Selamat Datang di emakalah.com

Semoga Anda dapat menemukan apa yang anda cari,

dan semoga emakalah.com dapat bermanfaat bagi Anda

Untuk keluar dari menu/halaman ini silahkan klik LIKE / SUKA

..

Model Teori Belajar Bruner dan Ausubel | Teori Belajar dan Pembelajaran

Model Teori Belajar Bruner dan Ausubel

A. PRINSIP-PRINSIP BELAJAR BRUNER
Jerome S. Bruner adalah seorang ahli psikologi kognitif (1915-) yang memberi dorongan agar pendidikan memberi perhatian pada pentingnya pengembangan berpikir.
Bruner tidak mengembangkan teori belajar yang sistematis. Dasar pemikiran teorinya memandang bahwa manusia adalah sebagai pemroses, pemikir, dan pencipta informasi. Oleh karenanya, yang terpenting dalam belajar adalah cara-cara bagaimana seseorang memilih, mempertahankan, dan mentransformasikan informasi yang diterimanya secara aktif. Sehubungan dengan itu Bruner sangat memberi perhatian pada masalah apa yang dilakukan manusia dengan informasi yang diterima itu untuk mencapai pemahaman dan membentuk kemampuan berpikir pada siswa.
Menurut Bruner pada dasarnya belajar merupakan proses kognitif yang terjadi dalam diri seseorang. Ada tiga proses kognitif yang terjadi dalam belajar, yaitu (1) proses perolehan informasl baru, (2) proses mentransformasikan informasi yang diterirna, dan (3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuarz. Perolehan infornrasi baru dapat terjadi melalui kegiatan membaca, mendengarkan penjelasan guru mengenai materi yang diajarkan atau mendengar/melihat audiovisual, dan lain-lain. Informasi ini mungkin bersifat penghalusan dari informasi sebelumnya yang telah dimiliki atau informasi itu bersifat berlawanan (berbeda) dengan informasi yang sudah dimiliki. Sedangkan proses trarzsformasi pengetahuan merupakan ~suatu proses bagaimana kita memperlakukan pengetahuan yang sudah diterima agar sesuai dengan kebutuhan. Informasi yang diterima dianalisis, diproses, atau diubah menjadi konsep yang lebih abstrak agar suatu saat dapat dimanfaatkan. Transformasi pengetahuan ini dapat terjadi dengan cara ekstrapolasi, yaitu mengubah dalam bentuk lain yang diperlukan. Proses ini akan lebih baik bila mendapat bimbingan dari guru. Tahap selanjutnya adalah rnenguji relevansi dan ketepatan pengetahuan atau informasi yang telah diterima, agar dapat bermanfaat untuk memecahkan masalah yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, agar proses belajar berjalan lancar menurut Bruner di dalam bukunya Process of Education ada tiga faktor yang sangat ditekankan dan harus menjadi perhatian para guru di dalam menyelenggarakan pembelajaran, yaitu (a) pemutgrtva ntemahami struktur mats pelajaran, (b) pentinguya belajar aktif scrpaya seseorang dapat menemukart sencliri konsep-konsep sebagai dasar untuk memahami dengau benar, dan (c) pentingnya nilai dari berpikir incluktif. Berdasarkan pandangan Bruner ini maka ada empat aspek utama yang harus menjadi perhatian dalam pembelajaran, yaitu pentingnya struktur mata pelajaran, kesiapan, intuisi, dan motivasi.
1. Struktur Mata Pelajaran
Struktur mata pelajaran berisi ide-ide, konsep-konsep dasar, hubungan antarkonsep, atau contoh-contoh dari bidang tersebut yang dianggap penting. Struktur penting dari suatu ide dapat disajikan secara sederhana dalam bentuk diagram, serangkaian prinsip atau formula. Bila siswa telah menguasai konsep-konsep dasar maka ia akan dengan mudah menguasai mata pelajaran yang sejenis atau hampir sama. Dengan struktur pengetahuan kita dapat menolong para siswa untuk melihat bagaimana fakta-fakta yang kelihatannya tidak ada hubungan, dapat dihubungkan satu dengan yang lain, demikian pula informasi yang telah dimiliki sebelumnya dapat dihubungkan dengan informasi yang baru. Karenanya, Bruner sangat menekankan pentingnya memperhatikan struktur mata pelajaran dalam pembuatan kurikulum dan menyajikan materi pembelajaran. Menurut Bruner proses belajar akan lebih bermakna, berguna dan mudah diingat oleh siswa bila difokuskan pada memahami struktur mata pelajaran yang akan dipelajari.

