Selamat Datang di emakalah.com

Semoga Anda dapat menemukan apa yang anda cari,

dan semoga emakalah.com dapat bermanfaat bagi Anda

Untuk keluar dari menu/halaman ini silahkan klik LIKE / SUKA

..

REMAJA DAN PERMASALAHANNYA

REMAJA DAN PERMASALAHANNYA

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkah dan rahmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul " Remaja dan Permasalahannya” tepat pada waktunya.
Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1) Kepada Ibu Rafius M.Pd selaku Guru Pembimbing yang telah memberikan masukan kepada penulis.
2) Kedua orang tua yang telah memberikan bantuan secara moril dan materil.
3) Rekan-rekan kelas 9H yang telah banyak memberikan informasi kepada penulis. Penulis menyadari masih terdapat kekurangan pada karya ilmiah ini. Maka darl itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Semoga karya ilmiah ini dapat berguna bagi para pembaca.



Penulis,


DAFTAR ISI






BAB I
PENDAHULUAN


Tugas utama seorang remaja adalah beiajar hidup mandiri. Suatu hari nanti mereka harus terbang meninggalkan sarangnya dan harus dapat hidup tanpa bantuan Papa dan Mama. Tugas orang tua adalah untuk tidak terus menjaga (memanjakan) anak yang mereka cintai itu, tetapi justru membantu menjadi mandiri. Sang remaja juga harus belajar bagaimana hidup tak bergantung pada orang tuanya.
Pada tahap membesarkan anak remaja, bantuan sangat diperlukan karena orang tua sedang menentukan standar bagi generasi berikutnya. Tidak seorang anak pun dibesarkan dengan kesan bahwa ibu boleh dianggap sebagai pembantu. Hal mil benar-benar bertentangan dengan ruh keislaman, dimana ibu ditempatkan sebagai orang yang terpenting dalam kehidupan seseorang.
Masa remaja seringkali dihubungkan dengan mitos mengenai penyimpangan dan ketidak wajaran. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya teori-teori perkembangan yang membahas ketidakselarasan, gangguan emosi, dan gangguan perilaku sebagai akibat dari tekanan-tekanan yang dialaml remaja karena perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya maupun akibat perubahan lingkungan.
Sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri remaja, mereka juga dihadapkan pada tugas-tugas yang berbeda dari tugas pada masa kanak-kanak. Sebagaimana diketahui, dalam setiap fase perkembangan, termasuk pada masa remaja, individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi. Apabila tugas-tugas tersebut berhasil diselesaikan dengan baik, maka akan tercapai kepuasan, kebahagian dan penerimaan dari lingkungan. Keberhasilan individu memenuhi tugas-tugas itu juga akan menentukan keberhasilan individu memenuhi tugas-tugas perkembangan pada fase berikutnya.
Faktanya, pertentangan dan pemberontakan adalah bagian alamiah dari kebutuhan para remaja untuk menjadi orang dewasa yang mandiri.
Sebenarnya, aspek pemberontakan dan pertentangan anak muda ini, lantas dapat disalurkan ke dalam Islam yang aktif dan kreatif, yang tidak mengenal kompromi dengan nilai-nilai korup yang terdapat dalam masyarakat dan para pemimpinnya.

1.2 Rumusan Masalah
Menurut latar belakang masalah yang sudah dipaparkan, maka dapat dirumuskan suaw masalah "Apa dan bagaimana cam pemecahan masalah remaja?"

1.3 Tujuan Penulis
Karya ilmiah ini bertujuan untuk menghimbau para remaja agar:
 Hormatilah orang tua karena beiiaulah yang telah membesarkan, mendidik, memenuhi kebutuhan kita, dan sebagainya.
 Tidak larut dengan kebebasan yang mereka inginkan.

1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai pedoman bagi para remaja khususnya dan pembaca. Semoga bermanfaat bagi kitasemua. Amin......

