Selamat Datang di emakalah.com

Semoga Anda dapat menemukan apa yang anda cari,

dan semoga emakalah.com dapat bermanfaat bagi Anda

Untuk keluar dari menu/halaman ini silahkan klik LIKE / SUKA

..

Makalah tentang Makanan Ternak

Makalah tentang Makanan Ternak

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan semester industri makanan ternak.
Pada kesempatan ii penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada dosen mata kuliah industi makanan ternak (IMT) dan para kakak Asisten yang telah banyak membantu dan meluangkan waktunya. Serta tenaga dan pikiranya untuk membantu dan membimbing dalam menyelesaikan pembuatan laporan semester ini.
Penulis juga menyadari bahwa dalam pembuatan laporan industri makanan ternak (IMT) ini masih jauh dari sempurna. Maka kritik dan sarannya sangat diharapkan sebagai masukan untuk perbaikan yang akan datang.
Akhir kata penulis harapkan semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.




Penulis

PENDAHULUAN

Semakin meningkatnya kesadaran masyarakat Indonesia akan gizi dan kebutuhan protein untuk ternak. Maka usaha meningkatkan produk kwalitas ternak antara lain. Melalui perbaikan produksi. Pemberian pakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan untuk hidup pokok maupun produksi, maka ternak tersebut akan menampilkan produksi yang sesuai dengan potensi genetik. Sehingga pengawasan mutu dapat didefinisikan sebagai suatu penelitian mutu pada tarap dan toleransi yang dapat diterima oleh masyarakat.
Makanan merupakan fakta yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan suatu usaha peternakan dan harus dipatuhi guna menjaga lekangsungan hidup ternak. Usaha mengantisipasi terjadinya kompetensi kebutuhan pakan setiap jenis ternak yang semakin memningkat. Sementara untuk saat sekarang ini penyediaan pakan semakin sulit disebabkan harga pakan yang relatif mahal sehingga perlu disebabkan harga pakan yang relatif mahal sehingga perlu dii upayakan adanya di versifikasi bahan makanan dengan memanfaatkan bahan makanan dan memperhatikan mutunya.
Bungkil kedele, dedak, jagung tepung ikan dan bungkil kelapa merupakan makanan sumber protein yang sangat baik bagi pertambahan bobot badan dan pertumbuhan ternak. Hal tersebut disebabkan makanan tersebut memiliki kandungan protein yang cukup tinggi. Kendala yang dihadap dalam penggunaan bahan ini pada saat ini masih susah dan harganya relatif mahal. Salah satu bahan makanan sumber protein hewani sangat dibutuhkan oleh ternak uanggas karena mengundang protein kasar yang tinggi. Tetapi harganya relatif mahal. Dan didalam tepung ikan mengandung asam amino yang cukup. Dan di dalam tepung ikan mengandung asam amino yang cukup untuk kebutuhan ternak unggas sebagai sumber utama lisin dan metionin. Selanjutnya tepung juga sebagai sumber protein bahan makanan yang mensuplay kebutuhan kalsium dan fosfor (Rasyaf. 1990).

TUJUAN DAN MANFAAT

Praktikum bertujuan untuk mengetahui dan mengamati pertambahan bobot badan pada ternak dengan pengolahan bahan yang berkualitas pengalaman atau wawasan bagi mahasiswa agar dapat mengetahui lebih lagi tentang kualitas pakan yang baik.

MATERI DAN METODA

Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 4 Mei 2007 s/d tanggal, Juni 2007 pada pukul 14.00 wib s/d selesai. Dan di laksanakan dilaboratorium Industri Makanan Ternak.