2. Kesiapan untuk Belajar
Dalam belajar guru harus memperhatikan kesiapan siswa untuk mempelajari materi baru atau yang bersifat lanjutan. Kesiapan belajar dapat terdiri atas penguasaan keterampilan-keterampilan yang lebih sederhana yang telah dikuasai terlebih dahulu dan yang memungkinkan seseorang untuk memahami dan mencapai keterampilan yang lebih tinggi. Kesiapan belajar ini dipengaruhi oleh kematangan psikologi dan pengalaman anak. Untuk mengetahui apakah siswa telah memiliki kesiapan dalam mempelajari materi pelajaran tertentu maka perlu diberi tes mengenai materi awal yang berhubungan dengan topik yang akan diajarkan. Bila siswa dapat mengerjakan tes dengan baik, berarti ia telah siap. Bila tidak mampu mengerjakan sekalipun ia telah bekerja keras ia dinyatakan belum siap. Untuk menumbuhkan kesiapan anak seorang guru harus memberikan pengalaman-pengalaman tertentu yang berhubungan dengan pengetahuan atau keterampilan yang harus dikuasai.

3. Intuisi
Menurut Bruner yang dimaksud dengan intuisi adalah teknik-teknik intelektual analitis untuk mengetahui apakah formulasi-formulasi itu merupakan kesimpulan yang sahih atau tidak.

4. Motivasi
Motivasi adalah kondisi khusus untuk belajar. Motivasi merupakan yang dapat mempengaruhi individu variabel penting, khususnya selama ;proses pembelajaran yang dapat membantu mendorong kemauan belajar siswa. Karenanya, Bruner percaya bahwa hampir semua anak mempunyai masa-masa pertumbuhan akan "keinginan untuk belajar". Reinforcement dan reward dari dalam mungkin penting untuk meningkatkan perbuatan tertentu at au untuk membuat mereka yakin hingga mau mengulangi apa yang sudah dipelajari. Bruner menekankan pentingnya motivasi intrinsik dibandingkan dengan motivasi eksternal. Contoh motivasi intrinsik adalah rasa ingin tahu anak. Bahwa dunia ini akan dapat dikenal dan dikuasai anak dengan menggunakan kesadaran "ingin tahu". Motivasi lain yang dapat membawa kita pada dunia ini adalah dengan memiliki berbagai kompetensi. Anak-anak menjadi tertarik untuk mempelajari hal-hal yang mereka anggap biasa dan telah dikuasai. Satu hal yang tidak mungkin adalah memotivasi anak agar menguasai sesuatu yang mereka tidak biasa dan tidak kuasai.

B. MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM
Pandangan Bruner tentang pentingnya pengembangan berpikir dalam proses pendidikan telah menghasilkan rekomendasi perlunya perancangan kembali kurikulum untuk mengembangkan keterampilan berpikir (Bell Gedler; 1986 hal. 65). Bruner mengemukakan perlu adanya teori pembelajaran yang akan menjelaskan asas-asas untuk merancang pembelajaran yang efektif di kelas dalam rangka mengembangkan keterampilan berpikir. Seperti halnya John Dewey, Bruner menggambarkan orang yang berpengetahuan sebagai orang yang terampil dalam memecahkan masalah. Artinya, ia dapat berinteraksi dengan lingkungan dalam mengkaji hipotesis dan menarik generalisasi. Model penyajian pelajaran atau kurikulum yang baik harus dirancang ke arah penguasaan keterampilan yang lebih kuat (Bruner 1964, dalam Margaret B. Gedler; 1986, hal 63-73). Konsep-konsep yang ada dalam mata pelajaran harus didefinisikan terlebih dahulu dan digunakan sebagai dasar pengembangan kurikulum. Dengan cara ini, menurut Bruner memungkinkan orang untuk mengajarkan mata pelajaran apa pun secara efektif kepada siapa pun pada tahap perkembangan apa pun. Perancangan kurikulum yang seperti ini disebut kurikulum spiral.
Kurikulum yang dikembangkan dengan model ini diarahkan pada upaya mendidik siswa untuk memiliki kemampuan menyelidiki (inkuiri) dan menemukan (diskoveri). Agar pembelajaran dapat mengembangkan keterampilan intelektual anak maka materi pelajaran perlu disajikan dengan memperhatikan tahap perkembangan kognitif anak yang meliputi tahap enaktif, ikonik, dan simbolik. Selanjutnya, ketiga tahap perkembangan kognitif ini oleh Bruner disebut sebagai model dalam menyajikan pelajaran. Ketiga model penyajian ini digambamkan sebagai berikut.