BAB II
PEMBAHASAN

Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupaa masusia yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia ii tahun. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah bisa dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa.
Hurlock (1973) memberi batasan masa remaja berdasarkan usia kronologis, yaitu
antara 13 hingga 18 tahun. Sejalan dengan itu menurut Thornburgh (1982), batasan usia tersebut adalah batasan tradisional, sedangkan aliran kontemporer membatasi usia remaja antara 11 hingga 22 tahun.
Perubahan sosial seperti adanya kecenderungan anak-anak pra-remaja untuk
berperilaku sebagafmana yang ditunjukan remaja membuat penganut aliran kontemporer memasukan mereka dalam kategori remaja. Adanya peningkatan kecenderungan para remaja untuk melanjutkan sekolah atau mengikuti pelatihan kerja (magang) setamat SLTA, membuat individu yang berusia 19 hingga 22 tahun juga dimasukkan dalam golongan remaja, dengan pertlimmbangan bahwa pembentukan identitas diri remaja masih terus berlangsung sepanjang rentang usia tersebut.
Lebih lanjut, Thornburgh membagi usia remaja menjadi tiga kelompok, yaitu:
a. Remaja awal : antara 11 hingga 13 tahun
b. Remaja pertengahan : antara 14 hingga 16 tahun
c. Remaja akhir : antara 17 hingga 19 tahun.


Pada usia tersebut, tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:
1. Mencapai hubungan yang baru dan lebih masak dengan teman sebaya baik sesama jenis maupun lawan jenis.
2. Mencapai peran sosial maskulin dan feminin.
3. Menerima keadaan f sik dan dapat mempergunakannya secara efektif.
4. Mencapai kemandirian secara emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya.
5. Mencapai kepastian untuk mandiri secara ekonomi.
6. Memilih pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja.
7. Mempersiapkan din untuk memasuki perkawinan dan kehidupan keluarga.
8. Mengembangkan kemampuan dan konsep-konsep intelektual untuk tercapainya kompetensi sebagai warga negara.
9. Menginginkan dan mencapai perilaku yang dapat dipertanggung jawabkan secara sosial -
10. Memperoleh rangkaian sistem nilai dan etika sebagai pedoman perilaku.

2.2 Perkembangan Remaja
Perkembangan pada remaja merupakan proses untuk mencapai kemasakan dalam berbagai aspek sampai tercapainya tingkat kedewasaan. Proses ini adalah sebuah proses yang memperlihatkan hubungan erat antara perkembangan aspek fisik dengan psikis pada remaja.
1. Perkembangan fisik remaja
Menurut Imran (1998) masa remaja diawali dengan masa pubertas, yaitu masa terjadinya perubahan-perubahan fisik (meliputi penampilan fisik seperti bentuk tubuh dan proporsi tubuh) dan fungsi fisiologis (kematangan organ-organ seksual). Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas ini merupakan peristiwa yang paling penting, berlangsung cepat, drastis, tidak beraturan dan terjadi pada sisitem reproduksi. Hormon¬hormon mulai diproduksi dan mempengaruhi organ produksi untuk memulai sikius reproduksi serta mempengaruhi terjadinya perubahan tubuh. Perubahan tubuh ini disertai dengan perkernbangan bertahap dari karakteristik seksual primer dan karakteristik seksual sekunder. Karakteristik seksual primer mencakup perkembangan organ-organ reproduksi, sedangkan karakteristik seksual sekunder mencakup perubahan dalam bentuk tubuh sesuai dengan jenis kelamin, misalnya, pada remaja putri ditandai dengan menarche (menstruasi pertama), tumbuhnya rambut-rambut pubis, pembesaran buah dada dan pinggul. Sedangkan pada remaja putra mengalami pollutio (mimpi basah pertama), pembesaran suara, tumbuh rambut-rambut pubis, tumbuh rambut pada bagian tertentu seperti di dada, di kaki, kumis dan sebagainya.
Menurut Mussen dkk. (1979) sekitar dua tahun pertumbuhan berat dan tinggi badan mengikuti perkembangan kematangan seksual remaja. Anak remaja putri mulai mengalami pertumbuhan tubuh pada usia rata-rata 8-9 tahun, dan mengalami menarche rata-rata pada usia 12 tahun. Pada anak remaja puira mulai menunjukan perubahan tubuh pada usia sekitar 10-11 tahun, sedangkan perubahan suara terjadi pada usia 13 tahun (Katchadurian, 1989). Penyeblb terjadi makin awalnya tanda-tanda pertumbuhan ini diperkirakan karena faktor gizi yang semakin baik, rangsangan dari lingkungan, iklim, dan faktor sosio ekonomi (Sarwono, dalam JEN,1998).
Pada masa pubertas, hormon-hormon yang mulai berfungsi selain menyebabkan perubahan fisik/tubuh juga mempengaruhi dorongan seks remaja. Menurut Bourgeois dan Wolfish (1994), remaja mulai merasakan dengan jelas meningkatnya dorongan seks dalam dirinya, misalnya muncul ketertarikan dengan orang lain dan keinginan untuk mendapatkan kepuasan seksual.

