TAUHID SEBAGAI KONSEP DASAR AJARAN ISLAM

TAUHID SEBAGAI KONSEP DASAR AJARAN ISLAM
DAN LAHIRNYA BEBERAPA KONSEP DALAM ILMU KALAM, IMAN DAN KUFUR

1. ARTI TAUHID
a. Menurut bahasa, tauhid berasal dari kata :

yang artinya "meng-Esa-kan
b. Menurut arti hatfiah; tauhid berasal dari kata "Wahid"  yang berarti "satu'".
c. Menurut para ahli, Ilmu Tauhid diartikan: Ilmu yang membahas segala kepercayaan keagamaan dengan menggunakan dalil-dalil yang meyakinkan.
d. Menurut definisi: Ilmu tauhid ialah ilmu yang membicarakan tentang wujudnya Allah, sifat-sifat yang tidak ada pada-Nya membicarakan tentang Rasul-rasul Allah, untuk menenetapkan kerasulannya dan mengetahui sifat-sifat yang mesti ada padanya sifat-sifat yang terdapat padanya.
e. Menurut istilah Agama Islam; Tauhid ialah “Keyakinan tentang dalil-dalilnya yang menjurus kepada kesimpualan bahwa Tuhan itu Satu disebut Ilmu Tauhid. Di dalamnya terrnasuk soal-soal kepercayaan dalam Agama Islam.
Firman Allah:


Artinya:
Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS. A 1-lkhlas: 1 - 4).

Demikianlah, bahwa Allah yang menguasai alam semesta ini sudah pasti Ia Maha Esa, artinya Tunggal, hanya satu tidak lebih. Jika sekiranya penguasa alam ini lebih dari satu, niscaya akan timbul perselisihan yang membawa kerusakan.

2. NAMA-NAMA LAIN ILMU TAUHID.
1) Ilmu Tauhid.
Artinya Tauhid ialah percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa (mengesakan Tuhan) dan tidak ada sekutunya. Dinamakan ilmu Tauhid karena tujuannya ialah rnenetapkan ke-Esaan Allah dalam dzat dan perbuatan-Nya dalam menjadikan alam semesta dan hanya Allah-Iah yang menjadi tempat tujuan terakhir alam ini. Prinsip inilah yang menjadi tujuan utama daripada ajaran Nabi Muhammad SAW,
2) Ilmu Aqa'id atau Aqa'idul Iman. L
Artinya Tauhid ialah percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa (mengesakan Tuhan) dan tidak ada sekutunya. Karena arena dalam pengetahuan ini ada-fasal-fasal Yang harus diikat, dibuhulkan erat-erat dalam hati kita yang harus menjadi kepercayaan yang teguh.
3) Ilmu Kalarn,
Ilmu Kalam artinya ilmu pembicaraan, karena dengan membicarakan pengetahuan akan menjadi jelas carakan pengetahuan yang tepat menurut undang-undang ngan pembicaraan arti membicarakan kepercayaan yang benar dan dapat ditanamkan ke dalam hati manusia. Di sebut ilmu kalam sebab-dalam ilmu tauhid itu pembahasan.
Disebut ilmu kalam sebanya yang paling berat dan paling banyak menjadi bahan diskusi dan musyawarah ialah masalah sifat Kalam pada Allah SWT.
4) Ilmu Ushuluddin.
Ilmu Ushuluddin adalah ilmu yang membahas agama. Dinamakan demikian karena memang soal kepercayaan itu betul-betul menjadi dasar pokok daripada soalsoal yang lain dalam Agama.

5) Ilmu Hakikat.
I1mu Hakikat berarti ilmu sejati, karena ilmu ini menjelaskan hakikat segala-sesuatu, sehingga dap at meyakini akan kepercayaan yang benar (hakiki).
6) Ilmu Ma'rifat
Disebut ilmu Ma'rifat karena dengan pengetahuan ini dapat mengetahui benar-benar akann Allah dan segala dan dengan keyakinan yang teguh.

3. PERANAN AKAL DAN WAHYU DALAM ILMU TAUHID
Ilmu Tauhid membahas tentang wujud Allah, sifat-sifatNya dan af’alnya (Allah, adalah bersumber kepada Al-Qur’an dan di samping itu adalah hadist sebagai sumber yang kedua.
Untuk menerima al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber tauhid memang harus menggunakan akal. Orang dalam menggunakan akal kadang-kadang tersesat juga. Ada orang yang fanatik percaya dan fanatik tidak percaya. Banyak orang yang fanatik percaya (berta'asub), yang begitu saja percaya sebelum menggunakan akal dan fikirannya. Ada juga orang yang fanatik tidak percaya, bahwa ia tidak per.caya begitu saja sebelum memikirkan alasanalasan dan dalil-dalilnya serta bukti buktinya.
Kedua sifat itu tercela, khususnya dalam soal kepercayaan, karena yang demikian itu akan mematikan otak, dan tidak membawa, manusia ke arah kemajuan dan kesempurnaan. Orang yang percaa merkipun ada bukti-bukti yang terang, padahal kalau mau memikirkanya, mesti akan masuk diakalnya, namun tetap ia tidak percaya. Bahkan bukti-bukti itu masih diselidiki lagi, dengan maksud mencari apa yang tersembunyi dibalik bukti yang sudah terang itu untuk mengingkari.
Agama Islam mencela kedua-duanya itu. Tidak boleh menerima dan menolak begitu saja sebelum diselidiki dan dipikirkan lebih dahulu.
Dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang menyatakan beberapa peranan akal berpikir untuk memahami ke-Esaan maupun Kekuasaan Tuhan. Umpamanya:


