Manfaat, Faedah Mempelajari Filsafat

Manfaat, Faedah Mempelajari Filsafat

A. Menurut Para Ahli

Bagi ilmu pengetahuan

Tatkala filsafat lahir dan mulai tumbuh ilmu pengetahuan masih merupakan bagian yang tak terpisahkan dari filsafat. Para filsuf pada masa itu adalah juga ahli-ahli matematika, astronomi, ilmu bumi dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya. Bagi mereka ilmu pengetahuan itu adalah filsafat dan filsafat adalah ilmu pengetahuan. Dengan demikian jelas terlihat bahwa pada mulanya filsafat mencakup seluruh ilmu pengetahuan. Berbagai ilmu pengetahuan yang telah mencapai tingkat kedewasaan penuh satu demi satu mulai mandiri dan meninggalkan filsafat yang selama itu telah mendewasakan mereka. Itulah sebabnya filsafat disebut sebagai ilmu matescientiarum atau induk segala ilmu pengetahuan.

Ketakterbatasan filsafat yang demikian itulah yang amat berguna bagi ilmu pengetahuan. Akan tetapi, dengan keterbatasannya itu filsafat sanggup memeriksa, mengevaluasi, mengoreksi dan lebih menyempurnakan prinsip-prinsip dan asas-asas yang melandasi berbagai ilmu pengetahuan.

B. Menurut Saya

Di dunia ini begitu banyak manfaat yang dapat diambil dari mempelajari filsafat, dari apa yang telah dijelaskan para ahli diatas, mempelajari filsafat telah banyak membuat terobosan-terobosan baru dalam kehidupan sehingga ditemukan tekhnologi-tekhnologi canggih. Dan dengan mempelajari filsafat kita dapat mengetahui pemikiran-pemikiran para filosof dari dahulu hingga sekarang hingga kita tahu perubahan apa saja yang terjadi.

Contoh: seseorang yang berfilsafat selalu berpikir dan berusaha untuk menemukan hal-hal baru, sehingga ditemukanlah alat-alat canggih itu semua berkat pengetahuan yang awalnya bermula dari seseorang itu berfilsafat.

CIRI-CIRI SESEORANG ITU BERFILSAFAT

A. Menurut Para Ahli

Ada beberapa ciri-ciri seseorang itu berfilsafat menurut filosof antara lain:

- Berpikir radikal

- Mencari asas

- Memburu kebenaran

- Mencari kejelasan

- Berpikir rasional

- Berpikir radikal salah satu ciri seorang itu berfilsafat sedangkan filsuf adalah pemikir yang radikal. Berpikir radikal tidak berarti hendak mengubah, membuang atau menjungkirbalikkan segala sesuatu. Melainkan dalam arti yang sebenarnya yaitu berpikir secara mendalam untuk mencapai akar persoalan yang dipermasalahkan. Berpikir radikal justru hendak memperjelas realitas, lewat penemuan serta pemahaman akan akar realitas itu sendiri.

- Seorang filsuf akan selalu berupaya untuk menemukan asas yang paling hakiki dari realitas. Dengan menemukan esensi suatu realitas, realitas itu dapat diketahui dengan pasti dan menjadi jelas. Mencari asas adalah salah satu sifat dasar filsafat atau salah satu ciri-ciri orang berfilsafat. Misalnya Thales mengatakan bahwa asas pertama alam semesta itu adalah air, Anaximandros mengatakan yang tidak terbatas dan yang membentuk realitas alam semesta yaitu api, udara, tanah dan air.

- Selalu memburu kebenaran termasuk ciri orang berfilsafat. Filsuf adalah pemburu kebenaran. Kebenaran yang diburunya adalah kebenaran hakiki tentang seluruh realitas dan setiap hal yang dapat dipersoalkan. Upaya memburu kebenaran itu adalah demi kebenaran itu sendiri dan kebenaran yang diburu adalah kebenaran yang lebih meyakinkan serta lebih pasti.

- Geisler dan Feinberg mengatakan bahwa ciri khas penelitian filsafat ialah adanya usaha keras demi meraih kejelasan intelektual. Berfilsafat sesungguhnya merupakan suatu perjuangan untuk mendapatkan kejelasan pengertian/kejelasan seluruh realitas. Perjuangan mencari kejelasan itu adalah salah satu ciri dasar filsafat.

