Makalah Sosiologi Olahraga

PERANAN WANITA DALAM MASYARAKAT DAN OLAHRAGA

A. Penghargaan Masyarakat PadaWanita

Didalam masyarakat barat wanita telah direndahkan karena dianggap berjenis kelamin yang lebih lemah. Akhirnya wanita menentang adat kebudayaan yang membatasinya tersebut. Gerakan pembebasan wanita tahun 1960-an merupakan salah satu pergerakan sosial yang sangat berpengaruh dan sangat berhasil. Mendorong feminisme (gerakan yang memperjuangkan hak-hak wanita). Ini adalah “The Feminine Mystique” nya Betty Friedan (1963). Atas butir inilah sexisme menyebar dalam masyarakat kita dan dengan keras membatasi wanita untuk mencapai tujuan selain tujuan sebagai istri dan ibu. Waktu itu gerakan feminist dikatakan oleh Marie Hart : “Seandainya peran wanita tidak lagi dibatasi sebagai ibu, sekretaris ataupun miss Amerika, bukanlah sudah saatnya wanita diberi tidak hanya kebebasan tetapi tiga penghormatan karena keberhasilannya dalam olahraga”.

B. Kelompok Aksi Wanita (WAG)

Organisasi wanita nasional (NOW). Tujuan organisasi-organisasi adalah untuk menyisihkan sexisme dan membawa wanita berpatisipasi dalam arus masyarakat Amerika.

C. Ideal Pria Dibentuk Dalam Olahraga

“Pembawa bendera seharusnya pria, orangnya kuat, seorang Pejuang. Olahraga di Amerika Serikat telah berfungsi sebagai upacara berita pria.

Secara tradisional pria telah berpatisipasi dalam olahraga untuk menunjukkan kejahatan mereka lewat Baseball Liga Kecil (Little Leaque Baseball), Pop Warner Football dan semacamnya, anak laki-laki diberi kesempatan untuk menciptakan identitas peran jenis kelamin mereka.

Konsep kejahatan dalam olahraga telah diperkuat secara konstan oleh orang tua, pelatih, media dan yang lain berkaitan dengan olahraga baik secara langsung maupun tidak langsung. Olahraga merupakan sarana dimana pria dapat mengetes kejantanannya melawan pria lain.

D. Olahraga Sebagai Sesuatu Yang Aneh Bagi Wanita

Jan Felshin, penulis terkenal tentang aspek sosial wanita dalam olahraga, menggunakan istilah keanehan sosial dalam menjelaskan peran wanita dalam olahraga. Olahraga dibatasi dalam hal kejantanan saja. Secara tradisional wanita tak punya tempat dalam bidang olahraga. Olahraga merupakan bagian masyarakat yang integral dan sesuai.

Secara tradisional wanita tidak berperan sebagai peserta pertandingan, tetapi justru di pinggiran dan berperan sebagai pendukung yang berpengaruh. Dipacu oleh cinta yang mendalam pada The Dallas Cowboy Cheerleaders, hal itu nampak seluruh liga mempunyai Regu Cheerleading yang mengutamakan tidak bersorak tetapi mengutamakan lamanya, rambut seperti sutera dan celana dalam yang sangat pendek.

Bila wanita tidak memasuki olahraga dalam peran sebagai peserta utama, maka ia akan mengundang resiko. Karena sudah alamiah bagi peserta pertandingan bahwa olahraga memberikan penghargaannya kepada yang agresif, yang dominan dan sang pemenang. Kerja keras dan keputusan merupakan dua hal yang sangat pokok. Walaupun menurut anggapan tradisional wanita itu tak perlu agresif. Sehingga wanita yang berolahraga “melanggar” aturan masyarakat dan menimbulkan konflik antara masyarakat.

Golf merupakan salah satu olahraga dimana wanita telah disangsikan untuk berpatisipasi. Tetapi menuurt norma-norma budaya, ada aktivitas-aktivitas tertentu yang belum dapat diterima oleh masyarakat.

