Selamat Datang di emakalah.com

Semoga Anda dapat menemukan apa yang anda cari,

dan semoga emakalah.com dapat bermanfaat bagi Anda

Untuk keluar dari menu/halaman ini silahkan klik LIKE / SUKA

..

Penyakit pada Pertanaman Kacang Hijau

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

1.1.1. Tanaman kacang hijau

Kacang hijau [Vigna radiata (L) wilezek, phaeselus aureus roxb, green gram, mung bean] mempunyai arti yang cukup penting di Indonesia. Tanaman ini banyak di tanam karena bijinya mengandung banyak protein (23,6%). Biji kacang hijau yang di kecambahkan (taoge) merupakan sayuran yang sangat umum, dan dipakai dalam berbagai masakan. Selain itu kacang hijau banyak dipakai untuk membuat bubur kacang hijau dan berbagai macam-macam makanan kecil. Daunnya yang muda dapat dimasak sebagai sayuran (ochse, 1941)

Kacang hijau dapat tumbuh dari 0 sampai 2000 m dpl. Tanaman ini memerlukan tanah yang gembur dan termasuk tanaman yang tahan kering. Kacang hijau peka terhadap kelebihan air.

Kacang hijau tidak dikenal dalam keadaan liar di alam, dan diduga merupakan turunan dari P. Radiatus L yang terdapat tumbuh liar di India dan Burma. Kacang hijau sudah lama dibudidayakan di India. Tanaman ini belum lama dimasukkan ke Cina, Indocina dan Jawa.

1.1.2. Penyakit tanaman

Penyakit merupakan keadaan tanaman yang terganggu pertumbuhannya dan penyebab penyakit dapat berupa bakteri, virus maupun karena kekurangan unsur hara dalam tanah.

Tanaman yang terserang atau mengidap penyakit menunjukkkan indukasi berupa gejala yang merupakan kondisi dari penyakit dan perwujudan reaksi fisiologis tanaman terhadap aktivitas yang merugikan dari patogen. Setiap jenis penyakit menunjukkan gejala yang khas. Munculnya gejala tersebut biasanya tidak sekaligus, tetapi terjadi dalam suatu rangkaian perkembangan penyakit. Rangkaian gejala sampai gejala terakhir dinamakan sindrom.

Gejala yang muncul akibat suatu penyakit umumnya merupakan gejala luas atau dapat dilihat dengan mata. Gejala-gejala tersebut, berdasarkan letaknya dapat dibedakan menjadi gejala lokal dan gejala sistemik. Gejala penyakit yang muncul sebagai pertanda tanaman sakit di tentukan oleh tiga faktor, yaitu daya tahan, unsur lingkungan dan organisme penyebab penyakit seperti bakteri, virus, jamur (cendawan).

1.2. Tujuan Pratikum

Pratikum bertujuan untuk mengamati penyakit-penyakit yang menyerang tanaman “kacang hijau”, serta gejala yang ditimbulkan mulai dari perkecambahan sampai panen.

BAB II

METODE PRATIKUM

2.1. Tempat dan Waktu

Pratikum dilaksanakan di kebun percobaan fakultas Pertanian UNJA, Desa Mendalo Darat Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi. Dari bulan Maret sampai bulan Juni 2009.

2.2. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam pratikum kali ini adalah bibit kacang hijau, pupuk kandang (kotoran ayam) sebanyak 16 karung.

Alat-alat yang digunakan dalam pratikum yaitu cangkul, parang, meteran, tali plastik dan lain-lain yang diperlukan.

2.3. Pelaksanaan Pratikum

2.3.1 Pengelolaan tanah

Pengelolaan tanah dilakukan dua minggu sebelum tanam. Tanah dibersihkan dari gulma atau rerumputan dengan menggunakan parang dan cangkul. Selanjutnya tanah dicangkum sedalam 80 cm supaya gembur (penggemburan) dengan membolak-balikkan tanah, selesai dicangkul dibuat petakan dengan ukuran 5 x 10 cm masing-masing petakan diberi pupuk kandang.

2.3.2 Penanaman

Penanaman dilakukan setelah satu minggu di beri pupuk kandang. Benih ditanam dengan cara ditugal. Jarak tanam yang digunakan 70 x 40 cm, setiap lubang berisi 2 – 3 benih lalu ditutup dengan tanah.

2.3.3 Pemeliharaan tanaman

Pemeliharaan tanaman dilakukan untuk membersihkan gulma yang timbul disekitar pertanaman kacang hijau. Tujuan dibersihkan gulma yaitu untuk mengurangi kelembaban disekitar pertanaman, mengurangi kompetisi dalam perbitan unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya.

2.4. Parameter Yang Diamati

2.4.1 Masa kecambah

Mengamati daya kecambah dari tanaman kacang hijau yang telah ditanam.

2.4.2 Daya kecambah

Persentasi daya kecambah dengan menghitung jumlah tanaman yang tumbuh di bagi jumlah seluruh tanaman dikali 100 %.

