Pendidikan pesantren Vs Pendidikan umum

Pendidikan Pesantren VS Pendidikan Umum
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Tercatat pada tahun 2010 terdapat kurang lebih 85,1% dari 240.271.522 jumlah penduduk indonesia adalah beragama islam. Dengan posisi yang demikian islam sangatlah berpengaruh pada maju mundurnya bangsa indonesia.
Salah satu indikator dari maju mundurnya suatu bangsa, bisa dilihat dari bagaimana kualitas pendidikan didalamnya.Pendidikan merupakan salah satu unsur penting pembangunan bangsa indonesia. tanpa adanya pendidikan, indonesia bak negara yang buta akan segala-galanya. Oleh karena itu sudahlah sepantasnya jika alokasi terbesar APBN di peruntukkan untuk sektor pendidikan yaitu sebesar 20%.
Terlepas dari bagaimana alokasi dana APBN untuk pendidikan diatas, masyarakat indonesia sangatlah butuh akan namanya pendidikan. Hanya saja, mengingat indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, tidak bisa di pungkiri bahwa terdapat dikotomi pendidikan di negeri ini, yaitu pendidikan islam (yang lebih dikenal dengan sebutan pondok pesantren), dan pendidikan konvensional atau pendidikan umum. Kedua jenis pendidikan tersebut sudah sangat mendarah daging di masyarakat kita sehingga timbul beberapa persepsi di tengah-tengah masyarakat muslim kita. Ada yang mempunyai persepsi bahwa pendidikan umum adalah pendidikannya orang-orang barat, dan kelompoknya tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan tersebut, dan hanya diperbolehkan mengenyam pendidikan pesantren. orang-orang seperti ini biasa disebut dengan masyarakat konservatif.Akan tetapi, juga ada masyarakat muslim yang mempunyai persepsi bahwa, pendidikan agama di pesantren sangat penting, akan tetapi mereka tidak menafikan adanya pendidikan umum. Masyarakat muslim demikian, bisa disebut masyarakat muslim modern.
Jika kita ingin mengkaji lebih lanjut, bagaimana proses terbentuknya dua dikotomi pendidikan diatas, kita tidak akan bisa lepas dari sejarah bangsa indonesia, mulai dari sejarah masuk dan berkembangnya islam di tanah air, dan penjajahan kerajaan Hindi Belanda di nusantara.
Menurut beberapa ahli sejarah, islam masuk ke tanah air sekitar abad ke-7. Ketika itu banyak saudagar-saudagar muslim dari jazirah arab, cina, dan gujarat yang datang ke indonesia dengan tujuan berdagang. Ada beberapa dari mereka yang menetap di indonesia dan ada beberapa dari mereka yang pulang kembali ke daerah asalnya. Ternyata saudagar-saudagar tersebut selain bertujuan untuk berdagang, mereka juga membawa misi mulia, yaitu untuk berdakwah dan menyebarkan agama islam. Sehingga pada waktu itu islam sangat berkembang terutama pada daerah-daerah pesisir sehingga muncullah kerajaan-kerajaan islam di beberapa wilayah di indonesia. Sekitar abad ke-13 kerajaan islam semakin berkembang dan pada waktu itu pula muncul beberapa wali yang berjuang untuk menyebarkan islam di nusantara ini, entah itu melalui jalan budaya, pernikahan, tasawuf, perdagangan, ataupun pendidikan pesantren. Masa-masa diatas merupakan awal dari adanya pendidikan islam di indonesia, dan merupakan cikal bakal pesantren yang sudah banyak berkembang seperti saat sekarang ini.
Kemudian, pada abad ke-17 tepatnya pada tahun 1601 datang kerajaan Hindi-Belanda ke indonesia dengan tujuan untuk berdagang. Akan tetapi, tujuan awal tersebut akhirnya berubah menjadi tujuan keji, yaitu menjajah bangsa indonesia. Singkat cerita, untuk memonopoli kekuasaannya di indonesia, mereka mendirikan institusi pendidikan yang diperuntukkan untuk keturunan-keturunan belanda sendiri. Adapun warga-warga pribumi tidak semuanya bisa mengenyam bangku pendidikan yang didirikan oleh pemerintah Hindia-Belanda tersebut. Hanya kaum bangsawan, dan Priyai saja yang boleh mengenyam pendidikan, dimana itu pun merupakan strategi belanda untuk menguasai para rakyat. Sistem pendidikan yang didirikan oleh belanda pada waktu itu, merupakan cikal bakal dari sekolah-sekolah umum yang masih berdiri sampai saat ini. Jika pada waktu itu, pemerintah Hindia-Belanda tidak datang menjajah bangsa indonesia, mungkin saja tidak akan ada sekolah umum ataupun perguruan tinggi yang sedikit banyak mengadopsi sistem pendidikan Eropa seperti UI, UGM, UNAIR dan lainnya.
