Selamat Datang di emakalah.com

Semoga Anda dapat menemukan apa yang anda cari,

dan semoga emakalah.com dapat bermanfaat bagi Anda

Untuk keluar dari menu/halaman ini silahkan klik LIKE / SUKA

..

Perkembangan Teori Belajar Behavioristik | Teori Belajar dan Pembelajaran

Perkembangan Teori Belajar
Behavioristik

Teori Belajar Classical Conditioning dari Pavlov, Connectionisin dari Thorndike, dan Behaviorism dari Watson merupakan teori-teori dasar dari aliran, perilaku yang menjadi tonggak sejarah aliran perilaku dalam teori belajar. Teori-teori ini kemudian dikembangkan can atau dimodifikasi oleh berbagai ahli menjadi beragam teori-teori bar,u dalam aliran perilaku, yang kemudian disebut aliran perilaku baru (neo-Gekaviorisna). Tercatat ahli-ahli yang tergabung dalam aliran perilaku bari antara lain, Clark Hull dengan teori Sistem Perilaku, Edwin Guthrie dergan teori "Contiguity", dan B.F. Skinner dengan teori "Oper-ant Conditioning". Ada lagi ahli lainnya, seperti William Estes dengan teori "Stinucfus Sant,)ling" atau Ebbinghause dengan teori "Human Associative Learning", dar lain-lain Namun, dari sekian banyak teori di lapangan, dalam kegiatan bel,-jar ini kita akan membahas tiga teori yang tergabung dalam aliran perilaku baru, yaitu teori dari Hull, Guthrie, dan Skinner. Untuk mendalami teori-teori lain, Anda dapat membaca buku-buku yang tercantum dalam eaftar pustaka yang memuat secara lebih lengkap pembahasan tentang berbaga' teori belajar.
Pada dasarnya, sebagaimana teori-teori belajar dalam aliran perilaku, teori-teori dari Hull, Guthrie, dan Skinner memiliki premis dasar yang sama dengan teori-teori pendahulunya, yaitu sama-sana berlandaskan pada interaksi antara stimulus dan respons. Namun dem;kian, teori-teori Hull, Guthrie dan Skinner berbeda dengan teori-teori pendahulunya dalam hal identifikasi terhadap faktor-faktor khusus yang dianggap berpengaruh terhadap belajar. Teori-teori Hull, Guthrie, dan Skinner relatif banyak mempengaruhi proses pembelajaran dalam dunia pendidikan sekarang ini karena kemutakhirannya.

A. TEORI SYSTEMATIC BEHAVIOR - CLARK HULL

Clark L. Hull (1884-1952) sangat mengagumi Teori Refleks Terkondisi dari Pavlov. Berangkat dari teori Pavlov, Hull kemudian menerbitkan makalah-makalah teoretis yang memodifikasi teori Pavlov. Teori Hull dikenal sangat "(~ehanioristic" dan mekanistik. Konsep utama dari teori Hull adalah kebiasaan, yang disimpulkan dari berbagai penelitian tentang kebiasaan dan respons terkondisi yang dilakukan Hull melalui percobaan terhadap binatang. Perilaku yang kompleks, menurut Hull, diasumsikan berasal dari hasil belajar terhadap bentuk-bentuk perilaku yang sederhana. Dalnm upaya mematangkan teorinya, Hull jug a menggunakan dalil sebab¬akibat dari Thorndike lalu menggabungkannya dengan hasil temuannya.
Pada dasarnya dalam teorinya, Hull menyatakan bahwa interaksi antara stimulus dan respons tidaklah sederhana sebagaimana adanya. Menurut I-lull, ada proses lain dalam diri seseorang (atau organisme) yang mempengaruhi interaksi antara stimulus dan respons. Proses tersebut disebut oleh Hull sebagai variabel "intervening" (yang berpengaruh).
Posisi "intervening variable" dalam mempengaruhi terjadinya respons, digambarkan Hull sebagai berikut.

