Pengaruh warna lampu terhadap perkembangan embrio telur ayam kampung

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Telur ayam mengalami masa pengeraman yang biasnaya terjadi selama 21 hari, masa pengeraman ini merupakan masa yang kritis untuk menentukan menetasnya seekor anak ayam di dunia ini. Embrio didalam telur ini tumbuh secara luar biasa setiap harinya sampai akhirnya menetas menjadi anak ayam dan menghirup udara dunia.
Menurut Gatot Adiwinarto (2010) telur adalah suatu bentuk tempat penimbunan zat gizi seperti air, protein, karbohindrat, lemak, vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan embrio sampai menetas. Selain itu kerabang telur berfungsi sebagai perlindung dari pengaruh luar sehingga kondisi embrio tidak terganggu pada saat dierami hingga menetas menjadi anak ayam.
Pada penetasan ayam dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah suhu, kelembapan udara, ventilasi, pemutaran telur, dan kebersihan oleh sebab itu kami melakukan penelitian tentang: “Pengaruh warna lampu terhadap perkembangan embrio ayam kampung”. Agar kita dapat mengetahui apakah warna lampu juga termasuk salah satu faktor dalam perkembangan embrio telur ayam kampung atau tidak merupakan faktor perkembangan embrio telur ayam kampung.


1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah defenisi dari telur dan bagiannya?
2. Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan embrio telur ayam?
3. Apakah warna lampu berpengaruh pada perkembangan embrio telur ayam kampung?

1.3 Hipotesis
Dari penelitian kami tentang “Pengaruh Warna Lampu Terhadap Perkembangan Embrio Ayam Kampung” hipotesis kami adalah lampu yang berwarna merah perkembangan embrionya lebih cepat dari pada warna lampu yang berwarna biru.

1.4 Tujuan Hasil Penelitian
1. Mengetahui pengaruh warna lampu terhadap perkembangan embrio telur ayam kampung
2. Membandingkan perkembangan embrio telur ayam kampung pada lampu yang berwarna merah dan berwarna biru

