Teori Belajar Sosial | Teori Belajar dan Pembelajaran

Teori Belajar Sosial

A. PRINSIP-PRINSIP DASAR
Teori ini diperkenalkan oleh Albert Bandura (1977, 1986) yang melihat keterbatasan teori belajar behavioristik. Seperti telah Anda pelajari, teori belajar behavioristik menerangkan dampak dari penguatan terhadap belajar, di mana perilaku yang diikuti oleh penguatan yang positif akan dipelajari, dan yang tidak diikuti oleh konsekuensi yang positif akan terlupakan. Bandura menguraikan hal-hal berikut ini sebagai keterbatasan teori belajar behavioristik.
1. Teori behavioristik sukar diterapkan pada situasi kehidupan nyata. Tidak mungkin ada satu orang yang terus-menerus hadir setiap harinya untuk memberikan hadiah bagi terlihatnya perilaku yang diinginkan guna
2. menjamin meningkatnya frekuensi munculnya perilaku tersebut. Biasanya orang harus mengatur dan mengendalikan perilakunya sendiri.
3. Teori behavioristik tidak dapat menerangkan mengenai terjadinya pembelajaran perilaku baru. Kadana kadang kita melihat orang melakukan suatu tindakan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Jika perilaku memerlukan penguatan agar dapat terjadi (terpelajari), bagaimana contoh di atas dapat terjadi?
4. Teori behavioristik hanya dapat menerangkan pembelajaran langsung (direct learning), di mana konsekuensi diberikan segera setelah perilaku belajar terjadi, tetapi tidak dapat menerangkan mengenai perilaku serupa yang muncul pada waktu berikutnya, (pemadanan yang tertundaldelayed matching), di mana konsekuensi diberikan kemudian. Sering terjadi, suatu perilaku telah dipelajari tetapi belum segera ditampakkan sehingga dampak belajar mungkin belum terlihat sampai waktu kemudian. Perbandingan antara belajar langsung atau tidak langsung dapat dilihat pada Tabel 4.1,
Tabel 4.1
Perbandingan antara Belajar Langsung dan Tidak Langsung
Type Belajar Bagaimana Terjadinya
Langsung (padanan langsung) : hasil belajar yang langsung ditampakkan Setelah mempelajari suatu perilaku tertentu, siswa langsung melakukan atau melaksanakan sendiri perilaku tersebut yang merupakan hasil belajarnya, dan langsung mengalami konsekuensi dari responsnya itu. Perilaku yang dipelajari itu dapat diperagakan oleh model.
Tidak langsung (pemadanan yang tertunda): belajar dari memperhatikan orang lain (vicarious learning) Siswa memperhatikan seorang model melakukan perilaku yang harus dipelajari dan memperhatikan bagaimana model tersebut mendapat penguatan. Beberapa waktu kemudian siswa tersebut memperlihatkan perilaku yang dipelajarinya dari memperhatikan model di atas.

Untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan tersebut di atas, Bandura mengusulkan suatu teori alternatif yang dinamakannya Teori Belajar Sosial. Ada enam prinsip yang mendasari teori ini.
1. Prinsip Faktor-faktor yang Saling Menentukan
Prinsip pertama menyatakan bahwa perilaku, berbagai faktor pada pribadi seseorang, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada lingkungan orang tersebut, secara bersama-sama saling bertindak sebagai penentu atau penyebab yang satu terhadap lainnya dalam apa yang disebut Bandura sebagai sistem diri orang itu. Ilustrasi mengenai interaksi dari ketiga faktor tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.1.


Gambar 4.1.
Interaksi faktor-faktor pembentuk sistem diri: hubungan timbal-batik tiga arah antara Faktor-faktor Pribadi (P/singkatan dari Personal), Perilaku (B/singkatan dari Behavior), dan Kejadian-kejadian pada lingkungan sekitar (E/singkatan dari Environment)

Sistem yang saling terkait seperti yang terlihat pada Gambar 4.1 di atas menggambarkan ketiga faktor - P untuk faktor-faktor pribadi, E untuk faktor-faktor lingkungan, dan B untuk perilaku sebagai ujung-ujung segitiga. Sepasang anak panah yang berlawanan arah di antara setiap faktor menunjukkan bahwa setiap faktor tersebut dapat mempengaruhi atau bersifat sebagai penentu terhadap faktor-faktor lainnya secara timbal balik.
Bayangkan bagaimana hal ini terjadi pada diri Anda. Anda adalah pribadi (P) yang memiliki harapan-harapan dan nilai-nilai (values) di samping gaya pribadi atau kepribadian tertentu. Anda suka tantangan¬tantangan intelektual dan berinteraksi dengan orang di sekitar Anda. Sebagai konsekuensinya Anda berpartisipasi pada program Universitas Terbuka ini. Karena Anda suka program ini maka Anda menunjukkan perilaku (B) yang positif dan penuh semangat dalam mempelajari dan mempraktekkan berbagai mata kuliah yang Anda ambil. Rekan-rekan Anda di tempat kerja dan kelompok tutorial, juga keluarga serta orang-orang di sekitar Anda yang mengetahui kepribadian Anda (P) akan bereaksi dengan reaksi-reaksi tertentu (E), misalnya keramahan dan kekaguman akan kemampuan Anda membagi waktu antara kerja, rumah tangga, kuliah dan bermasyarakat.
Mereka juga bereaksi (E) terhadap perilaku Anda (B). Jika Anda melakukan suatu perbuatan aneh atau yang tidak disangka-sangka, mereka akan bereaksi terhadap perbuatan Anda itu. Reaksi mereka (E) itu, secara timbal balik, mempengaruhi perilaku (B) Anda, di samping berdampak terhadap kepribadian (P) Anda. Jika mereka berhenti bersikap ramah terhadap Anda (E), misalnya karena Anda terlalu sibuk belajar dan bekerja sehingga melupakan keluarga atau teman-teman Anda, Anda mungkin akan menjadi murung (P), karena keluarga atau tetangga/teman Anda mulai merigacuhkan atau marah-marah karena tidak Anda perhatikan. Jadi, diri Anda adalah suatu sistem dan faktor-faktor di dalam atau di luar diri Anda - pribadi, perilaku, dan lingkungan - berdampak satu terhadap lainnya.
Latihan:
Coba tuliskan pengalaman Anda yang berhubungan dengan interaksi antara perilaku (B=behavior), karakteristik personal dan pikiran (P = Personal), serta lingkungan (E = Environment) yang pernah Anda alami dalam pekerjaan Anda sebagai guru!