2.3 Faktor yang Menjadi Masalah dan Cara Mengatasinya
Beberapa faktor yang menjadi masalah pada remaja :
1. Adanya perubahan-perubahan biologis, moral, dan psikologis yang sangat pesat pada masa remaja yang akan memberikan dorongan tertentu yang sifatnya sangat kompleks.
Dimensi Biologis
Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi pertama pada remaja putri ataupun perubahan suara pada remaja putra, secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untukberproduksi.

Dimensi Moral
Masa remaja adalah periode dimana seseorang muiai bertanya-tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri m"ereka. Elliot Turiel (1978) menyatakan bahwa para remaja mulai membuat penilaian tersendiri dalam menghadapi masalah-masalah populer yang berkenaan dengan lingkungan mereka, misalnya politik, kemanusiaan, perang, keadaan sosial, dan sebagainya. Remaja tidak lagi menerima hasil pemikiran yang kaku, sederhana, dan absolut yang diberlkau pada mereka selama ini tanpa bantahan. Remaja mulai mempertanyakan pemikiran yang sda dan mempertimbangan lebih banyak alternatif lainnya. Secara kritis, remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan kepadanya. Sebagian besar para temaja mulai melihat adanya "kenyataan" lain di luar dari yang selama ini diketahui dan dipercayainya. Ia akan melihat bahwa ada banyak aspek dalam melihat hidup dan beragam jenis pemikiran yang lain. Baginya dunia menjadi lebih luas dan seringkali membingungkan, terutama jika ia terbiasa dididik dalam suatu lingkungan tertentu saja selama masa kanak-kanak.
Kemampuan berpikir dalam dimensi moral (moral reasoning) pada remaja berkembang karena mereka mulai melihat adanya kejanggalan dan, ketidakseimbangan antara yang mereka percayai dahulu dengan kenyataan yang ada di sekitarnya. Mereka lalu merasa perlu mempertanyakan dan merekonstruksi pola pikir dengan "kenyataan" yang baru. Perubahan inilah yang seringkali mendasari sikap "pemberontakan” remaja terhadap peraturan atau otoritas yang selama ini diterima bulat-bulat. Misalnya, jika sejak kecil pada seorang anak diterapkan sebuah nilai moral yang mengatakan bahwa korupsi itu tidak baik. Pada masa remaja ia akan mempertanyakan mengapa dunia sekehlingnya membiarkan korupsi itu tumbuh subur bahkan sangat mungkin korupsi itu dinilai baik dalam suatu kondisi tertentu. Hal Ini tentu saja akan menimbulkan konflik nilai bagi sang remaja. Konflik nilai dalam diri remaja ini lambat laun akan menjadi sebuah masalah besar, jika remaja tidak menemukan jalan keluarnya. Kemungkinan remaja untuk tidak lagi mempercayai nilai-nilai yang ditanamkan oleh orangtua atau pendidik sejak masa kanak-kanak akan sangat besar jika orangtua atau pendidik tidak mampu memberikan penjelasan yang logis, apalagi jika lingkungan sekitarnya tidak mendukung penerapan nilai-nilai tersebut. Peranan orangtua atau pendidik amatlah besar dalam memberikan alternatif jawaban dari hal-hal yang dipertanyakan oleh putra-putri remajanya. Orangtua yang bijak akan memberikan lebih dari satu jawaban dan alternatif supaya remaja itu bisa berpikir lebih jauh dan memilih yang terbaik. Orangtua yang tidak mampu memberikan penjelasan dengan bijak dan bersikap kaku akan membuat sang remaja tambah bingung. Remaja tersebut akan mencari jawaban di luar lingkaran orangtua dan nilai yang dianutnya. Ini bisa menjadi berbahaya jika "lingkungan baru" memberi jawaban yang tidak diinginkan,atau bertentangan dengan yang diterikan oleh orangtua. Konflik dengan orangtua mungkin akan mulai menajam.

