Selamat Datang di emakalah.com

Semoga Anda dapat menemukan apa yang anda cari,

dan semoga emakalah.com dapat bermanfaat bagi Anda

Untuk keluar dari menu/halaman ini silahkan klik LIKE / SUKA

..

Apa dan Bagaimana Belajar | Teori Belajar dan Pembelajaran

Dalam percakapan sehari-hari kita sering mendengar seorang ibu yang mengatakan bahwa anaknya sedang belajar berjalan atau sedang belajar berbicara. Sesekali kita juga mendengar seorang ibu yang kecewa karena, walaupun anaknya sudah belajar semalaman tetapi hasil ujiannya kurang memuaskan. Apakah kegiatan yang dilakukan anak-anak tersebut merupakan kegiatan belajar'? Apabila Anda melihat seorang siswa sedang asyik membaca buku di perpustakaan atau sekelompok siswa sedang mengerjakan tugas kelompok, atau seorang siswa sedang memperhatikan penjelasan guru dengan serius, apakah Anda beranggapan bahwa mereka sedang belajar. Jawaban atas kedua pertanyaan tersebut bisa ya, bisa juga tidak. Untuk dapat menyatakan bahwa seseorang melakukan belajar atau tidak, kita perlu memahami tentang apa itu belajar dan apa ciri-cirinya untuk menunjukkan bahwa orang tersebut belajar.