Artinya:

Ialah orang-orang yang ingat kepada Allah dalam keadaan brdiri, keadaan duduk maupun berbaring, dan mereka berpikir tentang penciptaan langit dan bumi.” (Ali Imran : 191)

Berdasarkan ayat tersebut, maka akal bisa mengerti kalau mampu berpikir secara sehat. Dalam ha1 ini, peranan guru dan umumnya juru pendidik itu penting sekali. Mereka berkejiban mengembangkan akal anak didik dengan cara membinbingnya, belajar berpikir secara sehat dan teratur, memberinya bukti-bukti yang benar tentang segala sesuatu yang sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Tidak sekali-kali mereka menceritakan hal-hal yang bertentangan dengan akal.
Dalam perkembangan cara berpikir yang sehat dan benar, akal itu melahirkan hukum akal, yang dalam masalah Tauhid disebut dalil aqli  kalau akal sudah mampu berdalil aqly (logis, maka akal itu mudah menerima segala keterangan dari Al-Qur’an dan Hadits yang dalam ilmu Tauhid disebut dalil naqli )
Firman Allah :
Artinya :
“Dan aku menurunkan kepadamu (Muhammad Alqur’an supaya engkau terangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka berfikir”.
(QS. An-Nahl : 44)


4. MACAM-MACAM DALIL DALAM ILMU TAUHID
Dalil Aqli
Dalil Aqli ialah dalil aka1T(rasio) atau muqtiq. Menurut logika sehat, di mana alam semesta beserta kerumitan hukum-hukumnya adalah berupa dalil akal.
Menurut akal, kebenaran sesuatu dapat diamati, diteliti (dianalisa) dan dicapai oleh akal.
Pada dasarnya dalil Aqli ini adalah penghargaan Allah bagi hambaNya agar mereka menggunakan akal dengan cermat.

Akal berasal dari Al-Quran: ‘Aqlun (akal). Akal adalah satu-satunya pemberian ATayang paling tinggi nilainya setelah iman (hidayah). Dengan akal manusia dapat berbudaya, dapat menguasai alam semesta. la dapat menang sendiri di antara makhluk lain di alam ini, walaupun terhadap makhluk yang lebih besar secara biologis.
Contoh-contoh dalil aqli.
1) 3 x 3 = 9, angka 9 adalah benar rnenurut aka1, dan dapat d i¬buktikan secara nyata.
2) Kita naik mobil bagus, akal sehat berbisik, mobil-mobil ini w'i'jtid, riil dapat lari kencang. Akal menetapkan, adanya mobil in i pasti ada pembuatnya.
3) Pisang itu manis, pepaya juga agak manis. Pepaya dan pisang mengandung vitamin A yang menentukan vitamin A pada buah itu pasti ada, ialah Maha Pencipta.

Jadi secara rasio (aqli) dapat menyimpulkan, bahwa segala Yang wujud pasti ada yang mewujudkan. Yang mewujudkan itu pasti yang wajibul wujud, Maha Ada dan Kekal.

Sebaliknya akal membantah dengan keras, bila ada sesuatu de¬ngan sendirinya. Hal itu dianggap mustahil aqli (aneh bagi akal).

Dalil Naqli

Akal untuk membuktikan atau sebagai dalil, hal-hal yang bersifat materi. Sedang untuk mencapai non materi datangnya dari Tuhan yang wujudnya wahyu (damli)
Kebenaran yang dikandungnya pasti dan mutlak. Berlaku sepanjang masa dan makin tinggi taraf ilmu manusia, semakin mendekat dengan kebenaran qath'i.
Dalil naqli untuk Islam adalah kitab Al-Quran dan Al-Hadits Rasulullah saw mau tidak mau harus diterima dengan yakin dalam hati apa yang telah dinashkan di dalamnya, maka dalil itupun merupakan dalil yang paten dan pasti yang tidak perlu diperdeb;tk an lagi.
Hal-hal yang cukup diimani ini adalah kepada yang ghaib. Mislnya: Iman kepada Allah, kepada MalaikatNya, iman ke,)ada adanya hari kiamat, adanya syurga dan neraka, iman kepada qodla dan qadar dan masih banyak lagi hal-hal yang berisfat ghaib yang harus diimani karena semuanya itu telah dinashkan dalam AQuran dan Hadits.

