KEBIASAAN JELEK DALAM MENYIMAK

MAKALAH
PENGANTAR KETERAMPILAN MENYIMAK
“KEBIASAAN JELEK DALAM MENYIMAK”


KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Allah SWT pemakalah panjatkan karena berkat rahmat dan hidayahnya lah sehingga pemakalah bisa menyeleseikan makalah ini. Sholawat beriringan salam tak lupa pula kita bingkiskan buat arwah junjungan alan yakni Nabi besar Muhammad saw, karena berkat beliaulah yang membawa kita dari alam kebodohan. Kejahiliyahan menuju alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti apa yang kita rasakan pada saat ini.
Penulis mengucapkan maaf atas kesalahan dan kekhilafan dalam penulisan dan bahasa dalam makalah ini, Semoga makalah ini bermanfaat untuk kita semua dan dapat diambil pelajaran dan hikmahnya.

Hormat kami


penyusun

DAFTAR ISI



BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Tujuan kami menyusun makalah yang berjudul. “Kebiasaan jelek dalam menyimak” ini adalah agar kita mengetahui apa saja yang terdapat dalam kebiasaan jelek dalam menyimak.

1.2 Rumusan Masalah
Pada dasarnya kebiasaan jelek dalam menyimak juga sangat perlu kita terangi kita pelajari walau berlawanan dengan kegiatan menyimak yang baik.


BAB II
PEMBAHASAN

KEBIASAAN JELEK DALAM MENYIMAK

Beberapa telaah bandingan serta wawancara dengan beratus-ratus orang, yang pernah dilakukan oleh Dr. Nichols, membuat beliau sampai pada kesimpulan adanya sepuluh kebiasaan jelek yang secara universal bekerja menentang atau berlawanan dengan kegiatan menyimak yang baik. Berikut ini akan diperbincangkan secara singkat setiap kebiasaan yang jelek itu akan diperbincangkan secara singkat setiap kebiasaan jelek itu dan kalau mungkin mengemukakan saran-saran untuk mengatasinya.
2.1 Menyimak Lompat Tiga (Hop-Skip-End-Jump Listening)
Kata-kata orang berbicara dengan kecepatan kira-kira 125 kata per menit. Ada untungnya bila berpikir pun diukur pula dalam kata-kata per detik, sebab dengan demikian akan ternyata bahwa kebanyakan dari kita dapat berpikir dengan mudah dengan kecepatan empat kali berbicara tadi. Dan ternyata amat susah sekali, bahkan menyakitkan hati, mencoba memperlambat kecepatan berpikir kita. Oleh karena itu, maka kita mempunyai kira-kira 400 kata per menit berpikir untuk menghadapi orang yang berbicara kepada kita.
Apakah yang akan kita perbuat dengan kelebihan waktu berpikir kita sementara seseorang berbicara kepada kita? Baiklah, kita mulai menyiak baik-baik, tetapi kemudian secara tidak sadar kita melihat bahwa (masih), ada waktu yang terluang. Dengan demikian pikiran kita pun beralih kepada sesuatu yang lain sejenak, kemudian menyerbu kembali cepat-cepat kepada si pembicara. Penjajahan-penjajahan singkat sampingan pikiran tersebut akan berlangsung terus sampai pikiran kita terpaku, tertahan terlalu lama pada beberapa subyek yang menarik tetapi tidak relevan. Maka kemudian, tatkala pikiran-ikiran kita kembali kepada orang yang berbicara, kita pun mendapati bahwa dia telah jauh meninggalkan kita. Dan bertambah sukarlah kini mengikutinya, dan ..... semakin mudah bagi pikiran kita melakukan penjelajahan-penjelajahan sampingan tadi. Akhirnya, kita pun berhentilah menyimak; orang itu tetap berbicara, tetapi pikiran kita melayang ke dunia lain.
Penyimak yang baik akan menghindari petualangan-petualangan mental ini. Dia akan mempergunakan kecepatan berikutnya untuk mendapatkan keuntungan; dia akan tetap memerankan waktu berpikirnya kepada segala sesuatu yang dikatakan oleh si pembicara. Hal-hal tersebut di atas tidaklah mudah dilaksanakan kalau kita tidak mempunyai suatu pola pikiran tertentu yang harus diikuti; dan untuk mengembangkan pola seperti itu maka kita pun hendaklah:
a) Mencoba mengetahui terlebih dahulu apa yang akan dikatakan oleh si pembicara. Berdasarkan apa yang telah dikatakannya itu, tanyalah diri kita sendiri; “Apakah yang hendak ditemukan oleh si pembicara? Maksud apa yang hendak dicapainya?”
b) Merangkumkan secara mental apa yang dikatakan oleh si pembicara. Tujuan apakah yang telah tercapai oleh si pembicara, kalau ada?
c) Mempertimbangkn keterangan si pembicara dengan jalan menyatakannya secara mental. Kalau si pembiacara mengemukakan fakta-fakta, cerita-cerita ilustratif, dan statistik, tentang diri kita sendiri: apakah fakta-fakta itu tepat? Apakah fakta-fakta itu datang dari sumber yang bebas dari prasangka? Apakah saya memperoleh gambaran yang utuh, atau apakah dia hanya menceritakan hal-hal yang dapat menunjangan pendapatannya?
d) Mendengarkan yang “tersirat”. Segala sesuatu tidak perlu dinyatakan dengan kata-kata. Perubahan nada suara, gerak-gerik tangan, mimik, mungkin saja mengandung makna tertentu.
2.2 Menyimak “Daku Dapat Fakta’ (“Iget Facts” Listening)


2.3 Noda-Noda Ketulian Emisional (Emosional Deaf Spots)

2.4 Menyimak Supersensitif


2.5 Menghindari Penjelasan-Penjelasan Yang Sulit

2.6 Penolakan Secara Gegabah Terhadap Sesuatu Subyek Sebagai Yang Tidak Menarik Perhatian.


2.7 Mengkritik Cara Berpidato dan Penampilan Fisik Seseorang Pembicara

2.8 Perhatian Pura-Pura

2.9 Menyerah Kepada Gangguan


2.10 Menyimak dengan Pensil dan Kertas di Tangan





BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Kebiasaan jelek dalam menyimak adalah, kebiasaan seseorang yang secara tidak sadar telah membuang waktu, dan pikirannya beralih pada sesuatu yang lain.

3.2 Kritik dan Saran
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Dan kami pun sadar makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka dari pada itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan, terima kasih dan wassalam.


DAFTAR PUSTAKA

Tarigan, Hanry Guntur. 1986. Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, Angkasa Bandung
Terima kasih atas waktunya untuk membaca KEBIASAAN JELEK DALAM MENYIMAK ini, dengan harapan semoga artikel KEBIASAAN JELEK DALAM MENYIMAK ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel KEBIASAAN JELEK DALAM MENYIMAK terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : KEBIASAAN JELEK DALAM MENYIMAK » Makalah