A. KONSEP BELAJAR

Istilah belajar sudah dikenal luas di berbagai kalangan walaupun sering disalahartikan atau diartikan secara common sense atau pendapat umum saja. Misalnya seorang ibu meminta anaknya "Kau belcrjnr clultt sebelunr tidur, Nak", maksudnya mungkin membaca dulu buku pelajaran sebelum tidur. Atau seorang ayah menasihati anaknya yang baru terjatuh dari sepeda motor karena kelalaiannya, dengan mengatakan "Lain kali kanttt hnrus helajar dnri pengalnntan", yang maksudnya jangan mengulangi kesalahan serupa pada masa mendatang. Dalam kedua contoh ungkapan tersebut belajar diartikan sebagai proses mendapatkan pengetahttan dengan membaca dan ntertggunaknn pensnlantatt sebagcti pengetnltunn yang ntentandu perilaku pada nrnsa yang akan datang. Dengan kedua contoh tersebut, kita dapat menangkap makna konkret dan praktis dari belajar. Selanjutnya apa makna konseptual dan utuh tentang konsep belajar?
Untuk memahami konsep belajar secara utuh perlu digali lebih dulu bagaimana para pakar psikologi dan pakar pendidikan mengartikan konsep belajar. Pandangan kedua kelompok pakar tersebut sangat penting karena perilaku belajar merupakan ontologi atau bidang telaah dari kedua bidang keilmuan itu. Pakar psikologi melihat perilaku belajar sebagai proses psikologis individu dalam interaksinya dengan lingkungan secara alami, sedangkan pakar pendidikan melihat perilaku belajar sebagai proses psikologis-pedagogis yang ditandai dengan adanya interaksi individu dengan lingkungan belajar yang disengaja diciptakan.
Pengertian belajar yang cukup komprehensif diberikan oleh Bell-Gredler (1986:1) yang menyatakan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skills, and attitudes. Kemampuan (competencies), keterampilan (skills), dan sikap (attitudes) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjut4m mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar sepanjang hayat: Rangkaian proses belajar itu dilakukan dalam bentuk keterlibatannya dalam pendidikan informal, keturutsertaannya dalam pendidikan formal dan/atau pendidikan nonformal. Kemampuan belajar inilah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya.
Belajar sebagai proses manusiawi memiliki kedudukan dan peran penting, baik dalam kehidupan masyarakat tradisional maupun modern. Pentingnya proses belajar dapat dipahami dari traditional/local wisdom, filsafat, temuan penelitian dan teori tentang belajar. Traditional/local wisdom adalah ungkapan verbal dalam bentuk frasa, peribahasa, adagium, maksim, kata mutiara, petatah-petitih atau puisi yang mengandung makna eksplisit atau implisit tentang pentingnya belajar dalam kehidupan manusia. Sebagai contoh: lqra bismirobGika ladtii kholac! (Bacalah alam semesta ini dengan nama tuhanmu); Belajarlah sancpai ke rcegeri China sekalipun (Belajarlah tentang apa saja, dari siapa saja dan dimana saja); Bend the willow when it is young (Didiklah anak selagi masih muda); Berakit-rakir ke hedci berenang-renang ke tepian (Belajar lebih dahulu nanti akan dapat menikmati hasilnya).
Dalam pandangan yang lebih komprehensif konsep belajar dapat digali dari berbagai sumber seperti filsafat, penelitian empiris, dan teori. Para ahli filsafat telah mengembangkan konsep belajar secara sistematis atas dasar pertimbangan nalar dan logis tentang realita kebenaran, kebajikan dan keindahan. Karena itu filsafat merupakan pandangan yang koheren dalam melihat hubungan manusia den-an alam semesta. Plato, dalam Belt-Gredler (1986: 14-16) melihat pengetahuan sebagai sesuatu yang ada dalam diri manusia dan dibawa lahir. Sementara itu Aristoteles melihat pengetahuan sebagai sesuatu yang ada dalam dunia fisik bukau dalam pikiran. Kedua kutub pandangan filosofis tersebut berimplikasi pada pandangan tentang belajar. Bagi penganut filsafat idealisme hakikat realita terdapat dalam pikiran, sumber pengetahuan adalah ide dalam diri manusia, dan proses belajar adalah pengembangan ide yang telah ada dalam pikiran. Sedang bagi penganut realisme, realita terdapat dalam dunia fisik, sumber pengetahuan adalah pengalaman sensori, dan belajar merupakan kontak atau interaksi individu dengan lingkungan fisik.
Pandangan lain tentang belajar, selain dari pandangan para filosof idealisme dan realisme tersebut di atas, berasal dari pandangan para ahli psikologi, yang antara lain dirintis oleh Wiliam James, John Dewey, James Cattel, dan Edward Thorndike tahun 1890-1900 (Bell-Gredler, 1986:20-25). Pada dasarnya para ahli psikologi melihat belajar sebagai proses psikologis yang disimpulkan dari hasil penelitian tentang bagaimana anak berpikir (Hall: 1883), atau disimpulkan dari bagaimana binatang belajar (Thorndike: 1898) atau dari hasil pengamatan praktek pendidikan (Dewey:1899). Sejalan dencan mulai berkembangnya disiplin psikologi pada awal abad ke-20 berkembang pula berbagai pemikiran tentana belajar yang digali dari berbagai penelitian empiris. Pada zaman itu mulai berkembang dua kutub teori belajar, yakni teori behaviorisme dan teori gestalt. Kunci dari teori behaviorisme yang digali dari penelitian Ivan Pavlov pemenang hadiah Nobel taliun 1904, dan V.M. Bechtereve serta A.B. Watson adalah proses relasi antara stimulus dan respon (S-R), sedang teori gestalt adalah relasi antara bagian dengan totalitas pengalaman. Sejak itu maka berkembang berbagai teori belajar yang bertolak dari ontologi penelitian yang berbeda-beda tetapi semua bertujuln untuk menjelaskan bagaimana belajar sesungguhnya terjadi.
