Selamat Datang di emakalah.com

Semoga Anda dapat menemukan apa yang anda cari,

dan semoga emakalah.com dapat bermanfaat bagi Anda

Untuk keluar dari menu/halaman ini silahkan klik LIKE / SUKA

..

Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Disiplin Belajar Siswa

KATA PENGANTAR


Assalamu’alaikum Wr.Wb
Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan limpahan hidayah dan inayahnya pada kita semua, sehingga kita masih diberi kesempatan untuk membahas perbandingan pendidikan di negara Islam.
Shalawat teriring salam semoga tetap tercurahkan pada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang membawa perubahan zaman yang dinobatkan sebagai suri tauladan yang akan dikenang hingga akhir masa. Penulis ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata pelajaran PPNI.
Penulis menyadari bahwasannya dalam penyusunan makalah in masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran guna penyempurnaan makalah selanjutnya.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan isi makalah ini menjadi penambah wawasan bagi kita semua.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Tinjauan Historis 2
BAB III PENUTUP 6
A. Kesimpulan 6
DAFTAR PUSTAKA 7



BAB I
PENDAHULUAN


Pendidikan merupakan suatu proses kegiatan yang bersifat umum bagi setiap manusia dimuka bumi ini. Dalam kondisi apapun manusia tidak dapat menolak efek dari penerapan pendidikan. Proses ini dimulai dengan penetapan visi, misi dan tujuan pendidikan, pendefenisian strategis dan kebijakan guna mencapai dan mengembangkan rencana secara rinci untuk memastikan bahwa strategis telah diimplementasikan untuk mencapai suatu hasil akhir. Dalam perjalanan peradaban manusia selanjutnya, mereka senantiasa manjaga dan melanjutkan tradisi pendidikan melalui berbagai bentuk dan institusi pendidikan mulai dari pendidikan nasional hingga pendidikan internasional. Melalui sejarah pendidikan dapat kita mengetahui berbagai usaha yang telah dilakukan manusia untuk melakukan pendidikan tersebut lambat laun memunculkan berbagai model dan institusi pendidikan yang tercatat dalam sejarah pendidikan, sebagian besar bentuk dan institusi tersebut telah punah, namun beberapa masih tetap bertahan. Dengan melalui perbandingan pendidikan kita dapat mengetahui bahwa dari jaman ke jaman manusia telah berupaya mengkonsepsikan dan mengimplementasikan pendidikan secara variatif. Namun kendati demikian, secara esensi dan misinya menunjukkan adanya relevansi pendidikan yang sama yakni bahwa pendidikan pada dasarnya merupakan upaya untuk mempersiapkan manusia guna mengahadapi berbagai tantangan perubahan yang terjadi sesuai dengan tuntutan jaman, sekaligus merupakan upaya untuk menjamin kelangsungan eksistensi kehidupan manusia itu sendiri. Relevansi Perbandingan Pendidikan, Sejarah Pendidikan, Pendidikan Nasional dan 5 Pendidikan Internasional Pada makalah ini, akan dikaji hal-hal yang berhubungan dengan Relevansi Perbandingan Pendidikan, Sejarah Pendidikan, Pendidikan Nasional dan Pendidikan Internasional. Adapun mengenai Sejarah Pendidikan kami hanya membahas Sejarah Pendidikan Indonesia. 
BAB II
PEMBAHASAN