2. Kemampuan Membuat atau Memahami SimboUTanda/Lambang
Bandura menyatakan bahwa orang memahami dunia ini secara simbolis, melalui gambaran-gambaran kognitif (cognitive representation). Jadi, Anda lebih bereaksi terhadap gambaran kognitif dari dunia sekitar daripada terhadap dunia itu sendiri. Artinya, karena Anda memiliki kemampuan berpikir dan memanfaatkan bahasa sebagai alat untuk berpikir maka hal-hal yang telah berlalu dapat disimpan dalam ingatan dan hal-hal yang akan datang dapat pula "diujicoba" secara simbolis dalam pikiran.
Lebih jauh lagi apa yang belum terjadi dapat dibayangkan dalam pikiran. Perilaku-perilaku yang mungkin diperlihatkan -akan dapat diduga, diharapkan, dikhawatirkan, dan diujicobakan terlebih dahulu secara simbolis, dalam pikiran, tanpa harus mengalaminya secara fisik terlebih dahulu. Karenanya pikiran-pikiran yang merupakan simbol atau gambaran kognitif dari masa lalu maupun masa depan itulah yang mempengaruhi atau menyebabkan munculnya perilaku tertentu. .

3. Kemampuan Berpikir ke Depan
Selain dapat digunakan untuk mengingat hal-hal yang sudah pernah dialami, kemampuan berpikir atau mengolah simbol tersebut dapat dimanfaatkan untuk merencanakan masa depan. Anda dapat menduga bagaimana orang lain akan bereaksi terhadap Anda, dapat menentukan tujuan, dan merencanakan tindakan-tindakan yang harus diambil untuk mencapai tujuan tersebut. Inilah yang disebut berpikir ke depan - karena biasanya pikiran mengawali tindakan. Tetapi kadang-kadang, seperti yang akan diterangkan kemudian, pikiran-pikiran tersebut selain dapat membantu dapat pula menjadi penghalang.

4. Kemampuan untuk Seolah-olah Mengalami Sendiri Apa yang Dialami Orang Lain
Orang-orang, terlebih lagi anak-anak, mampu belajar dengan cara memperhatikan orang lain berperilaku dan memperhatikan konsekuensi dari perilaku tersebut. Inilah yang dinamakan belajar dari apa yang dialami orang lain. Tentu saja orang dapat belajar dengan melakukan sendiri berbagai hat dan mengalami konsekuensi dari perbuatannya tersebut. Tetapi hidup ini akan terlalu berat apabila belajar secara langsung seperti ini merupakan satu¬satunya cara belajar. Karena itu cara belajar dari pengalaman orang lain ini sangatlah membantu. Kemampuan ini akan dibahas lebih jauh lagi karena merupakan prinsip penting dari teori belajar sosial.

5. Kemampuan Mengatur Did Sendiri
Prinsip berikutnya dari teori belajar sosial adalah bahwa orang umumnya memiliki kemampuan untuk mengendalikan perilaku mereka sendiri. Seberapa giat Anda bekerja dan belajar, berapa jam Anda tidur, bagaimana Anda bersikap di muka umum, apakah Anda men gerjakan tugas perkuliahan Anda dengan teratur, apakah Anda menerapkan strategi, metode ataupun teknik pembelajaran yang telah Anda pelajari untuk mengajarkan mata pelajaran yang menjadi tanggung jawab Anda adalah contoh perilaku yang dapat Anda kendalikan. Perilaku-perilaku ini dikerjakan tidak selalu untuk memuaskan orang lain, tetapi berdasarkan standar dan motivasi yang Anda tetapkan sendiri. Tentu saja Anda akan terpengaruh oleh reaksi orang lain terhadap Anda, tetapi tanggung jawab utama berada pada diri Anda sendiri.
6. Kemampuan untuk Berefleksi
Prinsip terakhir ini menerangkan bahwa kebanyakan orang sering melakukan refleksi atau perenungan untuk memikirkan mengenai kemampuan diri mereka pribadi. Mereka umumnya mampu memantau ide¬ide mereka dan menilai kepantasan ide-ide tersebut sekaligus menilai diri mereka sendiri, dengan memperhatikan konsekuensi dari perilaku mereka. Dari semua penilaian diri sendiri itu, yang paling penting adalah penilaian terhadap seberapa kompeten atau seberapa mampu mereka mengira diri mereka dapat mengerjakan suatu tugas dengan sukses. Penilaian terhadap diri sendiri ini disebut keyakinan akan kemampuan diri (self-efficacy) yang ternyata mempengaruhi pilihan seseorang akan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukannya, besarnya usaha yang akan dikerahkan untuk menyeleslikan tugas tersebut, besarnya ketabahan saat menghadapi kesulitan, dan kemungkinan menghadapi suatu tugas dengan rasa khawatir atau ketakutan atau rasa percaya diri.