Gambar 2.6.
Posisi Intervening Variable

Hull memberi contoh rasa haus sebagai salah satu "intervening variable". Menurut Hull, situasinya adalah binatang diberi makanan yang asin, atau tidak diberi minum untuk sekian lama. Situasi ini merupakan "input variable". Rasa haus timbul akibat dari situasi tersebut Kemudian, untuk mengatasi rasa haus, binatang akan melakukan bermacam-macum aksi, seperti mengais, mencari-cari air, dan lain-lain, bahkan binatang akan melakukan hal-hal lain apa saja untuk memperoleh air (sebagai imbalan atas air yang diperolehnya).
Hull percaya bahwa dalam asosiasi antara stimulus terhadap respons, ada faktor kebiasaan sebagai "intervening variable". Intensitas kebiasaan tersebut menentukan intensitas asosiasi yang terjadi. Proses belajar menurut Hull merupakan upaya menumbuhkan kebiasaan melalui serangkaian percobaan. Untuk dapat memperoleh kebiasaan diperlukan adanya penguatan dalam proses percobaan. Namun, Hull juga menyatakah bahwa penguatan bukan satu-satunya faktor yang menentukan dalam pengembangan kebiasaan, karena pengembangan kebiasaan lebih utama dipengaruhi oleh banyaknya percobaan yang dilakukan. Di samping itu, proses belajar juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain (non-learning factors) yang berinteraksi langsung terhadap reaksi potensial yang timbul.
Pada akhirnya,,Hull mengembangkan teorinya menjadi suatu teori yang sangat kuantitatif. Hull mencoba mengukur intensitas respons dalam bentuk nilai kuantitatif, dan mencoba menentukai, . nilai numerik yang tepat untuk membuat persamaan tentang hubungan antara "intervening variable" terhadap variabel bebas maupun variabel terikat. Upaya kuantifikasi ini dilakukan Hull dalam rangka memprediksi secara kuantitatif hasil-hasil dari percobaan-percobaan. terhadap perilaku. Dengan kata lain, respons dan atau kebiasaan dapat diprediksi sPcara kuantitatif dan tepat melalui rumus-rumus tentang interaksi berbagai faktor yang mempengaruhinya.
Walaupun banyak kritik terhadap teori Systematic Behavior dari Hull, namun tak dapat disangkal bahwa teori Hull merupakan karya dan pencapaian terbesar pada masanya. Teori Hull sangat lengkap, menyeluruh, dan detil sehingga dengan mudah terlihat kelebihan dan kekurangannya. Teori Hull juga mempunyai banyak pengikut - yang antara lain adalah murid-muridnya, yang telah mengembangkan teori Hull sedemikian rupa sehingga menjadi karya yang paling berpengaruh dalam dunia psikologi belajar sejak tahun 1940-an.