1. Penyajian Enaktif
Penyajian enaktif adalah penyajian yang dilakukan melalui tindakan, memiliki karakter manipulasi yang tinggi. Penyajian seperti ini sangat diperlukan oleh anak-anak yang mulai dapat memahami beberapa aspek real ita/kejadian tanpa menggunakan imajinasinya atau kata-kata. Ia akan dapat memahami sesuatu dari berbuat atau melakukan sesuatu. Contohnya, seorang anak yang mengatur keseimbangan timbangan dengan jalan menyesuaikan kedudukan badannya walaupun anak itu mungkin tidak dapat menjelaskan prosedurnya.

2. Penyajian Ikonik
Penyajian Ikonik dilakukan melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik yang menggambarkan suatu konsep tetapi tidak mendefinisikannya. Penyajian ini bergantung kepada visual organisasi sensorik anak. Bila mendekati masa remaja, bahasa menjadi lebih penting sebagai suatu media berpikir. Kemudian, pada masa transisi penyajian ikonik yang didasarkan pada pengindraan dilanjutkan dengan penyajian simbolik yang didasarkan pada sistem berpikir abstrak.

3. Penyajian Simbolik
Bahasa adalah dasar penyajian simbolik. Penyajian simbolik ini dibuktikan oleh kemampuan seseorang untuk memikirkan proposisi dibandingkan objek, memberikan struktur hierarkis pada konsep-konsep dan untuk memikirkan alternatif yang mungkin dalam suatu cara kombinatunal. Pada tahap ini anak mungkin dapat menerangkan cara bekerjanya neraca atau timbangan.
Salah satu penyebab kegagalan guru dalam menjanjikan materi pelajaran adalah karena guru tidak berusaha untuk memahami siswa dengan baik, atau model penyajian guru tidak sesuai dengan tingkat pengalaman dan pengetahuan anak. Akibatnya, anak tidak dapat menangkap pesan pembelajaran yang ingin disampaikan guru.

C. PENDEKATAN MODEL BELAJAR BRUNER
Pendekatan model belajar Bruner ini didasarkan pada dua asumsi, yaitu:
1. Perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif, artinya, pengetahuan akan diperoleh orang yang belajar (pebelajar) bila di dalam pembelajaran yang bersangkutan berinteraksi secara aktif dengan lingkungannya. Pendekatan interaktif ini tidak saja menguntungkan dan memberi perubahan pada pebelajar, tetapi juga berpengaruh dan memberi perubahan pada lingkungan di mana,dia belajar.
2. Orang mengkonstruksikan pengetahuannya dengan cara menghubungkan informasi yang tersimpan yang telah diperoleh sebelumnya. Dalam belajar hal-hal yang mempunyai kemiripan dihubungkan menjadi suatu struktur yang memberi arti. Dengan demikian, setiap orang mempunyai model atau kekhususan dalam dirinya untuk mengelompokkan hal-hal tertentu atau membangun suatu hubungan antara hal yang telah diketahuinya. Dengan model ini seseorang dapat menyusun hipotesis untuk memasukkan pengetahuan baru ke dalam struktur yang telah dimiliki sehingga memperluas struktur yang telah dimilikinya atau mengembangkan struktur baru.