1. Coba terangkan 6 prinsip dasar yang Teori Belajar sosial dengan kata-kata Anda sendiri.
2. Coba pula jelaskan pendapat Anda mengenai peran keenam faktor ini datam pembelajaran di sekolah.


B. BELAJAR DARI MENGAMATI (OBSERVATIONAL LEARNING) PERILAKU ORANG LAIN (MODEL)

Karakteristik dari teori belajar sosial, yang terbukti sangat penting dan efisien, ialah seseorang dapat belajar dengan cara memperhatikan model beraksi dan membayangkan seolah-olah ia, sebagai pengamat, mengalami sendiri apa yang dialami oleh model tersebut. Yang disebut model adalah orang-orang yang perilakunya dipelajari atau ditiru oleh orang lain: Proses pembelajaran lewat pengamatan terhadap model adalah sebagai berikut.

1. Memperhatikan Model
Sebagai pengamat, orang tidak dapat belajar melalui observasi kecuali kalau ia memperhatikan kegiatan-kegiatan yang diperagakan oleh model itu dan benar-benar memahaminya. Irri tergarrtung pada seberapa sederhana dan mencolok mata perilaku yang diperagakan itu. Perilaku yang lebih sederhana dan lebih mencolok mata lebih mudah diperhatikan daripada yang tidak jelas. Juga tergantung pada apakah si pengamat siap untuk memperhatikan perilaku-perilaku yang diperagakan itu, terutama ketika banyak hal lain yuna bersaing untuk mendapatkan perhatian si pengamat.
Proses memperhatikan perilaku model ini juga tergantung kepada relevansi periluku tersebut di mata si pengamat. Mungkin Anda masih ingat saat Anda sebagai calon guru harus praktek mengajar. Sebelum praktek biasanya Anda diwajibkan memperhatikan saat guru kelas tersebut mengajar. Saat Anda, calon guru yang bertindak sebagai pengamat, memperhatikan guru kelas, yang bertindak sebagai model, mungkin Anda akan memperhatikan semua perilaku-perilaku mengajar - yang penting maupun yang kurang penting karena, sepanjang saat yang sama, ada banyak perilaku mengajar yang diperagakan oleh guru tersebut. Anda mungkin memberi perhatian pada semua perilaku guru tersebut jauh lebih banyak dari pada murid-murid yang diajar guru itu, karena Anda menganggap semua perilaku tersebut akan sangat relevan bagi karier Anda sebagai guru.
Terakhir, proses memberi perhatian tergantung pada kegiatan apa dan siapa ntodeluya yang tersedia untuk diamati. Sebagai contoh, seseorang akan lebih memperhatikan dan meniru tindakan-tindakan kasar atau agresif jika ia selalu dikelilingi oleh tindakan yang demikian daripada jika kekasaran jarang dijumpai di lingkungannya. Misalnya, jika anak-anak dibesarkan dalam rumah tangga yang selalu bertengkar dan bertindak kasar, atau jika dibiarkan menonton adegan-adegan kekerasan di televisi atau bioskop, atau pada computer ganies dan internet maka kemungkinan besar mereka akan mudah `bertindak kasar atau agresif pula.
Model yang menarik, seperti yang biasa kita lihat pada pariwara (iklan) di media cetak atau televisi, dapat menarik banyak perhatian. Film yang ditayangkan di televisi atau lewat video, merupakan sarana penarik perhatian
yang sangat efektif untuk tujuan memodelkan perilaku. Sebagai contoh untuk membantu mengurangi atau mencegah perkelahian antarsiswa, mungkin ` dapat, dilakukan Wan layanan masyarakat yang dibintangi oleh tokoh-tokoh yang disukai para remaja. Tokoh tersebut berusaha menganjurkan agar para siswa tidak berkelahi melalui dramatisasi akibat buruk dari perkelahian • antarsiswa dan akibat baik dari kerukunan antarsiswa.
Untuk menerapkan teori belajar sosial dan memastikan bahwa siswa memberi perhatian pada perilaku yang akan dimodelkan maka guru - sebaiknya mengusahakan untuk: (1) menekankan bagian-bagian penting dari perilaku yang akan dipelajari untuk memusatkan perhatian siswa, (2) membagi-bagi kegiatan yang besar menjadi bagian-bagian kecil, dan (3) memperjelas keterampilan-keterampilan yang menjadi komponen suatu perilaku, (4) memberi kesempatan kepada siswa, untuk mempraktekkan hasil pengamatan mereka, begitu mereka selesai dengan satu topik.
Latihan:
Jelaskan secara sirigkat, dengan kata-kata Anda sendiri mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengamat mempelajari suatu perilaku dengan mengamati seorang model!