Materi
Materi praktikum ini adalah: nampan, mistar, silinder isi 1000 ml (1 liter). Timbangan bahan pakan yang akan diukur kerapatannya, alat pembuat pellet, alat pengukus, karung bekas, bahan baku penyusun ransum (jagung, dedak, bungkil kedele, tepung ikan, bungkil kelapa, bahan pengikat pellet (onggok, molases tapioka), pholoroglucinoi / Hclpekat, Ethanol, Aquades, Barium klorida (5%), asam hdroklorida, larutan perak nitrat (5%), larutan asam nitrat, larutan Ammonium hidroksida 1: 1), larutansodium nitrat standar (0,0,1,0,2, dan 0,3%), sieve shaker (vibrazor) dengan 8 ukuran yaitu; 4,8,16,30,50,100,400,mesin dan pan, oven, sodium hidroksida 0,1N, asam sulfat, 0,1 N, urea phenolres solution, mesin pencampur ransum (mixer) dan mesin giling (Hammer mill).

Metode
Metode atau cara kerja praktikum ini adalah sebagai berikut:
Kerapatan bahan (Bulk Desnity)
Cara kerja
Siapkan alat-alat yang dibutuhkan kemudian tuangkan bahan yang akan diukur diatas nampan, lalu aduk bahan secara merata dengan seksama dan ratakan bahan dalam wadah tadi merata dengan seksama dan ratakan bahan dalam wadah tadi dengan mistar, stelah itu bagi sampel ke dalam 4 bagan dengan metode quartering, lalu masukkan bahan ke dalam silinder yang berukuran 100 ml hingga penuh, kemudian ratakan permukaan bahan dengan permukaan silinder menggunakan mistar, lalu keluarkan bahan dari silinder dan tentukan berat bahan dengan timbangan dan tentukan bulk densiti bahan (grm/liter) seterusnya lakukan pengukuran sebanyak 3 kali. Untuk setiap sampel bahan pakan dan tentukan nilai rataan kerapatan jenis yang diperoleh lalu masukkan nilai rataan yang di dapatkan ke dalam tabel 1.1 dibawah ini dan bandingkan hasil tersebut dengan tabel 1.2 “Bulk Density”.

Kualitas bahan Baku
Timbangan masing-masing komponen dan hitung jumlah relatifnya terhadap berat awal, lalu hasil pengujian tersebut masukkan dalam tabel.

Pengujian kualitas pellet
Persiapan bahan baku, siapkan paling sedikit bahan baku yang paling umum digunakan dalam penyusunan ransum.
Formulasi ransum, formulasikan suatu jenis ransum (ayam pedaging atau ayam petelur) dari bahan tersedia penggunaan bahan pengikat dalam ransum sebanyak masing-masing 0,3 dan 6 persen.
Penyusunan ransum
Embuatan pellet. Bahan yang telah dicampur secara homogen dikukus selama 30 menit
Pengepakan
Pengamatan fisik
Pengukuran kadar air
Pertahanan benturan dan ukuran partikel

Test sekam
Timbang phlorughiciol 25 grm. Tambahkan HCl pekat 180 grm dan Cnthanol 500 ml dan tambahkan aquades sampai 2,5 liter lalu larutan phloruglucinol 1% yang sudah jadi kemudian di simpan dalam botol gelap dan siap pakai. Jika berubah menjadi merah larutan telah rusak dan tidak akurat lagi, untuk mengantisipasinya buat larutan sesuai dengan kebutuhan.

Test terhadap bahan anorganik
Sulfur
Letakkan bahan pakan yang akan diuji pada cawan petri dan teteskan asam hdroklorida sebanyak 2-3 tetes lalu tambahkan 1-2 tetes barium klorida.
Klorida
Masukkan 1-2 gram sampel yang diuji kedalam beaker glass 100 l dan
Karbonat
Ambil sedikit sampel yang akan ditest dan letakkan pada cawan petri. Basahi dengan aquades lalu tambahkan 4-5 tetes asam hidrolorida dingin dan panaskan pada steam bath perihatikan buih yang berwarna putih.
Garam
Timbangan 1 gram sampel dan 100 ml aquades aduk dan saring dengan kertas whatman no. 4 lalu
Pipet 1 ml larutkan standar dan tambahkan 8 ml larutan asam nitrat aduk dan tambahkan 1 ml larutan perak nitrat
Aduk dan bandingkan hasil test terhadap sampel dengan sampel standar hasil tes dapat dibaca dalam waktu 5 menit.

