Resume Pemikiran Tokoh-Tokoh Klasik Lainnya

Resume Pemikiran Tokoh-Tokoh Klasik Lainnya


Thomas Robert Malthus (1766-1834)
Sesudah Adam Smith, Thomas Malthus dianggap sebagai pemikir klasik yang sangat berjasa dalam pengembangan pemikiran-pemikiran ekonomi. Malthus menimba pendidikan di St. John's College, Cambridge, Inggris, dan kemudian melanjutkan ke East India College. Sewaktu ia diangkat sebagai dosen pada East India College, untuk pertama kalinya ekonomi politik (political economy) diakui sebagai disiplin ilmu tersendiri. Pemikiran-pemikirannya tentang ekonomi politik dapat diikuti dari buku: Principles of Political Economy (1820) dan Definitions of Political

A. Persoalan Ekonomi
Manusia lahir, ada dengan segala kebutuhannya. Pada awal peradaban manusia, kebutuhan ini terbatas dan bersifat sederhana. Namun, dengan semakin majunya tingkat peradaban, makin banyak clan makin bervariasi pula kebutuhan manusia. Di lain pihak, alat pemenuh kebutuhan manusia terbatas adanya. Ketidakseimbangan antara kebutuhan yang selalu meningkat dengan alat pemuas kebu-tuhan yang terbatas tersebut menyebabkan diperlukannya sebuah ilmu yang disebut ilmu ekonomi.
Beberapa persoalan pokok yang diharapkan mampu dipecahkan melalui ilmu ekonomi. Persoalan-persoalan tersebut antara lain: bagaimana mengombinasikan sumber daya yang dimiliki agar dapat menghasilkan barang-barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan; apa dan berapa banyak tiap barang dan jasa perlu dihasilkan; dan bagaimana pula nantinya mendistribusikan tiap barang dan jasa kepada masyarakat yang membutuhkannya.
Ilmu ekonomi yang dikembangkan oleh para pakar ekonomi telah makin maju dan canggih. Akan tetapi, ini bukan berarti semua persoalan manusia lantas berhasil diatasi. Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari kita masih melihat selalu saja ada masalah yang dihadapi. Secara umum, masalah paling besar menyangkut persoalan ekonomi.
Tentu tidak semua orang sependapat dengan argumentasi di atas, sebab tidak semua persoalan di dunia ini hanya menyangkut persoalan ekonomi. Persoalan ideologi, politik, sosial budaya, agama, keamanan, dan lain-lainnya juga ada. Walaupun persoalan-persoalan yang lainnya tidak termasuk persoalan ekonomi, melalui penelusuran lebih mendalam, ternyatalah bahwa persoalan-persoalan non-ekonomi berkaitan dengan ekonomi. Persoalan ideologi, politik, sosial budaya dan sebagainya-yang sampai rnenimbulkan perang antar bangsa "berakar" pada persoalan ekonomi jua. Dengan adanya preskripsi sesuai teori-teori ekonomi yang dikembangkan, sebagian dari persoalan-persoalan ekonomi yang dihadapi dapat diatasi. Akan tetapi, sesudah persoalan yang satu selesai diatasi, tumbuh lagi persoalan lainnya. Apa konsekuensi semua ini bagi kita? Ini menyebabkan kita perlu menggali ilmu ekonomi dengan lebih dalam, lebih canggih, dan lebih - untuk digunakan dalam menghadapi persoalan-persoalan dan tantangan, baik pada masa sekarang maupun yang diperkirakan muncul di masa yang akan datang.

B. Batasan
Kata ekonorni berasal dari bahasa Yunani: oikos dan nomos. Oikos berarti rumah tangga (house-hold), sedang nomos berarti aturan, kaidah atau pengelolaan. Dengan demikian, secara sederhana ekonomi dapat diartikan sebagai kaidah-kaidah, aturan-aturan atau caMi pengelolaan suatu rumah tangga.
Ilmu yang mempelajari bagaimana tiap rumah tangga atau masyarakat mengelola sumber daya yang mereka miliki untuk memenuhi kebutuhan mereka disebut ilmu ekonomi. Definisi yang lebih populer yang sering digunakan untuk menerangkan ilmu ekonomi tersebu adalah:
"Salah satu cabang ilmu sosial yang khusus mempelajari tingkal laku manusia atau segolongan masyarakat dalam usahanya memenuhi kebutuhan yang relatif tak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang terbatas adanya".
