Praktek Kepemimpinan Pendidikan

Praktek Kepemimpinan Pendidikan

Sutrisno (2000:45) menuliskan pengalamannya sebagai kepala sekolah seperti berikut. Selama 22 tahun memimpin SD Muhammadiyah Sapen, akhirnya sekolah tersebut telah mencapai prestasi, baik akademik maupun nonakademik. Berdasarkan prestasi tersebut, masyarakat menaruh kepercayaan terhadap sekolah. Prestasi yang diperoleh akibat adanya upaya peningkatan mutu sekolah melalui Trigu, yaitu guru sebagai pendidik, guru sebagai kepala sekolah (pemimpin) dan guru sebagai pengawas. Sebagai pemimpin, guru harus bertanggung jawab atas situasi dan kondisi kelasnya. Oleh karena itu, segala yang terjadi pada diri siswanya di kelas harus diketahui dan menjadi tanggung jawabnya.

Lebih lanjut, Sutrisno (2000:46) menyatakan bahwa baik atau buruknya sebuah sekolah lebih banyak ditentukan oleh kemampuan professional kepala sekolah sebagai pengelolanya. Oleh sebab itu, seorang kepala sekolah setidaknya harus menguasai bekal kemampuan untuk:

1. Menyusun program kegiatan sekolah

2. Menetapkan prosedur mekanisme kerja

3. Melaksanakan monitoring, evaluasi, supervisi dan membuat laporan kegiatan sekolah

4. Meningkatkan dan memantapkan disiplin guru dan siswa.

Idealnya, setiap kepala sekolah sebagai pemimpin diangkat dari guru yang berprestasi tinggi.

Apabila guru terbaik diangkat sebagai kepala sekolah maka siswa akan kehilangan guru favoritnya sehingga dapat menurunkan mutu proses belajar mengajar dikelas. Walaupun demikian, guru tersebut seharusnya berkembang kariernya karena tugas akademik di kelas dapat terhenti total dan focus untuk menangani masalah-masalah administratif di sekolahnya.

A.M Dewabrata (2005:4) menyatakan bahwa kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pemimpin cenderung tidak mau dikritik. Tidak terkecuali kepemimpinan kependidikan. Karena pemimpin merasa benar (sudah lurus) atau tidak pernah salah (tidak pernah keliru). Jika ada isu kecurangan atau kejahatan, pemimpin dengan mudahnya menjawab, “Buktikan! Dan usut saya sesuai hukum yang berlaku”. Di sisi lain, seperti kita ketahui bahwa hukum sendiri sampai saat ini masih sulit ditegakkan. Bawahan selaku rakyat diremehkan, dibelakangi, dianggap bodoh dan tidak punya hak untuk ikut bicara. Padahal, salah satu tujuan pendidikan adalah ingin mewujudkan generasi yang demokratis. Dalam Negara yang demokratis, rakyatlah yang memegang kedaulatan. Dengan demikian, jika para pejabat (pemimpin pendidikan) menyeleweng, bawahan tetap berhak mengontrol, baik secara langsung atau tidak langsung. Pemimpin wajib memerhatikan kontrol tersebut. Jika ada pemimpin pendidikan yang tidak mau mendengar suara-suara bawahannya, ia dapat digolongkan bukan demokrat, tetapi otoriter atau dictator. Jika ia berbicara atas nama lembaga maka lembaganya sudah termasuk otoriter. Sekarang, bawahan dianggap bodoh lagi seperti zaman orde baru. Hanya caranya yang berbeda. Pada zaman orde baru semua dikritik ditanggapi dengan represif, bentak dan hardik. Jika perlu diculik. Sekarang, usul dari bawahan ditampung atau dipikirkan. Akan tetapi hanya sebatas dipikirkan saja, tidak ada aksi apa-apa. Setelah ditampung, nyatanya hanya dibuang di keranjang sampah.