1.5 Manfaat Hasil Penelitian
1. Agar dapat mengetahui pengaruh warna lampu terhadap perkembangan embrio telur ayam kampung
2. Agar dapat membandingkan perkembangan-perkembangan embrio telur ayam kampung pada lampu yang berwarna merah dan berwarna biru
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Telur merupakan suatu bentuk tempat penimbunan zat gizi seperti air, protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan embrio sampai menetas. Selain itu kerabang telur berfungsi sebagai pelindung dari pengaruh luar sehingga kondisi telur bagian dalam tidak terpengaruh dan kondisi embrio tidak tergantung pada saat dierami hingga meneras menjadi anak ayam. Telur yang dapat ditetaskan adalah harus fertil atau yang lazim disebut dengan telur tetas. Telur tetas merupkan telur yang sudah dibuahi oleh sel jantan, telur tersebut disebut telur infertil atau lazim disebut telur konsumsi, artinya telur tersebut tidak dapat menetas jika ditetaskan, melainkan hanya untuk dikonsumsi saja. (Alberts, 1994:38)
Bagian-bagian yang terdapat pada telur berbentuk lapisan, tersusun dari dalam keluar. Bagian telur pertama dimulai dengan sel telur. Sel telur ini kecil dan terlihat sebagai bintik agak putih, kuning telur dikeluarkan oleh oupduct atau saluran sel telur, kemudian ditambah empat lapisan pemisah albumen (putih telur). Bagian-bagian ini dilindungi oleh dua lapisan “kulit” membran tipis yang transparan, kemudian pada bagian luar kulit ini dibungkus oleh kulit kerabang telur (shell). Hanya beberapa jam sebelum telur dikeluarkan dari tubuh induk, telur mengalami pigmentasi warna, pigmen ini dihasilkan dalam tubuh ayam. Karena setiap telur dipigmentasi secara terpisah, maka warna setiap ayam nantinya akan bervariasi meskipun telurnya dikeluarkan dari induk yang sama.
Sebelum menghasilkan anak ayam, telur yang dikeluarkan harus sudah dibuahi (fertile), seekor induk ayam dapat mengeluarkan telur tanpa dibuahi, oleh karena itu agar telur tersebut dibuahi dan dapat menetas menjadi anak ayam, ayam betina tersebut harus disatukan dengan ayam jantan. (Adiwianarto, 2006:77)
Sel telur yang terdapat dalam telur dan sudah dibuahi adalah bakal anak ayam. Sebelum telur menetas, bakal anak ayam ini disebut embrio. Embrio ini harus mendapatkan makanan untuk pertumbuhannya. Embrio ini mendapat makanan dari kuning telur (yolk), karena itulah sebabnya mengapa sel telur selalu menempel atau berasa pada pinggir kuning telur, satu atau dua hari setelah telur ayam menetas dan mengeluarkan anak ayam, kuning telur masih tersisa dan melekat pada perut atau tali pusat (umbilical card) anak ayam tersebut. Kuning telur dapat digunakan sementara untuk sumber makanan anak ayam.
Putih telur (albumen) berfungsi sebagai pelindung embrio selama pertumbuhannya. Pada saat telur tergoncang atau bergerak tiba-tiba akibat getaran, maka putih telur yang mengelilingi embrio dan kuning telur akan melindungi embrio dan berfungsi sebagai bantalan. Kulit kerambang (shell) melindungi semua bagian telur dari luka atau kerusakan. (widayanti, 2003: 107)
Telur bernafas melalui lubang-lubang kecil tersebut. Kulit kerabang terlihat padat dan tertutup tetapi sebenarnya bersifat porous atau berlubang (pori-pori). Ada terdapat ribuan lubang kecil pada kulit telur, dan kita tidak daat melihatnya secara langsung. Pada ujung telur terdapat kantung udara (air pocket) yang terisi oleh oksigen.
Telur yang sudah dibuahi snagat lunak (delicate) dan mudah rusak jika tidak hati-hati memperlakukannya. Kadang-kadang telur yang sudah dibuahi sempurnapun tidak akan menetas karena posisi isinya teleh terbalik atau terkocok. Induk ayam yang sedang mengerami telurnya, membalik-baliknya telur secara teratur dengan paruhnya. Ini dilakukan karena telur cenderung mengambang dan menempel pada kulit kerambang. Jika telur terlalu lama berada pada posisi tersebut dan tidak segera dibalikkan. Kuning telur akan terpisah dari putih telur dan embrio yang menempel pada kuning telur akan tertekan langsung pada kulit kerambang sehingga bisa mengakibatkan kematian embrio. Induk ayam menghindari hal ini dengan membalik-balik posisi letak telur. Induk ayam menjaga suhu tetap hangat dan merata melalui bulunya yang menyebar. Induk ayam sangat peduli dengan telurnya dan biasanya tidak akan membiarkan siapapun menyentuh telurnya. (Campbell, 2003:55)
Ada 5 poin utama yang harus diperhatikan dalam penetasan telur yaitu:
1. Suhu (Temperatur)
2. Kelembaban udara (Humidity)
3. Ventilasi (Ventilation)
4. Pemutaran telur (Egg Turning)
5. Kebersihan (Cleanliness)
Pada penetasan menggunakan inkubator dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

SET-UP

a. Cuci tangan anda sebelum mulai dengan penanganan telur. Ingat kebersihan dan sanitasi yang baik sangat diperlukan untuk menjamin keberhasilan penetasan telur.
b. Operasikan incubator selama beberapa jam atau semalaman sampai anda yakin akan kestabilan incubator yang akan dipergunakan.
c. Jika telur telur tetas yang akan dipergunakan sebelumnya disimpan pada tempat yang dingin maka telur telur tersebut harus dikeluarkan dan di angin-angin atau dibiarkan pada suhu kamar sampai telur-telur tersebut mempunyai suhu yang sama dengan suhu ruangan. Hal ini untuk mencegah kerusakan pada telur itu sendiri dan mempengaruhi pembacaan temperatur dalam incubator akibat terganggunya kestabilan incubator sebagai akibat perbedaan suhu yang mencolok.
d. Bila telur dimasukkan dalam incubator jenis still-air seperti incubator Cemani, maka beri tanda terlebih dahulu pada permukaan kulit telur dengan pinsil Tanda "O" pada satu sisi dan pada sisi lainnya dengan Tanda "X". Hal ini penting untuk penandaan dalam proses pemutaran telur nantinya. Telur setidaknya diputar minimal 3X atau sebaiknya 5X seperti penjelasan diatas. Dibuatnya angka ganjil dalam banyaknya jumlah pemutaran dimaksudkan agar pada satu malam dan malam lainnya salah satu sisi akan mengalami waktu yang sama. Misal malam ini bagian atas tanda “O” maka besok malam tentunya akan menjadi “X”.
e. Tidak ada masalah bila telur telur tersebut saling bersentuhan dalam tray penetasan sepanjang pemutaran dan pemindahan telur dari satu bagian ke bagian lainnya tetap dilakukan. Hal ini mempunyai kepentingan untuk meretakan suhu pada seluruh bagian dari telur tetas dan sebagai koreksi terhadap suhu karena faktor letak telur dalam mesin penetas telur (incubator).
f. Pada tipe forced-air seperti incubator GloryFarm maka telur telur tersebut cukup hanya dimasukkan dalam grid susunan yang telah ada pada Tray. Pemutaran akan terjadi karena pergerakan tuas diatas incubator yang menyebabkan tiap tiap telur akan mempunyai sudut kemiringan 45 tiap waktu pemutaran telur. Hal demikian menjadikan yang jauh lebih mudah dan praktis dalam penanganannya. (Anonim, 2010)