2. Mengingat
Agar dapat mengambil manfaat dari perilaku orang lain yang telah diamatinya, seorang pengamat harus dapat mengingat apa yang telah dilihatnya. Dia harus mengubah informasi yang didapatnya menjadi bentuk gambaran mental (mental pictures), atau menjadi simbol-simbol verbal, dan kemudian menyimpan dalam ingatannya. Akan sangat membantu apabila kegiatan yang akan ditiru itu segera diulang atau segera dipraktekkan setelah pengamatan selesai. Pengamat tidak perlu melakukan pengulangan atau mempraktekkan perilaku itu secara fisik, tetapi dapat saja secara kognitif, yaitu dengan membayangkan atau memvisualisasi perilaku tersebut dalam pikirannya.

3. Produksi
Komponen ketiga dalam proses peniruan mengubah ide, gambaran, atau ingatan menjadi terhadap hasil belajar dalam bentuk perilaku (modeling) ini adalah tindakan. Umpan balik yang diperlihatkan oleh pengamat dapat menjadi alat bantu yang penting dalam proses ini. Umpan balik ini dapat dilakukan lewat observasi diri dan masukan dari pelatih, guru, dan modelnya sendiri.

4. Motivasi
Orang tidak akan memperagakan atau melaksanakan setiap hal yang dipelajarinya lewat proses pengamatan. Umumnya seorang pengamat akan cenderung untuk memperagakan perilaku yang ditirunya jika hal tersebut menghasilkan hal yang berharga atau diinginkan oleh pengamat tersebut. Pengamat cenderung untuk tidak memperagakan perilaku yang mengakibatkan munculnya hukuman atau bila ia tidak mendapat hadiah dari perbuatan tersebut.
Untuk meningkatkan kemungkinan terpelajarinya perilaku positif, seperti menolong orang lain, menyapa dengan ramah, mengucapkan terima kasih, yang ditunjukkan seorang siswa yang dapat dijadikan model maka guru dapat memberikan pujian atau hadiah yang juga teramati dengan jelas. Hal ini akan memotivasi siswa yang mengamati untuk meniru perilaku tersebut. Demikian juga untuk mencegah perilaku yang negatif, seperti tidak membuat pekerjaan rumah, memukul teman, mengucapkan kata-kata yang kasar maka sebaiknya guru segera memberi hukuman atau peringatan kepada siswa yang melakukan perilaku tersebut sehingga siswa lain tidak meniru perbuatan tersebut.
Untuk perilaku yang sulit untuk dinilai, misalnya saat seorang murid memberikan pidato di muka kelas atau menjawab pertanyaan guru, konsekuensi dari perilaku bagi seorang model merupakan informasi yang sangat penting bagi si pengamat. Pada kasus-kasus tersebut, pujian guru yang jelas menerangkan bagian-bagian yang baik dari perilaku tersebut - yang merupakan konsekuensi positif dari perilaku si model, akan mendorong peniruan oleh pengamat. Untuk memperhatikan perilaku yang sulit ini, lingkungan sekitar harus mendukung sehingga pengamat dan model dapat berkonsentrasi memperhatikan dan melakukan perilaku tersebut.
Jika seorang siswa tidak mendapat teguran'setelah melakukan tindakan yang tidak baik maka akan banyak murid lain yang meniru tindakan buruk tersebut. Sebaliknya bila seorang siswa mendapat pujian setelah mampu menjawab pertanyaan guru dengan baik maka siswa lain akan berusaha untuk sering menjawab pertanyaan. Lebih-lebih jika guru membimbing, dengan ramah dan bersahabat, siswa yang menjawab dengan kurang tepat sampai siswa tersebut dapat menjawab dengan tepat.
Ketika para model tampak mengalami konsekuensi yang negatif dari perilaku mereka maka kecenderungan pengamat untuk melakukan perilaku yang sarna akan berkurang atau terhambat. Hal ini dapat menjadi mekanisme bagi suatu kelompok atau masyarakat untuk membudayakan anggotanya mengenai peraturan-peraturan dalam bertindak dan sanksi-sanksi yang akan diterapkan terhadap tindakan yang tidak dapat diterima oleh kelompok tersebut. Bandura menegaskan bahwa "pengamat yang melihat suatu perilaku yang menghasilkan hukuman akan lebih kecil kemungkinannya untuk melakukan perilaku tersebut daripada jika mereka melihat perilaku tersebut mendapat penghargaan atau diabaikan (1986, p. 288).
Namun demikian harus, diperhatikan bahwa apabila suatu perilaku dikendalikan oleh intimidasi atau tekanan maka kemungkinannya untuk ditiru akan bervariasi, tergantung pada hadir atau tidak hadirnya pemberi intimidasi. Sebagai contoh, bila seorang guru mengendalikan kelas dengan cara menakut-nakuti dengan hukuman maka saat ia meninggalkan ruang kelas, yang secara tidak langsung berarti tidak hadirnya pemberi ancaman hukuman yang bersifat pencegahan maka dampak dari ancaman hukuman menjadi minimal dan para murid mungkin akan melakukan tindakan yang negatif saat di luar pengawasan guru tersebut.
Oleh karena itu, para murid sebaiknya diajarkan mengenai larangan¬larangan yang harus dipatuhi dalam kelas dengan cara menunjukkan konsekuensi-konsekuensi negatif -bila larangan tersebut dilanggar. Perilaku¬perilaku terlarang sebaiknya tidak dibiarkan tanpa konsekuensi hukuman, karena hal tersebut dapat menyebabkan tidak terlatihnya kendali diri sehingga tindakan pelanggaran tersebut ditiru oleh siswa lain.
Anak-anak sering lebih mudah memperoleh apa yang mereka inginkan dengan cara mengabaikan larangan atau peraturan daripada dengan mematuhi peraturan Karena itu tidak terlalu sulit untuk menirukan perilaku melanggar , aturan yang dapat mengurangi kemampuan mencegah atau mengendalikan diri terhadap perbuatan-perbuatan yang menimbulkan rasa senang tefapi terlarang. Karena kecenderungan inilah maka perbuatan-perbuatan yang terlarang atau melanggar peraturan harus selalu diikuti dengan konsekuensi negatif ataupun hukuman. Dengan tidak adanya hukuman `seolah-olah mengesankan penerimaan lingkungan dan melemahkan pengendalian diri . dari para pengamat. Melatih anak-anak untuk taat kepada aturan akan dapat membiasakan mereka bertindak etis dan mematuhi hukum atau peraturan yang berlaku saat dewasa nanti.
Coba buat peta konsep mengenai langkah-langkah, dan faktor-faktor yang berperan dalam belajar dari mengamati perilaku orang lain. Peta konsep itu harus menunjukkan hubungan antara memperhatikan model, mengingat, produksi, dan motivasi