Test Aktivitas Urease
Sesuaikan larutan urea phenol red menjadi warna kuning sawo dengan 0,1 N asam sulfur c. Lalu tambahakan 1 sendok teh campuran bungkil kedele standar (1,3,5,7,9,11%) tepung kacang kedele mentah) dan bungkil kacang kedele yang akan di uji kedalam beberapa cawan petri masukkan sampel yang diuji dibagian tengah kemudian tambahkan 5-8 tetes phenol red solution yang berwarna kuning sawo. Aduk berlahan sampai mengembang dan membahas sampel pada cawan. Lalu biarkan selama 5 menit dan bandingkan bungkil kacang kedele yang di uji dengan sampel bungkil kacang kedele standar.

Peraltan pabrik pakan ternak.
Menggambar alat-alat pembuat pakan ternak.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil yang diperoleh tentang pengawasan mutu pakan pada ternak adalah:
Kerapatan Bahan
Tabel 1.1 Hasil Perhitungan Bku Density Bahan Pakan (Kerapan Bahan)
NO Bahan Pakan Buik Density (grm/liter) Keterangan
1 Dedak padi 304,5 Dedak padi yang digunakan masih bagus
2 Bungkil kelapa 443,5 Bungkil kelapa masih dibilang bagus
3 Bungkil kedele 556,5 Bungkil kedele masih bagus
4 Jagung 519,1 Jagung masih bagus
Ket: Antara hasil yang diperoleh sangat berpengaruh nyata
Kerapatan Bahan
Berdasarkan hasil praktikum menunjukkan bahwa perlakuan dengan membandingkan pengukuran setiap sampel bahan pakan, dan menunjukkan bahwa perlakuan dengan penambahan bungkil kelapa. Dedak padi, bungkil kedele dan jagung sangat berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan pertambahan bobot ternak.
Setelah dilakukan uji lanjut, penilaian dalam praktikum tersebut penggunaan bungkil kelapa, dedak padi dan bungkil kedele sangat membantu dalam proses pertambahan bobot badan pada ternak. Apalagi bahan yang digunakan masih bagus karena menurut Tillman dkk. 1989 menyatakan bahwa makanan sumber protein adalah semua makanan yang mempunyai kandungan protein 20%, atau lebih berasal dari tanaman dan hewan.


Kualitas Bahan Baku
Bahan yang digunakan adalah jagung
Nama Toko : Toko Burung Flamboyan
Alamat : Broni
Tanggal beli : 28 April 2007
Kadar air
Kadar air dapat ditentukan dengan moisture tester. Maka hasil yang didapatkan adalah:
Kadar air : 1,10%
Berat cawan 37,8gram
Berat sampel : 2 gr
Setelah dioven 39,0
37,8 grm + gsm = 39,8
39,8 – 39,6 = 0,2
0,2/2 x 100%=10%
Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa kadar air yang dapat digunakan sebanyak 10%.
Menurut para kkasi A. 1983 menyatakan bahwa kadar air yang digunakan dalam bahan pakan adalah minimal 15% yang direkomendasikan
Metode penyaringan
NO Bahan yang ditest Pecah Rusak Mati Kotoran Jamur
1 Jagung/yang diatas Ya - 0,6 gr - -
2 Jagung/dibawah ya - 0,3 gr - -
Berat penyaring = 68/100 x 100%=6,8%
0,3/68 x 100%=0,44%
yang tersangkut= 32/100 x 100%=32%
0,6 x 100%=1,875%
Dari hasil diatas bahwa metode penyaringan sangatlah penting untuk dapat mengetahui bahan yang asli dengan bahan tambahan, maka perlunya penggunaan ayakan 4 mesh. Sehingga kita dapat mengetahui mana biji yang pecah, rusak mati dan asing atau kotoran berjamur. Menurut Anggorodi, R. 1985 menyatakan bahwa: bahan yang kurang bagus atau kualitasnya buruk maka akan terlihat dengan metode penyaringan.
Kadar Aflatoksin
Hasil pengamatan
Tabel: 2.2 Kandungan Aplatoksin Pada Jagung Yang Diuji
Bahan yang diuji Hasil Keterangan
Jagung 89 Jagung ini merupakan jagung yang baik dan coco untuk dikonsumsi oleh ternak

Hasil tersebut menunjukkan bahwa jagung yang berkualitas sangat baik untuk pertambahan energi bagi ternak dan pertumbuhan badan ternak.
Apalagi jagung merupakan butir-butiran yang paling banyak digunakan dalam ransum unggas karena mengandung energi metabolis (Anggorodi. 1985).


