BELAJAR PEMBELAJARAN

BELAJAR PEMBELAJARAN

BAB I
PARADIFMA ALTERNATIF PEMBELAJARAN


A. Perlunya Paradigma Baru Pendidikan
Dalam salah satu sambutannya, Mendiknas memberikan arah kebijakan mendasar dalam meletakkan kerangka bagi pembangunan pendidikan masa mendatang. Dalam kesempatan tersebut dikemukakan bahwa paradigma pendidikan kita tidak sekedar menempatkan manusia sebagai alat produksi. Manusia harus dipandang sebagai sumber daya yang utuh. Pendidikan tidak boleh terjebak pada teori-teori ekonomi neoklasik, suatu teori yang menampatkan manusia sebagai alat-alat produksi, dimana penguasaan iptek bertujuan menopang kekuasaan dan kepentingan kapitalitas.
Dalam proses pembelajaran, pengembangan potensi-potensi siswa harus dilakukan secara menyeluruh dan terpadu. Pengembangan potensi siswa secara tidak seimbang pada gilirannya menjadikan pendidikan cenderung lebih peduli pada pengembangan satu aspek kepribadian tertentu saja, bersifat partikular dan parsial. Secara pedagogis arah pendidikan terkait dengan pengembangan pendekatan dan metodologi proses pendidikan dan pembelajaran yang memanfaatkan berbagai sumber belajar (multi learning resources).

B. Pembelajaran Sebagai Pilar Utama Pendidikan
Learning to know adalah upaya memahami instrumen-instrumen pengetahuan baik sebagai alat maupun sebagai tujuan. Sebagai alat, pengetahuan tersebut diharapkan akan memberikan kemampuan setiap orang untuk memahami berbagai aspek lingkungan agar mereka dapat hidup dengan harkat dan martabatnya dalam tangka mengembangkan keterampilan kerja dan berkomunikasi dengan berbagai pihak yang diperlukan.
Learning to live together, learning to live with others, pada dasarnya adalah mengajarkan, melatih dan membimbing peserta didik agar mereka dapat menciptakan hubungan melalui komunikasi yang baik, menjauhi prasangka-prasangka buruk terhadap orang lain serta menjauhi dan menghindari terjadinya perselisihan dan konflik.

C. Pembelajaran Sebagai Proses Pemberdayaan
Untuk dapat menciptakan keberhasilan atau sukses yang didambakan oleh setiap individu, maka diperlukan upaya-upaya sistematik dan intensif untuk memberdayakan diri sendiri. Konsep diri positif mengandung arti bahwa individu harus mampu meletakkan atau memposisikan dirinya sebagai diri yang berdaya, tidak memandang diri pribadinya dari perspektif negatif. Konsep diri positif diantaranya ditandai beberapa hal:
1. Pengetahuan yang luas tentang diri sendiri
2. Memahami kelebihan dan kelemahan diri
3. Memiliki keinginan yang kuat untuk berubah
4. Mampu menghargai orang dan mampu menerima orang lain apa adanya
5. Mampu secara terbuka menerima kritikan orang lain
6. Memiliki sistem pertahanan diri yang kuat
7. Memiliki kontrol internal diri

D. Paradigma Konstruktivisme dalam Pembelajaran
1. Memahami Paradigma Konstruktivisme
Jika kita kaji secara cermat perubahan-perubahan pardigma dan pandangan pendidikan seperti dikemukakan di atas, maka kita dapat melihat adanya tuntutan terhadap perubahan proses pembelajaran yang menuntut terjadinya proses pemberdayaan diri dan pengembangan potensi-potensi peserta didik secara holistik melalui proses pemberdayaan diri dan pengembangan potensi-potensi.