Beberapa dampak konsekuensi jika melakukan perbuatan terlarang dapat
dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2.
Dampak dari Konsekuensi - yang Diterima Seorang Model setelah Melakukan Perbuatan yang Melanggar Peraturan - terhadap Pengamat

Konsekuensi yang Diterima Seoran Model Dampak Konsekuensi Itu terhadap Pengamat
Hukuman Membawa kesan bahwa perbuatan
tersebut tidak dapat diterima oleh
lingkungan tersebut.
Dapat mencegah atau mengendalikan
peniruan (bila pemberi hukuman ada di
tempat itu)
Hukuman yang berlebihan Dapat mengenali berbagai sebab
munculnya hukuman tersebut.
Mengesankan bahwa hukuman
merupakan hal yang benar untuk
memecahkan masalah
Jika tidak ada sanksi Mengesankan bahwa perbuatan
tersebut dapat diterima oleh lingkungan
tersebut.
Menghilangkari atau melemahkan
kendali diri Meningkatkan nilai manfaat perbuatan tersebut
Meningkatkan kemungkinan perbuatan
tersebut untuk ditiru (terutama untuk
tindakan yang menyenangkan tetapi
terlarang


5. Atribut Model
Untuk meramalkan efek dari konsekuensi yang diterima seorang model, para guru harus memperhatikan bukan saja hasil (outcomes) tetapi juga karakteristik atau atribut dari siswa yang dijadikan model. Makin mirip karakteristik seorang. model dengan para pengamatnya, makin besar kemungkinan bahwa tindakan yang mirip tetapi yang dilakukan oleh pengamat akan memberikan hasil yang sama seperti apabila tindakan tersebut dilakukan oleh model. Namun demikian, model yang memiliki status, kompetensi dan kekuasaan yang tinggi akan lebih efektif dalam memberikan pengaruh terhadap orang lain untuk berperilaku yang mirip dengan model tersebut daripada model yang kurang dalam ketiga hal tersebut.
Kombinasi dari status dan konsekuensi yang dialami seorang model terhadap peniruan dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3.
Hubungan antara Status Model, Konsekuensi yang Diterima oleh Model, dan Kemungkinan untuk Ditiru oleh Pengamat

Model dengan status lebih tinggi → Konsekuensi tidak teramati → Kemungkinan
untuk ditiru cukup
tinggi
Model dengan status yang sama dengan peqgamat → Konsekuensi positif → Kemungkinan
untuk ditiru dan
dipertahankan
cukup tinggi
Model dengan status yang sarna dengan pengamat → Konsekuensi
negatif → Peniruan dengan
segera berhenti
Model dengan
status yang lebih
rendah daripada
pengamat → Konsekuensi
apapun → Hanya sedikit
pengaruhnya