SUHU (TEMPERATURE)
a. Suhu atau temperatur yang diukur dengan Termometer memegang peranan yang sangat penting dalam penetasan telur karena hal ini berhubungan dengan faktor perkembangan embrio didalam telur
b. Suhu optimum dalam incubator tipe still-air adalah 102-1030F dan untuk tipe forced-air adalah 100-1010F.
Standart untuk suhu dalam incubator “penetasan” tipe forced air adalah 100oF. untuk jenis forced-air incubators dan 102 0F. untuk type still-air incubators. Suhu pada incubator penetas (hatching) di set 1 0F lebih rendah dibandingkan dengan incubator “pengeram” selama 3 hari sebelum penetasan.
Tabel 1. Temperatur Pada Penetasan Ayam
Keterangan Ayam
Periode Incubator (Hari) 21
Temperatur (oF) 100
Humidity 65-70
Tidak ada pemutaran telur Hari ke 18th
Buka Vents tambah ¼ hari ke 10th
Buka Vents (jika diperlukan) hari ke 18th


Sedangkan untuk tipe still air, posisi termometer adalah sejajar atau rata dengan tinggi bagian atas telur atau sekitar 5 cm dari dasar telur. Termometer haruslah tidak diletakkan diatas telur atau diluar bidang penetasan tetapi bersebelahan dengannya. Selain itu, mesin incubator juga harus tertutup rapat untuk menghindari hilang panas atau kelembaban udaranya.
Fluktuasi temperatur sebanyak 1 derajat atau kurang tidak menjadi masalah tetapi pengontrolan Temperature secara berkala amat diperlukan untuk menjaga agar suhu tidak ketinggian atau kerendahan dari standart tersebut. Sebagai catatan : suhu sekitar 105 0F. untuk 30 menit dapat mematikan embrio didalam telur sedangkan suhu penetasan pada 90 0F untuk 3 sampai 4 jam akan memperlambat perkembangan embrio didalam telur.
c. Termometer harus diletakkan 2,5 cm (1 inch) diatas wire mesh (tray) incubator atau setara dengan tinggi telur jika diletakkan mendatar. Hal berbeda untuk posisi termometer pada incubator forced-air yang mempunyai temperatur merata di dalam incubator karena menggunakan fan sebagai sirkulasi udara panasnya.
Hal yang harus diwaspadai terhadap ketidak normalan temperatur:
1. Temperatur Terlalu Tinggi:
Embrio ayam yang masih muda sangat mudah terpengaruh dengan temperatur yang tinggi. Pengoperasian incubator dengan temperatur setinggi 105 0F untuk 30 menit akan mempunyai efek yang mematikan pada embrio ayam.
Bila embrio tidak mati maka suhu yang tinggi tersebut dapat menyebabkan masalah di syaraf, hati, masalah di peredaran darah, ginjal atau cacat pada kaki, kebutaan dan persoalan lainnya yang menjadilkan anak ayam cacat, lemah dan kemudian mati.
2. Temperatur Terlalu Rendah:
Temperatur yang sedikit lebih rendah untuk periode waktu yang tidak terlalu lama tidak terlalu mempengaruhi dalam embrio kecuali memperlambat perkembangannya untuk embrio muda. Hal yang sedikit berbeda jika hal ini terjadi pada embrio yang lebih tua karena pengaruhnya akan sedikit berkurang.
Jika temperatur lebih rendah dari yang di syaratkan untuk waktu yang agak lama maka hal ini akan mempengaruhi embrio dalam hal perkembangan organ-organnya yang berkembang tidak secara proporsional. Jika hal ini terus terjadi maka akan menyebabkan gangguan pada hati, peredaran darah, jantung atau perkembangan yang lambat kalaupun menetas nantinya. (Widayati, 2003:79)