B. TEORI CONTIGUITY - EDWIN R. GUTHRIE

Teori Contiguity dari Edwin R. Guthrie (1886-1959) dikenal juga dengan nama teori Contiguous Conditioning. Teori ini berangkat dari dua teori dasar dalam aliran perilaku, yaitu teori Thorndike dan teori Pavlov, namun juga sangat dipengaruhi oleh teori Watson.
Menurut Thorndike ada dua jenis proses belajar, yaitu: 1) proses pemilihan respons (respons selection) dan mengaitkannya dengan stimulus, sesuai dengan dalil sebab akibat, dan 2) perampatan stimulus (associative shifting) di mana respons terhadap stimulus yang satu akan dimunculkan terhadap stimulus lain yang dipasangkan bersama. Bagi Thorndike prinsip utama adalah proses pemilihan respons dan pengaitan dengan stimulus yang terjadi dalam proses coba-coba, sedangkan proses perampatan merupakan prinsip tambahan saja. Namun, bagi Guthrie, proses perampatan stimulus justru menjadi titik fokus utama dalam teorinya. Guthrie relatif tidak menerima dalil sebab akibat sebagaimana pandangan Thorndike. Hal-hal tersebut yang menjadi perbedaan utama antara teori Thorndike dan teori Guthrie.
Watson menggunakan percobaan-percobaan Pavlov sebagai paradigma dalam proses belajar, dan mengadopsi refleks terkondisi sebagai bagian da:-; pembiasaan. Guthrie, di sisi lain, memulai asumsinya dengan prinsip pengkondisian (conditioning) atau perampatan stimulus (associative learning), namun semata-mata bukan hanya dilandaskan pada prinsip percobaan pengkondisian dari Pavlov,
Dalil Guthrie yang pertama tentang proses belajar adalah kombinasi stimulus yang diikuti dengan suatu gerakan, pad a saat pengulangan berikutnya cenderung diikuti lagi oleh gerakan tersebut Dalil yang kedua menyatakan bahwa pola stimulus mempunyai korelasi dan atau keterkaitan yang tinggi dengan respons yang ditimbulkannya pertama kali. Dalil-dalil tersebut menjadi landasan bagi prinsip kemutakhiran (recency principle), yang menyatakan bahwa jika belajar terjadi dalam suatu proses coba-coba maka proses yang terakhir terjadi yang akan muncul (terulang) lagi seandainya kombinasi stimulus yang sama dihadirkan kembali.
Berdasarkan teori Contiguity dari Guthrie, setiap individu mempunyai kapasitas belajar yang berbeda. Dari hasil penelitiannya terhadap sejumlah binatang, Guthrie menyatakan bahwa tidak semua binatang mempunyai tingkat sensitivitas yang sama terhadap satu stimulus, dan tidak semua binatang memiliki indra yang sama untuk menerima informasi. Di samping itu, menurut Guthrie, latihan akan mengakomodasikan ataupun menghilangkan respons-respons tertentu sehingga atas kombinasi sti;nulus yang muncul dapat dihasilkan suatu respons yang menyeluruh sebagaimana yang diharapkan - yang dapat disebut sebagai suatu kinerja yang berhasil. Guthrie percaya bahwa keterampilan mewakili sejumlah kebiasaan, oleh karena itu belajar dapat dicapai sebagai akumulasi dari pengulangan¬pengulangan. Guthrie juga menyatakan bahwa motivasi mempengaruhi belajar secara tidak langsung, yang terlihat melalui penyebab atau alasan individu melakukan sesuatu (merespons). Reward atau penghargaan/pujian menurut Guthrie merupakan prinsip yang sekunder. Penghargaan dapat berhasil dengan baik jika binatang memang tidak dihadapkan pada sifuasi lain selain yang akan menghasilkan respons yang benar. Penghargaan juga tidak memberi penguatan terhadap respons yang benar, tetapi diakui bahwa penghargaan menghindari terjadinya pengurangan respons yang benar. Sama dengan penguatan, hukuman juga berpengaruh terhadap belajar, dan sangat ditentukan oleh alasan individu melakukan sesuatu. Secara umum, Guthrie percaya bahwa alat prediksi yang paling baik terhadap belajar adalah respons yang muncul terhadap stimulus dalam suatu proses yang terakhir terjadi. Oeh karena itu proses belajar dapat dijelaskan melalui reaksi terkondisi yang akan muncul berdasarkan pengalaman masa lalu, dan sesuai dengan prinsip asosiasi.
Perampatan belajar dapat terjadi dalam situasi yang baru karena adanya kesamaan elemen atau komponen antara situasi/stimulus yang lama dengan situasi/stimulus yang baru. Penekanan Guthrie terhadap konsep yang dikenal dengan nama "movement-produced stimuli" atau stimulus yang menghasilkan gerakan terkondisi merupakan modifikasi dari teori Thorndike. Namun demikian, menurut Guthrie, hasil belajar yang diperoleh dipercaya bersifat permanen, sampai terjadi proses belajar yang baru. Oleh karena itu, lupa dapat terjadi karena respons yang muncul dalam proses beJajar yang baru menggantikan hasil belajar yang sebelumnya. Proses lupa ini terjadi secara bertahap, sama seperti hasil belajar juga diperoleh secara bertahap melalui serangkaian proses belajar yang berulang.
Satu hal yang menjadi kritik terhadap teori Guthrie adalah bahwa Guthrie mencoba memberikan jawaban yang relatif bersifat pasti terhadap segala permasalahan dalam belajar, tanpa ada perubahan selama hampir lima puluh tahun. Dengan kata lain, teori Guthrie lebih merupakan teori klasik yang tidak berkembang. Walaupun demikian, harus diakui bahwa teori Guthrie memiliki kemampuan untuk menjelaskan beragam fenomena belajar secara luas.