Beberapa rentetan sejarah diatas menunjukkan bahwa bangsa indonesia telah melewati sejarah dan lika liku yang sulit. Adanya Pondok Pesantren, ataupun sekolah umum seperti saat ini, merupakan warisan sejarah yang tidak ternilai harganya. Akan tetapi bangsa indonesia dan umat islam di indonesia khususnya dihadapkan pada dua pilihan pendidikan diatas. Salah satu dari pendidikan pondok pesantren dan pendidikan umum, atau keduanya? Pertanyaan inilah yang kiranya memunculkan banyak pertentangan dan perdebatan. Ada beberapa kelompok muslim yang tidak mau menerima sistem pendidikan warisan dari jaman kolonial tersebut. Dengan kata lain, mereka hanya menerima sistem pendidikan agama saja pada pondok pesantren. akan tetapi ada juga kelompok muslim yang mengintegrasikan pendidikan pondok pesantren dan pendidikan umum.
Apapun pilihan yang dipilih, itu merupakan sebuah pilihan. Setiap orang berhak menentukan pilihan, tentunya beserta konsekuensi yang ada didalamnya. Akan tetapi untuk memahami 2 kelompok tersebut, kita perlu melihat dan memahaminya dari dua sudut pandang yang berbeda. Kadang kala kita harus melihat dari sudut pandang pertama, yaitu kelompok muslim yang hanya memilih pendidikan pondok pesantren dan tidak menyetujui adanya pendidikan yang dibawa oleh pemerintah hindia belanda. Kelompok tersebut bisa jadi beranggapan bahwa dengan mengenyam pendidikan umum, maka akan lebih banyak mendatangkan mudhorot baginya dari pada manfaat.
Kemudian, selain kita melihat dari sudut pandang yang pertama, kita juga perlu untuk melihat dari sudut pandang yang kedua. Kelompok yang kedua ini, bisa jadi beranggapan bahwa, saat ini merupakan jaman globalisasi, dimana batas wilayah antar negara semakin memudar. Artinya warga pada suatu negara tertentu dapat dengan mudah untuk berhubungan dengan warga negara lain, entah itu secara langsung maupun tidak langsung. Semakin derasnya arus globalisasi ini, mengakibatkan pertarungan antar negara dalam bidang teknologi, ekonomi, dan pendidikan akan semakin sengit. Sehingga selain berlandaskan dengan pendidikan agama yang kuat, umat muslim juga harus mampu untuk mengikuti arus globalisasi. Oleh karena itu di tanah air sudah banyak bermunculan pondok-pondok pesantren yang selain mengajarkan agama, juga mengajarkan pendidikan umum dengan harapan akan melahirkan cendekiawan-cendekiawan muslim yang tidak hanya mampu bersaing dalam dunia global, melainkan juga beriman, sholeh dan mempunyai akhlak yang baik.
Terlepas dari penjelasan dua sudut pandang masing-masing diatas, sebagai bangsa indonesia yang kaya akan suku, ras, agama, dan budaya, hendaknya kita harus saling menghormati satu sama lain, kelompok satu menghormati kelompok lain. Jika hal tersebut dapat kita capai, maka dapat meminimalisir berbagai macam konflik di negeri ini. HIDUP ISLAM!!! HIDUP INDONESIA!!! ALLAHU AKBAR...
Artikel dikirim
Oleh : Chamida ni'mah
email : chamidaxxx@xxxxx.com
Terima kasih atas waktunya untuk membaca Pendidikan pesantren Vs Pendidikan umum ini, dengan harapan semoga artikel Pendidikan pesantren Vs Pendidikan umum ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Pendidikan pesantren Vs Pendidikan umum terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Pendidikan pesantren Vs Pendidikan umum » Artikel

eMakalah.com