KELEMBABAN UDARA (HUMIDITY)
Kelembaban udara (Humidity) adalah penting karena hal ini untuk menjaga telur dari kehilangan terlalu banyak atau terlalu sedikit kelembabannya selama proses penetasan telur. Kelambaban relative 55-60% untuk 18 hari penetasan telur dan 65-70% untuk 3 hari terakhir.
a. Kelembaban diperoleh dari nampan yang berisi air, atau sponse yang basah dan sejenisnya yang diletakkan dibagian bawah atau dibagian atas tergantung tipe incubator dan settingnya. Tingkat kelembaban udara tergantung dari banyaknya/lebar permukaan air yang ter-expose atau dipengaruhi oleh system incubator itu. Semakin lebar luas permukaannya tentunya semakin tinggi kelembaban yang didapat atau sebaliknya. Dalam beberapa kasus, missal udara terlalu kering, kadang diperlukan menambahkan sponse (busa) pada nampan. Hal ini cukup untuk membantu menaikkan kelembaban udara seperti yang disyaratkan dalam penetasan telur. Bila terjadi hal kelembaban terlalu tinggi malah diharuskan memperkecil nampan, mengurangi luas permukaannya (misal ditutup dengan aluminium foil) atau malah mengeluarkan nampan air dari incubator. Keadaan seperti ini malah sering kami lakukan di tempat kami terutama pada saat musim hujan
b. Dianjurkan untuk tidak atau sesedikit mungkin membuka tutup incubator selama penetasan telur. Hal ini disebabkan karena kelembaban udara akan cepat hilang dengan dibukanya pintu incubator. Bila ini terjadi maka dianjurkan untuk menambahkan air hangat pada nampan agar lebih cepat menguap dan mencapai titik kelembaban yang diperlukan.
Pengukuran dapat dilakukan dengan hygrometer atau psychrometer. Psychrometer atau termometer bola basah (wet bulb) menunjukkan derajat kelembaban udara dan dapat dibaca berdasarkan tabel dibawah ini:
Tabel 2. Pembacaan Temperatur System Bola Basah (Wet Bulb) Untuk Incubator
Temperatur, oF.
Rel. Humidity 99 100 101 102
45% 80.5 81.3 82.2 83.0
50% 82.5 83.3 84.2 85.0
55% 84.5 85.3 86.2 87.0
60% 86.5 87.3 88.2 89.0
65% 88.0 89.0 90.0 91.0
70% 89.7 90.7 91.7 92.7

Kelembaban relatif (relatif humidity) untuk mesin incubator “penetas” atau periode 18 hari pertama harus dijaga pada 50 – 55 % atau 83.3 0F – 85.3 0F dengan wet bulb. Dan 3 hari setelahnya (21 hari dikurangi 3 hari) atau pada hari ke 19 – 21 sebelum penetasan, kelembaban udara harus dinaikkan menjadi 60 0F - 65 0F atau 87.3 0F - 89 0F.
Pada saat 3 hari menjelang penetasan dapat dikatakan kita harus lepas tangan “hand-off” karena pada saat ini tidak diperlukan campur tangan manusia sama sekali selain menunggu proses penetasan berjalan sampai selesai dengan sendirinya. Incubator tidak boleh dibuka karena dapat menyebabkan kehilangan kelembaban udara yang amat diperlukan dalam penetasan. Kehilangan kelembaban dapat mencegah keringnya membran pada kulit telur pada saat penetasan (hatching).
Kelembaban yang rendah menyebkan anak ayam sulit memecah kulit telur karena lapisannya menjadi keras dan berakibat anak ayam melekat / lengket di selaput bagian dalam telur dan mati. Akan tetapi kelembaban yang terlalu tinggi dapat menyebabkan anak ayam didalam telur juga sulit untuk memecah kulit telur atau kalaupun kulit telur dapat dipecahkan maka anak ayam tetap berada didalam telur dan dapat mati tenggelam dalam cairan dalam telur itu sendiri.
Pada incubator penetas “hatching”, kelembaban udara bisa diatur dengan memberikan nampan berisi air dan bila perlu ditambahkan busa/sponse untuk meningkatkan kelembaban udara. Sedangkan pada tipe still-air maka menaikkan kelembaban dengan cara menambah nampan air dibawah tempat penetasan atau pada prinsipnya, menaikkan kelembaban dapat dicapai dengan menambah penampang permukaan airnya.
Adapun cara yang sempurna untuk menentukan kelembaban udara adalah dengan memperhatikan ukuran kantong udara didalam telur bagian atas atau bagian tumpulnya seperti gambar dibawah ini dengan menggunakan teropong telur. Kelembaban dapat diatur setelah peneropongan telur pada hari ke 7, 14, dan 18 pada masa penetasan.