Dengan peralatan berat ringan dan kecepatan dihasilkan oleh penggunaan alat-alat yang dihasilkan. Tenis, golf, renang. loncat indah, ski, figure skating, senam, panahan, anggar, badminton, squash, volley dan bowling merupakan olahraga yang banyak menampilkan wanita.

E. Mitos Lawan Realita

Diskriminasi terhadap wanita dalam bidang olahraga dapat dihubungkan dengan mudah dengan pengaruh “berlebihan” diskriminasi terhadap wanita pada umumnya. Tiga argumen pokok untuk membetulkan diskriminasi terhadap wanita dalam olahraga dan sekarang perlu diuji adalah:

a. Olahraga (athletics) membahayakan fisik

b. Wanita bukannya berolahraga untuk memperoleh persamaan

c. Para gadis sesungguhnya tidak tertarik pada olahraga

Gilbert dan Williamson menampilkan dua gagasan yang menjadi dasar ide bahwa olahraga berbahaya bagi wanita: pertama, anggapan tradisional bahwa wanita secara fisik lemah dan mudah patah; kedua, aktivitas fisik yang diperlukan dalam olahraga akan menyebabkan wanita tersebut berotot besar-besar.

Ini telah memfrustasikan usaha-usaha wanita untuk memasuki kerajaan olahraga. Ketika perluasan olahraga mulai pada pertengahan hingga akhir abad 19, wanita mulai bergabung. Partisipasi yang meningkat tersebut mendapat dua reaksi dari para guru olahraga. Reaksi yang pertama untuk menanggapi gerakan yang antusias tersebut yang menekankan manfaat latihan fisik. Reaksi yang kedua berkaitan dengan kesehatan wanita, banyak guru olahraga yang mengkhawatirkan akibat dari latihan-latihan yang berbahaya tersebut. Usaha-usaha mereka menampakkan hasil dalam rendahnya mutu program olahraga bagi wanita hingga abad 20.

Pernyataan bahwa olahraga itu membahayakan fisik wanita berpusat pada kemungkinan terlukanya alat-alat reproduksi, buah dada akibat pada daur menstruasi dan kehamilan. Uterus wanita merupakan salah satu organ anatomi manusia yang paling terlindung dan tahan goncangan. Bertentangan dengan keyakinan pria populer, dipercaya bahwa itu lebih terlindung dibandingkan dengan genital pria. Bahkan studi telah menunjukkan bahwa atlet wanita memiliki cara yang lebih mudah dan lebih singkat selama kehamilannya. Belum ada bukti kesimpulan bahwa wanita yang aktif berolahraga besar kemungkinannya mendapat kanker buah dada, karena itu nampaknya tidak ada alasan medis yang logis untuk melarang wanita berolahraga.

Kerangka pria dewasa lebih besar, tulangnya lebih besar, berat dan padat dan sambungannya lebih besar. Bahkan berat wanita dewasa kurang dari 25 pon dan tingginya berhenti rata-rata 5 – 6 inci. Pria juga memiliki keuntungan kekuatan, keseimbangan dan gerakan. Klafs dan Lyon menyatakan bahwa gadis yang sedang tumbuh akan lebih dewasa dibandingkan anak laki-laki yang seusia dengannya.

F. Pelaku Perubahan Sosial Wanita: Katherine Switzer

Katherine Switzer adalah wanita pertana yang ikut lari dalam marathon Boston tahun 1968 dan mendapatkan larangan ikut serta lari AAU karena usahanya tersebut. Katherine Switzer telah menjadi pelaku perubahan sosial yang penting, karena perubahan yang penting terjadi dalam olahraga wanita.

Wyrick berdalih lebih banyak prestasi yang tumpang tindih dibandingkan perbedaan. Tidak ada bukti jelas yang mendukung pendapat bahwa fisik wanita tidak pantas untuk kompetisi olahraga yang keras.