Dimensi Psikologis
Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di Chicago oleh Mihalyi Csikszentmihalyi dan Reed Larson (1984) menemukan bahwa remaja rata rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood "senang luar biasa" ke "sedih luar biasa", sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama. Perubahan mood (swing) yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di nimah. Meski mood remaja yang mudah berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis. Dalam hal kesadaran diri, pada masa remaja para remaja mengalami perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri mereka (self-awareness). Mereka sangat rentan terhadap pendapat orang lain karena mereka menganggap bahwa orang lain sangat mengagumi atau selalu mengkritik mereka seperti mereka mengagumi atau mengkritik diri mereka sendiri. Anggapan itu membuat remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang direfieksikan (self-image). Remaja cenderung untuk menganggap diri mereka sangat unik dan bahkan percaya keunikan mereka akan berakhir dengan kesuksesan dan ketenaran. Remaja putri akan bersolek berjam jam di hadapan cermin karena ia percaya orang akan meiirik dan tertarik pada kecantikannya, sedang remaja putra akan membayangkan dirinya dikagumi lawan jenisny$ jika ia terlihat unik dan "hebat". Pada usia 16 tahun ke atas, keeksentrikan remaja akan berkurang dengan sendirinya jika ia sering dihadapkan dengan dunia nyata. Pada saat itu, Remaja akan mulai sadar bahwa orang lain tenyata memiliki dunia tersendiri dan tidak selalu sama dengan yang dihadapi atau pun dipikirkannya. Anggapan remaja bahwa mereka selalu diperhatikan oieh orang 'lain kemudian menjadi tidak berdasar. Pada saat inilah, remaja mulai dihadapkan dengan realita dan tantangan untuk menyesuaikan hnpian dan angan-angan mereka dengan kenyataan.
Para remaja juga sering-menganggap diri mereka serba mampu, sehingga seringkali mereka terlihat “tidak memikirkan akibat" dari perbuatan mereka. Tindakan impulsif sering dilakukan; sebagian karena mereka tidak sadar dan belum bisa memperhitungkan akibat jangka pendek atau jangka panjang. Remaja yang diberi kesempatan untuk mempertangung jawabkan perbuatan mereka, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih berhati-hati, lebih percaya diri, dan aampu bertanggung jawab. Rasa percaya diri dan rasa tanggung jawab inilah yang sangat dibutuhkan sebagai dasar pembentukan jati-diri positif pada remaja. Ketak, ia akan tumbuh dengan penilaian positif pada diri sendiri dan rasa hormat pada orang lain dan lingkungan. Bimbingan orang yang lebih tua sangat dibutuhkan oleh remaja sebagai acuan bagaimana menghadapi masalah itu sebagai "seseorang yang baru"; berbagai nasihat dan berbagai cara akan dicari untuk dicobanya. Remaja akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh para "idola"nya untuk menyelesaikan masalah seperti itu. Pemilihan idola ini juga salah satu topik yang paling sering dipertanyakan oleh individu pada masa remaja adalah masalah "Siapakah Saya?" Pertanyaan itu sah dan normal adanya karena pada masa ini kesadaran diri mereka sudah mulai berkembang dan mengalami banyak sekali perubahan. Remaja mulai merasakan bahwa "ia bisa berbeda" dengan orangtuanya dan memang ada remaja yang ingin mencoba berbeda. Inipun hal yang normal karena remaja dihadapkan pada banyak pilihan. Karenanya, tidaklati mengherankan bila remaja selalu berubah dan ingin selalu mencoba - baik dalam peran sosial maupun dalam perbuatan. Contoh: anak seorang insinyur bisa saja ingin menjadi seorang dokter karena tidak mau melanjutkan atau mengikuti jejak ayahnya. Ia. akan mencari idola seorang dokter yang sukses dan berusaha menyerupainya dalam tingkahlaku. Bila ia. merasakan peran itu tidak sesuai, remaja akan dengan cepat mengganti peran lain yang dira.sakannya "akan lebih sesuai". Begitu seterusnya sampai ia menemukan peran yang ia rasakan "sangat pas" dengan dirinya. Proses "mencoba peran" ini merupakan proses pembentukan jati-diri yang sehat dan juga sangat normal. Tujuannya sangat sederhana; la ingin menemukan jati-diri atau identitasnya sendiri. Ia tidak mau hanya menurut begitu saja keingingan orangtuanya tanpa pemikiran yang lebih jauh.