PENGUJIAN KUALITAS PELLET

Pengamatan fisik
Pengamatan fisik meliputi bau, warna dan tekstur
Warna : coklat kekuning-kuningan
Bau : bungkil/bau pellet
Tekstru : ada yang hancur dan ada yang tidak
Ketahanan benturan dan ukuran partikel
Setelah masing-masing kantong di isi dengan berat 100 grm oleh pellet dan penggunaan plastik sebanyak 18 buah dengan perlawanan 0,0:3 dan 0,6
Kemudian kantong tersebut pada masing-masing perlakuan 2 kantong di banting lalu di ukur dengan penyaringan mesh lalu pada 4 kantong masing-masing perlakuan dari sampel ditempat yang kering.
Setelah selesai dalam beberapa minggu 4 karang di masing-masing perlakuan tersebut di saring dengan mesh lalu di hitung hasil yang diperoleh pada beberapa macam ukuran mes 8.30,16,40,50,100,230. Mesh. Menurut Wahyu makanan berbentuk pellet sangat baik untuk menambah nafsu makan pada ternak (unggas) dan membantu dalam mempercepat pertambahan bobot badan. Karena pellet merupakan bahan/ransum yang berbentuk butiran ternak unggas sangat menyukai bahan pakan yang berbentuk butiran.
Tes terhadap Bahan Organik
Sulfat
Dari hasil engamatan terhadap kandungan sulfat adalah
Tabel:
Bahan yang diuji Hasil Keterangan
Dedak halus Tidak mengandung sulfur Tidak terdapat endapan putih
Tepung ikan Mengundang sulfat Terdapat endapan

Hasil tersebut disimpulkan bahwa kandungan sulfat pada dedak halus tidak ada sedangkan pada tepung ikan, mengandung sulfat setelah diuji. Menurut wahyu (1992) bahwa tepung ikan sangat baik untuk makanan unggas. Karena ada sumber lisin yang terkandung di dalamnya sangat penting untuk pertumbuhan.
Florida
Hasil pengamatan terhadap kandungan klorida adalah
Tabel:
Bahan yang diuji Hasil Keterangan
Dedak halus Tidak terdapat kandungan klorida -
Tepung ikan Terdapat kandungan klorida -

Hasil yang dapat disimpulkan bahwa setelah dilakukan pengujian tersebut dapat diketahui bahwa pada dedak halus tidak terdapat kandungan klorida sedangkan pada tepung ikan terdapat kandungan klorida.
Bahan tepung ikan menurut Anggorodi, 1985 menyatakan bahwa tepung ikan yang terpenting dari protein adalah kualitas yang tercermin oleh kandungan asam amino essensialnya. Tepung ikan merupakan salah satu komponen enyusunan ransum yang berperan sebagai sumber protein keluar bernilai gizi tinggi, karena tepung ikan memiliki kandungan protein yang tinggi terutama,
Kemudian kantong tersebut pada masing-masing perlakuan 2 kantong dibanting lalu diukur dengan penyaringan mesh lalu pada 44 antong masing-masing perlakuan disimpan ditempat yang kering.
Setelah selesai dalam beberapa minggu 4 kantong dari masing-masing perlakuan tersebut di saring dengan mesh lalu dihitung hasil 40 di peroleh pada beberapa macam ukran mesh 8,30,16,40,50,100,230,mesh menrut Wahyu makanan berbentuk pellet sangat baik untuk menambah nafsu makan pada ternak (unggas) dan membantu dalam mempercepat pertambahan bobot badan. Karena pellet merupakan bahan pakan/ransum yang berbentuk butiran ternak unggas sangat menyukai bahan pakan yang berbentuk butiran.
Tes Sekam
Setelah dilakukan tes sekam dengan larutan phloroglucinol 1% maka dapat diketahui bahwa kadar ssekam dalam dedak padi adalah >20%.
Asal dedak
Nama Toko : Burung Flamboyan
Alamat : Broni
Tanggal pembelian : 28 April 2007
Pada sekam mengandung lebih dari 20% maka kualitas dedak tersebut di nyatakan buruk (tidak bagus) bagi makanan untuk ternak.
Karbonal
Hasil pengamatan terhadap kandungan karbonat adalah
NO Bahan yang diuji Hasil keterangan
1 Zeolit Tidak ada buih Berwarna hijau
2 Kerabang telur Ada buih berwarna putih Berwarna hijau
3 Mineral sapi Ada buih berwarna putih Berwarna merah
4 Tepung tulang Ada buih berwarna putih Berwarna putih