A. Tinjauan Historis
Sejak zaman Plato (427-347 SM), diskursus tentang penyelenggaraan pendidikan oleh negara telah dibahas secara filosofis. Buku Republika menggambarkan bagaimana pembinaan sebuah negara, masyarakat, dan pendidikan mesti dilakukan. Menurut Plato, sebagaimana terurai dalam buku tersebut, negara ideal haruslah berdasar pada keadilan. Keadilan dalam negara hanya tercapai apabila tiap-tiap warganya mengerjakan pekerjaan yang teruntuk bagi dia. Plato berpendapat bahwa pada tiap negara, semua golongan manusia merupakan alat bagi pencapaian kesejahteraan secara kolektif. Kesejahteraan kolektif inilah yang menjadi tujuan hakiki suatu negara.
Di samping keadilan, suatu negara tergantung juga pada budi pendidikanya. Dalam hal ini, pendidikan menjadi tema sentral bagi negara. Menurutnya, pendidikan anak-anak yang berumur 10 tahun ke atas menjadi urusan negara supaya mereka terlepas dari pengaruh orang tua masing-masing. Dasar yang utama bagi pendidikan anak-anak adalah gimnastik (senam) dan musik. Namun, gimnastik didahulukan karena menyehatkan badan dan pikiran. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang berani, yang diperlukan bagi calon penjaga. Saat berusia 14 sampai 16 tahun, anak-anak perlu diajari musik dan puisi serta mengarang sajak. Alasannya, musik yang keduanya menjadi landasan yang baik untuk menghidupkan rasa keadilan. Namun, musik harus dijauhkan dari lagu-lagu yang melemahkan jiwa dan menimbulkan nafsu buruk. Begitu pula dengan puisi, puisi yang merusak moral hendaknya dijauhkan. Pendidikan gimnastik dan musik hendaknya dilaksanakan secara seimbang.
Pada usia 16 sampai 18 tahun, menjelang dewasa, anak-anak diberi pelajaran matematika untuk mendidik jalan pikiran mereka. Di samping itu, diajarkan pula dasar-dasar ketuhanan dan sopan santun agar dalam diri anak tertanam rasa persatuan. Tahap berikutnya, ketika berusia 18 sampai 20 tahun, hendaknya mereka mendapat pendidikan militer. Kemudian, setelah usia 20 tahun itu diadakan seleksi atas kemampuan mereka untuk mendapatkan didikan ilmiah secara lebih mendalam dan teratur selama 10 tahun. Lalu, diadakan seleksi kedua, bagi mereka yang diterima diangkat sebagai pegawai negeri. Lalu, mereka ini dididik lagi dalam hal pengetahuan tentang Adanya (Being), idea, dan dialektika. Tamat dari didikan ini mereka berhak memperoleh kedudukan tinggi. Kalau sudah 15 tahun bekerja dan mencapai usia 50 tahun, mereka dianggaptelah layak melaksanakan tugas tertinggi dalam negara, yaitu menegakkan keadilan berdasarkan idea kebaikan. Agaknya konsep negara ideal Plato ini sarat dengan ajaran moralitas berbangsa, yakni negara yang adil dan berbudi, titik tekan yang sama, masalah etika negara ini, dibicarakan pula oleh murid Plato, yakni Aristoteles.
Aristoteles (384-322 SM) juga bicara soal etik, tetapi menurutnya, etik baru sempurna terlaksana dalam sebuah negara. Pada dasarnya manusia mempunyai bakat moral, tetapi itu hanya dapat dikembangkan dalam hubungannya dengan manusia lain. Manusia adalah zoon politikon sekaligus sosial. Ia itu, sebuah negara tersusun oleh individu, keluarga, dan masyarakat. Bagi Aristoteles, tiang masyarakat adalah kaum menengah yang berbudi baik.
Di Alexandria, pada tahun 200 SM telah berdiri museum dan perpustakaan yang menjadi pusat studi bagi para mahasiswa dan mengajar dengan berbagai latar belakang suku bangsa, seperti Mesir, Yunani, Siria, Yahudi, Ethiopia, Roma, Persia dan Anatolia. Museum dan perpustakaan Alexandria ini menjadi pusat pengembangan kritik sastra, ilmu eksakta seperti sebuah universitas serta institusi penelitian dengan sarana yang lengkap.
Selanjutnya, meskipun upaya penyatuan yang dirintis oleh Alexander Yang Agung ini belakang tidak membawa hasil nyata, bekas-bekas dan pengaruh yang ditinggalkannya cukup besar artinya bagi sejarah. Bahasa Yunani tetap dipakai sebagai bahasa administrasi atau bahasa resmi, sampai terjadinya kontak fisik atau difusi melalui masuknya Islam di sana, yang kemudian diganti dengan bahasa Arab oleh khalifah ke 5 Bani Umayyah, yakni Malik ibn Marwan (685-705 M). Kota-kota Antioch, Alexandria, dan Bactra lalu menjadi pusat ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani. Di samping ketiga kota pusat pengetahuan dan filsafat Yunani. Di samping ketiga kota pusat pengetahuan tersebut, pada abad III M di kota Yundishapur yang terletak di barat daya Baghdad telah terdapat rumah sakit, akademi kedokteran dan filsafat dalam bahasa Yunani; Yundishapur ini sebagai kota pusat pengetahuan yang keempat. Jalur difusi ini dipercepat dengan kian banyaknya kaum atau bangsa lain yang masuk Islam. Contohnya adalah Harits ibn Khaladah, seorang dokter beragama Yahudi yang pernah belajar di Yundishapur, yang akhirnya memeluk Islam. Demikian pula dengan Ibn Abi Ransiah dari suku Tamim, seorang ahli bedah yang kemudian masuk Islam.
