Selamat Datang di emakalah.com

Semoga Anda dapat menemukan apa yang anda cari,

dan semoga emakalah.com dapat bermanfaat bagi Anda

Untuk keluar dari menu/halaman ini silahkan klik LIKE / SUKA

..

Akhlak Terpuji Terhadap Diri Sendiri

Akhlak Terpuji Terhadap Diri Sendiri

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang
B. Pokok Masalah
C. Metode Pembahasan

BAB II PEMBAHASAN

A. Dilema Wanita Pekerja Dalam Analisa Gender

B. Perbedaan Gender Dengan Sosialisasi

BAB III PENUTUP
a. Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pada tahun 1948 setelah ditetapkanya deklarasi hak-hak azazi manusia oleh PBB. Perjuangan kaum perempuan untuk mewujudkan kesetaran dan keadilan gender mulai aktif dilakukan.
Pada hakikatnya, masalah gender adalah menganut prinsip, kemitraan dan keharmonisan meskipun dalam kenyataan sering terjadi perlakuan, deskriminasi, Marjinalisasi, subordinasi, beban ganda dan tindak kekerasan dari satu pihak kepihak lain baik didalam maupun diluar kehidupan keluarga.
Menyadari kenyataan adanya perbedaan gender dan bahwa perbedaan ini tidak dalam imajinasi kita akan sangat membantu, hal ini tidak berarti bahwa kita selalu benar. Kadang-kadang kita mendengar perkataan yang menjatuhkan atau secara mengaitkan kritik seseorang kepada sikap yang membedakan jenis kelamin.
Kenyataan perbedaan jenis kelamin dan ras di temapt kerja, seperti juga halnya dalam kehidupan, tidak dapat disangkal. Sebagai bagian dari kenyataan, banyak wanita yang mengalami pelecehan ditempat kerja.

B. Pokok Masalah

1. Pekerjaan Wanita Dalam Analisis Gender
2. Perbedaan Gender Dan Asosialisasi

C. Metode Pembahasan

Menanggapi masalah ini, penulis berupaya menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut. Adapun metode yang penulis pakai yaitu metode induktif serta komperatif

BAB II
PEMBAHASAN

A. Dilema Wanita Pekerja Dalam Analisa Gender

Opini publik tentang wanita dalam sejarah masyarakat, kapan dan dimanapun selalu terdapat kelas yang bersifat meremehkan martabat wanita dan memandang sebagai hamba kelas dua setelah kaum pria. Program peningkatan peraan wanita di indonesia merupakan refleksi dan perwujudan dari proses emansipasi wanita tertuang dalam surat-surat kartini melalui bukunya” Habis Gelap Terbitlah Terang” dalam menuju kesetaraan antara wanita dan pria ( M. Masyhur Amin, 1992)
Di indonesia wanita mulai dilihat perannya dalam hubungan interaksi dengan keluarga bahkan lingkungan pembangunan yang lebih luas. Dalam GBHN sebagai acuan pembagunan telah mengamanatkan peningkatan kedudukan dan peran wanita dalam pembangunan ini sejak tahun 1978. dalam GBHN 1993 program peningkatan kedudukan dan peran wnita dalam pembangunan jangka panjang tahakp II (PJPT II ) diarahkan pada sasaran umum yaitu meningkatkan kualitas wanita dan terciptanya iklim sosial budaya yang mendukung bagi wanita untuk mengembangkan diri dan meningkatkan perannya dalam berbagai dimensi kehidupan berkeluarga, berbangsa dan bernegara.
Kita menyadari bahwa setiap kebijaksanaan dan startegi yang diterapkan dalam pelaksanaan pembagunan tidak selalu memiliki dampak, mampaat akibat yang sama terhadap pria dan wanita. Kesenjangan antara wanita dan pria dalam berbagai bidang pembangunan dalam kehidupan berkeluarga, berbangsa dan bernegara.
Wanita sebagai tenaga kerja memperoleh lapangan kerja yang terbatas dari pada pria, juga dari segi upah atau gaji yang diterima lebih rendah dari pada pria. Dalam hal ini yang ingin dikaji adalah dilema wanita pekerja dari tingkat upah yang lebih rendah antara pria dan wanita.