C. TEORI OPERANT CONDITIONING - SKINNER

Walaupun menganut aliran perilaku, B.F. Skinner sama sekali tidak setuju dengan teori reflek terkondisi dalam hubungan antara Stimulus¬Respons dari Pavlov. Menurut Skinner, penjelasan Pavlov atas hubungan antara stimulus dan respons yang menghasilkan perubahan tingkah laku merupakan penjelasan yang tidak lengkap. Skinner menyatakan bahwa teori Pavlov hanya berlaku bagi interaksi antara stimulus dan respons yang sederhana saja. Padahal manusia dalam menjalankan fungsinya memerlukan perilaku yang kompleks yang mempersyaratkan terjadinya interaksi stimulus dan respons yang kompleks pula. Dengan demikian, interaksi stimulus - respons dalam diri seorang individu tidaklah sesederhana itu. Pada dasarnya setiap stimulus yang dimunculkan akan berinteraksi satu dengan lainnya, dan interaksi ini yang akhirnya mempengaruhi respons yang dihasilkan. Respons yang dihasilkan tersebut juga memiliki berbagai konsekuensi (akibat) yang akhirnya akan mempengaruhi lagi perilaku individu. Oleh sebab itu, menurut Skinner, kunci untuk memahami perilaku individu terletak pada pemahaman kita terhadap hubungan antara stimulus satu dengan stimulus lainnya, respons yang dimunculkan, dan juga berbagai konsekuensi yang diakibatkan oleh respons tersebut.
Sebagai penganut aliran perilaku, Skinner setuju dengan pendapat Watson yang mengatakan bahwa belajar merupakan proses perubahan perilaku. Ada enam asumsi dasar dari teori Operant Conditioning, yaitu:
1. hasil belajar merupakan perilaku yang dapat diamati;
2. perubahan perilaku sebagai hasil belajar secara fungsional berhubungail dengan perubahan situasi dalam lingkungan atau suatu kondisi;
3. hubungan antara perilaku dan lingkungan dapat ditentukan hanya jika elemen-elemen perilaku dan kondisi percobaan diukur secara fisik dan diamati perubahannya dalam situasi yang terkontrol ketat;
4. data yang dihasilkan oleh percobaan-percobaan terhadap perilaku merupakan satu-satunya data yang dapat digunakan untuk mengkaji alasan.munculnya suatu perilaku;
5. sumber data yang paling tepat adalah perilaku dari masing-masing individu;
6. dinamika interaksi antara individu dengan lingkungannya bersifat relatif sama untuk semua jenis makhluk hidup.
Pada awalnya, asumsi-asumsi tersebut digunakan sebagai landasan dari penelitian-penelitian yang dilakukan Skinner dalam bentuk serangkaian percobaan menggunakan tikus dan merpati. Namun, pada akhirnya, keenam asumsi dasar tersebut menjadi kesimpulan yang diambil oleh Skinner atas hasil percobaan yang dilakukannya. Bahkan, Skinner menyatakan bahwa penelitian yang dilakukannya dalam situasi laboratorium, ternyata dapat diaplikasikan kepada situasi perilaku manusia secara umum.
Komponen proses belajar menurut Skinner terdiri dari stimulus yang diskriminatif (discriminative stimulus) dan penguatan (positif dan negatif,serta hukuman) untuk menghasilkan respons (perubahan tingkah laku). Stimulus yang diskriminatif menurut Skinner merupakan stimulus yang selalu hadir untuk pemunculan suatu respons. Kunci berwarna merah merupakan stimulus yang diskriminatif dalam percobaan Skinner terhadap burung merpati. Jika merpati mematuk kunci merah maka merpati akan memperoleh makanan. Setelah beberapa kali pengulangan, jika kunci diganti warna maka merpati tidak akan mematuk. Makanan dalam hal ini berfungsi sebagai faktor penguatan. Kemungkinan pemunculan respons dapat dimaksimalkan dengan kehadiran stimulus yang diskriminatif. Jika ada stimulus lain yang memiliki persamaan dengan stimulu~ diskriminatif maka respons dapat dimunc!lfk.ar, kembali. Misalnya, merpati akan mematuk tongkat bercahaya merah, dan lain-lain Hal ini yang sering disebut sebagai perampatan stimulus (stirrurlus generalization).



Gambar 2.7.
Stimulus Diskriminatif dan Perampatan Stimulus

Jika dalam teori Thorndike dikenal konsep reward maka dalam teori Skinner digunakan istilah penguatan (reinforcement) yang berarti segala konsekuensi yang mengikuti pemunculan suatu perilaku. Konsekuensi ini memperkuat kemungkinan munculnya perilaku yang diharapkan. Misalnya, jika merpati memperoleh makanap sebagai akibat mematuk kunci maka merpati akan berusaha untuk selalu mematuk kunci (frekuensi mematuk kunci akan meningkat). Untuk dapat menjadi efektif, penguatan, menurut Skinner, harus diberikan langsung setelah pemunculan respons yang diharapkan.
Setiap penguatan yang memperkuat pemunculan respons yang benar disebut penguatan yang positif, menurut Skinner. Namun demikian, ada jenis-jenis penguatan yang melalui penghilangannya, justru memperkuat pemunculan respons yang -benar. Misalnya penguatan yang menggunakan kejut listrik, panas atau dingin yang tinggi, dan juga tes mendadak di kelas. Tes mendadak di kelas diberikan kepada siswa untuk meningkatkan proses belajar siswa. Jika tes mendadak tidak diberikan lagi, dan pemahaman siswa terhadap pelajarari terus meningkat maka tes mendadak tersebut berfungsi sebagai penguatan negatif.
Penggunaan penguatan negatif sering kali menghasiikan dampak pengiring berupa emosi yang dikenal dengan nama anxiety (kecemasan) dan atau takut. Kecemasan dan atau takut dapat diwujudkan secara operasional dengan hilangnya perhatian dan minat terhadap kegiatan yang sedang berlangsung, dan atau secara fisik pergi atau lari dari situasi yang dihadapi. Misalnya anak yang selalu dimarahi karena tidak merapikan mainannya menjadi cemas dan atau takut pada saat orang tuanya pulang kerja.
Pengdatan positif merupakan stimulus yang merangsang pemunculan respons yang benar, sedangkan penguatan negatif memperkuat pemunculan respons yang benar melalui penghilangannya. Di samping penguatan, ada , hukuman, yang menurut Skinner melibatkan proses pengurxngan/penghilangan penguatan positif, dan atau penambahan penguatan negatif. Skinner menekankan bs;iwa hukuman dapat menghasilkan tiga dampak yang tidak diharapkan, yaitu hukuman hanya bersifat sementara dalam menghilangkan respons yang tak diinginkan, hukuman dapat mengakibatkan timbulnya perasaan yang tidak mengenakan, seperti malu, rasa bersalah, dan lain-lain, dan yang terakhir, hukuman dapat meningkatkan pemunculan perilaku yang dianggap mengurangi hadirnya stimulus yang tidak menyenangkan (Misalnya, anak kecil berpura-pura sakit karena tidak mau mengikuti tes mendadak). Secara umum, hukuman tidak menghasilkan perilaku yang positif. Oleh sebab itu, Skinner lebih menganjurkan penggunaan penguatan daripada hukuman jika ingin memperoleh respons yang benar.