Manusia hidup dalam suatu kelompok masyarakat yang secara keseluruhan membentuk sistem. Sistem, secara sederhana dapat diartikan sebagai interaksi, atau kaitan, atau hubungan, dari unsur-unsu yang lebih kecil membentuk suatu satuan yang lebih besar dan kompleks sifatnya. Dengan demikian, sistem ekonomi adalah interaksi dari unit-unit ekonomi yang kecil (para konsumen dan produsen) ke dalam unit ekonomi yang lebih besar, di suatu wilayah tertentu. Dalam suatu sistem ekonomi tercakup seluruh proses dan kegiatan masyarakat dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan dengan alat pemuas kebutuhan yang terbatas. Sistem ekonomi yang dianut tiap kelompok masyarakat atau negara tidak sama. Hal ini tergantung dari keputusan-keputusan dasar tentang pemilikan, produksi, distribusi, serta konsumsi dilakukan. Ada keputusan-keputusan yang lebih diserahkan kepada orang per orangan (swasta) dan ada pula yang harus diatur oleh pusat. Bentuk sistem dengan corak keputusan pertama (lebih banyak diserahkan pada kemauan orang per orang) disebut sistem liberal/kapitalisme. Sebaliknya, sistem yang serba diatur dan dikomando oleh pemerintah disebut sisten sosialisme/komunisme. Tentu saja tidak semua negara memilih salah satu dari kedua bentuk ekstrem dari sistem ekonomi yang disebutkan di atas Di antara kedua sistem ekonomi tersebut masih terdapat bentuk yanj disebut sistem perekonomian campuran (mixed economy).
Dalam suatu sistem ekonomi tercakup nilai-nilai, kebiasaan, adat istiadat, hukum, norma-nonna, aturan-aturan berikut kesepakatan akan Economy (1827). Selain itu, buku-buku lain yang ditulis Malthus cukup banyak, antara lain: Essay on the Principle of Population as it Affects the Future Improvement of Society (1798); dan An Inquiry into the Nature and Progress of Rent (1815).
Di antara buku-buku yang disebutkan di atas, agaknya buku Prin-ciples of Population adalah yang dikenal paling Iuas. Dari buku tersebut akan terlihat bahwa Malthus termasuk salah seorang pengikut Adam Smith walaupun tidak semua pemikirannya sejalan dengan pemikiran Smith. Di satu pihak, Smith optimis bahwa kesejahteraan umat manusia akan selalu meningkat sebagai dampak positif dari pembagian kerja dan spesialisasi. Sebaliknya, Malthus justru pesimis tentang masa depan umat manusia.
Sumber pesimisme Malthus tidak lain dari kenyataan bahwa tanah sebagai salah satu faktor,produksi utama jumlahnya tetap. Di dunia ini jumlah tanah relatif tetap (waktu itu belum ada misi penerbangan ke bulan atau planet-planet lain). Kendati pemakaian tanah untuk produksi pertanian bisa ditingkatkan, peningkatannya tidak akan seberapa. Dalam banyak hal, justru jumlah tanah untuk pertanian berkurang. Hal ini karena sebagian digunakan untuk membangun perumahan, pabrik-pabrik, dan bangunan lain serta untuk pembuatan jalan.
Malthus mengamati manusia berkembang jauh lebih cepat dibandingkan dengan produksi hasil-hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan manusia. Manusia berkembang sesuai dengan deret ukur (geometric progression, dari 2 ke 4, 8, 16, 32, dan seterusnya). Sementara itu, pertumbuhan produksi makanan hanya meningkat sesuai dengan deret hitung (arithmetic progression, dari 2 ke 4, 6, 8, dan seterusnya). Karena perkembangan jumlah manusia jauh lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan produksi hasil-hasil pertanian, Malthus meramal bahwa suatu ketika akan terjadi malapetaka (disaster) yang akan menimpa umat manusia.
Berbagai masalah dalam masyarakat akan timbul sebagai akibat adanya tekanan penduduk tersebut Pada gilirannya, hal itu dapat menyebabkan tekanan yang berkelanjutan terhadap standar hidup manusia, baik dalam artian ruang maupun output.Anehnya, dalam menghadapi masalah, orang selalu menyalahkan keadaan dan lingkungan. Akan tetapi, tidak pernah menyalahkan dirinya sendiril.