A. Dilema Wanita Pekerja Dalam Analisi Gender

Peningkatan peran wanita sebagai mitra yang sejajar dengan pria dalam pembangunan berarti meningkatkan tanggung jawab wanita sebagai pribadi yang mandiri dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan demikian bersama pria, wanita bertanggung jawab atas kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut diperlukan kerja keras disertai peningkatan kualitas dan produktifitas tenaga kerja wanita sebagai insan pembangunan yang tangguh diberbagai sektor.
Masyarakat indonesia sedang mengalami perkembangan dari masyarakat yang agraris kemasyarakatan industri. Dalam proses tersebut pengintegrasian wanita dalam pembangunan, terutama wanita dari golongan ekonomi lemah, yang berpenghasilan rendah perlu digalakkan, melalui peningkatan kemampuan dan keterampilan untuk melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi produktif, dalam rangka memperluas kesempatan kerja dan menciptakan usaha bagi diri sendiri. Hal ini sangat perlu sebab wanita dari golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah, umumnya melakukan peran ganda karena tuntutan kebutuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidup bangsa ( M. Manshur, 1992).
Jenis pekerjaan wanita dangat ditentukan oleh seks. Sedangkan oleh laki-laki tidak. Pekerjaan wanita selalu dihubungkan dengan sektor domestik, jika ia bekerja maka tidak jauh dari kepanjangan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga seperti: Bidan, perawat, guru, dan sekretaris yang lebih banyak memerlukan keahlian manual saja. (M.. Manshur Amin, 1992).
Jenis neo klasik tentang pembagian kerja seksual menerangkan bahwa, ada perbedaan seksual yang mempengaruhi produktivitas dan keahlian tenaga kerja. Teori tersebut menggunakan dua aumsi yaiotu:
a. Pada Kondisi persaingan pekerjaan akan memperoleh upah besar margin produk yang dihasilkan.
b. Keluarga akan mengalokasikan sumber daya (Waktu dan uang/diantara para anggota para secara rasional yang mengakibatkan wanita memperoleh human kapital yang lebih sedikit dari pada pria pendidikan, keterampilan, kesempatan lain). (M. Manshur Amin. 1992)
Keadaan tersebut akan menyebabkan wanita memperolah pengahasilan yang rendah. Secara umum upah atau gaji yang diterima lebih rendah dari pada pria, di daerah perkotaan dan pedesaan. Adanya perbedaan tingkat upah menurut masri singarimbun (Kedaulatan Rakryat, 5 Juli 1982) belum ada keseimbangan antara pendapat dengan tenaga yang dikeluarkan oleh wanita pada umumnya bahwa standar upah wanita dibawah kewajara.
Secara umum terdapat faktor penentu tingkat upah yaitu:
1. Faktor Internal. Meliputi jam kerja dan lamanya bekerja
2. Faktor Eksternal. Meliputi jenis kelamin , tingkat pendidikan
Menurut analisis Gender, perbedaan tingkat upah antara pria dan wanita disebabkan oleh peran ganda itu sendiri yang menimbulkan masalah ketidakadilan dari peran dan perbedaan gender tersebut. Berbagai manivestasi ketidakadilan yang ditimbulkan dengan adanya asumsi, seperti:
1. Terjadinya Marginalisasi (Pemikiran ekonomi terhadap kaum wanita)
Meskipun tidak setiap marginalisasi disebabkan oleh ketidakadilan gender namun yang dipersoalkan oleh analisis gender adalah marginalisasi yang disebabkan oleh perbedaan gender.
2. Terjadinya subordinasi pada salah satu jenis seks yang umumnya pada kaum wanita. Bentuk dan mekanisme dari proses subordinasi tersebut dari waktu kewaktu berbeda. Seperti anggapan bahwa anya mengandalkan keterampilan alami (sifat alamiah wanita: kepatuhan, kesetiaan, ketelitian dan ketekunan serta tangan yang terampil, menyebabkan perempuan dilihat sebagai pekerja kurang terampil, sehingga mendapatkan upah yang lebih rendah dibadingkan pekerja laki-laki yang dianggap berketerampilan atau berpendidikan
3. Pelebelan Negatif (Streottype) terhadap jenis kelamin tertentu, terutama terhadap pada kaum perempuan dalam masyarakat banyak sekali Streottype yang dilebelkan pada kaum perempuan dan berakibat membatasi, menyulitkan memiskinkan, merugikan kaum perempuan. Anggapan patrilinear menyatakan bahwa laki-laki adalah pencari nafkah yang sifatnya skunder. Akibatnya dalam pasar tenaga kerja perempuan berstatus skunder.
4. Terjadinya kekerasan (Violence) terhadap terhadap jenis kelamin tertentu. Umumnya perempuan karena gender.