Beberapa teori belajar secara signifikan banyak mempengaruhi pemikiran tentang proses pendidikan, termasuk pendidikan jarak jauh. Teor-i Operant Conditioning atau Pengkondisian Operant dari B.F. Skinner yang menekankan pada konsep reinforcement atau penguatan (Bell-Gredler, 1986: 77-91), dan teori Conditions of Learning dari Robert Gagne yang menekankan pada behavior development atau perkembangan perilaku sebagai produk dari cumulative effects of learning atau efek kumulatif (Bell-Gredler, 1986: 117130) mempengaruhi pandangan tentang bagaimana menata lingkungan belajar. Sementara itu teori hrforrnation Processing yang menekankan pada proses pengolahan urformnsi dnlnnc berpikir (Bell¬Gredler, 1986: 153-169), dan teori Cognitive Development atau Perkembangan Kognitif dari Jean Piaget yang menekankan pada konsep ways of knowing atau jalan untuk tahu (Bell-Gredler, 1986: 193-209) mempengaruhi pandangan tentang bagaimana mengembangkan proses intelektual peserta didik. Di lain pihak teori Social Learning atau Belajar Sosial dari Albert Bandura yang menekankan pada pemerolehan complex skills and abilities atau kemampuan dan keterampilan kompleks melalui pengamatan modeled behavior atau perilaku yang diteladani beserta konsekuensinya terhadap perilaku individu (Bell-Gredler, 1986: 235-253) dan teori Attribution atau Atribusi dari Bernard Werner yang menekankan pada relasi antara ability, effort, task difficulty, and luck dalam keberhasilan atau kegagalan belajar (Bell-Gredler, 1986: 276-291) mempengaruhi pandangan tentang bagaimana melibatkan individu dalam konteks sosial. Sedangkan teori Experiential Learning atau Belajar melalui Pengalaman dari David A. Kolb, yang menekankan pada konsep transformation of experiences atau transformasi pengalaman dalam membangun knowledge atau pengetahuan (Kolb, 1984: 21-38), teori Social Development atau Perkemtangan Sosial dari L. Vygostky yang menekankan pada konsep zone of proximal development atau arena perkembangan terdekat melalui proses dialogis dan kebersamaan (Cheyne dan Taruli, 2005:1-10), dari Web-based Learning Theocy atau Teori Belajar Berbasis Jaringan yang menekankan pada interaksi individu dengan sumber informasi berbasis jaringan elektronik (Suparman, Winataputra, Hardhono, dan Sugilar, 2003:1-5) mempengaruhi pandangan tentang bagaimana memanfaatkan lingkungan belajar yang bersifat multipleks guna menghasilkan belajar yang lebih bermakna. Semua konsep belajar yang dibangun dalam masing-masing teori tersebut melukiskan bagaimana proses psikologis-internal-individual atau psikososial atau psikokontekstual yang relatif bebas dari konteks pedagogik yang sengaja dibangun untuk menumbuhkembangkan potensi belajar individu.
Dalam konteks pencapaian tujuan pendidikan nasional konsep belajar harus diletakkan secara substantif-psikologis terkait pada seluruh esensi tujuan pendidikan nasional mulai dari iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Dengan kata lain konsep belajar yang secara konseptual bersifat content free atau bebas-isi secara operasional-kontekstual menjadi konsep yang bersifat content-based atau bermuatan. Oleh karena itu, konsep belajar dalam konteks tujuan' pendidikan nasional harus-dimaknai sebagai belajar untuk menjadi orang yang: beriman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, ber-akhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Karena pendidikan memiliki misi psiko pedagogic dan se-io pedagogic maka pengembangan pengetahuan, nilai-nilai dan sikap, serta keterampilan mengenai keberagamaan dalam konteks beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; keberagamaan dalam konteks berakhlak mulia; ketahanan jasmani dan rohani dalam konteks sehat; kebenaran dan kejujuran akademis dalam konteks berilmu melekat; terampil dan cermat dalam konteks cakap; kebaruan (novelty) dalam konteks kreatif, ketekunan dan percaya diri dalam konteks mandiri; dan kebangsaan, demokrasi dan patriotisme dalam konteks warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab seyogianya dilakukan dalam rangka pengembangan kemampuan belajar peserta didik.
Belajar sering juga diartikan sebagai penambahan, perluasan, dan pendalaman pengetahuan, nilai dan sikap, serta keterampilan. Secara konseptual Fontana (1981), mengartikan belajar adalah suatu proses perubahan yang relatif tetap dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman. Seperti Fontana, Gagne (1985) juga menyatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan dalam kemampuan yang bertahan lama dan bukan berasal dari proses pertumbuhan. Learning is a change in human disposition or canability that persists over a period of tirne and is not simply ascribable to processes of growth (Gagne, 1985: hal. 2). Pengertian ini senada dengan pengertian belajar dari Gagne (1985) tersebut dikemukakan oleh Bower dan Hilgard (1981), yaitu bahwa belajar mengacu pada perubahan perilaku atau potensi individu sebagai hasil dari pengalaman dan perubahan tersebut tidak disebabkan oleh insting, kematangan atau kelelahan dan kebiasaan. Persisnya dikatakan bahwa' Learning refers to the change in a subject's behavior or behavior potential to a given situation brought about by the subject's repeated experiences in hat situation, provided that the behavior change cannot be explained on the basis of the subject's native response tendencies, maturation, or temporary states (such as fatigue, drunkenness, drives, and so on). (Bower dan Hilgard, 1981: hal. 11).