Contoh-contoh dalil Naqli.
1. Dalam surat Al-Ankabut: 44:

Artinya
"Allah rnerzciptakan langit dah bumi dertgan hak. Se¬siangguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda ke¬kuasaan Allah bagi orang-orang mukmin".
(QS Al-Ankabut: 44)
2. Surat Al-Baqarah : 20

Artinya:
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguh segala sesuatu " (Al-Baqarah : 20)

3. Surat Al-Haj : 64
Kepunyaan Allahlah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Surat Al-Haj : 64)


ALIRAN ALIRAN DALAM ILMU TAUHID

1. ALIRAN SALAFYAH

Salaf adalah berasal dari lrahasa Arab yang berarti kuno atau kolot, sedangkan lawannya adalah Khalaf yang berarti modern. Jadi aliran salaf adalah aliran kolot, bukan modern.
Harus diingat, bahwa tidak setiap yang kolot itu tidak baik dan setiap yang modern itu baik. Aliran s,alaf adalah aliran yang hanya berpegang kepada dhahirnya nash, ia beri'tikad sepanjang dikehendaki oleh Nash (lafadh), tetapi mensucikan Allah dari hal-hal yang menyerupai dengan makhluk. Para ulama Salaf mensifatkan Allah dengan sifat-sifat yang disifatkan oleh Allah untuk diriNya dengan tidak menafikan, tidak menyerupakan dan tidak mentakwilkan.
Golongan Salaf ini berpendapat, bahwa dalam mengartikan sifat-sifat Allah yang ada persamaannya dengan sifat makhluk, ia berfaham dan mengartikan hanya menurut dhahirnya lafadh lidak boleh memberi takwil dan tafsir yang d}anggapnya berbahaya, bisa keliru dan sesat. Seperti sifat Allah sama' yang artinya mendengar dan sifat bashar yang artinya melihat. -
Allah mendengar dan melihat dengan memakai alat penglihatan (mata) dan mendengar juga dengan alat (telinga). Hanya mata dan telinga Allah lain dengan mata dan telinga makhluk.
Golongan Salaf tidak berani memberi takwil bahwa mata Allah itu ditakwilkan dengan pengawasan, sedang telinga ditakwilkan dengan alat pendengar yang modern seperti sekarang, sama sekali bukan. Bahkan tangan Allah juga bukan seperti tangan manusia (makhluk).
Firman Allah:

Artinya:
"Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka".
Mereka tetap hanya mengartikan "tangan Allah" dan "°ja Tuhan" itu secara pengertian umum saja.
Firman Allah:
Artinya:
"Katakanlah olehmu (Ya Muhammad): "Lihatlah olehmu apa yang ada di langit dan di bumi, dan tiada berguna tanda-tainda dan peringatan peringatan kepada kaum yang tidak beriman”.
Artinya:
"Mengapakah mereka tiada melihat kepada alam (malakttt l,angit dan bumi dan kepada apa yang Allah jadikan ".

2. ALIRAN QADARIAH (MU'TAZILAH)
Aliran ini mula-mula dianjurkan oleh Ma'bad Al-Juhaini, Ghilan Dimisqy dan Al-Ya'du bin Dirham. Golongan ini sebagai penentang Dinasti Bani Umayyah dan ketiga tokoh ini mati terbunuh.
Pendapatnya :
Golongan ini berpendapat yang bertentangan dengan golongan Jabariyah. Golongan Qadariah berpendapat dalam hal Qadha dan Qadar sebagai berikut:
a. Kalau Tuhan itu telah menentukan terlebih dahulu nasib manusia, maka Tuhan menjadi dhalim, karena tidak memberi kebebasan kepada manusia untuk berbuat.
b. Manusia harus bebas dan merdeka untuk memilih sesuatu, manusia dapat berikhtiar, ia bebas menentukan nasibnya sendiri dan ia harus merdeka memilih dari perbuatan dan af'al Allah (khalifakul af'al).

Jadi manusia mempunyai kebebasan kehendak. Orang yang rnenggantungkan saja nasibnya kepada Allah tanpa berusaha, adalah sesat. Golongan ini mempunyai penganut-penganut dengan cepat. Karena pengikut-pengikutnya banyak orang yang pandai berbicara, maka tidak aneh pengaruhnya cepat tersebar.

Mereka berpegang kepada Firman Allah:


Artinya:
"Dengan sebab- sebab usaha tanganmu serdiri".
(QS. Asy- Syura: 30)


Artinya:
"Untuknya apa yang ia usahakan dan atas apa yang ia lakukan ".
"Dan mereka semua yang mengusahakan kejahatan ".
QS Yunus : 27)