D. BELAJAR PE14EMUAN DARI BRUNER, MANFAAT, DAN CONTOH PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
Belajar penemuan (discovery learning) merupakan salah satu model pembelajaran/belajar kognitif yang dikembangkan oleh Bruner (1966). Menurut Bruner belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan. Agar belajar menjadi bermakna dan memiliki struktur informasi yang kuat, siswa harus aktif mengidentifikasi prinsip-prinsip kunci yang ditemukannya sendiri, bukan hanya sekadar menerima penjelasan dari guru saja. (GagneBerliner, 319-320).
Bruner yakin bahwa belajar penemuan adalah proses belajar di mana guru harus menciptakan situasi belajar yang problematis, menstimulus siswa dengan pertanyaan-pertanyaan, mendorong siswa mencari jawaban sendiri, dan melakukan eksperimen. Bentuk lain dari belajar penemuan adalah guru menyajikan contoh-contoh dan siswa bekerja dengan contoh tersebut sampai dapat menemukan sendiri hubungan antarkonsep. Menurut Bruner, belajar penemuan pada akhirnya dapat meningkatkan penalaran dan kemampuan untuk berpikir secara bebas dan melatih keterampilan kognitif siswa dengan cara menemukan dan memecahkan masalah yang ditemui dengan pengetahuan yang telah dimiliki dan menghasilkan pengetahuan yang benar¬. benar bermakna bagi dirinya.
Saat ini model belajar penemuan menduduki peringkat atas dalam dunia pendidikan modern. Salah satu yang banyak diterapkan dalam pembelajaran di Indonesia adalah konsep belajar siswa aktif atau cara belajar siswa aktif (CBSA). Dalam menerapkan model belajar penemuan ini, seorang guru dianjurkan untuk tidak memberikan materi pelajaran secara utuh. Siswa cukup diberikan konsep utama, untuk selanjutnya siswa dibimbing agar dapat menemukan sendiri sampai akhirnya dapat mengorganisasikan konsep tersebut secara utuh. Untuk itu guru perlu memberikan kesempatan seluas¬luasnya kepada siswa untuk mendapatkan konsep-konsep yang belum disampaikan oleh guru dengan pendekatan belajar problem solving.



1. Manfaat Belajar Penemuan
a. Belajar penemuan dapat digunakan untuk menguji apakah belajar sudah bermakna.
b. Pengetahuan yang diperoleh siswa akan tersimpan lama dan mudah diingat.
c. Belajar penemuan sangat dip?rlukan dalam pemecahan masalah sebab yang diinginkan adalah agar siswa dapat mendemonstrasikan pengetahuan yang diterimanya.
d. Transfer dapat ditingkatkan setelah generalisasi ditemukan sendiri oleh siswa.
e. Penggunaan belajar penemuan mungkin mempunyai pengaruh dalam menciptakan motivasi belajar.
f. Belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir secara bebas.

2. Tahap-tahap Penerapan Belajar Penemuan
a. Stimulus (pemberian perangsang/stimuli); kegiatan belajar dimulai dengan memberikan pertanyaan yang merangsang berpikir siswa, menganjurkan dan mendorongnya untuk membaca buku dan aktivitas belajar lain yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
b. Problem statement (mengidentifikasi masalah); memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian memilih dan merumuskannya dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara dari masalah tersebut).
c. Data collection (pengumpulan data); memberikan kesempatan kepada siswa mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-banyaknya untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis tersebut
d. Data processing (pengolahan data); mengolah data yang telah diperoleh siswa melalui kegiatan wawancara, observasi dan lain-lain. Data tersebut kemudian ditafsirkan.
e. Verifikasi; mengadakan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis yang ditetapkan dan dihubungkan dengan hasil dan pengolahan data.
f. Generalisasi; mengadakan penarikan kesimpulan untuk dijadikan prinsip umum yang berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama dengan memperhatikan hasil verifikasi: (Muhibbin Syah 1995, hal: 245)