Gamabr 1. Ukuran Kantorng Udara

Ventilasi
Ventilasi yang cukup adalah penting untuk diperhatikan mengingat didalam telur ada embrio yang juga bernafas dalam perkembangannya dan memerlukan O2 dan membuang CO2. Dalam operasi mesin penetas, lebar lubang bukaan ventilasi harus diatur agar cukup ada sirkulasi udara dan dengan memperhatikan penurunan tingkat kelembaban udaranya.
Pada incubator tipe still-air, buatan Cemani maka bukaan ventilasi ada di bagian atasnya yang dapat diatur untuk mengeluarkan udara bersamaan degan pergerakan udara panas yang ada didalamnya sedangkan sirkulasi udara masuk sudah cukup dari lubang lubang yang ada dibagian bawah dan samping incubator tersebut.
Pada incubator jenis forced-air incubator, jika terjadi lampu mati atau PLN off maka ventilasi harus dibuka lebih lebar dan bila perlu sesekali di buka pintunya agar terjadi pertukaran udara segar dan tetap diusahakan suhu ruangan berada pada kisaran 75 0F atau lebih. Sedangkan pada incubator tipe still-air ventilasi dibiarkan terbuka ¼ atau ½ (tidak berubah atau lebih ditutup) agar panas dan kelembaban tidak terlalu terpengaruh. (Constantini, 1986:170)
Pemutaran Telur
Pada incubator tipe forced-air seperti kami miliki, telur telur diletakkan pada tray tray pada tempatnya dengan unjung tajam telur menghadap kebawah. Pemutaran dilakukan secara manual dengan menarik dan menekan tuas untuk memindahkan posisi tray didalam mesin incubator agar terjadi sudut 30 – 45 derajat untuk tiap tiap waktu yang ditetapkan secara berkesinambungan dan bergantian sudutnya.
Pemutaran telur sedikitnya adalah 3 kali sehari atau 5 kali sudah lebih dari baik untuk mencegahembrio telur melekat pada selaput membran bagian dalam telur. Oleh sebab itu jangan pernah membiarkan telur tetas tidak dibalik atau diputar posisinya dalam 1 hari pada masa penetasan telur. Pemutaran telur tersebut dilakukan dalam 18 hari pertama penetasan. Tetapi jangan membalik telur sama sekali pada 3 hari terakhir menjelang telur menetas. Pada saat itu telur tidak boleh diusik karena embrio dalam telur atau anak ayam yang akan menetas tersebut sedang bergerak pada posisi penetasannya.
Pada incubator tipe still-air, pemutaran dilakukan secara manual dengan ketentuan seperti diatas. Biasanya untuk mempermudah dalam mengetahui posisi terakhir telur pada saat di putar maka telur tetas diberi tanda “O” pada satu sisis dan “X”. pada sisi lainnya,. Selanjutnya putar telur menurut waktu dan tanda secara bergantian dan secara berhati hati terutama 1 minggu pertama dalam incubator.
Ada baiknya juga menuliskan tanggal pada telur menggunakan pinsil untuk menandai beberapa hal seperti: dari kandang mana, jenis ayam, kapan bertelur, kapan dimasukkan incubator. Hal ini untuk mengetahui kapan telur nantinya akan menetas dan menentukan waktu peneropongan untuk penentuan fertilitas, kantong udara dan penentuan pemindahan telur sebelum menetas (- 3 hari).
Biasanya anak ayam (DOC) akan mulai menetas pada usia penetasan ke 20 dan 21 hari pada keadaan mesin penetasan yang bekerja normal dan sesuai prosedur. Anak ayam yang menetas setelah waktu itu atau setelah hari ke 22 biasanya tidak sehat atau lemah.
Setelah menetas, anak ayam dibiarkan beberapa jam didalam mesin incubator sampai kering sempurna. Hal ini dapat dilihat dengan telah lepasnya bulu bulu halus yang menyertai anak ayam waktu menetas dan berganti dengan bulu lembut yang menutupi sempurna seluruh tubuh anak ayam tersebut.
Selanjutnya anak anak ayam tersebut dipindah ke tempat lain (missal : chickguard atau kandang box) dengan diberikan makanan dan minuman. Makanan cukup diberikan dilantai kandang atau pada nampan yang rendah dengan jenis butiran halus agar anak ayam dapat mulai belajar makan. Minuman yang diberikan dapat ditambahkan vitamin seperti amylit dan vitachick. Khusus tempat minum, sebaiknya diberikan gundu atau kerikil kerikil kecil agar anak ayam tidak sampai tenggelam didalamnya.
Sedangkan untuk mesin incubatornya dapat dimatikan dan dibersihkan dari bulu bulu halus, pecahan pecahan kulit telur atau lainnya serta disemprot dengan bahan desinfektan atau dilakukan prosedur fumigasi. Sanitasi yang baik untuk mesin incubator penting untuk menjamin kebersihan dari bibit bibit penyakit.
Pengetesan Fertilitas Telur
Pengetesan fertilitas telur adalah suatu hal yang perlu dilakukan. Hal ini terutama diperlukan untuk menentukan jumlah telur yang fertile untuk terus ditetaskan sedangkan yang tidak fertile atau tidak bertunas harus disingkirkan karena tidak berguna dalam proses penetasan dan bahkan Cuma buang buang tenaga dan tempat saja. Padahal tempat yang ada dapat dimanfaatkan untuk telur telur fertile yang lain atau yang baru akan ditetaskan.
Tes fertilitas semacam ini tidak akan mempengaruhi perkembangan embrio telur, malah sebaliknya kita akan tahu seberapa normal perkembangan embrio didalam telur tersebut telah berkembang atau bertunas. Tatapi tetap sebagai hal yang terpenting dalam proses ini adalah mengetahui seberapa banyak telur yang fertile dan dapat menentukan langkah langkah yang diperlukan untuk telur yang tidak fertile terutama jika telur telur tersebut diberikan coretan / tulisan mengenai asal telur dan tanggal di telurkan oleh sang ayam maupun informasi asal kandangnya.