Penelitian medis menghasilkan dua alasan mengapa wanita tidak akan memiliki otot-otot yang menonjol. Harmon Brown, seorang ahli endokrinologi menuliskan:

1. Jumlah lemak badan wanita memiliki topeng perkembangan otot (22 – 14 % rata-rata dari pria)

2. Wanita hanya menghasilkan 5 – 10 % jumlah androgen.

Klafs dan Lyon berkesimpulan: “Faktor-faktor keturunan morpologis dan endokrinlah yang bertanggung jawab atas kefeminiman dan bukannya karena aktifitas fisik yang keras”.

G. Luka Para Atlet Wanita Berbeda-Beda: Tidak Lebih

Minneapolis (UPI) – para atlet wanita biasanya menjaga kepalanya tetap lebih aman dari pada pria, tetapi memiliki kecenderungan cidera lututnya dan menderita anemia.

Roger Hallin, dokter tim UM untuk para atlet wanita, mengatakan tidak ada yang lemah dalam tubuh atlet wanita, hanya berbeda saja.

Hallin mengatakan bahwa lebih sedikit wanita yang menderita cidera pada kepala dan leher dibandingkan para pria. Ia juga mengatakan bahwa cidera lutut lebih umum terjadi pada wanita karena lebarnya pelvis wanita dan akibat dari tulang paha yang miring.

Leah Wollenburg, pelatih para atlet wanita UM mengatakan bahwa wanita tidak enak-enak jongkok lagi.

Miss Wollenburg mengatakan bahwa anemia merupakan problem yang serius dan pada umumnya disembunyikan. “Wanita pada umumnya memiliki kecenderungan anemia”.

Hallin juga mengatakan bahwa kebanyakan dokter sekarang percaya bahwa sesungguhnya latihan olahraga itu menormalkan kembali kejang-kejang menstruas.

Para ahli dari UM tersebut menyimpulkan bahwa tubuh wanita memiliki daya tahan dan ketangguhan seperti halnya badan laki-laki walaupun wanita memiliki reaksi yang berbeda-beda terhadap tekanan kegiatan fisik. Hallin mengatakan bahwa “Para atlet wanita tidak lebih banyak cidera hanya karena wanita”.

Konsekuensi penting akibat problem ini adalah prosedur testing jenis kelamin bagi para atlet wanita dalam olimpiade. Tes jenis kelamin ini dimaksudkan untuk memastikan tidak ada atlet yang sebenarnya pria bertanding sebagai wanita.

Tujuan lain adalah untuk menjaring salah satu diantara 1000 wanita yang memiliki genetika jantan, yang disebut pseudoermphroditisme. Tes tersebut pertama kali digunakan di Budapest.

H. Tidak Baik Wanita Berolahraga Hanya Untuk Mendapatkan Persamaan

Argumen ini tidak logis dan tidak rasional. Argumen ini beranggapan olahraga apapun untuk pria bagus, tetapi hanya olahraga untuk wanita sajalah yang seharusnya dikembangkan dan dianggap terampil.

Wyrick mengambil contoh studi atlet wanita olimpiade pada atletik dan renang. bidang-bidang tersebut dipilih karena:

1. Memerlukan penerapan keterampilan fisik maksimum

2. Menggunakan ukuran yang obyektif

3. Menuntut pria dan wanita melakukan pertandingan hal yang sama.

Kesimpulan; argumen ini didasarkan atas olahraga elit.

I. Sebetulnya Wanita Tidak Tertarik Pada Olahraga

Ini juga lebih didasarkan pada khayalan daripada kenyataan. Menjelang akhir bab (dalam bagian “Kecenderungan Masa Kini”), analisis kecenderungan olahraga masa kini menunjukkan bahwa dimana program “yang bermutu” ditawarkan, maka tanggapanpun sangat bagus.

J. Pemasyarakatan Olahraga Pada Wanita

Salah satu gambaran utama olahraga Amerika adalah bahwa olahraga dimasyarakatkan pada remaja putra sedangkan remaja putri justru dijauhkan dari olahraga. Bagaimana hal ini terjadi? Telah banyak studi tentang pengaruh pemasyarakatan olahraga tetapi kebanyakan terpusat pada atlet-atlet dan secara historis menunjukkan bahwa kenyataannya olahraga telah dimonopoli oleh pria.

