2 pilihan melanjutkan jual beli atau tidak

2. Wajib, umpamanya wali menjual harta anak yatim.

3. Haram apabila ada penipuan.

4. Sunat hukum jual beli apabila kepada orang yang sangat membutuhkannya.

BAB II

1.2. Hutang Piutang

Utang piutang adalah memberikan sesuatu kepada seseorang dengan perjanjian dia akan membayar yang sama dengan itu.

a. Rukun hutang – piutang

1. Lafaz

2. Ada harta dan barang

3. Yang berpiutang dan yang berhutang

b. Hukum beri hutang

Hukum memberi hutang adalah sunat, bahkan dapat menjadi wajib misalnya mengutangi orang yang terlantar atau yang sangat membutuhkannya.

c. Menambah bayaran

Melebihkan bayaran dari sebanyak hutang yang diberikan, kalau kelebihan itu memang kemauan yang berutang dan tidak atas perjanjian yang sebelumnya, maka kelebihan itu tidak boleh bagi yang mengutangkannya dan menjadi kebaikan untuk orang yang membayar utang.

Adapun tambahan yang dikehendaki oleh yang berpiutang (yang memberi hutang) atau telah menjadi perjanjian sewaktu akad, hal itu tidak boleh. Tambahan itu tidak halal atas yang berpiutang (yang memberi hutang) mengambilnya.

BAB III

1.3. Riba

Asal makna “riba” menurut bahasa Arab adalah bertambah. Menurut istilah ialah akad yang terjadi dengan penukaran yang tertentu dan tidak diketahui sama atau tidaknya menurut aturan syara’ atau terlambat menerimanya.

a. Macam-macam riba

1. Riba fadli (menukar dua barang sejenis dengan tidak sama timbangannya).

2. Riba qardi (pinjam meminjam dengan syarat harus memberi kelebihan saat mengembalikannya).

3. Riba yad,i (jual beli barang sejenis dan sama timbangannya, namun penjual dan pembeli berpisah sebelum melakukan serah terima seperti penjual ubi yang masih dalam tanah).

4. Riba nasa’ (akad jual beli dengan penyerahan barang dengan beberapa waktu (kemudian) misalnya membeli buah-buahan yang masih kecil dalam pohonnya kemudian diserahkan setelah buah itu masak).

b. Ayat dan Hadist yang melarang riba’

1. Firman Allah SWT:

Artinya:

“Hai orang-orang beriman janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”.

2. Sabda Nabi SAW:

Artinya:

Dari Rasul SAW

“Telah melaknat orang-orang yang makan riba wakilnya, penulisnya dan dua saksinya”. (Riwayat Muslim).

Allah melarang riba karena tidak ada manfaatnya atau sesuatu yang dihasilkan dari jalan riba tidak ada manfaatnya da tidan berkah.

Dan Allah juga berfirman bahwa orang yang tidak berhenti dari riba itu seolah-olah menantang peperangan dengan Allah dan Rasulnya.

BAB IV

1.4. Ijarah (Sewa – Menyewa)

Ijarah adalah imbalannya yang harus diterima oleh seseorang atas jasa yang diberikannya. Jasa itu berupa penyediaan tenaga, pikiran, tempat tinggal atau hewan.

a. Rukun mempersewakan

1. Ada yang menyewa dan ada yang mempersewakan.

Syaratnya adalah:

- Berakal

- Kehendak sendiri

- Keduanya tidak bersifat mubazir

- Baligh (minimal berumur 15 tahun)

2. Sewa menyewa disyaratkan keadaannya diketahui dalam beberapa hal:

- Jenisnya

- Kadarnya

- Sifatnya

3. Manfaat sewa menyewa dalam beberapa hal dan dibagi menjadi beberapa bagian:

- Manfaat yang berharga dan manfaat yang tidak berharga. Misalnya menyewa mangga hanya untuk dicium baunya, sedangkan mangga itu untuk dimakan atau menyewa seseorang untuk membinasakan orang lain.

- Keadaan manfaat dapat diberikan oleh yang mempersewakan.