Gambar 2: Teropong Telur


Ada beberapa istilah untuk alat melihat fertilitas telur disebut teropong telur atau tester atau candler. Alat ini mudah dibuat dengan cara menempatkan bohlam lampu dalam sebuah kotak atau silender yang dapat terbuat dari segala macam jenis baik kayu ataupun pralon 3 inch seperti pada gambar.
Cara membuatnya adalah dengan memotong pralon 3 inch sepanjang 20 cm dan menutup kedua ujungnya dengan kayu yang dibuat melingkar mengikuti pralon dan kemudian di mur. Bagian dalam diberikan fitting lampu dan sebuah bohlam lampu yang cukup terang (missal : 40 watt) dan satu ujung bagian atasnya pada bagian tengahnya diberikan lubang sebesar 2/5 besar diameter telur rata rata atau sekitar 2 cm.
Penggunaannya adalah dengan menyalakan bohlam lampu dan melalui lubang yang ada (pada bagian atasnya) diletakkan telur yang akan dilihat dengan cara menempelkan bagian bawah telur (bagian yang lebih tajam dari telur) ke lubang dan melihat perkembangan yang ada di dalam telur. Cara yang paling baik adalah dengan menggunakan alat ini pada ruangan yang gelap sehingga bagian dalam telur yang terkena bias cahaya lampu dapat lebih jelas terlihat.
Telur biasanya di test setelah 5 – 7 hari setelah di tempatkan dalam incubator. Telur dengan kulit yang putih seperti telur ayam kampung akan lebih mudah dilihat daripada telur negri atau yang warna kulitnya cokalat atau warna lainnya.
Pada saat test fertilitas, maka hanya telur yang ada bintik hitam dan jalur jalur darah yang halus yang akan terus di tetaskan. Tetapi singkirkan telur telur yang ada pita darahnya, tidak ada perubahan (tetap tidak ada perkembangan), ada blok kehitaman karena mati.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan
1. Kardus 2 buah
2. Sekam Secukupnya
3. Lampu 5 watt 2 buah, warna biru dan merah
4. Telur ayam kampung 12 buah
5. Kamera
6. Mangkok/piring 2 buah

3.2 Prosedur Kerja
1. Siapkan 2 kardus yang di isi sekam
2. Dimasukkan 6 liter ayam kampung pada masing-masing kardus yang berisi sekam tersebut
3. Dipasang lampu, pada kardus pertama dipasang lampu yang berwarna biru, dan yang satu kardus lagi dipasang lampu yang berwarna merah
4. Diamati setelah empat hari telur tersebut dipecah, lalu di dokumentasikan
5. Dipecah telur tersebut berturut-turut pada hari ke 4, 5, 6, 7, 8, 9
6. Dibandingkan perkembangan embrio telur ayam tersebut dari hasil ke 4, 5, 6, 7, 8, dan 9