"When the wages of labour are hardly sufficient to maintain two children, a man marries and has five of six. He of course finds himself miserably distressed. He accuses the insufficiency of the price of labour to maintain a family .... He accuses the partial and unjust situations of society... He accuses perhaps the dispensations of Providence, which have assigned to him a place in society so beset with unavoidable distress... In searching for objects of accusation, he never adverts to the quarter from which his misfortunes originate. The last person that he would think of accusing is him-self, on whom in fact the whole of the blame lies...".

Apa yang bisa dilakukan manusia agar terhindar dari berbagai persoalan ekonomi dan masyarakat? Dalam Essays on the Principles of Population (1796) Malthus menguraikan bahwa satu-satunya cara untuk menghindar dari malapetaka tersebut adalah dengan melakukan kontrol atau pengawasan atas pertumbuhan penduduk atau Keluarga Berencana (KB) menurut istilah saat ini. Beberapa jalan keluar yang ia tawarkan adalah menunda usia perkawinan dan mengurangi jumlah anak. Pembatasan seperti ini disebut Malthus sebagai pembatasan moral. Kalau hal ini tidak dilakukan, demikian Malthus menguraikan, persoalan ini akan diselesaikan secara alamiah, antara lain akan timbul perang (kehidupan yang semakin keras disebabkan terlalu banyak manusia), epidemi, kekurangan pangan, dan sebagainya.
Pandangan Malthus di atas oleh sebagian pakar dipandang terlalu pesimis. Dalam kenyataan, produktivitas tenaga kerja meningkat dari tahun ke tahun, dimulai dengan "Revolusi Industri" pada abad ke-18.
Kebijaksanaan pemerintah menjadi lebih tidak efektif karena, sesuai pendapat Friedman dari kubu monetaris,, adanya faktor lag. Misalnya, kebijaksanaan pembatasan stok uang waktu menghadapi inflasi yang tinggi tahun 1979 sebagai akibat naiknya harga-harga minyak dan meningkatnya permintaan akan kredit. Akibat inflasi yang tinggi ini, perekonomian anjlok dan angka pengangguran naik tajam. Menurut badan National Bureau of Economic Research, resesi sudah terjadi pada bulan Januari tahun 1980. Sementara itu, kebijaksanaan pembatasan jumlah uang dilansir bulan Maret (terlambat dua bulan). Kebijaksanaan pengontrolan stok uang yang datangnya sudah terlambat ini terbukti tidak berhasil memperbaiki keadaan, tetapi justru makin menghancurkan perekonomian Amerika Serikat. Perekonomian sudah memasuki resesi waktu kebijaksanaan untuk mengontrol inflasi dan jumlah uang dilaksanakan.
Apa yang bisa dipelajari dari kisah kebijaksanaan yang dilakukan terlambat tersebut? Dalam kenyataan para pengambil keputusan sering keliru tentang situasi yang dihadapi. Seringkali berbagai kebijaksanaan dikeluarkan, pada saat sudah terlambat. Kebijaksanaan yang datangnya terlambat ini bukannya memperbaiki, melainkan justru lebih sering memperburuk keadaan. Oleh sebab itu, kubu ratex menganjurkan agar pemerintah tidak terlalu ringan tangan mengeluarkan kebijaksanaan ini itu seperti kebijaksanaan finetunning yang populer pada era keynesian.
Dalam memformulasikan kebijaksanaan, sebaiknya pemerintah telah mengasumsikan bahwa orang mengetahui bagaimana bekerjanya suatu kebijaksanaan. Jika pemerintah sudah sadar akan hal ini, ia tidak akan mengeluarkan kebijaksanaan yang terlalu bermacam-macam. Adapun kebijaksanaan terbaik yang mungkin dilakukan adalah kebijak sanaan sederhana tentang hal yang pokok-pokok saja, yang dikeluarkan secara transparan, sehingga orang mau ikut aktif berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi.

C. Pro dan Kontra
Robert Lucas dalam tulisannya: Some International Evidence on Output-Inflation Trade-offs (1973) menjelaskan tentang hubungan antara jumlah uang dengan siklus ekonomi. Untuk menjelaskan hubungan tersebut, ia menelaah dan meninjau kembali teori trade-offs antara pengangguran dan inflasi yang dikembangkan oleh Phillips. Dari hasil studi tersebut, Lucas menyimpulkan bahwa hanya perubahan-perubahan yang tidak terantisipasi saja yang dapat mempengaruhi output riil. Akan tetapi, jika perubahan-perubahan tersebut dapat diantisipasi dengan baik oleh pelaku-pelaku ekonomi, dampaknya terhadap output rill menjadi nihil. Sebaliknya, justru hanya akan menimbulkan inflasi belaka.