- Berpikir secaar rasional berarti berpikir logis, sistematis dan kritis. Berpikir logis, sistematis kritis adalah ciri utama berpikir rasional tanpa berpikir yang logis sistematis dan koheren tak mungkin diraih kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.

B. Menurut Saya

Dari beberapa ciri-ciri seseorang itu berfilsafat yang diungkapkan para filosof diatas sangatlah benar bila kurang dari beberapa ciri-ciri diatas pasti para filosof tidak akan menemukan kebenaran yang hakiki dan semuanya saling terkait satu dengan yang lain. Orang yang berfilsafat selalu berupaya keras dan berjuang mencari kebenaran dan terobosan baru, seiringnya perubahan zaman orang yang berfilsafat dapat dilihat pada zaman sekarang juga, misalnya ditemukan alat canggih, salah satunya ditemukan alat pendeteksi gempa dan itu merupakan hasil dari seseorang itu berfilsafat dengan selalu berusaha untuk mendapat hasil yang logis.

YANG MENDORONG MANUSIA UNTUK BERFILSAFAT

A. Menurut Para Ahli

Sepanjang sejarah kefilsafatan dikalangan filsuf terdapat 3 (tiga) hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat yaitu:

1. Kekaguman atau keheranan atau ketakjuban

2. Keraguan atau kegengsian

3. Kesadaran akan keterbatasan

1. Pada umumnya seorang filsuf mulai berfilsafat karena adanya rasa kagum atau adanya heran dalam pikiran filsafat itu sendiri. Aristoteles mengatakan, pada mulanya manusia takjub memandang benda-benda aneh disekitarnya, lama-kelamaan ketakjubannya semakin terarah pada hal-hal yang lebih besar dan luas seperti: perubahan dan peredaran bulan, matahari, bintang-bintang dan asal mula alam semesta.

2. Augustinus dan Rene Descartes memulai berfilsafat bukan dari kekaguman atau keheranan akan tetapi mereka berfilsafat dimulai dari keraguan atau kegengsian sebagai sumber utama berfilsafat. Manusia selaku penanya mempertanyakan sesuatu dengan maksud dipertanyakan itu. Tentu saja hal itu berarti bahwa apa yang dipertanyakan itu tidak jelas atau belum terang. Jadi keraguanlah yang turut merangsang manusia untuk bertanya dan terus bertanya, yang kemudian menggiring manusia untuk berfilsafat.

3. Berfilsafat dapat pula bermula dari adanya suatu kesadaran akan keterbatasan pada diri manusia.

Contoh: apabila seorang merasa bahwa ia sangat terbatas dan terikat terutama pad waktu mengalami penderitaan atau kegagalan, maka dengan adanya kesadaran akan keterbatasan dirinya tadi manusia mulai berfilsafat.

B. Menurut Saya

Ada beberapa hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat dari beberapa hal yang ada diatas seperti kekaguman, keraguan maupun kesadaran akan keterbatasan. Saya rasa ada satu lagi yang perlu ditambah yaitu ketidakpuasan. Karena dengan ketidakpuasan membuat manusia terus-menerus berusaha mencari penjelasan yang meyakinkan dan pasti akan sesuatu peristiwa yang dipertanyakan yang lambat laun mulai berpikir secara rasional atau logis.

Contoh: ketidakpuasan seseorang mencari tahu adakah planet lain selain bumi yang belum ditempati membuat seseorang itu berfilsafat dan terus berusaha menyelidiki palnet-planet luar angkasa, adakah yang seperti bumi tempat yang bisa di huni oleh manusia.

FILSAFAT BARAT ABADA PERTENGAHAN

A. Masa Partristik

Istilah partristik berasal dari kata latin “patres” yang berarti bapak dalam lingkungan Gereja. Para filosof zaman ini diantaranya Yustinus Martyr, (Lemens (150-215 M) dan Origenes (185-254 M)). Masa keemasan partristik, meliputi Yunani maupun Latin yang muncul pada masa kurang lebih sama. Di Yunani, masa Yunani terbangun setelah kaisar Constantinus Agung mengeluarkan “Edik Milano” yang melindungi warganya dalam dan untuk menganut Kristen. Pada abad ke 8 masa keemasan partristik Yunani bearkhir dengan Johannes Damascenus sebagai raja yang menulis suatu karya berjudul “Sumber Pengetahuan” yang secara sistematis menggambarkan seluruh sejarah filsafat pada masa partristik Yunani.