Pada contoh pertama (model dengan status yang lebih tinggi), si pengamat berharap untuk menjadi seberhasil orang yang menjadi model sehingga meniru perilaku model. Jika Anda rnengenakan sepatu olahraga yang sama dengan yang digunakan bintang bola basket favorit Anda, misalnya, mungkin Anda berpikir bahwa Anda dapat juga menjadi bintang be::ar. Contoh lain adalah dengan mengenakan krim penghalus wajah seperti yang digunakan bintang sinetron favorit Anda maka Anda mungkin dapat merasa sama cantiknya'dengan model tersebut sehingga mungkin dapat juga menjadi model sampul majalah. .
Pada contoh yang kedua (model dengan status yang sama dengan statua pengamat), pengamat yakin bahwa jika model, itu dapat melakukan suatu perilaku maka ia pun dapat melakukan hal itu. Tentu saja dengan model yang berstatus sama ini, penting diperhatikan apakah perilaku yang dimodelkan itu akan berhasil ditiru oleh pengamat. Konsekuensi pada diri model setelah melakukan perilaku tersebut merupakan faktor yang penting sekali karena konsekuensi tersebut merupakan dasar bagi pengamat untuk menentukan apakah perilaku tersebut patut dicoba atau tidak. Kesamaan karakteristik model dan pengamatlah,yang dapat mendorong pengamat untuk menentukan apakah ia dapat melaksanakan perilaku tersebut atau tidak. Dalam situasi kelas, baik model berstatus tinggi atau berstatus sama den-an pengarnat mempunyai pengaruh yang cukup besar.
Konsekuensi perilaku pada model, yang dapat diamati oleh para pengamat, bukan saja dapat memberi informasi tetapi juga dapat memotivasi mereka jika saja konsekuensi tersebut memiliki nilai khusus di mata para pengamat. Jika suatu perilaku model yang diamati menyebabkan hasil yang bernilai bagi pengamat maka pengamat akan termotivasi untuk meniru perilaku tersebut. Pengamat juga harus yakin bahwa ia dapat melakukan perilaku yang sama. Dengan melihat orang lain mengalami keberhasilan atau kegagalan, karena melakukan suatu tindakan, akan membantu pengamat untuk menilai kemampuan pribadinya dalam melakukan tindakan yang sama.
Derajat dan frekuensi penguatan yang diterima seorang model akan mempengaruhi motivasi pengamat untuk bertahan pada perilaku yang sama. Di dalam ruang kelas, dengan memperhatikan seorang model melakukan usaha dan belajar keras yang terus-menerus dan baru mendapat penghargaan setelah bersusah-payah seperti itu, akan. menunjukkan kepada pengamat manfaat dari apa yang disebut ketekunan (Bandura, 1986).
Dalam kasus-kasus semacam itu, pengamat mungkin bersedia untuk menerima berbagai kegagalan pada tahap awal usahanya, karena harapan untuk berhasil akan timbul kembali karena melihat keberhasilan model. Akan tetapi, bilamana keberhasilari itu diperoleh dengan mudah oleh orang lain tetapi tidak oleh diri pengamat sendiri, dapat mengakibatkan hilangnya rasa percaya diri yang dapat membawa kepada kemurungan. Kita akan kembali ke topik ini nanti pada diskusi mengenai keyakinan akan kemampuan diri (self efficacy).
Anda mungkin bertanya, apa saja perilaku yang dapat dipelajari melalui pengamatan terhadap Model. Ada lima jenis perilaku yang dapat dipelajari melalui pengamatan, yaitu:
a. keterampilan atau perilaku kognitif yang baru;
b. memperkuat atau melemahkan hambatan terhadap perilaku tertentu yang telah dipelajari sebelumnya (apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, tergantung pada konsekuensi yang dialami si-model);
c. desakan atau dorongan sosial untuk melakukan tindakan yang mirip;
d. kecenderungan memanfaatkan lingkungan sekitar dan berbagai objek di dalamnya;
e. saat yang pantas untuk tergugah secara emosional dan reaksi emosional apa'yang boleh diekspresikan.

Beberapa langkah untuk menerapkan teori belajar sosial, yang dapat dimanfaatkan oleh para guru untuk mengatur pembelajaran dengan mengamati perilaku model, adalah sebagai berikut.
a. Guru menentukan perilaku yang akan ditiru
Keterampilan kognitif, afektif dan motorik, seperti: mempresentasikan hasil penelitian gerak-gerakan dalam olahraga atau perbengkelan sopan santun (rasa hormat, respek terhadap milik orang lain) penyaluran emosi negatif dan positif (kemarahan dan kegembiraan)

b. Guru menentukan siapa yang akan bertindak sebagai model
Guru itu sendiri
Siswa lain (untuk model yang statusnya sama)
Model lain (orang yang berasal dari komunitas sekitar)
Model-model simbolis (mereka yang dapat bertindak sebagai pahlawan, atau tokoh-tokoh dalam film, baik nyata maupun kartun)

c. Guru memastikan tampilnya perilaku yang diperagakan oleh model Mengusahakan untuk memusatkan perhatian siswa yaitu dengan membuat perilaku itu cukup sederhana, tampak jelas, terpecah dalam urutan yang dapat diikuti (memperhatikan model).

Membantu siswa untuk dapat mengingat perilaku tersebut dengan memberikan cara untuk mengingat dan memberikan kesempatan untuk mengulang (mengingat)
Membantu siswa untuk mempraktekkan perilaku tersebut (produksi) Memberi motivasi kepada siswa untuk meniru perilaku tersebut dalam bentuk pujian atau hadiah (motivasi)
d. Guru menciptakan nilai manfaat dari perilaku orang yang menjadi model Memberi penghargaan untuk hasil dan perilaku positif dari model tersebut
Memberi sanksi pada hasil dan perilaku negatif dari model itu
Tidak bereaksi berlebihan atau secara pribadi terhadap perilaku model
Tidak menunjukkan sikap mengabaikan terhadap perilaku model tersebut




Dengan menerapkan teori belajar sosial, buatlah rencana pengajaran satu topik dari mata pelajaran yang menjadi tanggung . jawab Anda. Langkah pengembangan rencana. pengajaran tersebut dapat melihat langkah-langkah, yang telah diuraikan sebelumnya, dan pada Gambar 4.2.

LATIHAN
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!

Buatlah rencana pengajaran dengan menerapkan teori belajar sosial!