BAB II
HAKIKAT DAN CIRI-CIRI BELAJAR


A. Pengertian Belajar
Belajar merupakan kegiatan penting setiap orang, termasuk di dalamnya belajar bagaimana seharusnya belajar. Sebuah survey memperlihatkan bahwa 82% anak-anak yang masuk sekolah pada usia 5 atau 6 tahun memiliki citra diri yang positif tentang kemampuan belajar mereka sendiri.
Jika kita simpulkan dari sejumlah pandangan dan defenisi tentang belajar (Wragg, 1994), kita menemukan beberapa ciri umum kegiatan belajar sebagai berikut:
1. Belajar menunjukkan suatu aktivitas pada diri seseorang yang disadari atau disengaja
2. Belajar merupakan interaksi individu dengan lingkungannya
3. Hasil belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku

B. Ciri-Ciri dan Tujuan Belajar
Sebagaimana telah kita bahas bersama sebelumnya bahwa belajar dapat didefenisikan sebagai setiap perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman. Defenisi ini mencakup tiga unsur, yaitu:
1. Belajar adalah perubahan tingkah laku
2. Perubahan tingkah laku tersebut terjadi karena latihan atau pengalaman
3. Perubahan tingkah laku tersebut relatif permanen atau tetap ad auntuk waktu yang cukup lama

BAB III
PERKEMBANGAN MORAL DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN


A. Teori Perkembangan Jean Piaget
Dalam teorinya, Piaget mengemukakan bahwa secara umum semua anak berkembang melalui urutan yang sama, meskipun jenis dan tingkat pengalaman mereka berbeda satu sama lainnya.
Dalam pandangan Piaget tahap-tahap kognitif mempunyai kaitan yang sangat erat dengan empat karakteristik berikut:
1. Setiap anak pada usia yang berbeda akan menempatkan cara-cara yang berbeda secara kualitatif.
2. Perbedaan cara berpikir antara anak satu dengan yang lain seringkali dapat dilihat dari cara mereka menyusun kerangka berpikir.
3. Masing-masing cara berpikir akan membentuk satu kesatuan yang terstruktur.
4. Tiap-tiap urutan dari tahap kognitif pada dasarnya merupakan suatu integrasi hirarkhis dari apa yang telah dialami sebelumnya.

B. Teori Perkembangan Moral Kohlberg
Konlberg mencoba merevisi dan memperluas teori perkembangan moral yang dikemukan oleh Poaget. Dalam perluasan teori ini Kohlberg tetap menggunakan pendekatan dasar Piaget yaitu menghadapkan anak-anak dengan serangkaian cerita-cerita yang memuat dilema moral. Namun demikian cerita-cerita situasi yang dikembangkan Kolhberg agaknya lebih kompleks dari cerita-cerita yang dipergunakan oleh Piaget.

C. Pandangan Psikologi Sosial Erik H. Erikson
Sepintas dapat dikemukakan bahwa Erik H. Erikson adlaah salah satu dari kelompok Neo-Freudian, dimana mereka yang bertitik tolak dari kerangka pemikiran Psikoanalisa Freud. Meski dalam beberapa hal terdapat perbedaan pandangan dengan Freud, antara lain menyangkut konsep perkembangan moral.

D. Memadukan Pandangan Kohlberg, Piaget dan Ericson
Kesimpulan Jean Piaget yang mengatakan bahwa semua anak akan berkembang melalui urutan-urutan yang sama tanpa harus bergantung pada tingkat pengalaman, kondisi keluarga bakan kebudayaan cenderung merupakan kesimpulan yang kurang proporsional. Hasil-hasil penelitian lain dan fakta empirik menunjukkan bahwa terutama fungsi keluarga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap proses perkembangan dan moral anak.

E. Implementasi Keterpaduan dalam Pembelajaran
Beberapa teori atau pandangan yang dikemukakan sebelumnya memberikan inspirasi tentang pentingnya pemahaman guru terhadap perkembangan dan eksistensi siswa, pemilihan bahan pembelajaran penentuan strategi pembelajaran dalam upaya mewujudkan proses pembelajaran yang optimal.

BAB IV
KECERDASAN EMOSIONAL SEBAGAI HASIL BELAJAR


A. Pengertian Kecerdasan Emosional
Istilah kecerdasan emosional pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psokolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Meyer dari University of New Hampshire (Shapiro, 1997:5). Beberapa bentuk kualitas emosional yang dinilai penting bagi keberhasilan, yaitu:
1. Empati
2. Mengungkapkan dan memahami perasaan
3. Mengendalikan amarah
4. Kemandirian
5. Kemampuan menyesuaikan diri
6. Disukai
7. Kemampuan memecahkan masalah antar pribadi
8. Ketekunan
9. Kesetiakawanan
10. Keramahan
11. Sikap hormat