B. CIRI-CIRI BELAJAR

Dari semua pengertian tentang belajar, sangat jelas pada kita bahwa belajar tidak hanya berkenaan dengan jumlah pengetahuan tetapi juga meliputi seluruh kemampuan individu. Kedua pengertian terakhir tersebut memusatkan perhatiannya pada tiga hal.
Pertama, belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan perilaku pada diri individu. Perubahan tersebut tidak hanya pada aspek pengetahuan atau kognitif saja tetapi juga meliputi aspek sikap dan nilai (afektif) serta keterampilan (psikomotor).
Kedua, perubahan itu harus merupakan buah dari pengalaman. Perubahan perilaku yang terjadi pada diri individu karena adanya interaksi antara dirinya dengan lingkungan. Interaksi ini dapat berupa interaksi fisik.
Misalnya, seorang anak akan mengetahui bahwa api itu panas setelah ia menyentuh api yang menyala pada lilin. Di samping melalui interaksi fisik, perubahan kemampuan tersebut dapat diperoleh melalui interaksi psikis. Contofmya, seorang anak akan berhati-hati menyeberang jalan setelah ia melihat ada orang yang tertabrak kendaraan. Perubahan kemampuan tersebut terbentuk karena adainya interaksi individu dengan lingkungan. Mengedipkan mata pada saat memandang cahaya yang menyilaukan atau keluar air liur pada saat mencium harumnya masakan bukact merupakan hasil belajar. Di samping itu, perubahan perilaku karena faktor kematangan tidak termasuk belajar. Seorang anak tidak dapat belajar berbicara sampai cukup umurnya. Tetapi perkembangan kemampuan berbicaranya sangat tergantung pada rangsangan dari lingkungan sekitar. Begitu juga dengan kemampuan berjalan.
Ketiga, perubahan tersebut relatif menetap. Perubahan perilaku akibat obat-obatan, minuman keras, dan yang lainnya tidak dapat dikategorikan sebagai perilaku hasil belajar. Seorang atlet yang dapat melakukan lompat galah melebihi rekor orang lain karena minum obat tidak dapat dikategorikan sebagai hasil belajar. Perubahan tersebut tidak bersifat menetap. Perubahan perilaku akibat belajar akan bersifat cukup permanen.

C. JENIS-JENIS BELAJAR

Berkenaan dengan proses belajar yang terjadi pada diri siswa, Gagne (1985) mengemukakan delapan jenis belajar. Kedelapan jenis belajar tersebut adalah:
1. Belajar Isyarat (Signal Learning)
Belajar melalui isyarat adalah melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena adanya tanda atau isyarat. Misalnya berhenti berbicara ketika mendapat isyarat telunjuk menyilang mulut sebagai tanda tidak boleh ribut; atau berhenti mengendarai sepeda motor di perempatan jalan pada saat tanda lampu merah menyala.

2. Belajar Stimulus-Respon (Stimulus-Response Learning)
Belajar stimulus-respon terjadi pada diri individu karena ada rangsangan dari luar. Misalnya, menendang bola ketika ada bola di depan kaki, berbaris rapi karena ada komando; berlari karena mendengar suara anjing menggonggong di belakang, dan sebagainya

3. Belajar Rangkaian (Chaining Learning)
Belajar rangkaian terjadi melalui perpaduan berbagai proses stimulus respon (S-R) yang telah dipelajari sebelumnya sehingga melahirkan perilaku yang segera atau spontan seperti konsep merah-putih, panas-dingin, ibu¬bapak, kaya-miskin, dan sebagainya

4. Belajar Asosiasi Verbal (Verbal Association Learning)
Belajar asosiasi verbal terjadi bila individu telah mengetahui sebutan bentuk dan dapat menangkap makna yang bersifat verbal. Misalnya perahu itu seperti badan itik atau kereta api seperti keluang (kaki seribu) atau wajahnya seperti bulan kesiangan.