Petunjuk Jawaban Latihah
Untuk memudahkan Anda dalam mengerjakan tugas tersebut, perhatikan rambu-rambu pengerjaan latihan berikut ini.
1. Pilihlah salah satu topik atau pokok bahasan dari mata pelajaran atau bidang studi yang menjadi tanggung jawab Anda.
2. Anda dapat menggunakan format rencana pengajaran yang biasa Anda buat.
3. Dalam merancang kegiatan pembelajaran, Anda dapat mengkaji urutan belajar menurut Teori Belajar Sosial , seperti pada Gambar 4.2. Di samping itu, Anda juga perlu memperhatikan keenam prinsip yang bei,laku dalam Teori Belajar Sosial.

RANGKUMAN
1. Bandura mengidentifikasikan tiga keterbatasan dari teori belajar behavioristik dalam menerangkan mengenai perilaku sosial, yaitu tidak mewakili apa yang terjadi di lingkungan alami karena lebih sering tidak ada seorang pun di sekitar siswa untuk memberinya hadiah karena berhasil melakukan sesuatu; dan teori tersebut hanya menerangkan mengenai belajar langsunglclirect learning (pemadanan segera suatu perilaku dengan konsekuensinya), tidak untuk belajar secara tidak langsung (pemadanan perilaku dengan konsekuensinya yang ditunda).

2. Untuk itu Bandura mengusulkan Teori Kognitif Sosial atttu Teori Belajar Sosial, dengan enam prinsipnya. Yang pertama adalah prinsip faktor-faktor yang saling mempengaruhi, yaitu perilaku, berbagai faktor pribadi, dan kejadian di lingkungan sekitar bekerja bersama sebagai penentu yang interaktif atau penyebab dari satu terhadap lainnya dalam sistem diri seseorang.
3. Yang kedua adalah orang memiliki kemampuan simbolik untuk menilai dan bereaksi terhadap lingkungan sekitarnya. Informasi mengenai pengalaman dan orang yang pernah diterima oleh seseorang akan disimpan dalam bentuk pikirvan dalam ingatan orang tersebut, dan sering orang bereaksi terhadap pikiran ini, dan bukan terhadap orang lain atau berbagai pengalaman itu sendiri.
4. Yang ketiga adalah kemampuan untuk berpikir ke depan atau kemampuan untuk merencanakan masa , depan dengan berpikir sebelum bertindak. Pikiran, menurut Bandura, selalu mendahului tindakan.
5. Prinsip yang keempat adalah kemampuan untuk seolah-olah mengalami sendiri suatu kejadian. Orang mampu belajar dengan memperhatikan orang lain bertindak dan melihat konsekuensi dari tindakan orang lain itu.
6. Prinsip yang kelima adalah kemampuan mengatur diri. Orang memiliki kemampuan untuk mengendalikan tingkah lakunya sendiri; seperti bekerja, makan, minum, dan belajar, berdasarkan standar dan motivasi yang ditetapkannya sendiri.
7. Prinsip yang keenam adalah kemampuan untuk retleksi diri, atau kemampuan untuk berpikir mengenai diri sendiri, antara lain kemampuan untuk melakukan penilaian diri terhadap kompetensi atau kemampuannya sendiri untuk melakukan suatu tugas dengan sukses. Inilah yang disebut keyakinan akan kemampuan diri. (perceived self-efficacy).
8. Bagaimana orang belajar dari model'? Yang pertama, mereka harus memberi perhatian terhadap apa yang dilakukan si model (yang mudah dilakukan bila perilaku model tersebut cukup sederhana, jelas dilihat oleh mata, relevan, sering, dan bila model tersebut menarik). Yang kedua, mereka harus dapat menguasai atau mengingat apa yang mereka lihat dengan meng-kodhig informasi menjadi bayangan dan mengulangnya di luar kepala. Yang ke[iga, mereka harus mengubah infor.masi tersebut menjadi tindakan dan melakukannya sendiri (di sini diperlukan umpan balik). Akhirnya, mereka harus termotivasi untuk menirunya, karena perilaku tersebut membawa kepada hasil yang diinginkan.
9. Yang penting dalam belajar dari hasil pengamatan tersebut adalah dampak dari hasil perilaku model yang dapat diamati (atau konsekuensi,perilaku model terhadap diri model itu sendiri yang dapat dilihat). Seorang pengamat akan lebih besar kemungkinannya untuk meniru suatu perilaku bila model tersebut mendapat hadiah daripada bila perilaku tersebut tidak menimbulkan konsekuensi apapun, terutama jika perilaku tersebut mengharuskan adanya usaha atau aspek ' lainnya yang dinilai pengamat tidak menyenangkan. Penguatan yang teramati tersebut juga pentingbila ada kesulitan dalam mengamati nilai manfaat dari suatu'tindakan. Lebih jauh lagi, bila seorang model berhasil mencapai hasil yang secara luas sangat dihargai maka pastilah tidak sedikit penirunya.
10. Manakala terlihat bahwa orang lain mendapat hukuman maka kecenderungan para pengamat untuk melakukan tindakan yang sama akan menghilang. Ini terutama ferjadi bila pemberi hukuman hadir di situ sebagai sumber intimidasi.
11. Tindakan yang terlarang harus dihukum, karena bila diabaikan akan mengundang pengamat untuk meniru atau mengulangnya dan dapat menimbulkan keyakinan pengamat bahwa tindakan tersebut dapat diterima oleh lingkungan itu.
12. Makin mirip seorang model dengan pengamatnya, makin besar kemungkinan bagi pengamat untuk menyimpulkan bahwa .ia akan mendapatkan hasil yang sama jika meniru perilaku tersebut. Tetapi jika konsekuensi dari perilaku yang dimodelkan itu tidak pasti atau tidak jelas maka model yang dinilai pengamat memiliki status tinggilah yang akan menimbulkan pengaruh yang paling besar.
13. Hasil kerja perilaku model yang dapat diamati bukan saja memberi informasi, tetapi juga memotivasi. Para pengamat akan bertahan tetap tekun untuk waktu yang lama dan dapat tabah dan sabar dalam menghadapi kegagalan yang mereka alami sekali-sekali, jika mereka melihat model mereka mendapatkan hadiah yang lebih besar dan lebih sering, daripada jika hadiahnya kecil dan lebih jarang. Para pengamat itu juga belajaf mengenai bagaimana menyalurkan berbagai reaksi emosional lewat pengamatan terhadap model yang bereaksi atas berbagai konsekuensi dari perilaku mereka (para model) sendiri.

