GANGGUAN BERBAHASA

GANGGUAN BERBAHASA

Proses berbahasa dimulai dengan enkode semantik, enkode gramatika dan enkcode fonologi. Enkode semantika dan enkode gramatika berlangsung dalma otak, sedangkan enkode bicara yang melibatkan sistem saraf otak (neuromiskuler) berbicara dari otot tenggorokan, otot lidah, otot bibir, mulut, langit-langit, rongga hidung pita suara, dan paru-paru. Karena itu, dapat dikatakan bahwa berbahasa adalah proses mengeluarkan pikiran dan perasaan (Dari otak) secara lisan, dalam bentuk kata-kata atau kalimat-kalimat.
Manusia yang normal fungsi otak dan alat bicaranya, tentu dapat berbahasa dengan baik. Namun, mereka yang memiliki kelainan fungsi otak dan alat bicaranya, tentu mempunyai kesulitan dalam berbahasa, baik produktif maupun reseptif.
Secara medis menurut Sidharta (1984) gangguan berbahasa itu dapat dibedakan atas tiga golongan, yaitu
1. Gangguan Berbicara
Gangguan berbicara ini dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori. Pertama, gangguan mekanisme berbicara yang berimplikasi pada gangguan organik; dan kedua, gangguan berbicara psikogenik.
a. Gangguan Mekanisme Berbicara
Mekanisme berbicara adalah suatu proses produksi ucapan (perkataan) oleh kegiatan terpadu dari pita suara, lidah, otot-otot yang membentuk rongga mulut serta kerongkongan, dan paru-paru. Maka gangguan berbicara berdasarkan mekanismenya ini dapat dirinci menjadi gangguan berbicara akibat kelainan pada paru-paru (pulmonal), pada pita suara (laringal), pada lidah (lingual), dan pada rongga mulut dan kerongkonan (resonantal).
1. Ganguan Akibat Faktor Pulmonal
Gangguan berbicara ini dialami oleh para penderita penyakit paru-paru.

2. Gangguan Akibat Faktor Laringal
Gangguan pada pita suara menyebabkan suara yang dihasilkan menjadi serak atau hilang sama sekali.
3. Gangguan Akibat Faktor Lingual
Lidah yang sariawan atau terbuka akan terasa pedih kalau digerakkan. Untuk mencegah timbulnya rasa pedih ini ketika berbicara maka gerak aktivitas lidah itu dikurangi secara semaunya. Dalam keadaan seperti ini maka pengucapan sejumlah fonem menjadi tidak sempurna.
4. Gangguan Akibat Faktor Resonansi
Gangguan akibat faktor resonansi ini menyebabkan suara yang dihasilkan menjadi bersengau. Pada orang sumbing, misalnya suaranya menjadi bersengau (bindeng), karena rongga mulut dan rongga hidung yang digunakan untuk berkomunikasi melalui defek di langit-langit keras (palatum), sehingga resonansi yang seharusnya menjadi terganggu.