K. Pemasyarakatan Olahraga

Dalam mempelajari pemasyarakatan olahraga kita harus mengetahui adanya 3 kelompok variabel yang harus diperhatikan:

a. Kualitas personelnya

b. Pelaku pemasyarakatan

c. Struktur masyarakat

Kebanyakan studi tentang wanita dalam olahraga telah diarahkan apda kategori kualitas personel. Tujuan studi tersebut mengenai refleksi kecenderungan masyarakat terhadap partisipasi wanita.

Dua pelaku pemasyarakatan olahraga yang penting adalah kelompok-kelompok referensi dan kelompok-kelompok lain yang penting. Yang penting adalah keluarga, kelompok seusia, sekolahan, guru dan anggota masyarakat yang lain. Wujud manifestasinya adalah mempelajari tingkah laku peran jenis kelamin yang sesuai.

Greendorfer menyarankan studi yang menyatakan perbedaan jenis kelamin dipelajari sejak anak berusia 1 tahun. Greendorfer memperhatikan masalah bagaimana wanita ikut berpatisipasi dalam olahraga. Ia mengecek untuk mengetahui apakah ada perbedaan diantara 3 pelaku:

a. Keluarga

b. Teman sebaya dan

c. Sekolahan selama tiga tingkatan kehidupan

1. Masa kanak-kanak

2. Masa temaja dan

3. Masa dewasa muda

Pentingnya keluarga sebagai pelaku pemasyarakatan olahraga dan munculnya kelompok-kelompok teman sebaya sebagai kelompok yang dominan.

Koehler berusaha menemukan pelaku pemasyarakatan olahraga yang dominan dalam 3 bidang pengaruh yang berlainan yang berkaitan dengan olahraga:

1. Motivasi awal

2. Pendidikan fundamental pertama

3. Pendidikan strategi

Motivasi diri sendiri merupakan pengaruh yang lebih penting dari pada anggota keluarga yang lain ataupun pengaruh dari orang lain.

Snyder dan Spreitzer menghubungkan 2 kelompok untuk mempelajari korelasi partisipasi olahraga wanita:

a. Peserta wanita dalam senam, basket dan olahraga lari (kelompok eksperimen) di sekolah lanjutan

b. Wanita bukan peserta (kelompok kontrol)

Dua penemuannya yang penting yaitu:

1. Ada sedikit perbedaan antara minat olahraga ayah dan minat olahraga ibi terhadap 2 kelompok tersebut.

2. Kontras yang jelas antara kelompok eksperimental dan kelompok kontrol pada waktu pertandingan olahraga dimulai, kelompok eksperimen tersebut memiliki pengalaman aktif olahraga lebih dulu dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Cara pemasyarakatan yang lain yang diselediki oleh Greendorfer adalah model theori peran.

Salah satu argumen tersebut adalah bahwasannya banyak keluarga yang dikepalai oleh wanita kulit hitam dan ini menyertai angan-angan kekuatan.

L. Pemasyarakatan Lewat Olahraga

Ada juga kekurangan data empiris yang memperhatikan pemasyarakatan wanita lewat olahraga. Masih terlalu awal untuk menyimpulkan bahwa wanita sedang dimasyarakatkan dengan olahraga yang secara tradisional olahraga tersebut diperuntukkan pria.

M. Motivasi Prestasi

Konsep motivasi prestasi lebih cenderung merupakan konsep psikologi daripada konsep sosiologi, tetapi sungguh-sungguh memiliki tingkat relefansi yang tinggi bila menyelidiki lingkungan sekitar keterlibatan olahraga wanita. Mc. Clelland dan John Atkinson mendefenisikan keinginan untuk beprestasi sebagai “kualitas yang relatif stabil untuk mewujudkan prestasi ataupun keberhasilan”. Birrell menyampaikan 2 mitos umum yang berkaitan dengan wanita:

1. Mereka tidak memiliki keinginan untuk berprestasi dan

2. Motivasi prestasi berkembang sendiri sebagai akibat dari latihan pada masa awal kanak-kanak dan tahapan tersebut memang cocok dengan usia awal.