Saron menjelaskan posisi Yunani dan Islam dalam peradaban Barat prestasi yang diraih pada masa pertengahan adalah terobosan berupa semangat bereksperimen dan penyebab terjadinya semua itu adalah runtuhnya kejayaan orang-orang Islam pada abad ke 12. Pemikiran dikembangkan Galileo Galileo (1564-1642 M) dan Jhohanes Kafler (1571-1630 M) yang telah melahirkan revolusi, tidak saja dalam persoalan hubungan agama (Kristen) dengan ilmu pengetahuan, tetapi dalam kehidupan masyarakat yang berimplikasi sangat jauh dan mendalam karena sudah memasuki fase dan tahap sains serta tekhnologi yang lebih praktis.

Revolusi ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh para ilmuan dan para filosof barat modern itu, terus berkembang. Perkembangan ini semakin memperlihatkan hasil yang maksimal, terutama ketika Einstein merombak kerangka filsafat Newton yang sudah mapan melalui teori Quantumnya.

B. Massa Skolastik

Sutardjo Wiramihardja mengatakan awal skolastik berhubungan dengan terjadinya perpindahan penduduk. Yaitu perpindahan bangsa Hun dari Asia ke Eropa sehingga bangsa Jerman pindah melewati perbatasan kekaisaran romawi yang secara politik sudah mengalami kemerosotan.

Ahli pikir Boethuis (480-524 M) dalam usianya yang ke 44 tahun, mendapat hukuman mati dengan tuduhan berkomplot. Boethius adalah seorang guru logika pada abad pertengahan dan mengarang beberapa traktat teologi yang mempelajari sepanjang abad pertengahan.

Dalam bidang logika dan etika, Abelardus (1079-1142) sangat berjasa. Ia memberikan sumbangan terhadap penyelesaian masalah yang ramai dibicarakan dalam kalangan skolastik, yaitu masalah “Universalia”. Universal menyangkut konsep-konsep umum yang menentukan kodrat dan kedudukan konsep-konsep tersebut.

Zaman keemasan skolastik terjadi pada abad ke 13 sama dengan abad pertengahan, pada zaman skolastik ini, filsafat dipelajari dalam hubungannya dengan teologi.

EPISTOMOLOGI

Epistomologi berasal dari bahasa latin “episteme” dan “logos”. Episteme artinya pengetahuan atau kebenaran sedangkan logos artinya kata, fikiran atau ilmu. Jadi epistomologi adalah analisis filosofis terhadap sumber-sumber pengetahuan. Dari mana dan bagaimana pengetahuan diperoleh merupakan kajian epistomologi.

Epistomologi adalah filsafat yang mengkaji seluk beluk dan tata cara memperoleh suatu pengetahuan, sumber-sumber pengetahuan, metode dan pendekatan yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan logisa dan rasional.

Adapun tokoh yang mengungkap pengertian diatas adalah Sutarjo A. Wiramiharja.

Ciri penting dari epistomologi adalah pengkajiannya terhadap berbagai ide tentang pengetahuan. Ide dapat dibilang sebagai sumber, watak dan prinsip-psrinsip kebenaran pengetahuan. Ide yang dikembangkan terus-menerus menjadi suatu penalaran, sedangkan penalaran merupakan proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Menurut Jujun Suriasumantri.

Contoh:

Tuhan telah memberi ilmu ataupun pengetahuan. Keingintahuan manusia tentang alat pancaindra ditubuh manusia membuat gagasan dalam pikiran manusisa dalam bentuk penalaran untuk mencari solusi agar diperoleh pengetahuan yang menjelaskan kebenaran dinyatakan secara sistematis dan logis.
Terima kasih atas waktunya untuk membaca Manfaat, Faedah Mempelajari Filsafat ini, dengan harapan semoga artikel Manfaat, Faedah Mempelajari Filsafat ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Manfaat, Faedah Mempelajari Filsafat terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Manfaat, Faedah Mempelajari Filsafat » Makalah