Teori Skinner tidak hanya mencakup penjelasan terhadap proses belajar sederhana, namun juga proses belajar kompleks, yang dikenal dengan nama "shaping" (pembentukan). Proses "shaping" yang dilakukan secara bertahap akan menghasilkan penguasaan terhadap perilaku yang kompleks melalui perancangan (manipulasi) stimulus yang diskriminatif dan penguatan. Menurut Skinner, proses "shaping" dapat menghasilkan perilaku yang kompleks yang tidak memiliki kemungkinan untuk diperoleh secara alamiah atau dengan sendirinya. "Shaping" yang berkelanjutan yang dilakukan untuk memperoleh perilaku kompleks, disebut sebagai "program" oleh Skinner.
Kesimpulan yang diperoleh Skinner setelah melakukan serangkaian percobaannya ialah bahwa: 1) setiap langkah dalam proses belajar perlu tiibuat pendek-pendek, berdasarkan• tingkah laku yang pernah dipelajari sebelumnya; 2) untuk setiap langkah yang pendek tersebut disediakan penguatan yang dikontrol dengan hati-hati; 3) penguatan harus diberikan sesegera mungkin setelah respons yang benar dimunculkan; 4) stimulus diskriminatif perlu dirancang sedemikian rupa agar dapat diperoleh perampatan stimulus dan peningkatan keberhasilan belajar.








Skinner kemudian melanjutkan upayanya dalam mengkaji perilaku manusia dalam serangkaian penelitian tentang teaching machine dan programmed instruction (pembelajaran terprogram). Menggunakan konsep pembelajaran terprogram, Skinner juga meneliti proses pembelajaran bagi anak-anak dengan keterbelakangan mental dan proses pembelajaran bahasa. Dalam konsep pembelajaran terprogram implisit adalah konsep kontrol yang oleh Skinner diupayakan agar berada di tangan anak yang belajar. Oleh karena itu, bagi Skinner, konsep self-attriGutiorea dan self-awareness (pengenalan diri sendiri - untuk kemudian dapat melakukan kontrol atas program pembelajaran) menjadi sangat penting.
Dasar teori Skinner dan perkembangan teorinya selaniutnya menjadikan Skinner seorang penganut aliran perilaku yang mempunyai nama dan pengaruh yang sangat besar terhadap perk-embangan teori belajar dalam aliran perilaku. Teori Operant Conditioning dari Skinner percaya bahwa setiap individu harus diidentifikasi karakteristik maupun perilaku awalnya untuk suatu proses shaping. Skinner menyatakan, bahwa perilaku dapat dibentuk (dan juga dihilangkan) sehingga (hampir) semua orang yang memperoleh latihan yang layak akan dapat memiliki perilaku tertentu yang diinginkan. Di samping itu, teori Skinner percaya bahwa pengkondisian suatu respons sangat tergantung kepada penguatan yang dilakukan berulang-ulang secara berkesirlambungan. Dengan demikian, latihan, termasuk komponen penguatan di dalamnya, menjadi sangat penting dalam proses pengkondisian.
Dalam hal motivasi, Skinner sangat percaya akan peran penguatan yang memantapkan pemunculan suatu respons yang diharapkan dan juga peran hukuman yang secara umum dapat menghilangkan pemunculan respons yang tidak diharapkan. Skinner juga mengemukakan bahwa manusia dapat diajar untuk "berpikir" atau "menjadi kreatif' melalui metode pemecahan masalah yang melibatkan proses identifikasi masalah secara tepat (labeling), dan proses mengaktifkan strategi (rule and or sequence) untuk memanipulasi variabel dalam masalah tersebut sehingga diperoleh pemecahan masalahnya. Terakhir, teori Operant Conditioning dari Skinner juga sangat percaya akan proses perampatan hasil belajar. Dengan menggunakan istilah induksi, Skinner menjelaskan bahwa perampatan terjadi berlandaskan pada proses induksi terhadap stimulus yang derajat kompleksitasnya dan karakteristiknya mempunyai kesamaan dengan stimulus diskriminatif yang sudah dipelajari.

