Selamat Datang di emakalah.com

Semoga Anda dapat menemukan apa yang anda cari,

dan semoga emakalah.com dapat bermanfaat bagi Anda

Untuk keluar dari menu/halaman ini silahkan klik LIKE / SUKA

..

Makalah Tafsir Ayat Tarbawi

Menananamkan Dalam Jiwa Keinginan Untuk

Berbuat Kebajikan Dan Menjadi Manusia

Yang Baik

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kahadirat Allah SWT. Yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW.

Adapun materi makalah tentang Tafsir Ayat Tarbawi yang berjudul “Tafsir Surat Maryam Ayat 44-45 Tentang Menanamkan Dalam Jiwa Yang Baik” Kami susun ayat mempermudah dan manambah pengetahuan kita tentang makna dari tafsir tersebut.

Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan motivasi dalam pembuatan makalah ini, sehingga dapat berjalan dan terselesaikan dengan baik.

Melalui makalah ini, semoga penulis dan pembaca dapat memetik manfaat yang tersirat maupn yang tersurat, sehingga menjadi generasi yang faham dalam mengetahui isi Tafsir.

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah 1

1.3 Tujuan Penulisan 1

1.4 Metode Penulisan 1

BAB II PEMBAHASAN TAFSIR SURAT MARYAM AYAT 44-45 2

2.1 Tafsir Surat Maryam ayat 44-45 Menurut Tafsir Jalalain. 2

2.2 Tafsir Surah Maryam 44-45 Tafsir Al-Misbah 3

2.3 Tafsir Surat Ayat 44-45 Menurut Al-Maragi 5

BAB III PENUTUP 7

3.1 Kesimpulan 7

3.2 Saran-saran 7

DAFTAR PUSTAKA 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Makalah ini di susun dengan menggunakan bahasa yang mudah di pahami dan setiap kajian dilengkapi tafsirannya. Tafsir ayat tarbawi yang berjudul Tafsir Surat Maryam, di mana akan di jelaskan bawa turunnya ayat di sebabakan adanya suatu peningkatan terhadap Allah yaitu umat Nabi Ibrahim tidak mau menyembah Allah tetapi menyembah patung.

1.2 Rumusan Masalah

a. Tafsir Surat Maryam menurut Jalalain.

b. Tafsir Surat Maryam menurut Al-Misbah

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun dalam tujuan penulisan makalah ini agar dapat menuntun lebih baik dalam mengartikan atau menafsirkan ayat Al-Qur’an, terlebih lagi dapat mempelajari dan mengambil hikmah dari tafsir surat maryam, mengetahui asbabun nuzulnya, sehingga dapat mengaplikasikannya.

1.4 Metode Penulisan

Metode penulisan yang di gunakan dalam menyelesaikan makalah ini, ialah menggunakan metode kajian pustaka dengan mempelajari dan mengumpulkan bahan, mengenai hal-hal yang berkaitan dengan judul “tafsir surat maryam”.

BAB II

PEMBAHASAN

TAFSIR SURAT MARYAM AYAT 44-45

“Tentang menenanamkan dalam jiwa keinginan untuk berbuat

kebajikan dan menjadi yang baik”

2.1 Tafsir Surat Maryam ayat 44-45 Menurut Tafsir Jalalain.

a. Surat Maryam 44

(Wahai Bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan)

(Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah)

b. Surah Maryam 45

(Wahai Bapakku sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu)

(Akan dtimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah)



(maka kamu menjadi kawan bagi syaitan)

2.2 Tafsir Surah Maryam 44-45 Tafsir Al-Misbah

a. Surah Maryam

“Wahai Bapakku, janganlah engkau menyembah setan, sesungguhnya setan terhadap Ar-rahman amat durhaka”

Nabi Ibrahim menjelaskan tidak bermanfaat bahkan berbahaya apa yang selama ini di lakukannya, beliau berkata “ wahai Bapakku janganlah engkau menyembah setan, yakni berhala, bintang yang tidak mempunyai kemampuan sedikitpun, tetapi setan yang memperindah penyembahannya, yang sedemikian itu berarti menyembah setan.

Kata • ta’bus pada ayat diatas bukan maksudnya menyembah, tetapi mengikuti bisikan setan. Memang boleh jadi orang tua dan masyarakat Nab Ibrahim as. Menyembah setan, jin dan malaikat, tetapi semua penyembahan itu lahir dari rayuan dan tipu daya setan yang diikuti para perdurhaka, sehingga pada dirinya lebih tepat memahami kata ta’bud dalam arti mengikuti bisikan setan.

Kata • karena pada ayat ini disamping untuk meunjukkan kedurhakaan setan yang terjadi sejak dahulu, juga untuk menunjukkan betapa mantap lagi dan menadarah daging kedurhakaan itu melainkan pada kepribadiannya, sehingga tidak di ubah lagi.