Setelah diuji dapat diketahui bahwa kerabang telur, zeolit, mineral sapi dan tepung tulang akan mengandung karbonat karena bahan yang mengandung mineral akan mengandung karbonat (Rasyaf. M. 2003).
Garam
Hasil pengamatan terhadap kandungan garam adalah:
Bahan yang diuji Hasil keterangan
Dedak halus 0% Kadar garam rendah
Tepung halus 0,3% Kadar garam tinggi

Setelah diketahui hasil pengamatannya dapat dinyatakan bahwa semakin tinggi persentasenya maka semakin tinggi kadar garamnya sedangkan semakin rendah kadar garamnya, maka persentasenya semakin rendah juga karena garam merupakan garam yang memberikan warna putih keruh.
Test Aktivitas urease
Setelah masing-masing dimasukkan pada cawan petrik lalu diteteskan phenolred solution yang berwarna kuning sawo. Maka stelah 5 menit diabiarkan. Maka masing-masing bahan tersebut beruba warna menjadi merah.
Hasil Pengamatan Terhadap Aktivitas Urease.
Bahan yang diuji Hasil Keterangan
Dedak halus Berwarna merah -
Tepung halus Kecoklatan pekat -


KESIMPULAN

Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pengawasan mutu pakan dalam industri makanan ternak sangatlah penting. Apalagi dalam pengawasan mutu pakan ini dapat memberikan kualitas yang baik bagi pertumbuhan ternak dan pertambahan bobot badan ternak. Sehingga susunan beberapa bahan yang mengandung komponen zat-zat makanan untuk menemukan kebutuhan ternak hasil produksi. Apalagi bahan pakan tersebut berkualitas baik dan mengandung banyak protein, mineral, dan vitamin serta energi untuk ketahanan tubuh ternak.

Saran
Untuk kedepannya diharapkan kepada mahasiswa harus lebih menguasai materi yang dipraktikumkan dan mempunyai persiapan yang baik serta mental yang kuat dan pengalaman yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, D. 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia. Jakarta
Anggorodi. R. 1985. Kemajuan Mutahir Makanan Ternak Unggas. Universitas Indonesia Press. Jakarta
Aksi Agraris Kanisius. 1986. Beternak Ayam Pedaging Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Murtidjo, B.A. 1987. Pedoman Beternak Ayam Broiler Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Rasyaf. M. 2003. Beternak Ayam Pedaging Penebar Swadaya, Jakarta.
Tillman, A.D.H. Hartadi, S, Reksohodi Prodjo, S. Prawiro Kusuma Dan S. Lekdoekarya, 1989. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah Mada Universitas Press. Yogyakarta.
Parakkasi, A. 1983. Ilmu Gizi An Makanan, Ternak Monogastik. Penerbit Angkasa. Bandung.
Terima kasih atas waktunya untuk membaca Makalah tentang Makanan Ternak ini, dengan harapan semoga artikel Makalah tentang Makanan Ternak ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Makalah tentang Makanan Ternak terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Makalah tentang Makanan Ternak » Makalah