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian
Dari pengamatan tentang “Pengaruh warna lampu terhadap perkembangan embrio telur ayam kampung” kami mendapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel Pengamatan
Tabel 3. Perkembangan Embrio Ayam Pada Lampu yang Berwarna Biru
No Waktu Perkembangan Embrio Ayam
1 Hari ke-4 Perkembangan embrio amniotik, yang akan mengelilingi embrio, yang berisi cairan amnionik, yang berfungsi untuk mengelilingi embrio dan membolehkan embrio bergerak. Namun gelembung alantois yang berperan utama dalam penyerapan kalsium, pernapasan dan tempat penyimpanan sisa-sisa. Pada masa ini juga terlihat bahwa embrio terpisah seluruhnya dari kuning telur dan berputar ke kiri, sementara itu jaringan saluran pernafasan terlihat mulai menembus selaput cairan.
2 Hari ke-5 Peningkatan ukuran embrio, embrio membentuk huruf c, kepala bergerak mendekati ekor. Terjadi perkembangan sayap. Pada masa ini sudah terbentuk saluran pencernaan dan tembolok mulai terbentuk, juga sudah terbentuk pula jaringan reproduksi
3 Hari ke-6 Pada masa ini sudah terjadi pembentukan paruh yang sudah dimulai, begitu juga dengan kaki dan sayap. Selain itu, embrio mulai melakukan pergerakan
4 Hari ke-7 Cairan yang makin mengencer dibagian leher, nampak jelas memisahkan kepala dengan badannya, terjadi pula pembentukan paruh, juga terlihat otak yang berada didaerah kepala, yang lebih kecil ukurannya dibandingkan dengan embrio
5 Hari ke-8 Membran vetilin menyelimuti (menutupi) hampir seluruh kuning telur, pigmentasi pada mata mulai tampak, pada bagian paruh atas dan bawah mulai terpisah, demikian juga dengan sayap dan kaki. Leher merenggang dan otak telah berada di dalam rongga kepala, telah terjadi pula permebntukan pada indra pendengaran bagian luar
6 Hari ke-9 Pada masa ini sudah mulai tampak terbentuknya kuku, mulai tumbuh folikel bulu pertama. Alantois mulai berkembang dan meningkatnya pembuluh darah pada vitellus


Tabel 4. Perkembangan Embrio Ayam Pada Lampu yang Berwarna Merah
No Waktu Perkembangan Embrio Ayam
1 Hari ke-4 Perkembangan embrio ayam pada hari ke-4 ini, sama saja dengan perkembangan embrio ayam pada lampu yang berwarna biru, terlihat bahwa embrio terpisah seluruhnya dari kuning telur dan berputar kekiri, dan juga telah terbentuk jaringan saluran pernafasan terlihat mulai menembus selaput cairan
2 Hari ke-5 Pada hari ke-5 ini perkembangan embrio mulai ditandai dengan terjadinya peningkatan ukuran embrio dan juga sudah mulai terbentuk saluran pencernaan dan tembolok, kepala juga sudah mulai mendekati ekor juga terjadi perkembangan sayap. Perkembangan-perkembangan diatas juga terjadi pada perkembangan embrio telur ayam pada lampu yang berwarna biru.
3 Hari ke-6 Perkembangan embrio pada hari ini, sudah terbentuk paruh yang sudah mulai tumbuh, juga sudah mulai terbentuk kaki dan sayap seperti pada perkembangan embrio telur ayam pad alampu yang berwarna biru.
4 Hari ke-7 Pada hari ke-7 perkembangan embrio telur terlihat adanya cairan yang mengencer dibagian leher, juga telah terbentuk otak yang berasa didaerah kepala yang lebih kecil ukurannya dibandingkan dengan embrio, begitu juga ayam pada warna lampu yang biru
5 Hari ke-8 Perkembangan embrio telur ayam pada lampu yang berwarna merah, sama halnya dengan perkembangan pada warna lampu yang berwarna biru, sudah terlihat perkembangan-perkembangan dari mulai pigmen mata yang mulai tampak, begitu juga dengan paruh dan indra lainnya
6 Hari ke-9 Pada hari ke-9 ini terlihat berkembangnya embrio ayam yang mulai tampak terbentuknya kuku, dan mulai terlihat bulu pertama dan meningkatnya pembuluh darah pada vitellus begitu juga pada lampu warna biru