- Diketahui keadaannya, dengan jangka waktu yang telah ditentukan seperti menyewa rumah satu bulan atau satu tahun.

Atau diketahi dengan pekerjaan, seperti menyewa mobil dari Jakarta sampai ke Bogor.

Jika sesuatu tidak jelas dapat digunakan dengan beberapa sifat, yaitu harus diterangkan terbuat apa, berapa panjangnya berapa letak dan tebalnya seperti menyewa pohon untuk mengambil buahnya.

Sebagian ulama berpendapat bahwa manfaat yang disewa itu hendaklah jangan sampai mengandung lenyapnya sesuatu yang berupa zat hanya harus semata-mata manfaat saja.

Ulama yang demikian memberikan pendapat tidak memperbolehkan menyewa pohon-pohon untuk mengambil buahnya. Begitu juga menyewa binatang hanya untuk mengambil bulunya.

Ulama lain berpendapat bahwa tidak ada halangan menyewa pohon-pohonan karena buahnya dan juga berlaku seperti sewa menyewa perempuan untuk menyusukan anaknya.

b. Batalnya akad sewa menyewa

Sewa menyewa ada 2 cara:

- Menyewa barang yang tertentu, misalnya rumah atau habisnya masa yang dijanjikan. Sekiranya barang yang disewa itu dijual oleh orang yang menyewanya tidak batal melainkan di teruskan sampai habis masanya.

- Menyewa barang yang ada dalam tanggungan seseorang, misalnya menyewa mobil yang tidak ditentukan mobil yang mana, maka rusaknya mobil yang dinaiki tidak membatalkan akad sewa menyewa tetapi berlaku sampai habis masanya dan yang menyewa wajibnya mengganti dengan mobil yang lain sehingga habis masanya atau sampai pada waktu yang ditentukan dan akad sewa menyewa tidak batal dengan matinya orang yang menyewa atau yang menyewakan tetapi diteruskan oleh ahli waris masing-masing.

BAB V

1.5. Ariyah (pinjam – meminjam)

Ariyah ialah memberikan manfaat sesuatu yang halal kepada yang lain untuk diambil manfaatnya dengan tidak merusak zatnya, agar zat atau kadar barang itu dapat dikembalikan.

Firman Allah SWT:

           

Artinya:

“Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa atau pelanggaran”. (Al-Maidah:2)

a. Hukum meminjam

1. Sunnah, dengan tujuan saling tolong menolong antar sesama.

2. Wajib, misalnya meminjam mukena untuk sholat.

3. Haram, apabila meminjam untuk keperluan maksiat.

b. Rukun pinjam – meminjam

1. Ada yang meminjamkan dan syaratnya:

- Ahli berhak berbuat kebaikan sekehendaknya, anak kecil dan orang yang dipaksa tidak sah meminjamkan.

- Manfaat barang yang dipinjamkan di miliki oleh yang meminjamkan sekalipun dengan jalan wakaf atau menyewa karena meminjam hanya bersangkutan dengan manfaat bukan bersangkutan dengan zat, oleh karena itu orang yang meminjam tidak boleh meminjamkan barang yang dipinjamnya karena manfaat barang yang dipinjam bukan miliknya, dia hanya diizinkan mengambilnya tetapi ia harus membagikan manfaat yang boleh diambilnya kepada orang lain, tidak ada halangan. Misalnya dia meminjam rumah selama satu bulan, tapi hanya ditempatinya hanya 15 hari, maka sisanya yang 15 hari boleh diberikan kepada orang lain.

- Ada yang meminjam, hendaklah seseorang yang ahli (berhak), menerima kebaikan anak kecil atau orang gila tidak sah. Karena hal itu tidak ahli (tidak berhak) menerima kebaikan.

- Ada barang yang dipinjam syaratnya adalah:

a. Benar-benar bermanfaat.

b. Sewaktu diambil manfaatnya zatnya tidak rusak.

- Ijab qabul yang menurut sebagian orang sah dengan tidak berlafas.

c. Mengambil manfaat barang yang dipinjam

Yang meminjam boleh mengambil manfaat dari barang yang dipinjamnya hanya sekedar menurut izin dari yang punya atau kurang dari yang diizinkan.