3. Penerapan Teori Belajar Bruner dalam Pembelajaran
a. Sajikan contoh dan noncontoh konsep-konsep yang Anda ajarkan, misalnya pembelajaran mamalia.
Contoh:
1) contohnya: manusia, ikan paus, kucing, atau lumba-lumba.
2) noncontohnya: ayam, ikan, katak atau buaya.
b. Bantu siswa untuk melihat adanya hubungan antara konsep-konsep.
Contoh:
Beri pertanyaan kepada siswa seperti berikut ini "apakah ada sebutan lain dari !:ata "rumah"? (tempat tinggal), "dimanfaatkan untuk apa rumah?" (untuk istirahat, berkumpulnya keluarga, dan lain-lain), adakah sebutan lainnya dari kata rumah tersebut?
c. Beri satu pertanyaan dan biarkan siswa untuk berusaha mencari jawabannya.
Contoh:
1) Bagaimana terjadinya embun?
2) Apakah ada hubungan antara kabupaten dan kotamadya?
d. Ajak dan beri semangat siswa untuk memberikan pendapat berdasarkan intuisinya.
Contoh:
1) Beri siswa peta Yunani kuno dan tanyakan di mana letak kota-kota utama di Yunani.
2) Jangan berkomentar dulu atas jawaban siswa, gunakan pertanyaan yang memandu siswa untuk mengarahkan mereka kepada jawaban yang sebenarnya dan lain-lain. (Anita.W., 1995)

E. BELAJAR BERMAKNA DARI AUSUBEL
David Ausubel banyak mencurahkan perhatiannya pada pentingnya mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar bermakna (meaningful learning) dan belajar verbal yang dikenal dengan expository learning. Pandangan Ausubel tentang belajar ini sangat bertentangan dengan ahli psikologi kognitif lainnya, yaitu Bruner dan Piaget. Menurut Ausubel, pada dasarnya orang memperoleh pengetahuan melalui penerimaan, bukan melalui penemuan. Konsep-konsep, prinsip, dan ide-ide yang disajikan pada siswa akan diterima oleh siswa. Dapat juga konsep ini ditemukan sendiri oleh siswa. (Gagne/Berliner, 322). Suatu konsep mempunyai arti bila sama dengan ide yang telah dimiliki, yang ada dalam struktur kognitifnya. Agar konsep¬konsep yang diajarkan berarti, harus ada sesuatu di dalam kesadaran siswa yang bisa disamakan. Sesuatu itu adalah "struktur kognitif'. Belajar bermakna adalah belajar yang disertai dengan pengertian. Belajar bermakna akan terjadi apabila informasi yang baru diterima siswa mempunyai kaitan erat dengan konsep yang sudah ada/diterima sebelumnya dan tersimpan wan, struktur kognitifnya. Informasi baru ini juga dapat diterima atau pelajari siswa tanpa menghubungkannya dengan konsep atau pengetahuan a.ng sudah ada. Cara belajar seperti ini disebut belajar menghapal.

F. KLASIFIKASI BELAJAR AUSUBEL DAN CARA PENGAJARANNYA
Ausubel mengklasifikasikan makna belajar ke dalam dua dimensi seperti tampak pada gambar berikut. Dimensi pertama berhubungan dengan cara bagaimana informasi atau materi pelajaran disajikan kepada siswa, apakah `melalui penerimaan atau melalui penemuan. Belajar menurut dimensi ini `diperoleh melalui pemberian informasi dengan cara dikomunikasikan kepada siswa. dalam bentuk belajar penerimaan dan menyajikan informasi itu dalam bentuk final, ataupun dalam bentuk belajar penemuan yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri keseluruhan informasi yang harus diterimanya. Cara kedua berhubungan dengan bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi yang diterima dengan struktur kognitif yang sudah dimilikinya. Dalam hal ini siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi yang diterima dengan pengetahuan yang telah dimilikinya, itulah yang dikatakan belajar bermakna. Siswa dapat juga mencoba-coba menghapal informasi baru tanpa menghubungkan dengan konsep yang telah ada dalam struktur kognitifnya. Itu disebut belajar menghapal.
Kedua dimensi itu tidak menunjukkan dikotomi yang sederhana, tetapi lebih merupakan suatu kontinum, sebagai tampak dalam gambar berikut. Menurutnya, belajar penerimaan tidak sama dengan belajar hapalan. Belajar penerimaan dapat dibuat bermakna, yaitu dengan cara menjelaskan hubungan antara konsep-konsep.