b. Gangguan Akibat Multifaktorial
Akibat gangguan multifaktorial atau berbagai faktor bisa menyebabkan terjadinya berbagai gangguan berbicara. Antara lain adalah berikut ini.
1. Berbicara Serampangan
Berbicara serampangan atau sembrono adalah berbicara dengan cepat sekali, dengan artikulasi yang rusak, ditambah dengan “menelan” sejumlah suku kata, sehingga apa yang diucapkan sukar dipahami. Berbicara serampangan ini karena kerusakan di serebelum atau bisa juga terjadi sehabis terkena kelumpuhan ringan sebelah badan
2. Berbicara Propulsif
Gangguan berbicara propulsif biasanya terdapat pada para penderita penyakit parkinson (kerusakan pada otak yang menyebabkan otot menjadi gemetar, kaku, dan lemah). Pada waktu berbicara ciri khas ini akan tampak pula. Artikulasi sangat terganggu karena elastisitas oto lidah. Otot wajah, dan pita suara, sebagian besar lenyap. Dalam pada itu volume suaranya kecil, iramanya datar (menonton). Suaranya mla-mula tersendat-sendat, kemudian terus-menerus, dan akhirnya tersendat-sendat kembali. Oleh karena itu, cara berbicara seperti ini disebut propulsif.
3. Berbicara Mutis (Mutisme)
Penderitaan gangguan mutisme ini tidak berbicara sama sekali. Sebagian dari mereka mungkin masih dapat dianggap membisu, yakni memang sengaja tidak mau berbicara. Mutisme ini sebenarnya bukan hanya tidak dapat berkomunikasi secara verbal saja, tetapi juga tidak dapat berkomunikasi secara visual maupun isyarat, seperti dengan gerak-gerik, dan sebagainya.
Dunia ilmiah sebenarnya belum dapat menjelaskan dengan tepat apa mutisme itu. Oleh karna itu, tak heran kalau kita dapatkan berbagai teori dan anggapan dari berbagai pihak tentang mutisme itu. Oleh karna itu pula, setiap orang yg tidak dapat berkomunikasi verbaldinyatakan sebagai mitistik. Dengan begitu seseorang yang membisu sebagai tindakan protes nonverbal dapat dianggap menderita mutisme histerik, padahal sebenarnya merupakan sindrom konversi histerik. Perwujudan hysteria lain adalah mutisme elektif karna membisunya itu ditujukan kepada orang-orang tertentu saja,misalanya kepada gurunya atau pacarnya. Dewasa ini apa yang dulu di kenal sebagai mutisme akinetik lebih di kenal sebagai locked-in syndrome. Dalam hal ini, si penderita masih hidup karena jantung, paru-paru, ginjal,hati, dan hamper semua organ masih berfungsi.
Mutisme lain yang tidak dapat di sembuhkan di sebut mutisme idiopatik, yakni mutisme yang belum diketahui penyebabnya. Hanya baru diperkirakan mitisme ini mungkin suatu keadaan jiwa yang terganggu sejak dilahirkan ( Sidharta,1982).
Mutisme tidak bisa di samakan dengan orang bisu, apalagi dengan bisu – tuli. Dalam hal kebisuan ini sebenarnya perlu dibedakan adanya tiga macam penderita. Pertama, orang yang bisu karena kerusakan atau kelainan alat artikulasi, sehingga dia tidak bias memproduksi ujaran bahasa ; tetapi alat pendengaranya normal sehingga dia dapat mendengar suara - bahasa orang lain. Kedua, orang yang bisu karena kerusakan, atau kelainan alat pendengarnya, sehingga dia tidak bisa memproduksi ujaran- bahasa dan juga tidak bisa mendengar. Orang golongan ketiga ini menjadi bisu karena dia tidak pernah mendengar ujaran-bahasa orang lai,sehingga dia tidak pernah mendengar ujaran – bahasa itu.
c. Gangguan Psikogenik
Gangguan berbicara psikogenik ini sebenarnya tidak bisa disebut sebagai suatu gangguan berbicara. Mungkin lebih tepat disebut sebagai variasi cara berbicara yang normal, tetapi yang merupakan ungkapan dari gangguan di bidang mental. Modalitas mental yang terungkap oleh cara berbicara sebagian besar ditentukan oleh nada, intonasi, dan intensitas suara, lafal dan pilihan kata. Ujaran yang berirama lancar atau tersendat-sendat dapat juga mencerminkan sikap mental si pembicaraan.
1. Berbicara Manja
Disebut berbicara manja karena ada kesan anak (orang) yang melakukannya meminta perhatian untuk dimanja. Umpanya, kanak-kanak yang baru terjatuh, terluka, atau mendapat kecelakaan, terdengar adanya perubahan pada cara berbicaranya. Fonem atau bunyi [s] dilafalkan sebagai bunyi [c] sehingga kalimat “saya sakit, jadi tidak suka makan, sudah saja, ya” akan diucapkan menjadi “caya cakit, jadi tidak cuka makan, udah caja ya”. Dengan berbicara demikian dia mengungkapkan keinginannya untuk dimanja. Gejala seperti ini kita dapati juga pada orang tua pikun atau jompo (biasanya wanita).
2. Berbicara Kemayu
Berbicara kemayu ( istilah dari Sidharta, 1989) berkaitan dengan perangai kewanitaan yang berlebihan. Jika seorang pria bersifat atau bertingkah laku kemayujelas sekali gambaran yang dimaksudkan oleh istilah tersebut. Berbicara kemayu dicirikan oleh gerak bibir dan lidah yang menarik perhatian dan lafal yang dilakukan secara ekstra menonjol atau ekstra lemah gemulai dan ekstra memanjang (inggris; lisp; belanda; lispelen). Meskipun seperti inibukan suatu gangguan ekspresi bahasa, tetapi dapat dipandang sebagai sindrom fonologik yang mengungkapkan gangguan identitas kelamin terutama jika yang dilanda adalah kaum pria.