2.4.3 Penyakit

Mengamati penyakit-penyakit yang menyerang pada pertanaman kacang hijau dan mengamati gejala-gejala yang ditimbulkan penyakit tersebut.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil Pengamatan

Adapun penyakit-penyakit yang ditemukan dalam lapangan pertanaman kacang hijau.

1. Penyakit bercak daun

a. Penyebab

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Cercospora canescens. Jamur ini mempunyai konidium yang bentuknya seperti jarum atau seperti gada terbalik, hialin, pangkalnya seperti terpotong, ujungnya runcing dan terdiri dari banyak sekat. Konidium ini dibentuk ada kedua sisi daun, tetapi paling banyak pada sisi bawah.

Penyebarannya melalui angin atau serangga dan jamur ini menginfeksi tanaman dengan penetrasi langsung melalui mulut daun atau permukaan sel-sel epidermis.

b. Gejala

Gejala penyakit ini adalah daun tampak berupa bercak-bercak basah berwarna cokelat muda dengan bentuk tidak teratur, bersudut-sudut dan dikelilingi oleh daerah berwarna hijau tua. Serangan berat menyebabkan bercak meluas dengan cepat, daun mengeriput serta layu dan akhirnya rontok.

2. Penyakit batang bercak cokelat (antraknosa)

a. Penyebab

Penyakit batang bercak cokelat ini disebut juga dengan penyakit antraknosa dan disebabkan oleh jamur Colletotrichum Lindemuthianum.

b. Gejala

Gejala yang timbul berupa bercak-bercak tidak teratur dan berwarna cokelat pada batang dan pada daun muncul bercak agak memanjang, mula-mula timbul pada tulang-tulang daun pada permukaan bagian bawah. Kemudian pada bagian batang terdapat kanker hitam melekuk dan pada pusat kanker kadang-kadang berwarna daging.

3.2. Pembahasan

Penyakit bercak daun pada pertanaman kacang hijau ini disebabkan oleh jamur Cercospora canescen dan jamur ini membentuk konidium berwarna cokelat kahijauan pada permukaan daun bagian atas dan bawah, warna tersebut sama dengan warna konidiofor yang dibentuk dan mempunyai konidium seperti jarum, hialin, pangkalnya terpotong, ujungnya runcing dan terdiri dari banyak sekat. Konidium ini dibentuk pada kedua sisi daun, tetapi paling banyak pula pada sisi bawah.

Jamur ini menyebar karena pengaruh angin atau juga serangga dan pada musim hujan konidium terbawa oleh percikan air kedaun yang sehat kemudian jamur ini menginfeksi tanaman dengan penetrasi langsung melalui mulut daun atau permukaan sel-sel epidermis.

Pada penyakit bercak cokelat (antraknosa) disebabkan oleh jamur Colletotrichum Lindemuthianum. Jamur ini mempunyai aservulus hitam dengan rambut atau sytae berwarna cokelat. Apabila dalam keadaan lembap aservulus banyak dibentuk pada permukaan bagian tanaman yang sakit. Konidiumnya hialin, bersel tunggal dan bengkok. Air hujan atau percikan air dapat memencarkan konidium dari jamur ini sehingga menular ke bagian lain dari tanaman atau ketanaman yang sehat.

Bila yang terinfeksi adalah titik tumbuh dari tanaman maka dapat mengakibatkan tanaman mati.

Pengendalian penyakit terhadap kedua penyakit yang menyerang pertanaman kacang hijau ini adalah dapat dianjurkan dengan melakukan pananaman benih atau biji yang tidak tercemar atau varietas yang tahan, mengadakan pergiliran tanaman dan jika tidak tepat maka juga dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida untuk penyakit antraknosa fungisida yang berbahan aktif benomil.

BAB IV

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang didapat adalah penyakit yang ditemukan yang menyerang pertanaman kacang hijau adalah penyakit bercak daun (cercospora canescens) dan penyakit batang bercak cokelat/antraknosa (colletotrichum Lindemuthianum) dan faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit ini adalah faktor iklim atau kelembapan yang tinggi dan tekhnis pengendaliannya dapat dilakukan dengancara kultur jaringan (pergiliran tanaman) dan menggunakan varietas (benih/biji) yang tahan, kemudian mencabut tanaman yang mulai terserang lalu dimusnahkan (dibakar) agar tidak menjadi sumber infeksi pada tanaman yang sehat dan terakhir dengan menggunakan penyemprotan fungisida sesuai dosis yang dianjurkan.

DAFTAR PUSTAKA

Semangun. 2006. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Zulkarnaen. 2003. Budidaya Tanama Holtikultura. Unja Press. Unja

Tim Penulis PS. 1992. Hama Penyakit Sayur dan Palawija. Penebar Swadaya. Jakarta
Terima kasih atas waktunya untuk membaca Penyakit pada Pertanaman Kacang Hijau ini, dengan harapan semoga artikel Penyakit pada Pertanaman Kacang Hijau ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Penyakit pada Pertanaman Kacang Hijau terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Penyakit pada Pertanaman Kacang Hijau » Makalah