2. Orang tua dan pendidik kurang siap untuk memberikan informasi yang benar dan tepat waktu karena ketidak tahuannya.
Fungsi orang tua sangatlah penting dalam mengikuti perkembangan remaja. Dalam kebudayaan timur, masih banyak orangtua yang menganggap anak adalah milik orangtua, padahal seperti yang dituliskan oleh Khalil Gibran; Anak Hanya Titipan Sang Pencipta. ia bukan kepanjangan tangan orangtua. Ia berhak memiliki kehidupannya sendiri, menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Tentu saja peran orangtua sangat besar sebagai pembimbing. Dalam usia remaja, kemampuan penentuan diri inilah yang semestinya dilatih. Remaja seperti juga semua manusia lainnya - belajar dari kesalahan. Bagi para orangtua ada baiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Mulailah menganggap anak remaja sebagai teman dan akuilah ia sebagai orang yang akan berangkat dewasa. Seringkali orangtua tetap memperlakukan anak remaja mereka seperti anak kecil, meskipun mereka sudah berusaha menunjukkan bahwa keberadaan mereka sebagai calon orang dewasa.
2. Hargai perbedaan pendapat dan ajaklah berdiskusi secara terbuka. Nasihat yang berbentuk teguran atau yang berkesan menggurui akan tidak seefektif forum diskusi terbuka. Tidak ada yang lebih dihargai oleh para remaja selain sosok orangtua bijak yang bisa dijadikan teman.\
3. Tetaplah tegas pada nilai yang anda anut walaupun anak remaja anda mungkin memiliki pendapat dan nilai yang berbeda. Biarkan nilai anda menjadi jangkar yang kokoh di mana anak remaja anda bisa berpegang kembali setelah mereka lelah membedakan dan mempertanyakan alternatif nilai yang lain. Larangan yang kaku mungkin malah akan menyebabkan sikap pemberontakan dalam diri anak anda.
4. Jangan malu atau takut berbagi masa remaja anda sendiri. Biarkan mereka mendengar dan belajar apa yang mendasari perkembangan diri anda dari pengalaman anda. Pada dasarnya, tidak ada anak remaja yang ingin kehilangan orangtuanya.
5. Mengertilah bahwa masa remaja untuk anak anda adalah masa yang sulit. Perubahan mood sering terjadi dalam durasi waktu yang pendek, jadi anda tidak perlu panik jika anak remaja anda yang biasanya riang tiba-tiba bisa murung dan menangis lalu tak lama kemudian kembali riang tanpa sebab yang jelas.
6. Jangan terkejut jika anak anda bereksperftnen dengan banyak hal, misalnya mencat rambutnya menjadi biru atau ungu, memakai pakaian serba sobek, atau tiba-tiba ber bungee jumping ria. Selama hal-hal itu tidak membahayakan, mereka layak mencoba masuk-ke dalam dunia yang berbeda dengan dunia mereka saat ini. Berikanlah nmng pada mereka untuk mencoba berbagai peran yang cocok bqgi masa depan mereka. Ada remaj a yang menurut tanpa membantah keinginan asangtua mereka dalam menentukan peran mereka, misalnya jika kakek sudah dokter, ayah dokter, kelak iapun "diharapkan dan disiapkan" untuk menjadi dokter pula. Namun ada juga anak remaja yang memang tidak ingin masuk ke dalam dunia yang sama dengan orangtua mereka. Dalam hal ini janganlah memaksakan anak mengilcuti kehendak orangtua. Seperti Kahlil Gibran ....anak hanya tidpan, ia milik masa de-pan dan kita milik masa lalu.
7. Kenali teman-teman anak remaja anda. Bertemanlah dengan mereka jika itu memungkinkan. Namun waspadalah jika anak anda sangat tertutup dengan dunia remajanya. Mungkin ia tidak atau kurang mempercayai anda atau ada yang disembunyikannya.