Rujklah ketafsiran surah al-fatihah untuk memahami secara mendadak makna kata ar-rahman. Kata tersebut sengaja ditampilkan di sini juga pada ayat-ayat berikut-bukan kata Allah–karena limpahan rahmat yang di anugerahkan-Nya mengundang siapapun untuk mendekatkan diri kepada-Nya, taat dan mencintainya, serta menjauhkan diri dari segala kedurhakaan dan dari yang membankang perintahnya atau menghalangi menusia tunduk kepada-Nya antara lain tunduk kepada setan.

b. Surat Maryam ayat 45

“Wahai Bapakku, sesunguhnya aku takut bahwa engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka engkau menjadi kawan bagi setan”.

Selanjutnya Nabi Ibrahim memperingatkan orang tuanya dengan berkata “Wahai Bapakku”, sesungguhnya aku”- terdorong oleh cintaku kepadamu- “takut bahwa” bila engkau berlarut dalam penyembahan selain Allah-tanpa bertobat-jangan sampai “engkau ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah” dan yang selamai ini terus menerus melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya, “maka engkau” akibat siksa yang menimpa itu” menjadi kawan bagi setan “dalam neraka”.

Kata Akhafu, yakni takut digunakan oelh Nabi Ibrahim AS. Pada ayat ini, disamping untuk menampakkan belas kasih dengan menyatakan kekhawatirannya jangan sampai orang tuanya itu memastikan jatuhnya siksa kepada seseorang karena rahmat dan siksa adalah hak prerogratif Allah SWT.

Kata adzab pada ayat ini dapat berarti siksa di hari kemudian, bisa juga dalam arti siksa duniawi antara lain dengan di cabutnya rahmat Allah bagi yang bersangkutan.

Rujuknya ke ayat 18 dan ayat 88-91 surah ini untuk memahami kata Ar-rahman , pengguna kata Ar-rahman pada ayat ini mengesankan bahwa siksa yang dapat menimpa itu bukanlah di sebabkan oleh kesewenangan Allah SWT, karena dia adalah pencurahan rahmat, tetapi siksa itu semata-mata merupakan buah dari kesalahan yang bersangkutan sendiri. Di sisi lain dengan kata itu juga Nabi Ibrahim as, mengingatkan orang tuanya setiap orang bersyukur dan taat kepadanya serta menghindari segala yang dilarangnya termasuk mengikuti setan.

2.3 Tafsir Surat Ayat 44-45 Menurut Al-Maragi

1. Ayat 44

“Wahai Bapakku, bukankah kamu menyembah setan, sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah”.

“Wahai Bapakku, janganlah kamu menjadi setan dala menyembah berhala-berhala ini, karena dialah yang menyeru kepada penyembahan iu, dan dialah yang selalu menggoda untuk menyembahnya”.

“Sesungguhnya setan itu durhaka dan sombong terhadap tuhan yang rakmat dan nikmatnya telah meliputimu”.

Tidak diragukan lagi, orang yang mentaati kedurhakaan maka diapaun sama durhaka, dan patut untuk dicatat segala nikmatnya, bahkan diturunkan segala siksaan kepadanya.

2. Ayat 45

“Wahai Bapakku, sesunguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab drai tuhan yang amah pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan”.

“Wahai Bapakku, karena kecintaan dan kecemburuan kepadamu, sesungguhnya aku khawatir jika kamu mendapat adzab dari Allah yang maha pengasih, karena kemusrikan dan kedurhakaan”.

“Sehingga kamu menjadi teman dan pengikut deta di dalam neraka, ringkasan: sesungguhnya aku khawatir jika kamu menjadi pengikut setan di dunia, sehingga kamu mendapat adzab dari tuhan yang maha pengasih di akhirat”.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Bab tafsir ayat tarbawi mengenai ayat 44-45 surat maryam. Di sini pemakalah menjelaskan bahwa inti dari ayat 44-45 berkenaan tentang kisah Nabi Ibrahim dengan ayahnya, bahwa ia mengajak untuk menyembah Allah SWT dan meninggalkan perbuatan yang tercela. Tetapi ayahnya tidak mau meninggalkan perbuatannya menyembah berhala. Nabi Ibrahim terus mengingatkan itulah sedikit yang dapat dijelaskan pemakalah tentang ayat 44-45.

3.2 Saran-saran

Pemakalah ingin lebih baik dalam menafsirkan ayat “Al-Qur’an. Mengingat hal-hal yang telah terjadi, bahwa banyak kesalahan pemakalah mohon kritikan dan sarannya yang bersifar membangun.

DAFTAR PUSTAKA

Shihab, M.Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati.

Alamah Kamal Faqih Imani. 2005. Tafsir nurul Qur’an. Jakrta: Al-huda

Al Maragi, ahmadMustafa. 1993. Tafsir Al-maragi. Semaranf: Toha putra
Terima kasih atas waktunya untuk membaca Makalah Tafsir Ayat Tarbawi ini, dengan harapan semoga artikel Makalah Tafsir Ayat Tarbawi ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Makalah Tafsir Ayat Tarbawi terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Makalah Tafsir Ayat Tarbawi » Makalah