TEST FORMATIF 1
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1) Di antara istilah-istilah berikut ini, pilihlah istilah yang termasuk dalam prinsip dasar teori belajar sosial.
A. Faktor-faktor yang saling menentukan.
B. Kemampuan memahami dan membuat berbagai simbol.
C. Kemampuan untuk seolah-olah mengalami sendiri apa yang dialami orang lain.
D. Ketiga hal yang disebut pada butir A, B, maupun C.

2) Pengaruh timbal balik antara faktor pribadi seorang siswa dan faktor yang berasal dari lingkungan terhadap perilaku siswa diterangkan sebagai ....
A. kemampuan untuk berpikir ke depan (berpikir sebelum bertindak)
B. kemampuan mengatur diri
C. prinsip faktor-faktor yang saling menentukan
D. kemampuan untuk berefleksi
3) Hal-hal yang dapat dipelajari seseorang/siswa dengan mengamati seorang model antara lain ....
A. keterampilan kognitif, psikomotor dan afektif
B. penguatan atau pengurangan kecenderungan untuk melakukan suatu perilaku, baik perilaku yang baik maupun yang buruk
C. bagaimana mengekspresikan berbagai reaksi emosional
D. ke tiga hal yang disebut pada butir A, B, dan C

4) Urut-urutan pada proses belajar dengan mengamati perilaku model adalah sebagai berikut.
A. Memperhatikan, produksi, mengingat, motivasi.
B. Memperhatikan, mengingat, produksi, motivasi.
C. Motivasi, memperhatikan, produksi, mengingat.
D. Produksi, memperhatikan, mengingat, motivasi.

5) Bila seorang siswa meniru perilaku.seorang model karena melihat model tersebut mendapat hadiah sebagai konsekuensi dari perilaku tersebut maka ini disebut ....
A. seolah-olah mengalami sendiri mendapat hukuman seperti yang dialami model
B. kemampuan berpikir ke depan
C. seolah-olah mengalami sendiri mendapat hadiah seperti model yang diamati
D. kemampuan mengatur diri

6) Jika suatu tindakan/perilaku melanggar aturan yang dilakukan seorang model tidak mendapat hukuman/sanksi maka siswa yang memperhatikan model tersebut akan berkesimpulan bahwa ....
A. perbuatan tersebut baik
B. perbuatan tersebut dapat diterima oleh lingkungan tersebut
C. perbuatan tersebut boleh ditiru
D. ketiga hal pada A, B, dan C benar

7) Pilihlah mana yang benar, pada diagram hubungan antara karakteristik model, konsekuensi dari perilaku model tersebut dan kemungkinan perilaku tersebut ditiru berikut ini.




A. Model dengan status lebih tinggi → Konsekuensi Kemungkinan. → Kemungkinan untuk ditiru cukup tinggi
B. Model denga status sama dengan pengamat → Konsekuensi negatif → Peniruan dengan segera terhaenti
C. Model dengan status yang lebih rendah dari pengamat → Konsekuensi apapun → Hanya sedikit pengaruhnya (tidak ditiru)
D. A, B, C benar

8) Jika ingin mengajarkan perilaku yang sulit, terutama yang memerlukan usaha keras untuk melaksanakannya, dengan menerapkan teori belajar sosial ma.ka perlu diperhatikan ....
A. model yang memperagakan perilaku tersebut harus dapat diterima oleh pengamat
B. urut-urutan untuk melaksanakan perilaku tersebut harus dapat diamati dengan jelas
C. konsekuensi perilaku tersebut sebaiknya teramati dengan jelas
D. A, B, C semuanya harus diperhatikan

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Pormatif 1 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.



Arti tingkat penguasaan: 90 – 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 – 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80°/n atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80°%n, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang belum dikuasai.
Terima kasih atas waktunya untuk membaca Teori Belajar Sosial | Teori Belajar dan Pembelajaran ini, dengan harapan semoga artikel Teori Belajar Sosial | Teori Belajar dan Pembelajaran ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Teori Belajar Sosial | Teori Belajar dan Pembelajaran terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Teori Belajar Sosial | Teori Belajar dan Pembelajaran » Resume

eMakalah.com