Pendapat Lucas di atas sangat menarik perhatian kalangan pakar-pakar ekonomi. Jika benar demikian, berarti kebijaksanaan moneter tidak digunakan sebagai alat untuk mempengaruhi output dan kesempatan kerja. Sebagai reaksi atas preposisi Lucas tersebut, banyak pakar ekonomi melakukan studi empiris. Dari berbagai hasil penelitian yang dilakukan, ada yang mendukung, tetapi ada pula yang membantah preposisi Lucas di atas. Termasuk di antara mereka yang mendukung pendapa: Lucas adalah Thomas J. Sargeant dan Neil Wallace, yang dalam tulisan mereka: Rational Expectations, The Optimal Monetary Instrument and The Optimal Money Supply Rule (1975) menjelaskan bahwa kebijaksanaan moneter memang tidak efektif, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Begitu juga Robert Barro, yang dalam: Unan-ticipated Money, Output, and The Price Level in The United States (1978) juga mendukung preposisi Lucas di atas.
Di pihak lain, ada pula pakar yang meragukan preposisi Lucas di atas, antara lain Fredric Mishkin dan Robert Gordon. Fredric Mishkin menyangkal preposisi Lucas dalam: Does Anticipated Monetary Policy Matter? An Econometric Investigation (1982); sedangkan Robert Gordon menyangkalnya dalam: Price Inertia and Policy Ineffectiveness in The United States 1890-1980 (1982). Mishkin dan Gordon sama-sama meragukan preposisi Lucas bahwa kebijaksanaan moneter secara sistematis tidak memberi dampak terhadap output. Pendapat yang agak netral datang dari Robert King dan Charles Plosser. Dalam Money, Credit and Prices in a Real Bussiness Cycle Model (1984), mereka menjelaskan bahwa ada hubungan antara jumlah stok uang dengan output. Akan tetapi, tidak ada jaminan bahwa jumlah uang yang memengaruhi output tersebut, dan sebaliknya.
Dari berbagai penelitian yang tidak seia-sekata antara satu sama lainnya, dapat dikatakan bahwa proposisi Lucas yang menyatakan hanya perubahan stok uang yang tidak terantisipasi saja yang dapat memengaruhi output di atas agak lemah pembuktian empirisnya. Lemahnya bukti-bukti empiris tersebut menyebabkan sebagian pakar percaya bahwa perlu ditemukan penjelasan yang lebih baik tentang peran uang dalam siklus ekonomi. Tujuan pendekatan keseimbangan umum yang dikembangkan pakar-pakar ratex untuk membangun teori-teori makro berdasarkan teori-teori mikro yang kokoh pada umumnya disetujui oleh para ahli ekonomi. Bagaimanapun, preposisi mereka bahwa tidak ada peran nyata kebijaksanaan moneter dalam memengaruhi output dan kesempatan kerja masih memerlukan penelitian lebih dalam.
Yang agak kontroversial tidak hanya preposisi yang disebut di atas saja. Bahkan, preposisi ratex bahwa tiap orang rasional, dan bahwa mereka dalam aktivitas ekonominya tidak membuat kesalahan-kesalahan secara sistematis, ada yang meragukan. Michael C. Lovel, misalnya, dalam: Tests of The Rational Expectations Hypothesis (1986) menyatakan bahwa ada bukti-bukti cukup kuat bahwa orang ada membuat keslahan-kesalahan secara sistematis. Misalnya, pada tingkat perencanaan penjualan perusahaan-perusahaan perorangan, beberapa perusahaan cenderung optimis. Sementara itu, beberapa penjual lain cenderung pesimis, dan ini berlangsung dalam waktu lama. Hal ini membuktikan bahwa orang ada yang membuat kesalahan secara sistematis dalam aktivitas-aktivitas ekonominya dalam jangka panjang.