D. PENERAPAN TEORI HULL, GUTHRIE, DAN SKINNER DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Berikut ini adalahcontoh penerapan teori Hull, Guthrie, dan Skinner dalam proses pembelajaran Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup di sekolah dasar.

Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan
Hidup
Waktu Pertemuan: 30 menit

Stimulus (Hull, Guthrie, Skinner A. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Setelah selesai belajar, siswa dapat menjelaskan tentang kebutuhan hidup manusia dan hubungannya dengan lingkungan hidup.
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah mengikuti pelajaran ini siswa dapat menguraikan tentang kebutuhan hidup manusia dengan lingkungan hidup.
Materi yang
dipilah- pilah B. POKOK BAHASAN
Manusia dan lingkungan hidup


Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan
Hidup
Waktu Pertemuan: 30 menit
(Thorndike)
Stimulus diskriminatif (Skinner) Pendnhuluan
Pada tahap ini pertama-tama guru menjelaskan cakupan materi tentang manusia dan lingkungan hidup. Di awal pembukaan guru menjelaskan hubungan manusia dengan ,lingkungan hidup dan cara pemenuhan kebutuhan hidupnya. Untuk memudahkan pemahaman ini perlu juga dimasukkan contoh-contoh tentang manusia dan lingkungan hidup yang disesuaikan dengan kondisi misalnya masyarakat pedesaan atau petani, dia akan mulai memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bercocok tanam seperti padi, jagung, kacana kedelai, ubi jalar, dan sebagainya, kemudian merawatnya dengan memberi pupuk kandang atau pupuk kimia, menjaga dari serangan hama penyakit, membersihkan dari tanaman liar atau tanaman pengganggu hingga tumbuhan tersebut dipanen. Kegiatan bercocok tanam ini terus berlanjut sampai menjelang musim panen berikutnya. Apabila hasil panen berlimpah atau berhasil dengan baik sebagian dari hasil panen tersebut dijual ke pasar terdekat atau ke kota-kota di sekitarnya. Uang hasil penjualannya bisa ditabung atau dibelikan suatu barang yang diinginkan seperti mobil, sepeda motor, sepeda, baju, sepatu, perhiasan, dan sebagainya. Sedangkan masyarakat perkotaan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara bekerja di kantor, industri yang membuat berbagai kebutuhan manusia, seperti membuat mesin-mesin, membuat sepatu, tas, mainan anak-anak, akaian atau ada 'u a Yang beker'a di


Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan .
Hidup
Waktu Pertemuan: 30 menit



Intervening
Variabel (Hull)









Reinforcement
(Guthrie)










Transfer of
learning pusat perdagangan yang menjual berbagai hasil industri, dan lain sebagainya.

Pemberian contoh ini bertujuan untuk mengingatkan kembali kepada siswa bahwa lingkungan hidup satu daerah dengan daerah lainnya tidak selalu sama. Oleh sebab itu manusia dalam hidupnya selalu tergantung kepada lingkungan dan akan dipengaruhi oleh lingkungan itu sendiri, misalnya masyarakat pedesaan akan bercocok tanam karena lingkungan hidupnya mendukung untuk melakukan bercocok tanam. Begitu juga dengan masyarakat perkotaan akan bekerja di perkantoran, industri' karena lingkungan hidupnya memungkinkan untuk bekerja di tempat tersebut dan lain sebagainya.

Dari penjelasan tersebut guru dapat mengembangkan lagi melalui pertanyaan-pertanyaan kepada siswa untuk mencoba mengemukakan pengetahuannya tentang manusia dan lingkungan hidup, berdasarkan contoh-contoh sebelumnya. Setiap jawaban siswa akan dilemparkan kembali kepada siswa lainnya untuk ditanggapi apakah pendapatnya sama tentang permasalahan yang sedang dibahas. Hal ini dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan, misalnya setelah selesai membahas tentang kebutuhan masyarakat pedesaan dilanjutkan dengan pembahasan berikutnya yang tidak kalah menarik dengan pembahasan sebelumnya.