Gambar 3.1
Klasifikasi Belajar Menurut Ausubel dan Robinson 1969, dalam Ratna Wilis
(1989, 111)

G. STRUKTUR KOGNITIF
Struktur kognitif didefinisikan sebagai struktur organisasional yang ada dalam ingatan seseorang yang mengintegrasikan unsur-unsur pengetahuan yang terpisah ke dalam suatu unit konseptual. Struktur kognitif berisi konsep-konsep yang telah tersusun secara hierarki dan tetap berada dalam kesadaran siswa. Konsep yang paling inklusif terletak di atas lalu berangsur-angsur pada konsep yang spesifik sampai pada yang terakhir. Sehubungan dengan itu agar bahan pelajaran mudah dipelajari, Ausubel (1963) berpendapat bahwa pengetahuan diorganisasikan dalam ingatan seseorang secara hierarki. Oleh karena itu, ia menyarankan supaya materi pelajaran disusun secara berurutan dari atas ke bawah, dari yang paling inklusif/umum/abstrak hingga yang paling spesifik (terinci); pembelajaran harus berjalan dari yang paling umum dan inklusif hingga rinci, disertai contoh yang khas. Dengan pandangannya itu, Ausubel menolak pendapat yang mengatakan bahwa belajar verbal akan mendorong siswa untuk cenderung menghapal (bersifat verbalisme) atau mengulang-ulang hapalan secara rutin. Untuk itu ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar belajar menjadibermakna. geberapa syarat/strategi tersebut di antaranya adalah dengan melakukan advance organizer; progressive differentiation, integrative reconciliation, dan consolidation.
Pengaturan awal (advance organizer). Pengaturan awal ini berisi konsep-konsep atau ide-ide yang diberikan kepada siswa jauh sebelum materi pelajaran yang sesungguhnya diberikan. Berdasarkan suatu penelitian, pengaturan awal dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap berbagai macam materi pelajaran. Pengaturan awal sangat berguna dalam mengajarkan materi pelajaran yang sudah mempunyai struktur yang teratur. Ada tiga hal yang dapat dicapai dengan ' menggunakan pengaturan awal, yaitu (1) pengaturan awal memberikan kerangka konseptual untuk belajar yang bakal terjadi berikutnya; (2) dapat menjadi penghubung antara informasi yang sudah dimiliki siswa saat ini dengan informasi baru yang akan diterima/dipelajari; (3) berfungsi sebagai jembatan penghubung sehingga memperlancar proses pengkodean pada siswa.
Pengaturan awal itu bermacam-macam bentuknya tetapi fungsinya dalam sama, yaitu meningkatkan kemampuan siswa untuk mengorganisasikan materi, belajar, dan mengingat. Kebanyakan advance organizer berisi materi lama yang sudah dikenal, baik oleh siswa namun masih mempunyai hubungan dengan materi yang baru. Ada dua bentuk organizer, yaitu expository organizer menyajikan gambar konsep yang relevan dan comparative organizer menyajikan persamaan dan perbedaan antara dua materi dari struktur kognitif yang sudah dimiliki.
Progressive differentiation. Menurut Ausubel pengembangan konsep berlangsung paling baik bila dimulai dengan cara menjelaskan terlebih dahulu hal-hal yang umum terus sampai kepada hal-hal yang khusus dan rinci disertai dengan pemberian contoh-contoh. Untuk menerapkan strategi mengajar atau menyajikan materi seperti ini perlu dilakukan analisis konsep. Analisis konsep dilakukan untuk menemukan kemudian menghubungkan konsep-konsep utama dari suatu mata pelajaran sehingga dapat diketahui mana konsep yang paling utama dan superordinat dan mana konsep yang lebih khusus dan subordinat. Konsep yang diajarkan kepada siswa akan diterima dan diasosiasikan dengan konsep yang ada dalam struktur kognitifnya, kemudian konsep ini akan mengalami diferensiasi.
Rekonsiliasi integratif (integrative reconciliation). Guru menjelaskan dan menunjukkan secara jelas perbedaan dan persamaan materi yang baru dengan materi yang telah dijelaskan terlebih dahulu yang telah dikuasai siswa. Dengan demikian siswa akan mengetahui alasan dan manfhat mated yang akan dijelaskan tersebut.
Konsolidasi (consolidation). Guru memberikan pemantapan atas materi pelajaran yang telah diberikan untuk memudahkan siswa memahami dan mempelajari materi selanjutnya (Barlow;1985; dalam Muhibbin. Syah, 1995,245-246)