D. Diskusi
Ratex telah berjasa mempertajam, kalau tidak bisa dikatakan mempelopori, penggunaan dasar-dasar teori mikro dan model-model mekanisme pasar bebas ke dalam analisis makro. Mereka dianggap sangat berjasa telah menemukan kerangka teoritis yang lebih funda mental, yang disebut pendekatan keseimbangan ekspektasi-ekspektasi rasional (rational expectations equilibrium approach) dalam teori ekonomi makro. Pendekatan keseimbangan ekspektasi rasional dibangun dengan tujuan agar semua teori-teori makro didasarkan pada teori-teori mikro yang kokoh. Setiap orang berusaha memaksimumkan well being-nya (konsumen menginginkan kepuasan yang sebesar-besarnya dan produsen menginginkan laba yang setinggi-tingginya, dan pemerintah menginginkan kesejahteraan masyarakat luas yang sebesar-besarnya). Anggapan bahwa pasar selalu berada dalam posisi keseimbangan, jauh lebih mendasar dari sekadar asumsi ekspektasi rasional.
Pakar-pakar aliran ratex mengajak para pemikir ekonomi di masa datang agar dalam menggunakan perangkat analisis ekonomi makro kembali pada metodologi klasik, yang dipercaya sebagai basis pengembangan model-model yang lebih realistis dan lebih handal dalam menjelaskan berbagai dinamika dalam perekonomian. Ajakan ratex untuk menyerahkan perekonomian pada mekanisme pasar memberi pengaruh sangat besar terhadap program-program pemerintah di hampir seluruh dunia, termasuk Indonesia yang cukup gencar menjalankan kebijaksanaan "deregulasi" dan "debirokratisasi" beberapa tahun belakangan ini. dan terakhir "Revolusi Hijau" (penemuan bibit-bibit baru yang lebih unggul) serta "Revolusi Biru" (penyediaan sarana irigasi untuk mem back-up revolusi hijau tersebut). Kenyataan menunjukkan bahwa kemakmuran masyarakat meningkat dari tahun ke tahun. Walaupun ramalan Malthus dinilai berlebihan, perlu diwaspadai sebab di beberapa negara di Afrika (seperti Ethiopia dan Somalia) saat ini sering dilanda bencana kelaparan. Terutama pula Indonesia yang berpenduduk sangat padat perlu mewaspadainya.
Kenyataannya berbagai konflik yang terjadi di tanah air seperti di Ambon, Papua, Aceh atau yang sekarang lebih populer dengan Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan daerah-daerah lain di Indonesia, konflik antaragama, antarras atau antarsuku dan antar kampung, sebetulnya adalah manifestasi dari terlalu banyaknya manusia di suatu wilayah. Jumlah manusia yang tak terkendalikan, menimbulkan perang, konflik, terorisme, kerusakan, pemerkosaan, perampokan, dan berbagai penyakit sosial lainnya. Di Indonesia korban yang jatuh sudah ratusan ribu. Tidak terhitung di dalamnya rumah penduduk, toko, kantor, dan fasilitas lainnya yang rusak. Daftar kerusakan dan kesusahan semakin bertambah. Korban banjir dan tanah longsor yang sering melanda tanah air kita akhir-akhir ini. Dikaitkan dengan teori Malthus di atas, mungkin saja semua ini merupakan "cara alam" untuk mengatasi masalah, karena kita tak mampu mengendalikan jumlah kelahiran.
Sebagai catatan, perlu dikemukakan, jika orang berbicara tentang Malthus maka ingatan orang akan lari pada teori populasi yang telah dijelaskan di atas. Sebetulnya selain tentang penduduk, karyanya di bidang-bidang lain juga ada. Misalnya, Malthus bersama-sama dengan Ricardo secara cukup sengit pernah membantah teori Say yang mengatakan bahwa penawaran akan selalu menciptakan penawarannya sendiri, dan karenanya dalam perekonomian tidak akan pernah terjadi kelebihan produksi. Akan tetapi, pandangan Malthus dan Ricardo ini tidak mendapat tanggapan yang wajar di zamannya, dan baru diterima orang setelah dikembangkan lebih lanjut oleh J.M. Keynes kira-kira satu abad kemudian.
Terima kasih atas waktunya untuk membaca Resume Pemikiran Tokoh-Tokoh Klasik Lainnya ini, dengan harapan semoga artikel Resume Pemikiran Tokoh-Tokoh Klasik Lainnya ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Resume Pemikiran Tokoh-Tokoh Klasik Lainnya terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Resume Pemikiran Tokoh-Tokoh Klasik Lainnya » Resume

eMakalah.com