Artinya:
"Untuknya apa yang ia usahakan dan atas apa yang ia lakukan ".
(QS. AI-Baqarah: 286)
Karena pesatnya perkembangan golongan Qadariyah ini, maka Khalifah Abdul Malik bin Marwan (Khalifah Bani Umayyah) menganggap golongan Qadariah ini sangat berbahaya bagi kepercayaan umat Islam pada masa itu. Khalifah Marwan mengambil kekerasan, Ma'bad, Gilan, Ya'du serta kawan-kawannya ditangkap dan dihukum mati di Damsyik pada tahun 699 M (80 H). Akhirnya, golongan Qadariah pada masa Marwan holeh dikatakan hilang lenyap walaupun tidak seratus persen. Golongan Qadariah ini kemudian timbul, dan menjelma menjadi Madzhab Mu'tazilah. Antara Mu'tazilah dan Qadariah ini banyak persamaan pendapat-nya; antara lain pendapat Mu'tazilah ialah:
a. Tentang Qadar.
Pendapatnya: "Tidaklah Allah menjadikan segala perbuatan makhluk ini, melainkan makhluk sendirilah yang menjadikan dan menggerakkan segala perbuatannya. Oleh karena itulah, maka diberi dosa dan pahala. Dengan jalan demikian, maka dengan sendirinya, kita telah mensifati Allah itu dengan _sifat adii. dan Allah tentu tiada menyukai perbuatan kebinasaan:
b. Tentang ketauhidan.
Mu'tazilah menafsirkan sifat-sifat Allah yang azali seperti ilmu, qudrat; hayat dan sebagainya, yang harus dii'tiqadkan hanyalah dzatNya. Bahkan Allah Alimun, Qadirun, Hayun, Samiun, Bashirun dan sebagainya, adalah dengan dzatnya. Bukan sifat yang keluar dari dzatNya.
Perkataan yang menyatakan bahwa Allah itu bersifat qadim, adalah menunjukkan bahwa Allah itu berbilang-bilang. Pada¬hal Allah adalah Maha Besar tiada yang menyekutuiNya, baik dari jurusan mana saja. Dan sekali-kali tidaklah dzatNya itu banyak atau berbilang-bilang. Allah tidak serupa dengan sesuatu a:pa pun juga, Allah tidak berjisim, tidak bersifat, tidak berunsur dan tidak juga berjauhan (atoom). Mu'tazilah menta'wilkan semua ayat-ayat yang mengandung pengertian tentang Allah itu bersffat dapat membawa faham, bahwa Allah itu bersifat dapat membawa faham, bahwa Allah itu bersifat dengan sifat yang ada pada makhluk.
c. Tentang kekuasaan akal.
Manusia dengan akalnya dapat mengetahui yang baik dan yang buruk sekalipun tidak diberi tahu oleh syara'. Misalnya: Mengetahui baiknya bersyukur kepada Allah, dan mengetahui keburukan mengingkari nikmat Allah, atau kebaikan keadilan, dan kejelekan kedhaliman.

3. ALIRAN JABARIYAH
Golongan ini didirikan oleh Jaham bin Shafwan. Golongan ini lahir di Khurasan. Pendapatnya:
a. Golongan ini mengatakan, bahwa semua gerak-gerik manusia itu sudah ditentukan oleh Allah. Jadi manusia hidup ini tidak dapat men,entukan sikap apa-apa, karena semuanya sudah diatur dan ditetapkan oleh Allah. Manusia hidup tidak bebas, ia selalu terikat, sedikit pun tidak ada kekuasaan untuk bertindak untuk mengerjakan sesuatu. Hanya Allah-lah yang menentukan ses~uatu kepada seseorang secara absolut (mutlak). Jadi -nanusia tidak mempunyai ikhtiar, ia pasif dan menyerah saja kepada qadar Allah. Akhirnya manusia menjadi malas dan mundur dalam segala-galanya.
b. Pendapat, Jabariyah tentang sifat-sifat Allah, surga dan neraka.
1) Golongan ini berpendapat. bahwa Allah tidak bersit'at dengan sifat-sifat yang dipunyai makhIuk. Tidak lanyak Allah itu disifati dengan sifat-sifat yang dipunyai makhluk, sebab hal itu berarti menyerupakan Allah dengan makhluk.
Adapun sifat Allah yang disebut dalam Al-Quran seperti sama' bashar itu tidak boleh difahamkan secara dhaihiri, tetapi harus ditakwilkan. Jadi Allah hanya mempunyai dzatNya.
2) Tentang surga neraka menurut golongan Jabariyah ialah, bahwa surga dan neraka itu hanya alat pembalasari alam manusia di dunia. Artinya: Apabila surga sudah dinikmati manusia sebagai kenikmatan hasil amal baiknya di dunia dan siksaan neraka sudah dirasakan pedihnya sebagai akibat amal jahatnya manusia di dunia, maka surga dan neraka akan hilang lenyap. Golongan ini mendapat tantangan dari golongan Qadariyah dan lainnya.

c. Jabariyah berpedang kepada nash ayat:

Artinya:
"Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku".
(QS. Al-Ahzab: 38)

Jaham bin Shafwan tidak hanya terkenal karena ucapannya mengenai soal "paksaan" saja, tapi juga tentang masalah lain yang tidak kurang bahayanya, yaitu ucapannya yang meniadakan sifat-sifat Allah SWT. walaupun Al-Quran sendiri dalam beberapa ayat jelas menyebutkan bahwa Allah SWT. memiliki sifat mendengar (................), melihat (.........) dan lain-lain. Jaham tidak mengakui adanya sifat Allah selain dzatNya. Adapun yang tersebut dalam Al-Quran kata Jaham, tidak seharusnya diartikan menurut dhahirnya ayat tapi harus ditakwil atau ditafsirkan, karena dhahirnya ayat-ayat tersebut menunjukkan adanya keserupaan Allah dengan makhluk, padahal itu mustahil.