B. Perbedaan Gender Dengan Sosialisasi

Gender yang amat lama, mengakibatkan kaum perempuan secara fisik lemah san kaum lelaki umumnya lebih kuat. Masyarakat juga lebih mendukung perempuan yang lebih bersikap malu-malu dan tunduk kepada superioritas, takut terhadap pengalaman dan orang-orang yang baru dijumpai (sikap kepatuhan yang menyebabkan mereka berani menuntut upah yang lebih tinggi yang telah ditetapkan perusahaan dan sikap tidak mau keributan)
Adanya sosialisasi peran gender dalam masyarakat menjadikan rasa bersalah bagi perempuan jika tidak melakukan yang bersaifat demokratis. Sementara bagi kaum laki-laki, tidak merasa tanggung jawabnya bahkan banyak tradisi yang melarang secara adat berpatisipasi. Beban kerja tersebut menjadi dua kali lipat bagi kaum perempuan yang juga berkerja. Diluar rumah dan harus bertanggung jawab untuk keseluruhan pekerjaan domestikk (Mansour Fakih,1996).
Wanita indonesia sedang menghadapi dilema dalam pekerjaan dimana dilema antara karier dalam hal ini tingkat upah dan keluarga tetap menghendaki wanita




BAB III
PENUTUP

a. Kesimpulan
Jalan menuju kemitraan antara pria dan wanita merupakan jalan panjang mulai dari jaman R.A Kartini sampai sekarang masih merupakan proses yang harus ditempuh. Wanita sebagai insan pembangunan diharapkan dapat mengembangkan diri dan meningkatkan perannya dalam berbagai dimensi kehidupan, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
Peningkatan peran dan kedudukan wanita seperti yang tercantum dalam GBHN, dalam mkenyataan selalu mendapat tantangan. Dimana terlihat dengan adanya kesenjangan antara wanita dan pria baik dari jenis pekerjaan maupun upah yang diterima. Perbedaan ini disebabkan oleh faktor sosial baik yang bersifat internal maupun eksternal
Menurut analisi gender bahwa dilema wanita pekerja timbul karena adanya perbedaan gender dan proses sosialisasi peran gender tersebut

DAFTAR PUSTAKA


ANNE DICSON. 2001, Women At Work. Wanita Di Tempat Kerja, Jakarta. Pt. Grasindo
Terima kasih atas waktunya untuk membaca Akhlak Terpuji Terhadap Diri Sendiri ini, dengan harapan semoga artikel Akhlak Terpuji Terhadap Diri Sendiri ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Akhlak Terpuji Terhadap Diri Sendiri terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Akhlak Terpuji Terhadap Diri Sendiri » Makalah