5. Belajar Membedakan (Discrimination Learning)
Belajar diskriminasi terjadi hila individu berhadapan dengan benda, suasana, atau pengalaman yang luas dan mencoba membeda-bedakan hal-hal yang jumlahnya banyak itu. Misalnya, membedakan jenis tumbuhan atas dasar urat daunnya, suku bangsa menurut tempat tinggalnya, dan negara menurut tingkat kemajuannya.


6. Belajar Konsep (Concept Learning)
Belajar konsep terjadi bila individu menghadapi berbagai fakta atau data yang kemudian ditafsirkan ke dalam suatu pengertian atau makna yang abstrak. Misalnya, binatang, tumbuhan dan manusia termasuk makhluk hidup; negara-negara yang maju termasuk developed-countries; aturan-aturan yang mengatur hubungan antar-negara termasuk hukum internasional.

7. Belajar Hukum atau Aturan (Rule Learning)
Belajar aturan/hukum terjadi bila individu menggunakan beberapa rangkaian peristiwa atau perangkat data yang terdahulu atau yang diberikan sebelumnya dan menerapkannya atau menarik kesimpulan dari data tersebut menjadi suatu aturan. Misalnya, ditemukan bahwa benda memuai bila dipanaskan, iklim suatu tempat dipengaruhi oleh tempat kedudukan geografi dan astronomi di muka bumi, harga dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan, dan sebagainya.

8. Belajar Pemecahan Masalah (Problem Solving Learning)
Belajar pemecahan masalah terjadi bila individu menggunakan berbagai konsep atau prinsip untuk menjawab suatu pertanyaan, misalnya, mengapa harga bahan bakar minyak naik, mengapa minat masuk perguruan tinggi menurun. Proses pemecahan masalah selalu bersegi jamak dan satu sama lain saling berkaitan.

Urutan jenis-jenis belajar tersebut merupakan tahapan belajar yang bersifat hierarkis. Jenis belajar yang pertama merupakan prasyarat bagi berlangsungnya jenis belajar berikutnya. Seorang individu tidak akan mampu melakukan belajar pemecahan masalah apabila individu tersebut belum menguasai belajar aturan, konsep, membedakan, dan seterusnya.
Untuk dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai konsep belajar dilihat dari berbagai teori belajar, seperti diintisarikan oleh Bell-Gredler (1986:317) ada enam teori belajar kontemporer yang secara singkat dapat kita bahas dalam Modul ini, yakni Teori Operant Conditioning dari B.F. Skinner; Teori Conditions of Learning dari Robert Gagne; Teori Information Processing; Teori Cognitive Development dari Jean Piaget; Teori Social Learning dari Albert Bandura; dan Teori Attribution dari Bernard Weiner.
Ringkasan Karakteristik dari 6 Teori Belajar Kontemporer



Itulah beberapa hal yang berkaitan dengan belajar. Tugas guru selanjutnya adalah bagaimana menciptakan kegiatan yang memungkinkan siswa belajar.

LATIHAN
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
1) Berikan contoh perubahan perilaku sebagai hasil belajar!
2) Amatilah seorang guru yang sedang mengajar atau renungkan perilaku Anda ketika melakukan pembelajaran di kelas! Apakah kegiatan yang dilaksanakan guru tersebut atau Anda mencerminkan kegiatan yang menghasilkan proses belajar?

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Untuk mengecek apakah contoh yang Anda buat merupakan perilaku hasil belajar, Anda harus memperhatikan ciri-ciri atau karakteristik proses belajar. Suatu perilaku dianggap sebagai hasil belajar apabila perilaku tersebut diperoleh melalui pengalaman dan perilaku tersebut bersifat permanen.
2) Untuk menjawab pertanyaan ini Anda harus menguasai tentang karakteristik kegiatan belajar yang dilakukan guru dapat dianggap sebagai kegiatan pembelajaran apabila kegiatan tersebut mendukung proses belajar siswa yang ditunjukkan oleh adanya perubahan perilaku yang bersifat permanen, serta seluruh kegiatan yang dilaksanakan guru tersebut mengandung komponen tujuan, materi, proses, dan evaluasi.