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian
Pada pengamatan tentang “pengaruh warna lampu terhadap perkembangan embrio telur ayam kampung” hipotesis kami tidak sesuai dengan hasil yang kami dapatkan yaitu perkembangan embrio telur ayam pada lampu yang berwarna merah, ternyata sama dengan perkembangan embrio telur ayam pada lampu yang berwarna biru, hal ini disebabkan karena perlakuan pada kedua objek atau telur tersebut digunakan daya lampu yang sama yaitu sama-sama 5 watt. Jadi setelah melakukan penelitian ini dapat dibuktikan bahwa warna lampu tidak berpengaruh pada perkembangan embrio telur ayam.
Adapun faktor yang berpengaruh pada perkembangan embrio telur ayam, menurut Gatot Adiwinarto (2010) adalah sebagai berikut:
1. Suhu (Temperatur)
Pada penetasan telur ayam suhu (temperatur) juga berpengaruh dengan faktor perkembangan embrio didalam telur. Pada penetasan telur ayam lampu yang dibutuhkan sebaiknya dapat menghantarkan panas yakni 101 0F (38,5 0c) sebaiknya untuk menjada kestabilan suhu digunakan alat yang biasanya disebut termoregulator.
2. Kelembapan Udara (Humidity)
Kelembaban udara (humidity) adalah penting karena hal ini untuk menjaga telur dari kehilangan terlalu banyak atau terlalu sedikit kelembapannya selama proses penetasan telur. Kelembapan relative 55-60% untuk 18 hari penetasan telur dan 65-70% untuk 3 hari terakhir.
3. Ventilasi (Ventilation)
Ventilasi yang cukup adalah penting untuk diperhatikan mengingat didalam telur ada embrio yang juga bernafas dalam perkembangannya dan memerlukan O2 dan membuang CO2.
4. Pemutaran Telur (Egg Turning)
Pemutaran telur dilakukan dalam waktu 18 hari pertama penetasan, jangan lakukan pemutaran telur pada 3 hari terakhir menjelang telur menetas. Pada saat itu telur tidak boleh diusik karena embrio dalam telur atau anak ayam yang akan menetas tersebut sedang bergerak pada posisi penetasannya.

5. Kebersihan
Pada saat penetasan telur akan dilakukan sebaiknya cuci tangan terlebih dahulu. Ingat kebersihan dan sanitasi yang baik sangat diperlukan untuk menjamin kebersihan penetasan telur.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Pada penelitian tentang “Pengaruh wrana lampu terhadap perkembangan embrio telur ayam kampung” kami dapat menyimpulkan bahwa:
1. Telur adalah suatu tempat penyimpanan atau penimbunan zat gizi seperti air, protein, karbohindrat, lemak, vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan embrio sampai menetas.
2. Faktor yang berpengaruh pada perkembangan embrio telur ayam kampung diantaranya adalah:
• Menjaga kesetabilan suhu
• Air yang berfungi sebagai bahan untuk mempertahankan kelembapan didalam ruangan penetasan
• Mengatur suhu ruangan penetasan
• Mengatur dan mengontrol kelembapan penetasan
• Mengatur ventilasi mesin tetas
• Melakukan pembalikan/pemutaran telur
• Melakukan pemeriksaan telur dengan alat teropong
• Mencatat semua kegiatan yang dilakukan selama penetasan berlangsung
• Pemutaran telur
Dilakukan untuk mengetahui keberadaan atau perkembangan embrio secara dini
• Kebersihan (Clenliness)
3. Pada pengamatan tentang “Pengaruh warna lampu terhadap perkembangan embrio telur ayam kampung” ternyata perbedaan warna lampu tidak membuat perbedaan perkembangan embrio telur ayam kampung

5.2 Saran
1. Sebaiknya penelitian tentang telur dilakukan 21 hari, agar terlihat secara jelas perkembangan embrio telur ayam tersebut sampai menetas menjadi anak ayam.
2. Sebaiknya diperhatikan suhu, serta faktor-faktor penetasan lainnya agar penetasan dapat berhasil dan tidak sia-sia.

DAFTAR RUJUKAN

Adiwinarto Gatot, 2006. Menetaskan Telur Ayam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Alberts, B. Dennis Bray, et, al. 1994. Bagian-Bagian Telur Ayam. Bandung: ITB
Anonim, 2010. Tips Penetasan & Setelah Penetasan. Diakses tanggal 19 Desember 2010, http://www.bppt.go.id/index/php
Campbell, N.N., J.B. Reece & L.G Mitchell, 2003. Biologi. Edisi ke-5 Terjemahan dari Biologi 5th ed. Oleh Manalu. Jakarta: Erlangga
Constantini:F & Lacy. E. 1986. Perkembangan Embrio. A. Borantory Manual. Cold Spring Harbair Laboratory. New York
Widyanti. H. Krishnabanti, 2003. Embrio Telur. Jakarta: Insist Press
Terima kasih atas waktunya untuk membaca Pengaruh warna lampu terhadap perkembangan embrio telur ayam kampung ini, dengan harapan semoga artikel Pengaruh warna lampu terhadap perkembangan embrio telur ayam kampung ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Pengaruh warna lampu terhadap perkembangan embrio telur ayam kampung terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Pengaruh warna lampu terhadap perkembangan embrio telur ayam kampung » Skripsi

eMakalah.com