Kata Jaham, tidak boleh memberi sifat kepada Allah yang serupa dengan sifat makhlukNya, sebab hal itu berarti bahwa Allah menyerupai makhlukNya. Jaham tidak mengakui adanya perbedaan arti sifat Allah dan sifat makhlukNya. Kata Jaham, kalau nama sifat Allah dan nama sifat makluk itu, sama, maka artinya pun sama. Jadi kalau disebutkan bahwa Allah itu mendengar maka artinya sama dengan arti si Fulan mendengar, yakni menggiznakan kuping dengan jangkauan yang terbatas. Juga kalau dikatakan Allah melihat, itu sama artinya dengan si Anu melihat, yaitu menggunakan mata dengan jangkauan yang terbatas. Dan hal yang demikian itu mustahil pada Allah.
Jaham juga mengatakan bahwa Al-Quran itu makhluk Allah. Pendapatnya itu merupakan kesimpulan dari pendapatnya yang tidak mengakui adanya sifat Allah. Karena Allah itu tidak bersifat Kalam, maka Al-Quran itu bukan Kalamullah yang qadim, kata Jaham, kecuali atas dasar takwil. Takwil yang bagaimana yang dimaksud oleh Jaham, tidak ada keterangan lebih lanjut.
Jaham juga mengingkari Allah dapat dilihat pada hari kiamat. Kata Jaham: "Sesungguhnya surga dan neraka itu akan rusak setelah dimasuki para penghuninya masing-masing, yakni setelah ahli surga bersenang-senang dengan kenikmatannya dan sesudah ahli neraka menderita dengan,siksaannya, karena tidak bisa dibayangkan adanya gerak hidup yang tiada akhir, sama seperti tidak mungkinnya gerak hidup tanpa awal".
Aliran Qadariyah dan Jabariyah/Jahamiyah itu berbaur dengan aliran-aliran lain dan tidak berdiri sendiri. Keduanya bersa¬ma-sama berada di bawah bendera aliran Mu'tazilah. Kebanyakan orang menyebut Mu'tazilah itu Qadariyah, karena kaum, Mu'tazilah juga setuju dengan ucapan Qadariyah yang menyatakan bahwa manusia itu melakukan segala perbuatannya dengan kemampuan atau kudratnya sendiri secara bebas, tanpa campur tangan Allah swt. Mu'tazilah sendiri tidak mengakui bahwa segala sesuatu itu terjadi atas qadha dan qadar Allah swt. Kadang-kadang Mu'tazilah itu juga disebut Jahamiyah, karena Mu'tazilah setuju dengan pendapat Jahamiyah bahwa Allah swt. tidak mempunyai sifat, bahwa Al-Quran itu makhluk; dan bahwa Allah swt. tidak akabisa diliha pada hari kiamat.

4. ALIRAN AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH
1) Pendukungnya.
Golongan ahli sunnah wal jamaah adalah golongan yang didukung oleh para ahli-ahli hadits, ahli-ahli fiqih dan para ahli madzhab fiqih. Mereka satu sama lain tidak kafir mengkafirkan, tidak tuduh mienuduh ke luar dari agama dan mereka berfaham dalam soal ibadah. Mereka sadar dengan kafir mengkafirkan, tuduh menuduh ke luar dari agama, adalah sesat dan menyesatkan. Dalam memberi kelapangan dalam soal ibadah ini, ahli sunnah wal jamaah berpedoman pada hadits:


"Perbedaan di antara umatku itu adalah menjadi rahmat".
Golongan ahli sunnah wal jamaah ini berusaha untuk tetap berpe¬gang dan mengikuti jejak rasul dan para sahabatnya dan terus menerus berpegang kepada Kitabullah dan sunnatur Rasul saw. seerat-eratnya.