Penutupan
Pada akhir pelajaran, siswa diberi tu as untuk


Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan .
Hidup
Waktu Pertemuan: 30 menit
(Thorndike) membuat tulisan atau cerita mengenai lingkungan hidup yang dirasakan atau dilihat sehari-hari. Misalnya seorang siswa pedesaan mengapa di sekitar rumahnya ada peternakan sapi, kambing, ayam, ikan, dan sebagainya. Atau siswa yang kebetulan ada di perkotaan yang di dekat rumahnya ada bengkel atau perkantoran, industri, dan sebagainya. Agar siswa itu tahu apa sebenarnya yang terjadi dilingkungan hidupnya, perlu juga dilakukan pengenalan secara langsung terhadap lingkungan itu sendiri untuk mengunjunginya sehingga siswa dapat melihat, merasakan, ataupun mengetahui proses terjadinya suatu produk. Misalnya ke lokasi perkebunan, perikanan, perkantoran, ataupun industri.

LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
1) Pekerjaan rumah merupakan tradisi yang selalu terjadi dalam proses pembelajaran. Ketika guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa, prinsip dari teori Hull yang mana yang diaplikasikan? Jelaskan!
2) Seorang anak TK diajarkan oleh gurunya konsep kebersihan. Gurunya memberi contoh bahwa jika membuang sampah harus di tempat sampah. Sampai di rumah, ia melihat pengasuhnya membuang sampah tidak di tempat sampah. Ketika anak tersebut protes terhadap pengasuhnya, pengasuhnya menjawab: "Oh enggak apa-apa kok!" Berdasarkan prinsip "recency principle", sikap mana yang akan ditiru oleh anak tersebut? Jelaskan alasan Anda!
3) Jika terjadi kondisi seperti berikut ini.


Berdasarkan teori belajar dari Skinner, apa yang dapat dilakukan guru untuk mengatasi kondisi tersebut?

Petunjuk Jawaban Latifian

1) Ketika guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa, guru menerapkan prinsip "kebiasaan" dari teori Hull. Pekerjaan . rumah merupakan tugas terstruktur yang harus dikerjakan siswa dalam rangka melatih keterampilan/kemampuan siswa tentang keterampilan/ pengetahuan yang sudah diperoleh melalui proses pembelajaran. Biasanya pekerjaan rumah terdiri dari beberapa soal yang merupakan pengulangan-perigulangan untuk siswa berlatih secara berulang-ulang. Dengan demikian pekerjaan rumah mewakili stimulus yang berulang-ulang (dengan sedikit modifikasi untuk setiap soal sehingga berbeda) untuk memancing pemunculan respons yang berulang-ulang. Pengulangan ini merupakan cara untuk membentuk kebiasaan.
2) Sikap yang akan ditiru oleh anak TK tersebut -berdasarkan pada prinsip "recency principle" adalah sikap pengasuhnya yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Hal ini terjadi karena walaupun stimulus yang diterima oleh anak tersebut adalah sama, namun respons yang dimunculkan terhadap stimulus adalah berbeda. Maka, dengan recency principle, respons yang terakhirlah yang akan diingat oleh anak tersebut, yaitu membuang sampah tidak pada tempat sampah. Pada saat-saat berikutnya; jika stimulus dihadirkan kembali maka kembali lagi pemunculan respons terakhir yang diingat oleh anak tersebut sehingga respons tersebutlah yang akan dimunculkan oleh anak itu.
3) Kondisi anak seperti itu dapat dikategorikan menjadi "anxiety" (kecemasafl¢)d6ii' atau takut. Menurut Skinner, kondisi tersebut muncul sebagai dampak pengiring dari penggunaan penguatan negatif, misalnya guru yang selalu memberikan tes mendadak di kelas sehingga siswa tidak merasa siap untuk menghadapi tes. Padahal siswa tahu, jika nilai tesnya jelek, guru dan orang tuanya akan marah. Walaupun sesungguhnya tes mendadak dirancang agar siswa selalu siap setiap saat (dalam hal ini meningkatkan kesiapan dapat dilakukan siswa dengan cara rajin belajar), pesan yang ingin disampaikan menjadi tidak jelas bagi siswa. Bahkan sebaliknya siswa malah memersepsikan bahwa tes tersebut seolah-olah hukuman baginya sehingga ia selalu cemas dan takut. Puncak dari rasa takut/cemas tersebut diwujudkan siswa dalam bentuk upaya lari dari situasi yang harus dihadapi dengan.menyatakan "pusing".