H. PENERAPAN BELAJAR BERMAKNA
Inti teori Ausubel tentang belajar adalah belajar bermakna (meaningfiil learning). Belajar bermakna merupakan suatu proses untuk mengaitkan informasi baru dengan konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
Dalam menerapkan teori Ausubel dalam pembelajaran, guru dianjurkan untuk mengetahui terlebih dahulu kondisi awal siswa. Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa ada satu faktor yang sangat mempengaruhi belajar, yaitu pengetahuan yang telah diterima siswa. Pandangan Ausubel ini diharapkan menjadi kerangka berpikir dalam menerapkan teori tersebut dalam belajar di samping memahami konsep dan prinsip-prinsip lain yang harus diperhatikan, yaitu adanya pengaturan awal, adanya proses diferensiasi progresif, rekonsiliasi integratif, dan belajar subordinat.
Dalam perkembangannya, belajar bermakna dapat diterapkan melalui berbagai cara pengajaran, misalnya pengajaran dengan menggunakan peta konsep.
Penerapan peta konsep dalam pembelajaran dapat dilakukan untuk menguji dan mengetahui penguasaan siswa terhadap pokok materi yang akan diberikan, serta untuk mengetahui konsep esensial apa saja yang perlu diajarkan.
Adapun cara pembelajarannya adalah sebagai berikut.
1. Pilih suatu bacaan atau salah satu bab dari sebuah buku pelajaran.
2. Tentukan konsep-konsep yang relevan dari topik yang akan atau sudah diajarkan.
3. Urutkan konsep-konsep tersebut dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif berikut contoh-contohnya.
4. Susun konsep-konsep tersebut di atas kertas dari konsep yang paling inklusif ke konsep yang tidak inklusif secara berurutan dari atas ke bawah.
5. Hubungkan konsep-konsep ini dengan kata-kata sehingga menjadi sebuah peta konsep seperti contoh berikut.


Gambar 3.2.
Contoh: Peta Konsep, Ratna Wilis (1989)

LATIHAN
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
1) Jelaskan pandangan Bruner tentang manusia!
2) Menurut Bruner, belajar bermakna dapat terjadi melalui belajar penemuan. Jelaskan bagaimana caranya!
3) Faktor apa saja yang harus diperhatikan guru dalam pembelajaran!
4) Apakah yang dimaksud dengan belajar bermakna?
5) Syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhi agar belajar menjadi bermakna?

Tugas
Buatlah peta konsep dari mata pelajaran yang Anda ajarkan!

Petunjuk Jawaban Latihan
1) Bahwa manusia adalah makhluk pemroses, pemikir dan pencipta informasi.
2) Belajar penemuan adalah proses belajar di rpana guru harus menciptakan situasi belajar yang problematis, menstimulus siswa dengan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya harus dicari sendiri oleh siswa.
3) Belajar bermakna adalah belajar yang disertai pengertian. Belajar bermakna akan terjadi bila informasi baru yang akan diberikan kepada yang sudah dimiliki siswa dikaitkan dengan konsep/informasi dalam struktur kognitifnya.
4) Faktor yang harus diperhatikan guru dalam mempelajaran adalah memahami struktur bidang studi, pentingnya belajar aktif supaya seseorang dapat menemukan berpikir induktif.
5) Agar belajar menjadi bermakna maka beberapa hal berikut harus dilakukan: melakukan pengaturan awal, progressive differentiation, integrative reconciliation, dan consolidation.

RANGKUMAN
1. Menurut Bruner ada tiga proses kognitif dalam belajar, yaitu perolehan informasi baru, mentransformasikan informasi yang d'iterima, dan menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.
2. Faktor-faktor penting dalam belajar menuruf Bruner, yaitu pentingnya memahami struktur mata pelajaran; pentingnya belajar aktif dan pentingnya nilai berpikir induktif.
3. Hal-hal yang diperhatikan dalam pembelajaran, yaitu pentingnya struktur.bidang studi, kesiapan, intuisi, dan motivasi
4. Menurut Bruner, cara menyajikan pelajaran harus disesuaikan dengan derajat berpikir anak yang terdiri dari tiga tahap berpikir, yaitu tahap enaktif, ikonik, dan simbolik
5. Ada dua pendekatan model belajar Bruner, yaitu bahwa perolehan pengetahuan merupakan proses interaktif dan orang mengkonstruksikan pengetahuannya dengan cara menghubungkan informasi yang tersimpan yang telah diterima sebelumnya.
6. Belajar bermakna adalah belajar yang disertai dengan pengertian. Belajar bermakna ini akan terjadi apabila informasi baru yang diterima mempunyai hubungan dengan konsep yang sudah diterima oleh siswa.