3. Perbaikan gizi yang menyebabkan menais menjadi lebih dini. Banyaknya kejadian kawin muda terutama didaerah pedesaan. Sebaiknya di kota, kesempatan untuk bersekolah dan bekerja menjadi lebih terbuka bagi wanita dan usia kawin makin bertambah. Kesenjangan antara menais dan umur kawinyang panjang, apalagi dalam suasana pergaulan yang makm bebas tidak jarang menimbulkan masalah bagi remaja.
Menurut Mussen dkk. (1919) sekitar dua tahun pertumbuhan berat dan tinggi badan mengikuti perkembangan kematangan seksual remaja. Anak remaja putri mulai mengalami pertumbuhan tubuh pada usia rata-rata $-9 tahun, dan mengalami menarche rata-rata pada usia 12 tahun. Pada anak remaja putra mulai menunjukan perubahan tubuh pada usia sekitar 10-11 tahun, sedangkan perubahan suara terjadi pada usia 13, tahun (Katchadurian, 1989). Penyebab terjadi makin awalnya tanda-tanda pertumbuhan ini diperkirakan karena faktor gizi yang semakin baik, rangsangan dari lingkungan, iklim, clan faktor sosio-ekonomi (Sarwono, dalam JEN, 1998).

Pada masa. pubertas, hormon-hormon yang mulai berfungsi sglain menyebabkan perubahan fisik/tubuh juga mempengaruhi dorongan selcs remaja. Menurut Bourgeois dan Wolfish (1994) remaja mulai merasakan dengan jelas meningkatnya dorongan seks dalam dirinya, misalnya muncul ketertarikan dengan orang lain dan keinginan untuk mendapatkan kepuasan seksual.

4. Membaiknya sarana komunikasi dan transportasi akibat kemajuan teknologi menyebabkan membanjirkan arus informasi dari luar yang sulit sekali diseleksi.