Selanjutnya, A.M Dewabrata (2005:4) menyatakan bahwa pada zaman demokrasi reformasi ini banyak pemimpin yang semestinya berperilaku seperti majikan Semar ternyata meniru perilaku majikan Togog, yaitu tidak senang terhadap usul, saran dan kritik konstruktif dan kontrol sosial baik dari rakyat termasuk bawahan langsungnya, golongan bawah, golongan menengah, golongan atas, maupun kalangan akademis atau intelektual. Pemimpin seperti ini menilai suara-suara di berbagai media massa tidak lebih sebagai pernyataan dengki yang didalangi pihak tertentu. Kacamata psikologi memberitahu kita bahwa orang yang gemar main kuasa pada umumnya dahulu di masa kecilnya terlalu dimanja atau malah terlalu tertekan. Setelah dewasa, ketika orang tersebut menjadi pemimpin tidak mampu membuang traumanya. Suasana manja atau menjadi program pengontrol bagi sikapnya sehari-hari di kala ia dewasa. Bentuknya antara lain kompensasi semu, merasa paling semu, merasa paling bagus, paling hebat, tidak mau disaingi, temperamennya cepat marah dan sifat-sifat negatif lainnya. Untuk menjaga kehebatannya, jika ada serangan terhadap dirinya maka serangan itu harus dihancurkan. Jika tidak mampu, jangan ditanggapi atau pura-pura tidak tahu, supaya kehebatannya tidak tertandingi.

HASIL RISET

Tijan (1995:89) menemukan bahwa kepemimpinan demokratis yang diterapkan orang tua dalam keluarga berpengaruh terhadap sikap dan perilaku asertif pada anak. Akibat pengaruh kepemimpinan orang tua ini, maka pada diri anak terbentuk sikap tegas, mampu berkomunikasi dalam masyarakat di segala lapisan, bersedia menghargai orang lain, tidak suka menang sendiri. Kepemimpinan orang tua yang demokratis dan penerimaan bimbingan di sekolah secara bersama-sama ternyata berpengaruh terhadap sikap dan harapan perilaku asertif pada diri anak. Besarnya sumbangan kepemimpinan demokratis terhadap perilaku asertif anak adalah 5.695%.

Husaini Usman (1997:93) menemukan bahwa kepemimpinan sekolah secara khusus di pendidikan kejuruan haruslah memiliki keahlian teknik, baik dalam arti sebenarnya maupun singkatan. Arti TEKNIK secara singkatan, yaitu Terampil, Etos kerja, Keberanian, Negosiasi, Intuisi bisnis, dan Kewiraswastaan. Uraian singkatnya adalah sebagai berikut:

Terampil meliputi konseptual, manajerial, sosial dan tekhnikal. Keterampilan konseptual artinya:

1. Kemampuan menciptakan, menjelaskan dan menawarkan gagasan-gagasan dalam tema yang menarik, kreatif, terbuka untuk diuji, lebih unggul dalam persaingan atau tawar-menawar dengan pihak lain.

2. Kemampuan argumentasi dan mempertahankan pendirian secara etis rasional sehingga pihak lain termotivasi untuk merundingkan dan mempertimbangkan hingga akhirnya menerima pilihan yang diturunkan dari gagasan tadi.

3. Memiliki konsep, teori yang mendukung ide, gagasan dan argumentasi.

Keterampilan manajerial ialah keterampilan mengelola (perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian).

Keterampilan sosial ialah keterampilan bergaul atau berhubungan dengan orang lain (human relations) melalui komunikasi dan motivasi yang efektif (pelajari bab motivasi dab bab komunikasi). Dalam melakukan hubungan sosial, kecenderungan manusia ialah:

1. Egois

2. Menganggap dirinya paling hebat dari yang lain

3. Meremehkan orang lain

4. Memburuk-burukkan orang lain,

5. Kurang berjiwa besar

6. Enggan mengakui kekuatan orang lain

7. Membuka mata selebar-lebarnya untuk mengetahui kesalahan orang dan menutup mata untuk kebaikan orang lain dan

8. Bersikap negatif terhadap orang lain

Untuk mengatasi hal ini, gunakan prinsip-prinsip hubungan sosial berikut:

1. Ramah tamah

2. Menghargai orang lain

3. Pendengar yang baik

4. Pemberi semangat kepada orang lain

5. Hindari debat kusir

6. Hindari pembenaran diri sendiri

7. Kritik destruktif

8. Buat orang lain menjadi penting

9. Bicarakan hal-hal yang menarik minat orang lain

10. Pemimpin yang mempunyai hubungan sosial tinggi tidak merasa pandai, tetapi pandai merasakan (perasaan orang lain)

Kalau Anda berbuat baik kepada orang lain, maka kebaikan itu sebenarnya untuk dirimu sendiri. Demikianlah sebaliknya. Dalam peribahasa, “Siapa yang menanam bersiaplah menuai hasilnya”.