RANGKUMAN
1. Belajar mengacu pada perubahan perilaku individu sebagai akibat ' dari proses pengalaman baik yang dialami ataupun yang sengaja ~dirancang.
2. Ciri-ciri belajar adalah adanya perubahan perilaku. Perubahan perilaku tersebut merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungan, serta perilaku tersebut bersifat relatif menetap.
3. Delapan jenis belajar menurut Gagne adalah belajar isyarat, stimulus-respon, rangkaian, asosiasi verbal, membedakan, konsep, hukum/aturan, dan pemecahan masalah.
4. Pembelajaran mengacu pada segala kegiatan yang dirancang untuk mendukung proses belajar yang ditandai dengan adanya perubahan perilaku individu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
5. Ciri-ciri pembelajaran adalah kegiatannya mendukung proses belajar siswa, adanya interaksi antara individu dengan sumber belajar, serta memiliki komponen-komponen tujuan, materi, proses, dan evaluasi yang saling berkaitan.
6. Masing-masing teori belajar memiliki asumsi dasar, komponen dasar dan kontribusi yang khas.


TES FORMATIF 1
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
1) Belajar merujuk pada proses psikologis ....
A. pengenalan objek di luar diri
B. perubahan perilaku individu
C. rangsangan lingkungan
D. penataan respon

2) Berikut ini adalah ciri-ciri belajar, kecuali ....
A. adanya perubahan perilaku
B. adanya interaksi dengan lingkungan
C. pembentukan perilaku yang bersifat menetap
D. mengikuti proses pertumbuhan

3) Manakah dari perilaku berikut yang bukan merupakan perilaku sebagai hasil belajar?
A. Anwar dapat menghitung perkalian dua angka setelah mengerjakan soal latihan berkali-kali.
B. Setelah berlatih beberapa hari, Roni dapat berlari . terus-menerus selama satu jam.
C. Dengan mencicipi garam, Ani mengetahui bahwa rasa garam itu asin.
D. Pada usia 24 bulan, Rina sudah dapat merangkai dua kata yang mengandung arti.

4) Seorang anak yang berhenti bermain ketika mendengar lonceng berbunyi menunjukkan proses belajar ....
A. isyarat
B. stimulus - respon
C. rangkaian
D. asosiasi verbal

5) Belajar konsep menurut Gagne merujuk pada proses belajar yang menekankan pada
A. keterampilan .
B. pengertian
C. wawasan
D. perasaan

6) Belajar pemecahan masalah lebih banyak melibatkan proses psikologis ....
A. membandingkan
B. menganalisis
C. menerapkan
D. mengenal

7) Berikut ini adalah ciri-ciri pembelajaran yang menghasilkan proses belajar, kecuali ....
A. kegiatannya mendukung proses belajar siswa
B. adanya unsur kesengajaan melakukan kegiatan
C. adanya interaksi guru-siswa secara tatap muka
D. terdiri atas komponen-komponen yang saling berkaitan

8) Dalam konteks tujuan pendidikan nasional belajar mengacu pada proses yang ....
A. bebas tujuan
B. bebas isi
C. berorientasi tujuan
D. berorientasi isi

9) Proses belajar yang dihasilkan dari pembelajaran merupakan proses perubahan perilaku yang bersifat ....
A. dirancang sebelumnya
B. tidak dirancang sebelumnya
C. diinginkan oleh guru dan siswa
D. diprogram bersama oleh guru dan siswa

10) Proses belajar yang diteorikan dalam semua teo: i belajar kontemporer merupakan proses perubahan perilaku yang bersifat ....
A. psikologis murni
B. psiko-pedagogis
C. sosio-psikologis
D. psiko-antropologis
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.



80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang belum dikuasai.
Terima kasih atas waktunya untuk membaca Apa dan Bagaimana Belajar | Teori Belajar dan Pembelajaran ini, dengan harapan semoga artikel Apa dan Bagaimana Belajar | Teori Belajar dan Pembelajaran ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Apa dan Bagaimana Belajar | Teori Belajar dan Pembelajaran terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Apa dan Bagaimana Belajar | Teori Belajar dan Pembelajaran » Resume