3. Berbicara Gagap
Gagap adalah berbicara yang kacau karena sering tersendat-sendat, mendadak berhenti, lalu mengulang-ulang suku kata pertama, kata berikutnya dan setelah berhasil mengucapkan kata-kata itu kalimat dapat diselesaikan.
Adapun yang menyebabkan terjadinya gagap ini belum diketahui secara tuntas. Namun, hal-hal berikut dianggap mempunyai peranan dalam menyebabkan terjadinya kegagapan itu.
1. Faktor-faktor “stres” dalam kehidupan berkeluarga
2. Adanya kerusakan pada belahan otak (hemisfer) yang dominan
3. Faktorneurotik famial
dulu ada anggapan bahwa gagap terjadi karena adanya pemaksaan untuk menggunakan tangan kanan pada anak-anak yang kidal. Namun, kini anggapan tersebut tidak dapat dipertahankan menurut sidharta (1989) kegagapan adalah disfasia yang ringan. Kegagapan ini lebih sering terjadi pada kaum laki-laki dari pada kaum perempuan, dan lebih banyak pada golongan remaja dari pada golongan dewasa ( chauchard, 1983).

4. Berbicara latah
Latah sering disamakan dengan ekolalla, yaitu perbuatan membeo atau menirukan apa yang dikatakan orang lain; tetapi sebenarnya latah adalah suatu sindrom yang terdiri atas curah verbal repetitif yang bersifat jorok (koprolalla) dan gangguanlokomotorik yang dapat dipaning. Koprolalla pada latah ini berorientasi pada alat kelamin laki-laki. Awal mula timbulnya latah ini, menurut mereka yang terserang latah, adalah setelah bermimpi melihat banyak sekali penis lelaki sebesar dan sepanjang belut.

2. Gangguan Berbahasa
Berbahasa berarti berkomunikasi dengan menggunakan suatu bahasa. Bagaimana kemampuan berbahasa dikuasai manusia, berkaitan erat dan sejalan dengan perkembangan manusia yang baru lahir itu. Kanak-kanak yang lahir dengan alat-alat arti kulasi dan auditori yang normal akan dapat mendengar kata-kata dengan telinga nya dengan baik dan juga akan dapat menirukan kata-kata itu. Pada mulanya ucapan tiruannya itu cuman mirip, tetapi lambat laun akan menjadi tegas dan jelas. Dalam perkembangan itu kata-kata akan menjadi perkataan yang merupakan abstraksi atau kata-kata yang mengandung makna. Umpamanya, kata ayam menjadi simbol dari binatang diasosiasikan dengan jenis, kegunaan, kualitas dan sebagainya. Proses belajar berbicara dan mengerti bahasa adalah proses serebral, yang berarti proses ekspresi ferbal dan komprehensi auditorik itu dilaksanakan oleh sel-sel saraf di otak yang disebut neuron.
Berbahasa, seperti sudah disebutkan diatas, berarti berkomunikasi dengan menggunakaan suatu bahasa. Untuk dapat berbahasa diperlukan kemampuan mengeluarkan kata-kata. Ini berarti, daerah Broca dan Wernicke harus berfungsi dengan baik. Kerusakan pada daerah tersebut dan sekitarnya menyebabkan terjadinya gangguan bahasa yang disebut afasia, dalam hal ini Broca sendiri menamai afemia.
Terima kasih atas waktunya untuk membaca GANGGUAN BERBAHASA ini, dengan harapan semoga artikel GANGGUAN BERBAHASA ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel GANGGUAN BERBAHASA terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : GANGGUAN BERBAHASA » Resume

eMakalah.com