B. Ciri-Ciri Kecerdasan Emosional
Pada tahun-tahun terakhir ini sekelompok ahli psikologi sampai pada kesimpulan dan sepakat dengan Gardner bahwa konsep-konsep lama tentang IQ hanya berkisar di kesakapan linguistik dan matematika yang sempit.
Goleman menggambarkan beberapa ciri kecerdasan emosional yang terdapat pada diri seseorang berupa:
1. Kemampuan memotibasi diri sendiri
2. Ketahanan menghadapi frustasi
3. Kemampuan mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan
4. Kemampuan menjaga suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir

C. Emosi dan Kegunaannya
Kecerdasan emosi merupakan bagian dari aspek kejiwaan seseorang yang paling mendalam, dan merupakan suatu kekuatan, karena dengan adanya emosi itu manusia dapat menunjukkan keberadaannya dalam masalah-masalah manusiawi. Karena emosi merupakan suatu kekuatan yang dapat mengalahkan nalar, maka harus ada upaya untuk mengendalikan, mengatasi dan mendisiplinkan kehidupan emosional, dnegan memberlakukan aturan-aturan guna mengurangi ekses-ekses gejolak emosi, terutama nafsu yang terlampau bebas dalam diri manusia yang seringkali mengalahkan nalar.

D. Kecakapan-Kecakapan Emosional
Berdasarkan penilaian orang tua dan guru pada tahun 1970-an dengan keadaan pada akhir 1980-an pada anak-anak Amerika usia 7 hingga 16 tahunan rata-rata anak semakin parah dalam masalah spesifik berikut:
1. Menarik diri dari pergaulan atau maslaah sosial
2. Cemas dan depresi
3. Memiliki maslaah dalam hal perhatian dan berpikir
4. Nakal atau agrasif

E. Penerapan Kecerdasan Emosional
Daya-daya emosi yang dimiliki oleh orang-orang dewasa sesungguhnya berakar dari masa kehidupan kanak-nakan. Akar perbedaan emosi meskipun untuk sebagian bersifat biologis dapat pula diselusuri dari kehidupan masa kanak-kanak dan dari dua dunia emosi terpisah yang dihuni untuk laki-laki dan yang dihuni oleh anak-anak perempuan ketika mereka tumbuh dewasa.

BAB V
PERINSIP-PERINSIP BELAJAR


A. Prinsip-Prinsip Belajar
Davies (1991:32) mengingatkan beberapa hal yang dapat menjadikan kerangka dasar bagi penerapan prinsip-prinsip belajar dalam proses pembelajaran yaitu:
1. Hal apapun yang dipelajari murid, maka ia harus mempelajarinya sendiri
2. Setiap murid belajar menurut tempo (kesepatannya) sendiri dan untuk setiap kelompok umur, terdapat variasi dalam kecepatan belajar
3. Seorang murid belajar lebih banyak bilamana setiap langkah segera diberikan penguatan.
4. Penguasaan secara penuh dari setiap langkah-langkah pembelajaran
5. Apabila murid diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri

B. Implikasi Prinsip-Prinsip Belajar dalam Pembelajaran
Berikut ini diuraikan beberapa prinsip belajar yang dapat dikembangkan dalam proses pembelajaran:
1. Prinsip perhatian dan motivasi
2. Prinsip transefer dan retensi
3. Prinsip keaktifan
4. Prinsip keterlibatan langsung
5. Prinsip pengulangan
6. Prinsip tantangan
7. Prinsip balikan dan penguatan
8. Prinsip perbedaan individual

Disamping prinsip-prinsip diatas, berikut ini dijelaskan pula beberapa prinsip belajar dikaji dari ranah pembelajaran, mencakup prinsip pembelajaran kognitif, prinsip pembelajaran afaktif dan prinsip pembelajaran psikomotorik.
BAB VI
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN


A. Hakikat Model Pembelajaran
Dalam hal ini model-model pembelajaran yang dipilih dan dikembangkan guru hendaknya dapat mendorong siswa untuk belajar dengan mendayagunakan potensi yang mereka miliki secara optimal. Belajar yang kita harapkan bukan sekedar mendengar, memperoleh atau menyerap informasi yang disampaikan guru. Belajar harus menyentuh kepentingan siswa secara mendasar. Sebelum mengkaji lebih dalam tentang model-model pembelajaran, ada baiknya kita pahami kerangka pikir Gagne yang menegaskan lima kemampuan berbagai model dan strategi pembelajaran untuk mencapainya, yaitu:
1. Keterampilan intelektual, yakni sejumlah pengetahuan mulai dari kemampuan baca, tulis, hitung sampai kepada pemikiran yang rumit.
2. Strategi kognitif, yaitu kemampuan mengatur cara belajar dan berpikir seseorang dalam arti seluas-luasnya, termasuk kemampuan memecahkan masalah
3. Informasi verbal, yakni pengetahuan dalam arti informasi dan fakta
4. Keterampilan motorik, yakni kemampuan dalam bentuk keterampilan menggunakan sesuatu, keterampilan gerak
5. Sikap dan nilai, yakni hasil belajar yang berhubungan dengan sikap, intensitas emosional.

B. Kelompok dan Jenis-Jenis Model Pembelajaran
Beberapa model pembelajaran tersebut antara lain dikemukakan oleh Lapp, Bender, Ellenwood & John (1975) yang berpendapat bahwa berbagai aktivitas belajar mengajar dapat dijabarkan dari 4 model utama, yaitu:
1. The Classical Model, dimana guru lebih menitik beratkan peranannya dalam pemberian informasi melalui mata pelajaran dan materi pembelajaran yang disajikannya
2. The Technological Model, yang lebih menitik beratkan peranan pendidikan sebagai transmisi informasi
3. The Persobalised Model, dimana proses pembelajaran dikembangkan dengan memperhatikan minat, pengalaman dan perkembangan siswa untuk mengaktualisasikan potensi-potensi individualitasnya
4. The Interaction Model, dengan menitik beratkan pola interdependi antara guru dan siswa dehingga tercipta komunikasi dialogis di dalam proses pembelajaran.

BAB VII
MASALAH-MASALAH BELAJAR


A. Masalah-Masalah Internal Belajar
Dari dimensi siswa, masalah-masalah belajar yang dapat muncul sebelum kegiatan belajar dapat berhubungan dengan karakteristik/ciri siswa, baik berkenaan dengan minat, kecakapan maupun pengalaman-pengalaman. Selama proses belajar, masalah belajar seringkali berkiatan dengan sikap terhadap belajar, motivasi, konsentrasi, pengolahan pesan pembelajaran, menyimpan pesan, menggali kembali pesan yang telah tersimpan, unjuk hasil belajar.
Berikut ini adalah beberapa faktor internal yang mempengaruhi proses belajar siswa:
1. Ciri khas.karakteristik siswa
2. Sikap terhadap belajar
3. Motivasi belajar
4. Konsentrasi Belajar
5. Mengolah Bahan Belajar
6. Menggali Hasil Belajar
7. Rasa percaya diri
8. Kebiasaan belajar

B. Faktor-Faktor Eksternal Belajar
Keberhasilan belajar siswa di samping ditentukan oleh faktor-faktor internal juga turut dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal. Faktor eksternal adalah segala faktor yang ada di luar diri siswa yang memberikan pengaruh terhadap aktivitas dan hasil belajar yang dicapai siswa.
Faktor-faktor ekstern yang mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain adalah:

1. Faktor Guru
a. Karena cepatnya perkembangan dan perubahan yang terjadi saat ini terutama perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi.
b. Terjadinya perubahan pandangan di dalam masyarakat yang memiliki implikasi pada upaya-upaya pengembangan pendekatan terhadap siswa.
c. Perkembangan teknologi baru yang mampu menyajikan berbagai informasi yang lebih cepat dan menarik.
2. Lingkungan Sosial
3. Lingkungan Sekolah

C. Mengenal dan Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa
Abdillah (2008), mengemukakan bahwa sebagai pembimbing dalam proses belajar mengajar, seorang guru diharapkan mampu:
1. Memberikan informasi yang diperlukan dalam proses belajar
2. Membantu setiap dalam mengatasi setiap masalah pribadi yang dihadapinya
3. Mengevaluasi hasil setiap langkah kegiatan yang telah dilakukannya
4. Memberikan setiap kesempatan yang memadai agar setiap murid dapat belajar sesuai dengan karakteristik pribadinya
5. Mengenal dan memahami setiap murid baik secara individual maupun secara kelompok