2. Fahamnya tentang seorang Muslim dan hal dosa.
a. Golongan ahli sunnah wal jamaah berpendapat bahwa: a. Golongan dapat dianggap atau diakui sebagai seorang muslim, ialah orang yang memenuhi tiga syarat:
1. Mengucapkan dua kalimat syahadat dengan lisannya.
2. Ucapan itu diikuti dengan kepercayaan dengan hati (ya¬kin hatinya).
3. Dan dibuktikan dengan amal yang nyata.
b. Tentang dosa.
Golongan ahli sunnah wal jamaah berpendapat, bahwa orang yang meninggalkan kewajiban dan mengerjakan dosa yang sampai ia mati belum bertaubat, maka orang ini dihukumi sama dengan orang mukmin yang mengerjakan maksiat. Orang ini apabila tidak diampuni Allah ia masuk neraka, tetapi tidak abadi. la akan lepas dari siksa neraka setelah selesai menjal :iikan hukuman neraka; tetapi ia juga akan mera¬sakan nikmut karena imannya.
Jadi faham-faham itu dapat kita lihat sebagai perbandingan ialah: Memirut ahli sunnah apa yang diperintahkan Tuhan itu baik dan apa yang dilarangNya itu buruk. Menurut me-reka tidak ada kebaikan dan tidak ada kejahatan yang mu¬tlak, karena semua itu hanyalah menurut Tuhan saja.
Orang-orang yang mengerjakan dosa besar atau meninggal¬kan kewajiban-kewajiban agama apabila sampai mati belum taubat, mereka dihukum sebagai orang mukmin yang melakukan mak¬siat (mukmin 'asni). Di akhirat kelak, Tuhan berkuasa mengam¬puninya. Tetapi apabila tidak diampuni Tuhan, mereka akan ma¬suk neraka untuk menjalani hukumannya. Dan apabila adzab dan hukuman itu telah dijalani, mereka mempunyai harapan besar untuk mendapatkan kelepasan masuk surga, artinya mereka tidak kekal di neraka. Hal ini berbeda dengan pendapat Mu'tazilah. Mu'tazilah berpendapat bahwa orang yang berdosa besar dan me-ninggalkan kewajiban-kewajiban agama dan tidak taubat, hukum¬nya fasik, dan orang fasik kekal di neraka. Ahli sunnah mengang¬gap Allah itu absolut, tak terbatas, juga dalam soal keadilan-ke¬adilan itu terletak pada kehendakNya. Kalau Mu'tazilah mengata¬kan Allah itu wajib meneliti keadilan seperti menghukum_ orang berdosa, maka menurut ahli sunnah tugas "wajib" itu tidak ada pada Allah. Sebab kalau Allah diwajibkan melakukan sesuatu, maka itu berarti kekuasaannya telah terbatas dan tidak absolut lagi.
Kalau Tuhan mengirimkan Nabi-nabi, maka itu bukanlah kewajib¬an bagi' Allah, tetapi hanya merupakan_ rahmatNya semata-mata bagi makhluk manusia.
Ahli sunnat menentukan bahwa setiap orang memang benar memiliki kasab (usaha) dan ikhtiar (pemilihan bebas) dalam se¬gala perbuatannya, tetapi hal itu tidak bisa *pas dari qadar yang telah ditentukan Allah dan tidak lepas dari pengetahuan dan ke¬hendakNya. Segala perbuatan manusia adalah "makhluk" dan di¬jadikan sekedar ikhtiar, hasrat dan minat dalam segala amal per¬
68
69
buatannya itu. Dan inilah yang dinamakan kasab itu. Akan tetapi meskipun segala perbuatan manusia itu semuanya dari Allah. namun tidaklah sewajarnya kalau hal itu berarti Allah meng-hendaki perbuatan jahat seperti yang dikatakan kaum Qadariah.
Ririgkasnya: Ahli Sunnah itu berpendapat bahwa iman ada¬lah kepercayaan di dalam hati yang diucapkan dengan lisan, se¬dang amal perbuatannya merupakan syarat sempurnanya iman itu. Orang berbuat dosa besar kemudian meninggal sebelum taubat, hukumnya terserah kepada Allah. Allah dapat menyiksanya dan dapat pula mengampuninya. Seperti dikatakan di atas, bahwa ke¬wajiban bagi Allah itu tidak ada. Namun demikian segala per¬buatan Allah itu tidak ada yang hampa dan tidak pernah kosong dari hikmah kebijaksanaan, walaupun manusia belum dapat menjangkaunya. Selanjutnya Mu'tazilah berpendapat, bahwa segala faham yang tidak cocok dengan keadilan Tuhan haruslah dihilangkan dan dibuang jauh jauh. Seperti juga pendapat faham kaum Qadariah mereka berpendapat, bahwa demi keadilan Tuhan segala manusia harus diganjar amal perbuatannya. Dan itu pula manusia harus mempunyai kebebasan seperlunya untuk berbuat apapun juga. Manusia adalah khalikul af al dari dirinya sendiri.
Adapun pokok-pokok pikiran aliran Ahli Sunnah wal Jamaah Asy'ariah yang berbeda dengan faham Mu'tazilah ialah sebagai berikut:
1. Tentang sifat-sifat Allah swt.
Semua kaum muslimin menyatakan dirinya sebagai umat Tauhid, bahkan tandanya seorang yang beragama Islam itu ialah kalimat Tauhid, yaitu: Laa Ilaaha illlallah, tidak ada Tuhan selain Allah.
Berbeda dengan pendirian kaum Mu'tazilah, Abu Hasan Asy'ary berpendapat bahwa Allah swt memiliki beberapa sifat. Adapun beberapa ayat Al-Quran yang menerangkan bahwa Allah me¬riiliki sifat itu memperkuat kesimpulan bahwa kalau dikatakan Allah Alim itu tidak lain karena Allah memiliki ilmu; kalau dika¬takan Allah Qadir itu tidak lain karena Allah memiliki kekuasaan, dan kalau dikatakan Allah Murid itu tidak lain karena Allah mt¬miliki kenendak atau kemauan. Buktinya, kalan kita mengatakan Allah Qadir Alim, hal itu menunjukkan bahwa kedua sifat itu berbeda satu sama lain, berbeda pula antara keduanya dengan dzat Allah. Sebaliknya, kalau dijcatakan bahwa ilmu keduanya dengan dzat Allah. Sebaliknya, kalau dikatakan bahwa ilmu dan kudrat Allah it, dzat Allah juga, pasti Allah mengetahui dengan kekuasaanNya dan berkuasa dengan ilmuNya. Padahal tidak de-mikian halnya, sehingga mau tidak mau harus diartikan ada dua sifat yang berbeda, yaitu sifat ilmu dan sifat kudrat.
Kesimpulan Asy'ary ialah bahwa sifat Allah itu berbeda dengan dzatNya, tapi tidak terpisah. Rumus Imam Asy'ary tentang itu ialah:

yakni: "Sifat itu bukan dzat, tapi sifat itu tidak pisah dari dzat. Oleh karena itu maka sifat,Alim, sifat Qadir, sifat Hayyun (hidup), sifat Muridun (berkehendak). Sifat Mutakallimun (berbicara), sifat Samiun (mendengar) dan sifat. Bashirun (melihat) itu qadim , justru karena sifat-sifat tersebut ada pada dzat Allah yang qadim. Dengan demikian, maka qadimnya sifat-sifat tersebut tidak bisa diartikan menambah jumlah yang qadim, lebih dari satu.
Karena aliran Asy'ariah itu sependapat dengan Mu'tazilah dalam soal sifat, dengan sendirinya juga tidak sependapat dengan mereka dalam masalah ke-makhluk-an Al-Quran. Kalau Mu'tazilah/Jabariah mengatakan bahwa Al-Quran itu makhluk, bukan sifat Kalam yang Qadim, maka kaum Ahli Sunnah wal Jamaah Asy'ariyah menyatakan bahwa lafadz-lafadz yang diturunkan ke¬pada para Rasul dengan perantaraan Malaikat Jibril itu menunjuk¬kan adanya sifat Kalam yang azali dan qadim. Lafadz-lafadz Al¬Quran itu memang makhluk, tapi sifat Kalam yang ditunjukkannya adalah qadim dan azaly.
2. Tentang keadilan Allah swt.
Kalau aliran Mu'tazilah/Qadariah rnengatakan bahwa perbuat¬an manusia itu adalah perbuatannya sendiri, tanpa ada pertalian dengan kodrat dan iradat Allah swt., maka Abu Hasan Asy'ary
71
menyatakan, bahwa Allah swt pencipta segala perbuatan hamba¬nya. Dia berkehendak atas terjadinya segala perbuatan makhluk¬Nya, baik maupun buruk.
Dengan demikian, maka ilmu iradat dan kudrat Allah melekat erat
( ~• l ~ '~ J Apada segala perbuatan hambaNya. Kalau seorang
hamba merasa mampu untuk berbuat maka kemampuannya itu tidak berpengaruh apa-apa dalam membentuk segala keadilan. Allah-lah yang menjalankan sunnah atau kebiasaanNya mencipta¬kan sesuatu ketika timbulnya kemampuan si hamba: Artinya, ka¬lau seorang hamba bermaksud akan berbuat sesuatu dan telah di¬lakukannya, maka Allah menciptakan apa yang dikerjakan oleh si hamba itu. Atas perbuatannya itu si hamba mempunyai kasab. Menurut Asy'ariah, kasab itu ialah berbarengnya kemampuan si hamba dengan perbuatannya. Jadi yang menciptakan perbuatan si hamba itu Allah, yaitu ketika si hamba mau dan mampu melaku-kannya. Perbuatannya itu bukan tercipta dengan kemauan dan ke¬mampuan si hamba sendiri. Kesimpulan Asy'ariah ialah si hamba itu hanya punya kasab, sedangkan perbuatannya sendiri diciptakan Allah swt:
Karena kasabnya itulah, maka si hamba bertanggung jawab atas segala perbuatannya, dan karena kasabnya itu pula maka si hamba berhak mendapat pahala atas perbuatannya yang baik dan mendapat siksa atas perbuatannya yang buruk atau maksiat.
Dalam uraian tersebut nampaklah bahwa aliran Asy'ariah bersikap tengah-tengah antara pendapat Qadariah dan Jabariah. Allah menciptakan kemampuan dan kemauan si hamba yang ke¬duanya berperan dalam berlangsungnya perbuatan, sehingga de¬ngan demikian, rnaka perbuatannya itu makhluk Allah. Jadi makhluk Allah itu ada yang tercipta tanpa perantara, seperti batu, pohon-pohon dan sebagainya dan ada yang memakai perantara, yaitu segala makhluk yang dihasilkan oleh kerja manusia.
Karena si hamba merupakan perantara itulah maka,dia ber¬tanggung jawab dan mendapat balasan baik atau buruk. Dengan demikian, maka Allah itu bersifat adil, yaitu memberi pahala ke¬pada hamba-Nya yang berkasab buruk.
72

Tentang janji dan ancaman (siksa).
Menurut Mu'tazilah, barangsiapa yang mati dalam keadaan kufur atau sedang melakukan dosa besar, maka orang itu akan ke¬kal dalam neraka. Dan barangsiapa yang mati dalam keadaan ber¬iman, dia pasti masuk surga untuk selama-lamanya. Kaum Mu'ta¬zilah tidak menyebut adanya kemungkinan pengampunan Allah dan syafaat di hari kiamat.
Menurut Ahli Sunnah Asy'ariah, tidak ada yang kekal dalam neraka, kecuali orang yang mati dalam keadaan kufur. Dan Allah berkuasa untuk mengampuni orang yang dikehendakiNya. Pe¬ngampunan itu masih ditambah dengan adanya Syafaat (pembela¬an) dari para Nabi dan para Rasul serta para Shalihin di hari kia¬m at.
Dasar pikiran Asy'ariah ialah bahwa Allah swt itu pemilik mutlak atas semua makhlukNya. Dia berbuat apa saja yang Dia kehendaki dan menghakimi segala sesuatu menurut kehendakNya. Andaikata Allah memasukkan makhlukNya ke dalam surga, hal itu bukanlah suatu ketidakadilan. Sebaliknya, kalau Allah mema¬sukkan semua makhlukNya ke dalam neraka, hal itu bukanlah suatu kedhaliman, sebab yang dinamakan dhalim itu ialah mem-perlakukan sesuatu yang bukan miliknya, atau meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya yang semestinya. Allah adalah pemilik mutlak atas segala sesuatu, sehingga tidak bisa digambarkan tim¬bulnya kedhaliman daripadaNya.
4. Tentang melihat dzat Allah di akhirat. ~ 1'r, ~I~I1~ 3
Kaum Mu'tazilah berpendapat bahwa dzat Allah itu tidak bi¬sa dilihat di akhirat, berdasarkan firmanNya:

Artinya:
"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan ntata, sedaug Dia dapat melihat segala yang kelihatan ". (QS. AI-An'am: 103)
73
Sebaliknya kaum Asy'ariah berpendapat bahwa dzat Allah swt akan dapat dilihat di akhirat, berdasarkan firmanNya:
Artinya:
"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu borseri¬seri melihat Tuhannya".
Kita melihat bahwa ayat yang digunakan sebagai dalil oleh kaum Mu'tazilah itu tidak menyebutkan waktu, apakah di dunia atau di akhirat? Sedangkan dalil Asy'ariah waktunya di akhirat. =Dengan demikian, maka alasan Asy'ariah lebih kuat, sebab bersifat khusus mengenai waktunya, sedangkan dalil Mu'tazilah sama se¬kali tidak menyebut waktu, sehingga bisa diartikan mengenai waktunya di dunia ini.
Alasan kaum Mu'tazilah ialah bahwa yang terlihat itu harus ada di suatu tempat, di suatu jurusan, suatu bentuk dan men¬dapat cahaya, sedangkan semua itu mustahil pada Allah swt.
Sebaliknya kaum Asy'ariah berpendapat bahwa segala yang ada itu sah untuk dapat dilihat, dan dalam hal ini yang mensah¬kan penglihatan itu ialah adanya dzat Allah sendiri. Adapun sya¬rat jurusan, tempat dan sinar itu ialah untuk penglihatan di dunia, sedarigkan Allah tidak memberitahukan kita tentang bagaimana cara kita melihat Dia'itQ di akhirat, tidak pula kita membayang¬kan tempat kita melihat Tuhan.
Seluruh Ulama Ahli Sunnah wal Jamaah Asy'ariah telah ber¬sepakat atas kemungkinan melihat Allah di akhirat dan hal itu sudah mereka masukkan sebagai salah satu kepercayaan Ahli Sunnah wal Jamaah.
S. Tentang perbuatan manusia.
74

(QS Al-An'am: 103)

ciptakan amal perbuatannya sendiri, sehingga karenanya ~manusia itu bertanggung jawab untuk menerima balasan baik atau buruk secara adil, maka kaum Ahli Sunnahwal Jamaah Asy'ariah menya¬takan bahwa manusia mempunyai kemampuan -yang berpengaruh atas segala perbuatannya dengan izin Allah swt. Manusia juga mempunyai pilihan ikhtiar, tapi manusia dipaksa atas pilihannya. Tegasnya, manusia dipaksa memilih sesuatu yang sesuai dengan kemampuannya yang disediakan Allah pada dirinya. Tapi kem,am¬puan manusia itu tidak berpengaruh secara asliatas amal per¬buatannya, hanya seperti tangan yang lumpuh. Karena itu, maka manusia itu tidak bisa berbuat apa-apa, jika tidak digariskan oleh izin dan kekuasaan Allah swt.
Dengan pengertiannya itu, kaum Asy'ariah tidak mengakui adanya ikhtiar pada manusia, sesuai dengan firman Allah bawah Dia mencipta apa saja yang Dia kehendaki termasuk yang dicipta¬Nya"dengan perantaraan perbuatan manusia.
6. Tentang Syafaat, Shiratal Mustaqim, mizan (timbangan amal) dan haudl (empang 1Vabi Muhammad saw di akhirat).
Kaum Mu'tazilah juga mengingkari adanya syafaat di hari kiamat, sebab - kata mereka - kalau betul syafaat itu ada nanti, itu bertentangan dengan keharusan manusia bertanggung jawab atas segala amal perbuatannya sendiri. Sebaliknya kaum Asy'ariah mengakui adanya syafaat, karena bertalian dengan adanya hak pengampunan dari Allah swt.
Mengenai Shiratal-mustaqim, mizan dan haudl, kaum Mu'ta¬zilah menganggapnya hanya sebagai rumus pengertian atau per¬umpamaan saja. Sebaliknya kaum Asy'ariah menyatakan bahwa semua itu benar-benar ada secara fisik di akhirat.

(QS.A.I-Qiayamah:22 -23)
Kalau kaum Mu'tazilah mengatakan bahwa manusia men¬

Terima kasih atas waktunya untuk membaca TAUHID SEBAGAI KONSEP DASAR AJARAN ISLAM ini, dengan harapan semoga artikel TAUHID SEBAGAI KONSEP DASAR AJARAN ISLAM ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel TAUHID SEBAGAI KONSEP DASAR AJARAN ISLAM terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : TAUHID SEBAGAI KONSEP DASAR AJARAN ISLAM » Artikel , Resume

eMakalah.com