Keterampilan teknikal atau keterampilan operasional ialah keterampilan psikomotor seperti terampil menerapkan teknik-teknik manajemen. Keterampilan teknikal ini biasanya didapat dari pelatihan atau pengalaman belajar dan berlatih sendiri. Pemimpin yang memiliki keterampilan teknikal sulit dibohongi bawahannya dan mantap dalam mengarahkan bawahannya. Keterampilan spiritual artinya terampil atau taat beribadah, berbuat kebaikan dan menjauhi semua kejahatan.

Etos kerja ialah mempunyai visi jauh kedepan, motif yang kuat untuk mencapai tujuan, inovatif, kreatif, adaptif, kerja keras, kerja secara sistematis, bertanggung jawab, disiplin, percaya diri dan pelayanan memuaskan segala pihak.

Keberanian mengambil resiko dengan penuh perhitungan berarti keberanian tidak dilakukan semata-mata asal hantam kromo, tetapi sudah diperhitungkan secara matang untung dan ruginya atau manfaat dan mudharatnya. Keberanian untuk belajar dari kesalahan, karena pengalaman adalah guru terbaik. Belajar dari kesalahan dengan tujuan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di kesempatan lain. Peribahasa menyatakan bahwa keledai yang dianggap binatang paling bodoh pun tidak pernah terperosok pada lobang yang sama.

Perhitungan-perhitungan keberanian menurut Sanusi (1989) meliputi keberanian ragawi, sosial, moral, kreatif dan imani.

Keberanian ragawi ialah kemauan, kesediaan, kesiapan dan kemampuan anggota badan untuk melakukan suatu kegiata. Kegiatan ragawi penting sekali untuk mewujudkan perintah pikiran yang telah diteguhkan oleh hati yang mantap. Keberanian ragawi harus bergerak bersama keberanian lainnya. Contoh keberanian ragawi ialah berani menantang bawahan yang sudah salah masin melawan atau menantang untuk berkelahi. Keberanian sosial ialah kemauan, kehendak, kesediaan, kesiapan dan kemampuan seseorang untuk bersikap terbuka, suka berhubungan dengan orang lain, kesediaan berlatih, mencoba, membiasakan komunikasi dua arah atau berani bertanya jawab di muka umum, keberanian memberi saran kepada pemimpin yang zalim. Jika seseorang masih berorientasi pada diri sendiri, mudah berpuas diri, kaku, sangat formalistis, lebih mengutamakan penyelesaian tugas daripada berhubungan baik dengan bawahannya, tidak senang menerima saran konstruktif, mudah tersinggung, suka mendendam, suka mendominasi pembicaraan atau sebaliknya sangat menggantungkan dirinya pada orang lain. Ia tidak merasa berkewajiban mengadakan interaksi, interdepensi dan kerja sama. Pilihannya antara menguasai atau dikuasai. Keberanian moral ialah kemampuan melaksanakan suara hati nurani. Keberanian kreatif ialah kemampuan menghasilkan sesuatu yang baru yang lebih bermubtu dan bermakna. Keberanian imani ialah kemampuan untuk berjihad.

Teknik untuk membangun keterbukaan dan keberanian antara lain:

1. Terima dan bangga akan identitas anda

2. Bangga akan profesi anda

3. Bangun keterbukaan dan keberanian akan hal-hal yang anda sukai

4. Belajar menghadapi tantangan dan masalah, bukan menghindarinya

5. Belajar mengambil solusi setiap masalah, jangan takut ambil resiko apabila telah diputuskan

6. Hancurkan penyebab rendah diri sebelum ia menghancurkan anda

7. Biasakan bertindak dengan antusias dan optimis karena pesimis merupakan separuh kegagalan

8. Ingat dan banggalah akan keberhasilan anda

9. Ingat dan banggalah dengan perkilaku positif anda

10. Atasilah dan cegah segala bentuk kelemahan anda dengan berpikir dan berjiwa besar

Negosiasi ialah perundingan. Negosiasi terjadi karena adanya kepentingan bersama yang harus dirundingkan. Pemimpin pendidikan kejuruan tidak dapat melepaskan diri dari negosiasi. Untuk menempatkan siswanya praktek atau magang di perusahaan diperlukan negosiasi dengan pengusaha. Untuk membeli alat dan bahan praktek siswa diperlukan negosiasi. Untuk menjual hasil unit produksi sekolah ke pembeli diperlukan negosiasi. Negosiasi dapat terjadi dalam empat hal:

1. Saya kalah, anda kalah

2. Saya kalah, anda menang

3. Saya menang, anda kalah

4. Saya menang, anda menang

Dalam bernegosiasi ada empat hal yang harus diperhatikan:

1. Memahami orang lain

2. Mengendalikan emosi

3. Berkomunikasi dengan baik

4. Pertimbangkan nilai-nilai dan cara pandang orang lain

Mill (1995) memberikan teknik bernegosiasi dengan sukses, yaitu:

1. Menambah bonus dalam suatu transaksi

2. Menyatakan keterbatasan dana (bogey)

3. Eskalasi yaitu taktik menekan harga

4. Ketiadaan wewenang

5. Permintaan awal yang melampaui batas (psywar atau shock)

6. Minta bonus

7. Bersalaman

8. Harga diambil jalan tengah (rata-rata)

9. Tetap teguh dengan janji yang disepakati.

Intuisi bisnis ialah kemampuan membaca peluang bisnis tanpa melalui proses berpikir ilmiah. Intuisi biasanya terjadi secara sponta tanpa sempat berpikir panjang. Intuisi terjadi karena pernah mengalami keadaan yang hampir sama sehingga keputusannya berdasarkan intuisi. Orang merasa yajin intuisi inilah cara pemecahan masalah terbaik, tetapi tidak dapat menjelaskannya secara ilmiah. Intuisi bersifat personal dan sulit diramalkan. Maslow menyatakan bahwa intuisi merupakan pengalaman puncak (Honer & Hunt, 1968) sedangkan Nietzhe menyatakan bahwa intuisi merupakan intelegensi tertingg (Kneller & Kenichi, 1969).

Kewirausahaan (entrepreneur) merupakan sebuah istilah yang dikenalkan oleh ekonom seperti Say (1803), Cantillon (1925) dan Schumpeter (1934). Entrepreneur berasal dari Bahasa Perancis, entreprende yang artinya mengusahakan. Entrepreneur menurut Pinchot (1988) ialah orang yang mengintegrasikan bakat rekayasa dan pemasar dengan menciptakan proses dan produk/jasa baru. Entrepreneur menurut Kuartko & Hodgetts (1986) ialah orang yang mengorganisasikan sumber daya organisasi dan berani mengambil resiko bisnis. Entrepreneur menurut Kao (1991) ialah seorang innovator dan kreator dalam memanfaatkan peluang-peluang untuk memenuhi kepuasan dengan menggunakan sumber daya yang ada. Dari keempat defenisi entrepreneur diatas, dapat disimpulkan bahwa yang disebut entrepreneur ialah inovator dan kreator yang berani mengambil resiko dalam memanfaatkan peluang bisnis.

Keberhasilan sekolah mencapai tujuannya antara lain sangat ditentukan oleh keandalan kepemimpinan kepala sekolah dalam memanaj sekolahnya. Peranan kepemimpinan dalam suatu kelompok kerja atau organisasi sangat berpengaruh untuk mewujudkan sasaran yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, keberhasilan suatu organisasi untuk mencapai tujuannya secara efektif dan efisien sangatlah ditentukan oleh keandalan kepemimpinan seorang pemimpin.

Dalam hal ini terdapat 21 karakteristik kepemimpinan kejuruan sebagai modifikasi Pinchot III, yaitu terampil dalam hal:

1. Konseptual

2. Manajerial

3. Sosial

4. Teknikal. Untuk etos kerja

5. Motif pencapaian tujuan

6. Visi jauh kedepan

7. Suka berinovasi

8. Suka berkreasi

9. Suka beradaptasi

10. Suka bekerja keras

11. Berpikr dengan pendekatan system atau sistematis

12. Bertanggung jawab tinggi

13. Pelayanan memuaskan semua pihak dan

14. Penuh percaya diri. Untuk keberanian:

15. Berani mengambil resiko dengan penuh perhitungan

16. Belajar dari kesalahan. Untuk negosiasi:

17. Berunding dengan prinsip saling menguntungkan (menang-menang). Untuk intuisi bisnis:

18. Memiliki intuisi yang hebat. Untuk kewirausahaan:

19. Berlatar belakang keluarga entrepreneurship dan

20. Berlatar belakang pendidikan teknik.

Madya Ekosusilo (2002:60) menemukan bahwa variabel perilaku kepemimpinan terdapat perbedaan yang meyakinkan antara guru yang berpendidikan sarkana, diploma/sarjana muda dan SPG/SLTP. Penelitian ini sebenarnya termasuk penelitian ad hock. Artinya, tanpa ditelitipun, orang sudah dapat menduga bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, cenderung semakin tinggi pula kepemimpinannya. Hal ini dikarenakan yang berpendidikan tinggi sudah dibekali lebih banyak konsep dan sikap ilmiah dibandingkan dengan yang berpendidikan lebih rendah. Terlebih factor usia tidak disinggung dalam penelitian tersebut. Karena semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin tua usianya. Semakin tua usianya, semakin berpengalaman ia dalam hidupnya. Semakin berpengalaman seseorang, cenderung semakin tinggi kepemimpinan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitaif. Ditinjau dari sudut statistik, salah satu syarat untuk membedakan adalah varibel yang dibedakan homogen atau setara. Membedakan sarjana dengan diploma/sarjana muda apalagi SPG/SLTP sudah pasti bukan tandingannya atau tidak relatif homogeny.

Suyanto, dkk (2003:52) menemukan bahwa sebagian besar Kepala Sekolah Dasar memiliki gaya kepemimpinan transformasional yang tinggi. Perbedaan jenis kelamin kepala sekolah tidak membedakan korelasi kepemimpinan transformasional dengan kepuasan kerja guru. Gaya kepemimpinan transformasional Kepala Sekolah Dasar berkorelasi positif dan signifikan dengan kepuasan kerja guru. Jadi, untuk meningkatkan kepuasan kerja guru, kepemimpinan transformasional kepala pun harus ditingkatkan.

Mien Ratoe Oedjoe (2004:191-192) menemukan bahwa kepemimpinan Kepala Sekolah merupakan salah satu faktor yang mendorong sekolah untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Oleh karena itu, dituntut keefektifan kepemimpinan, baik perempuan maupun laki-laki sebagai Kepala Sekolah yang dapat dilihat dari tugas dan tanggung jawab kekepalasekolahannya. Kepemimpinan perempuan sebagai Kepala Sekolah berlangsung efektif, meskipun dalam hal penerimaan inovasi cenderung lambat. Beberapa karakteristik keefektifan kepemimpinan Kepala Sekolah tampak dalam menyusun visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah serta mensosialisasikan kepada warga sekolah guna mendapat dukungan warga sekolah. Dengan kata lain, kedua kepala sekolah memahami memahami paradigma baru dalam manajemen pendidikan sehingga dapat pengalaman dan pendidikan perempuan sebagai Kepala Sekolah yang memudahkan pemahaman konsep dan inovasi baru. Perempuan sebagai kepala sekolah mampu bekerja sesuai dengan program sekolah, serta mampu menjalin hubungan kerja yang harmonis baik dengan orang tua siswa maupun dengan masyarakat. Perempuan sebagai Kepala Sekolah mampu mempergunakan kepemimpinannya di dalam menjalin komunikasi dua arah antara sekolah dan orang tua serta masyarakat sehingga terwujud kerja sama yang harmonis guna terlaksananya kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Abd. Karim Masaong (2004:543) menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara semangat kerja guru dengan perilaku kepemimpinan Kepala Sekolah. Perilaku kepemimpinan Kepala Sekolah memberikan kontribusi terhadap semangat kerja guru sebesar 67,65%.

Husaini Usman (2004:149-150) menemukan bahwa ada hubungan positif antara sifat kepemimpinan, penggunaan kekuasaan, iklim organisasi, kriteria sukses dan komitmen pemimpin secara bersama-sama dengan kepemimpinan primal Kepala SMK. Besarnya kontribusi terhadap kepemimpinan sifat-sifat kepemimpinan (2,47%), penggunaan kekuasaan (13,58%), iklim organisasi sekolah (21,8%), kriteria sukses (17,19%), komitmen pemimpin (10,43%. Secara serempak (63,30%).
Terima kasih atas waktunya untuk membaca Praktek Kepemimpinan Pendidikan ini, dengan harapan semoga artikel Praktek Kepemimpinan Pendidikan ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Praktek Kepemimpinan Pendidikan terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Praktek Kepemimpinan Pendidikan » Makalah

eMakalah.com