Pada waktu Khalifah al-Mansur sakit pad atahun 765 M, atas nasihat menterinya Khalid ibn Bermak Kepala Rumah Sakit Yundishapur yang bernama Circis ibn Buchtishu yang beragama Kristen dipanggil untuk mengobatinya. Konon, ia juga diminta untuk mengajarkan ilmu kedokteran di Baghdad. Meskipun ia seorang Kristen, ia mendapatkan penghormatan dna perlakuan baik dari penduduk Baghdad ataupun dari khalifah sendiri. Tanpa memandang agama yang dipeluknya, ahli-ahli ilmu pengetahuan diundang ke istana khalifah untuk bekerja sama dengan mendapat hadiah. Ini adalah sebagian dari contoh kontak difusi.
Adapun jalur erutorium atau pustaka ditandai dengan upaya penerjemahan buku-buku pengetahuan dan filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab, dan ini terlaksana terutama sekali saat Bani Abbasiyah memegang kendali pemerintahan. Beberapa khalifah yang mendukung upaya ini adalah Harun al-Rasyid, al-Makmun, dan al-Mansur. Di masa Harun al-Rasyid didirikan Bait al-Hikmah yang merupakan perpustakaan sekaligus lembaga pendidikan yang bersifat internasional. Di dalamnya tidak hanya terdapat koleksi buku-buku agama Islam dan bahasa Arab, tetapi juga bermacam-macam buku umum yang berasal dari terjemahan bahasa Yunani, Persia, India (bahasa Sanskrit), Qibti, dan Arami. Sistem sirkulasi buku di Bait al-Himkah ini telah dilaksanakan begitu rapi, dengan arsitektur bangunan, penerjemah, penulis, penjilid, dan pengunjung, di samping telah berlakunya sistem keuangan dan pembukuan yang tertib. Selain berfungsi sebagai perpustakaan internasional, Bait al-Himkah ini juga merupakan sekolah internasional karena di dalamnya terdapat pusat kajian pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu dan beragam pelajar yang berasal dari berbagai disiplin ilmu dan beragam pelajaran yang berasal dari berbagai kota atau negara lain. Prestasi Harun al-Rasyid dengan Bait al-Himkah ini, meskipun setelah masa kemundurannya tidak berkembang lebih lanjut, adalah akibat faktor konflik politik internal, dan lagi-lagi akibat imperialisme dunia Barat ke berbagai negara Islam. Namun, satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa Harun al-Rasyid beserta penerusnya telah berjasa melanjutkan konsep Plato tentang penyelenggaraan pendidikan oleh negara, ke dalam bentuk internasionalisasi pendidikan. Kalau Plato telah mengawali pemikiran tentang perlunya penyelenggaraan pendidikan.
Comenius, seorang tokoh dari Moravia, berusaha untuk mendirikan sekolah internasional yang akan diberi nama Pansophia. Sekolah ini diharapkan mampu menyelenggarakan pendidikan dan memberikan segala macam ilmu dengan harapan terwujudnya kebajikan. Para sarjana di dunia diharapkan dapat bekerja sama di perguruan tinggi tersebut untuk menciptakan perdamaian yang abadi dan universal. Sesuai dengan zamannya yang belum meyakinkan terhadap usaha perdamaian semacam itu, cita-cita Comenius pun hanya dapat berkembang sebatas utopia.
Perjalanan ide perlunya dibentuk sekolah internasional ini terus bergulir. March Antoine de Paris, pada tahun 1817 muncul sebagai perintis pengembangan pendidikan perbandingan sebagai ilmu. Ia mengusulkan kepada raja agar didirikan sebuah komisi yang bersifat internasional. Menurutnya komisi tersebut bertugas mengumpulkan data tentang pendidikan diberbagai negara di Eropa, untuk kemudian data tersebut dijadikan sebagai bahan informasi bagi negara-negara. Diharapkan setelah mengetahui pendidikan di negara lain tersebut, dapat timbul saling pengertian dan kerja sama antar bangsa.
BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Adanya kaitan yang sangat erat antara perbandingan pendidikan, sejarah pendidikan, pendidikan nasional, dan pendidikan Internasional. Dengan menggunakan ilmu perbandingan pendidikan sebagai alat untuk mempelajari ketiga variabel di atas, dapat disimpulkan bahwasanya pendidikan nasional lahir dari sejarah pendidikan di masa lampau, dan perkembangan pendidikan masa kini yang dintaranya dipengaruhi oleh perkembangan pendidikan internasional dimana nilai-nilai yang ada didalamnya sesuai dengan pemikiran bangsa Indonesia.
Tujuan dari mempelajari Perbandingan Pendidikan, Sejarah Pendidikan, Pendidikan Nasional, Pendidikan Internasional bagi bangsa Indonesia adalah untuk mengembangkan kualitas SDM sedini mungkin, terarah, terpadu dan menyeluruh melalui berbagai upaya. Dari tujuan tersebut diharapkan pelaksanaan pendidikan di Indonesia menghasilkan peserta didik yang memiliki kualitas SDM yang mantap. Relevansi Perbandingan Pendidikan, Sejarah Pendidikan, Pendidikan Nasional dan 18 Pendidikan Internasional  
DAFTAR PUSTAKA

Barnadib, Sutari Imam.1983.Sejarah pendidikan. Andi Offset : Yogyakarta
Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo.2005. Pengantar Pendidikan.Rineka Cipta: Jakarta

Terima kasih atas waktunya untuk membaca Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Disiplin Belajar Siswa ini, dengan harapan semoga artikel Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Disiplin Belajar Siswa ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Disiplin Belajar Siswa terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Disiplin Belajar Siswa » Makalah