RANGKUMAN

Teori belajar Classical Conditioning dari Pavlov, Connectionism dari Thorndike dan Behaviorism dari Watson merupakan teori-teori dari aliran perilaku yang menjadi tonggak sejarah aliran perilaku dalam teori belajar. Modifikasi yang berhasil dikembangkan dari aliran perilaku oleh berbagai ahli disebut aliran perilaku baru (neo-behaviorisin). Tokoh-tokoh dari aliran ini di antaranya Clark Hull dengan teori Sistem Perilaku, Edwin Guthrie dengan teori Contiguity, dan B.F. Skinner dengan teori Operant Conditioning, Willian Este dengan teori Stimulus Sampling, Ebbinghause dengan teori Human Associative Learning, dan lain-lain.
Pada dasarnya teori Hull, Guthrie dan Skinner memiliki premis dasar yang sama dengan teori-teori pendahulunya, yaitu berlandaskan pada interaksi antara stimulus dan respons. Namun demikian, teori-teori Hull, Guthrie, dan Skinner berbeda dengan teori-teori pendahulunya dalam hal identifikasi terhadap faktor-faktor khusus yang dianggap berpengaruh terhadap belajar. Eksistensi teori Hull, Guthrie, dan Skinner relatif banyak mempengaruhi proses pembelajaran dalam dunia pendidikan yang ada sekarang ini.
Menurut teori Systentatic Behaviour dari Hull, selain interaksi stimulus, respons, dan penguatan, ada proses lain yang berpengaruh terhadap pemunculan respons yang diharapkan, yaitu variabel "intervening". Sementara itu, menurut teori Contignity dari Guthrie, kombinasi stimulus yang diikuti dengan suatu gerakan, pada saat pengulangan berikutnya cenderung diikuti lagi oleh gerakan tersebut. Di samping itu, jika belajar terjadi dalam suatu proses coba-coba maka proses yang terakhir muncul akan terulang kembali seandainya kombinasi stimulus yang sama dihadirkan. Teori Operant Conditioning dari Skinner menyatakan bahwa kunci untuk memahami perilaku individu terletak pada pemahaman kita terhadap stimulus satu dengan stimulus lainnya, respons yang dimunculkan, dan juga berbagai konsekuensi yang diakibatkan oleh respons tersebut.



TES FORMATIF 2

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1) Seorang guru di kelas mengajarkan mata pelajaran geografi dengan menggunakan peta, bola dunia, dan OHT. Dalam hal ini, guru tersebut berupaya memunculkan beragam stimulus untuk menghasilkan respons yang diharapkan. Proses ini disebut sebagai,proses ....
A. pengkondisian
B. perampatan stimulus
C. diskriminasi stimulus
D. penguatan

2) Berdasarkan recency principle dari Guthrie, alat prediksi yang paling baik terhadap hasil belajar adalah respons yang muncul terhadap stimulus dalam proses yang ....
A. paling awal terjadi
B. terus-menerus terjadi
C. paling akhir terjadi
D. terjadi secara terputus-putus

3) Salah satu asumsi dasar dari teori Operant Conditioning adalah ....
A. terdapat hubungan interaksi yang kompleks antara stimulus respons
B. has'tl belajar merupakan perilaku yang dapat diamati
C. konsekuensi dari respons yang muncul merupakan hasil belajar
D. setiap stimulus saling berinteraksi dengan stimulus lainnya

4) Shaping menurut Skinner merupakan proses pembentukan perilaku ....
A. sebagai hasil belajar
B. secara bertahap
C. secara alamiah
D. untuk belajar kompleks

5) Derajat kompleksitas dan kesamaan karakteristik antarstimulus `merupakan prasyarat bagi ....
A. diskriminasi stimulus
B. penguatan negatif
C. perampatan stimulus
D. shaping

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang belum dikuasai.


Kunci Jawaban Tes Formatif

Tes Formatif 1
1) B
2) A
3) B
4) A5) C Tes Formatif 2
1) B
2) C
3) B
4) B5) C




DAFTAR PUSTAKA

Bower, G.H. & Hilgard, E.R. (1981). Theories of Learning. Englewood Cliffs, NT: Prentice Hall.
Bell-Gredler, M.E. (1986). Learning and Instruction: Theory into Practice. New York: Macmil'.an Publishing.
Irawan, P. & Suciati. (1998). Teori Belajar dan Motivasi. Buku la Program Pehgembangan Keteramp,ilan Dasar Tekraik /nstruksional untuk Dosen Muda. Jakarta: Dirjen Dikti.
Soekamto, T. (1998). Teori Belajar. Buku 1 b Program Pengembangan Keteranrpilan Dasar Teknik Ihstruksional untuk Dosen Muda. Jakarta: Dirjen Dikti.
Terima kasih atas waktunya untuk membaca Perkembangan Teori Belajar Behavioristik | Teori Belajar dan Pembelajaran ini, dengan harapan semoga artikel Perkembangan Teori Belajar Behavioristik | Teori Belajar dan Pembelajaran ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Perkembangan Teori Belajar Behavioristik | Teori Belajar dan Pembelajaran terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Perkembangan Teori Belajar Behavioristik | Teori Belajar dan Pembelajaran » Resume