N. Media

Ciri penting dari masyarakat tekhnologi, industri kita yang modern ini adalah dengan adanya benturan ataupun pengaruh media massa yang luar biasa. Media massa menilai dalam dua gambaran yang negatif:

1. Sebagai obyek sexs

2. Sebagai ibu rumah tangga. Jarang wanita diproyeksikan sebagai individu yang mandiri dan aktif secara fisik.

Tahun 1900 – 1968 dalam Ladies Home Journal menunjukkan lebih 20 iklan diantara 1400 iklan yang ada (dari 1400 iklan tersebut). Nampaklah bahwasannya penerimaan atlet wanita oleh media massa tesrebut masih rendah.

O. Kecenderungan Masa Kini

Akhir-akhir ini telah ada peningkatan partisipasi wanita dalam olahraga. Pertumbuhan ini terjadi bersilangan dengan spektrum olahraga. Wanita sekarang bermain dalam Liga Kecil dan Sekolah Lanjutan dan Perguruan Tinggi membuat program olahraga penuh.

Meningkatnya partisipasi dan paling penting adalah olahraga antar perguruan tinggi.

Terbentuknya Asosiasi Atlet Wanita Antar Perguruan Tinggi merupakan salah satu keputusan yang membagi musim-musim tertentu dan bentuk olahraga tertentu.

Melarang perekrutan pemain massa depan di sekolahan-sekolahan dan tentang program sekolah tersebut. Hannon menyatakan bahwa peraturan ini sering ditertawakan oleh para pelatih basket perguruan tinggi.

Peraturan HEW tersebut tidak mengacu pada olahraga yang menghasilkan uang dan tidak begitu saja dibebaskan oleh NCAA untuk berlaku. Rencana mereka adalah untuk menggunakan keuangan mereka untuk program olahraga wanita. Margot Polivy memperkirakan program olahraga wanita yang paling baik sejauh 15 – 18 persennya tingkatan pria dan rata-rata sekitar 10 persennya dari level pria saja.

P. Saran-Saran Olahraga Diperkeras

Pemerintah mengusulkan saran-saran baru yang keras yang meminta para Universitas dan Perguruan Tinggi Negeri tersebut membelanjakan berjuta-juta dolar untuk meningkatkan program olahraga untuk wanita mereka.

Hendaknya melepas dana federal seandainya tidak dapat menyediakan lebih banyak beasiswa dan kesempatan yang sama bagi wanita untuk berpartisipasi dalam basket, tenis, renang dan klub olahraga yang lain.

Mereka dirancang untuk membuktikan bahwa program atletik antar perguruan tinggi wanita memiliki sumber dan komitmen yang memungkinkan mereka memiliki hak.

Perubahan-perubahan ini akan mempertegas Amandemen Kejuaraan IX dan sepadan dengan Undang-Undang Persamaan Pendidikan yang disetujui Kongres pada Tahun 1972. Kejuaraan IX pada tahun 1975 tetapi memperbolehkan Perguruan-perguruan Tinggi 3 tahun lagi untuk melaksanakannya sama. Rod Laver memenangkan hadiah $ 290.000 dalam mengikuti sepertiga jumlah turnamen tersebut. Keadaan golf wanita justru lebih jelek lagi. Pada tahun 1972 Kathy Whithworth memimpin LPGA dengan $ 65.063 yang memenangkan 29 turnamen, sedangkan Jack Nicklaus memenangkan $ 320.542 hanya dalam 19 turnamen. LPGA dan penghasilan tenis wanita menghasilkan lebih $ 100.000. Pada tahun 1977 Christ Evert menjadi pemain tenis ke 3 yang dibayar paling tinggi dan memenangkan $ 503.134 dan tahun 1978 Naney Lopez penghasilannya dari golf dan komentator olahraga mendekati $ 500.000.
Terima kasih atas waktunya untuk membaca Makalah Sosiologi Olahraga ini, dengan harapan semoga artikel Makalah Sosiologi Olahraga ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Makalah Sosiologi Olahraga terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Makalah Sosiologi Olahraga » Resume