Perkembangan teknologi membawa efek positif dan negatif. Elkind dan Postman (1990) menyebutkan tentang fenomena akhir abad duapuluh, yaitu berkembangnya kesamaan perlakuan dan harapan terhadap anak-anak dan orang , dewasa. Anak-anak masa kini mengalami banjir stres yang datang dari perubahan sosial yang cepat dan membingungkan serta harapan masyarakat yang menginginkan mereka melakukan peran dewasa sebelum mereka masak secara psikologis untuk menghadapinya. Tekanan-tekanan tersebut menimbulkan akibat seperti kegagalan di sekolah, penyalahgunaan obat-obatan, depresi dan bunuh dm*', keluhan-keluhan somatik dan kesedihan yang kronis.
Lebih lanjut dikatakan bahwa masyarakat pada era teknologi maju dewasa ini membutuhkan orang yang sangat kompeten dan trampil untuk mengelola teknologi tersebut. Ketidakmampuan remaja mengikuti perkembangan teknologi yang demikian cepat,dapat membuat mereka merasa gagal, malu, kehilangan harga diri, dan mengalami gangguan emosional.
Bellak (1990) secara khusus membahas pengaruh tekanan media terhadap perkembangan remaja. Menurutnya, remaja masa kini dihadapkan pada lingkungan dimana segala sesuatu berubah sangat cepat. Mereka dibanjiri oleh informasi yang terlalu banyak dan terlalu cepat untuk diserap dan dimengerti. Semuanya terus bertumpuk hingga mencapai apa yang disebut information overload (Googie 2009). Akibatnya timbul perasaan terasing, keputusasaan, absurditas, problem identitas dan masalah-masalah yang berhubungan dengan benturan budaya.
Tugas-tugas perkgmbangan pad,a masa remaja yang disertai oleh berkembangnya kapasitas intelektual, stres dan harapan-harapan baru yang dialami remaja membuat mereka mudah mengalami gangguan ba,ik berupa gangguan pikiran, perasaan maupun gangguan perilaku. Stres, kesedihan, kecemasan, kesepian, keraguan pada dirt remaja membuat mereka mengambil resiko dengan melakukan kenakalan.
Uraian di atas memberikan gambaran betapa majemuknya masalah yang dialarni remaja masa kini. Tekanan-tekanan sebagai akibat perkembangan fisiologis pada masa. remaja, ditambah dengan tekanan akibat perubahan kondisi sosial budaya serta perkembangan iimu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat seringkali mengakibatkan timbulnya masalah-masalah psikologis berupa gangguan penyesuaian diri atau ganguan perilaku. Beberapa bentuk gangguan perilaku ini dapat digolongkan dalam delinkuensi.

Kurangnya pemanfaatan penggunaan sarana untuk menyalurkan gejolak remaja. Perlu adanya penyaluran sebagai subtitusi yang bersifat positif kearah pg bangan keterampilan yang mengandung unsur kecepatan dan kekua.tan, misalnya olahraga.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa betapa banyaknya masalah pada remaja, names dmgan keimanan yang kuat pada remaja dan didukung oleh keharmonisan rumah dan dudukung oleh lingkungan yang sehat, Insya Allah masalah tersebut dapat diatasi.

32 Saran

Perlu pengkajian lebih lanjut mengenai masalah-masalah remaja di zaman sekarang, d~ faktor teknologi sangat mendukung remaja melakukan kesalahan.


DAFTAR PUSTAKA


Dalam www.google.com diakses tanggal 27 Januari 2010
Doi, Women in Shariah. London: Taha.
Hurlock, elizabeth (terj.) Istiwidayanti,1999). Psikologi Perkembangan Edisi kelima. Jakarta. Erlangga.
Maqsood. R.W. 1997. Mengantar Remaja Ke Surga. Penerbit Kelompok Mizan Al-Bayan. Jakarta.
Monks, F.J dan A.M.P Knoers. 2001. Yogyakarta. Gadjah Mada University
Prayitno. Layanan Konseling Perorangan. Padang. Jurusan BK FIP UNP.
Remaja dan permasalahannya. Dalam www.goolge.com diakses tanggal Januari 2010.
Sanrock, John VV. 1983. Life-Span Development Perkembangan Masa Hidup. (terj. Achmad Chusairi dan Juda Damanik, 2002. Jakarta. Erlangga.
Sakanto. S. Prof. Dr. 1985. Remaja dan masalah-masalahnya. Penerbit PT BPK Cnmung Mulia dan Yayasan Kanisius. Cetakan kelima. Jakarta.
Yajranyanavarorasa, H.R.H. 1989. The Late Supreme Patriarch, Prince, Navakoda, alih bahasa: Bhikkhu Jeto. Yayasan Dhammadipa Arama. Cetakan kedua. Jakarta.
............, Poritta Suci. 1994. Yayasan Dhammadipa Arama. Cetakan Ketujuh. Jakarta.
WS Winkel. 1985. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta Gramedia.
Terima kasih atas waktunya untuk membaca REMAJA DAN PERMASALAHANNYA ini, dengan harapan semoga artikel REMAJA DAN PERMASALAHANNYA ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel REMAJA DAN PERMASALAHANNYA terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : REMAJA DAN PERMASALAHANNYA » Makalah