TES FORMATIF 2
Petunjuk: Nomor 1 sampai dengan 9, pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
1) Untuk mengetahui kesiapan belajar siswa, guru perlu memberikan ....
A. Tes awal
B. Berbagai pengalaman belajar
C. Reinforcement dan reward
D. Motivasi

2) Pengembangan konsep yang dilakukan dengan cara menjelaskan materi yang umum terlebih dahulu, kemudian baru yang khusus disertai dengan contoh-contohnya disebut ....
A. Expository organizer
B. Comparative organizer
C. Integrative reconciliation
D. Progressive differentiation

3) Penyajian pelajaran yang dilakukan dengan cara memperagakan atau menunjukkan suatu tindakan disebut model penyajian ....
A. Enaktif
B. Ikonik
C. Simbolik
D. Spiral

4) Faktor yang sering menyebabkan guru gagal dalam menyajikan pelajaran dengan model penyajian simbolik adalah karcna ia kurang memperhatikan ....
A. Afektif anak
B. Motivasi anak
C. Kesiapan anak
D. Tingkat pengalaman anak

5) Menurut Bruner agar keterampilan intelektual anak berkembang, faktor berikut perlu diperhatikan pada saat akan menyajikan pelajaran ....
A. Kurikulum
B. Struktur pelajaran
C. Perkembangan kognitif anak
D. Kemampuan awal anak

6) Belajar penemuan akan terjadi bila datam proses belajar, guru ....
A. Menyajikan contoh-contoh
B. Tidak menyajikan materi secara utuh
C. Menciptakan situasi belajar yang problematis
D. Meminta siswa menemukan dan menghubungkan konsep-konsep yang ada

7) Pada dasarnya orang memperoleh pengetahuan dengan cara belajar penerimaan. Pandangan ini dikemukakan oleh ....
A. Ausubel
B. Bruner
C. Gagne
D. Jean Piaget
8) Proses kognitif yang berupa penyelesaian pengetahuan seseorang dengan kebutuhannya disebut proses ....
A. Menguji relevansi
B. Perolehan informasi
C. Transformasi
D. Berpikir

9) Dalam pembelajaran bermakna, analisis konsep perlu dilakukan dengan tujuan untuk ....
A. Menemukan konsep utama dan hubungannya dengan konsep-konsep lain dari suatu mata pelajaran
B. Membuat proses belajar menjadi lebih bermakna
C. Membuat proses belajar lebih mudah dimengerti dipahami siswa
D. Mengetahui konsep-konsep yang harus diajarkan

Petunjuk nomor 10, jawablah:
A. Jika pernyataan benar alasan benar dan keduanya menunjukkan hubungan sebab akibat
B. Jika pernyataan benar, alasan benar tetapi tidak menunjukkan hubungan sebab akibat
C. Jika pernyataan benar, alasan salah atau jika pernyataan salah, alasan benar
D. Jika pernyataan dan alasan salah

10) Menurut Ausubel materi pelajaran harus disusun secara berurutan dari atas ke bawah atau dari umum ke khusus.
Sebab
Pengetahuan diorganisasikan denganingatan seseorang secara hierarki.

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.





80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 3. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang belum dikuasai.
Terima kasih atas waktunya untuk membaca Model Teori Belajar Bruner dan Ausubel | Teori Belajar dan Pembelajaran ini, dengan harapan semoga artikel Model Teori Belajar Bruner dan Ausubel | Teori Belajar dan Pembelajaran ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Model Teori Belajar Bruner dan Ausubel | Teori Belajar dan Pembelajaran terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Model Teori Belajar Bruner dan Ausubel | Teori Belajar dan Pembelajaran » Resume