BAB VIII
EVALUASI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


A. Pengertian dan Prinsip Umum Evaluasi
Dalam mengkaji arti evaluasi ada baiknya kita perhatikan apa yang dikemukakan Phopam (1986) yang mengkritisi tentang sering munculnya kekeliruan-kekeliruan dalam memahami dan menggunakan istilah evaluasi. Ada sebagian pihak yang memberikan arti evalusi semata-mata merujuk pada penggolongan berdasarkan peringkat.
Michael Scriven, seorang teoritisi evaluasi mengamati bahwa evaluasi terdiri dari penetapan nilai. Karena itu, evaluasi pendidikan terdiri dari penetapan nilai sehubungan dengan fenomena pendidikan.
Menurut Nurkancana dan Sumartana (1986) yang membahas pendapat Wnad & Brown, pengukuran adalah suatu tindakan atau proses untuk menentukan luas atau kuantitas pada sesuatu. Sedangkan evaluasi merujuk pada suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai daripada sesuatu.

B. Tujuan Evaluasi
Secara umum evaluasi bertujuan untuk melihat sejauhmana suatu program atau suatu kegiatan ternetu dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan. Secara spesifik evaluasi memiliki banyak tujuan dna manfaat, karena itu menurut Reece dan Walker (1997:420) terdapat beberapa alasan mengapa evaluasi harus dilakukan, yaitu:
1. Memperkuat kegiatan belajar
2. Menguji pemahaman dan kemampuan siswa
3. Memastikan pengetahuan prasyarat yang sesuai
4. Mendukung terlaksananya kegiatan pembelajaran
5. Memotivasi siswa
6. Memberi umpan balik bagi siswa
7. Memberi umpan balik bagi guru
8. Memelihara standar mutu
9. Mencapai kemajuan proses dan hasil belajar
10. Memprediksi kinerja pembelajaran selanjutnya
11. Menilai kualitas belajar

C. Syarat-Syarat Umum Evaluasi
Agar evaluasi dapat berfungsi secara optimal, dapat memberikan manfaat untuk perbaikan program dan kegiatan-kegiatan pembelajaran, maka evaluasi harus memenuhi beberapa persyaratan. Sejumlah ahli evaluasi mengemukakan beberapa persyaratan umum yang harus dipenuhi dalam pelaksanakaan evaluasi, yaitu:
1. Kesahihan atau validitas
2. Keterandalan (reliabilitas)
3. Kepraktisan

D. Jenis-Jenis Evaluasi Pembelajaran
Sebagaimana telah kita bahas sebelumnya bahwa evaluasi pembelajaran berkaitan dengan aktivitas untuk menentukan nilai, jasa atau manfaat dari kegiatan pembelajaran. Karena kegiatan pembelajaran meliputi aspek kegiatan yang cukup luas, maka evaluasi pembelajaran meliputi berbagai dimensi pula. Berikut ini beberapa bentuk evaluasi pembelajaran yang lazim dilakukan dalam kegiatan pembelajaran antara lain:
1. Evaluasi formatif
2. Evaluasi sumatif
3. Diagnostik

E. Pendekatan Evaluasi Pembelajaran
Untuk mengetahuai seberapa tinggi prestasi belajar yang dicapai oleh siswa, maka guru juga perlu memahami cara yang dapat dipergunakan untuk mengkonverensikan atau mengubah skor mentah menjadi skor standar.
1. Dengan jalan membandungkan skor yang diperoleh oleh seseorang dengan suatu standar yang absolut.
2. Dengan jalan membandingkan skor seseorang dengan skor yang diperoleh oleh orang lain dalam tes tersebut.

Pada pendekatan acuan patokan, standar performan yang digunakan adlaah standar absolut. Semiawan menyebutnya sebagai standar mutu yang mutlak. Dalam menginterprestasi skor mentah menjadi nilai dengan menggunakan pendekatan PAP, maka terlebih dahulu ditentukan kriteria kelulusan dengan batas-batas nilai kelulusan.
Terima kasih atas waktunya untuk membaca BELAJAR PEMBELAJARAN ini, dengan harapan semoga artikel BELAJAR PEMBELAJARAN ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel BELAJAR PEMBELAJARAN terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : BELAJAR PEMBELAJARAN » Makalah

eMakalah.com