Misalnya ia meminjamkan tanah untuk menanam padi, ia diperbolehkan dengan padi dengan yang sama umurnya dengan padi seperti kacang, jagung dan lain sebagainya.

d. Hilangnya barang yang dipinjam

Kalau barang yang dipinjam itu hilang atau rusak karena pemakaian yang diizinkan, maka yang meminjam tiak perlu mengganti karena pinjam meminjamnya itu berarti saling percaya dan mempercayai, tetapi karena sebab lain dia wajib mengganti.

Menurut pendapat yang lebih kuat kerusakan yang hanya sedikit akibat pemakaian yang diizinkan tidaklah patut diganti karena terjadinya disebabkan oleh pemakaian yang diizinkan. (kaidah, rida pada sesuatu berarti rida pula pada akibatnya).

e. Mengembalikan yang dipinjam

Apabila mengembalikan barang yang dipinjam memerlukan ongkos, maka ongkos itu hendaklah dipikul oleh yang meminjam.

Sabda Rasulullah SAW:

Artinya:

Dari sabda Nabi SAW

“Tanggung jawab barang yang diambil atas yang mengambil sampai dikembalikannya barang itu”. (Riwayat 5 orang ahli hadist selain Nabi).

Pada tiap-tiap waktu yang meminjam dan yang meminjamkan tidak ada halangan bila ingin mengembalikan atau meminta kembali pinjaman, sebab ariyah adalah akad yang tidak kecuali apabila meminjam untuk pemakaman, maka pinjaman itu tidak boleh dikembalikan sebelum hilang bekas-bekas mayat, berarti sebelum mayat hancur menjadi tanah dia tidak boleh meminta kembali atau meminjamkan tanah untuk menanam padi, tidak boleh diminta kembali sebelum mengetam (mendapatkan) hasilnya.

Kesimpulannya, keduanya boleh memutuskan akad, asalkan tidak merugikan salah seorang diantara keduanya. Akad ariyah pun putus apabila dari seorang yang meminjam atau yang meminjamkan mati atau gila.

Maka apabila yang meminjam mati, ahli warisnya wajib mengembalikan barang pinjaman dan tidak wajib baginya untuk memakainya. Kalau mereka tetap memakainya, maka mereka wajib membayar sewa menyewa kalau yang meminjam dengan yang dipinjamkan berselisih (yang pertama belum dikembalikan sedangkan yang kedua sudah mengaku dikembalikan maka yang meminjam hendaklah dibenarkan dengan sumpahnya, karena yang asal belum kembali).

BAB VI

PENUTUP

1.6. Kesimpulan

a. Jual beli adalah tukar menukar suatu barang dengan barang yang lain dengan cara yang tertentu (akad).

Hukum jual beli mubah, haram, wajib dan sunat ketentuannya terletak kepada manfaatnya masing-masing.

b. Hutang piutang adalah memberikan sesuatu kepada orang lain atau seseorang dengan perjanjian dia akan membayar yang sama dengan itu pula.

c. Riba adalah akad yang terjadi dengan penukaran yang tertentu, tidak diketahui menurut syara’ atau terlambat menerimanya.

d. Ijarah (sewa menyewa) adalah imbalan yang harus diterima oleh seseorang atas jasa yang diberikannya, jasa yang dimaksud adalah dengan tukaran yang diketahui, menurut syarat-syarat yang akan dijelaskan.

e. Ariyah (pinjam meminjam) memberikan suatu manfaat, yang halal kepada yang lain untuk diambil manfaatnya dengan tidak merusak zatnya, agar barang itu dapat dikembalikan.

DAFTAR PUSTAKA

Syeb, Sudono. 2006. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Delta Media

Hakim, Ahmad. 2001. Fiqih Muamalah. Bandung: PT Mutiara

Sulaiman, Rasyid. 2000. Fiqih Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo
Terima kasih atas waktunya untuk membaca Makalah Muamalah ini, dengan harapan semoga artikel Makalah Muamalah ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Makalah Muamalah terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Makalah Muamalah » Makalah