Konsep Pendidikan Idealisme dan Pragmatisme

Konsep Pendidikan Idealisme dan Pragmatisme BAB I PENDAHULUAN Menurut pengertian dasarnya studi membandingkan konsep pendidikan mempunyai arti menganalisa dua hal atau lebih untuk mencari kesamaan–kesamaan dan perbedaan–perbedaannya. Sehingga dengan demikian akan dapat memberikan pengertian dan pemahaman terhadap berbagai macam system pendidikan yang ada di berbagai negara dan kawasan dunia. Selain dari beberapa hal tersebut dengan studi membandingkan konsep pendidikan yang ada akan mengakibatkan tumbuh dan berkembangnya kemampuan untuk membandingkan berbagai pendidikan dari berbagai negara dan kawasan dunia tersebut. kemudian selain yang tersebut dengan studi perbandingan ini pula, seseorang akan lebih mudah untuk menganalisa dan menyimpulkan sumber – sumber kekuatan dan kelemahan dari system pendidikan yang berorientasi pada tujuan – tujuan pendidikan internasional dan universal. Dalam memajukan pendidikan, suatu negara perlu membandingkannya dengan pendidikan di negara lain, dengan tujuan untuk mengetahui persamaan dan perbedaannya, kelebihan dan kekurangannya, lalu mengambil unsur positifnya sekaligus menyesuaikan dengan kondisi lokal. Dorongan rasa ingin tahu manusia yang kuat, telah mendorong seseorang untuk mengetahui dan mempelajari lebih jauh tentang keadaan kehidupan yang berlaku di luar lingkungan masyarakatnya atau negaranya sendiri. Dan dengan mengetahui keadaan kehidupan yang berlaku di luar lingkungan masyarakatnya sendiri dan dapat mengetahui kehidupan masyarakat lainnya itu akan mengakibatkan terjadinya saling pengertian dan terjadinya kerja sama dan saling tolong menolong untuk mencapai tujuan dan kemajuan bersama. Untuk mengetahui keberadaan di luar masyarakatnya atau bangsa lainnya diperlukan apa yang sekarang dikenal dengan istilah studi komparative atau studi perbandingan. BAB II PEMBAHASAN A. Epistemologi Idealisme tentang pendidikan Tokoh utama aliran idealisme ini adalah Plato (427-374) dengan ajaran filosofisnya yang fundamental dengan mengatakan bahwa sesuatu yang riil adalah sesuatu yang berada diruang idea, menurutnya, idea merupakan gambaran jelas tentang dunia realita yang ditangkap oleh panca indra manusia. Bagi aliran ini, idea itu sendiri bersifat tetap,tidak mengalami perubahan dan pergeseran. Apa yang terlihat oleh kita sebagai sesuatu yang mengalami perubahan atau pergerakan sesungguhnya hanyalah karena ketidak kesempurnaan dunia idea dalam menampakkan dirinya di dunia. Idealisme berkeyakinan, bahwa apa yang tampak dalam realitas bukanlah merupakan sesuatu yang riil, tetapi lebih merupakan bayangan atas apa yang bersemayam dalam alam pikiran manusia yang tidak lain merupakan ekspresi jiwa pikir manusia dalam merumuskan dunia ideanya ke alam materia. Menurutnya realitas kebenaran dan kebaikan sebagai “idea” telah dibawa manusia sejak ia dilahirkan, dan karenanya bersifat tetap dan abadi. Sedemikian rupa, sehingga ajaran pokok filsafat yang dibawa idealisme lebih mengagungkan jiwa dari badan. Tokoh-tokoh lain yang disebut-sebut sebagai pembangunan aliran ini antara lain adalah : Hegel, Imanuael Kant, David Hume, al Ghazali. Di dalam tradisi filsuf idealisme yang berbeda-beda telah pula melahirkan teori pengetahuan yang berbeda-beda pula. Plato sependapat dengan gurunya Socrates yang menyebutkan bahwa pengetahuan yang diterima melalui indra mesti selalu berada pada ketidak pastian dan ketidak kompleksan. Hal ini dikarenakan dunia materi yang tidak lain adalah pantulan dari being yang lebih sempurna dan dalam realitasnya selalu tidak mencerminkan keseluruhan subtansi yang sesungguhnya. Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah. Gambaran asli dari dunia idea manusia hanya dapat dipotret oleh jiwa murninya yang dalam banyak hal berkenaan dengan intelek manusia. Idealisme memandang bahwa realitas sejati adalah dunia ruhaniah, bukan yang materi. Pengetahuan yang diperoleh melalui panca indra bukanlah sesuatu yang pasti, karena memang apa yang ditangkap indra manusia hanya sebatas apa yang ia lihat, ia raba, ia rasa, ia cium, dan yang ia dengar. Sesuatu yang jelas dan pasti bagi idealisme adalah sesuatu yang ada dalam ruang ide, bukan sesuatu yang tampak oleh indra. Pengetahuan indrawi menurutnya tidak dapat memproduksi pengetahuan yang sesungguhnya karena menguji validitasnya tidak lengkap. Alam dalam pandangan idealisme adalah gambaran dari dunia idea, sebab posisinya tidak menetap. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli yang memiliki watak tetap dan konstan. Keberadaannya sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh dunia material. Pada kenyataannya, idea digambarkan dengan dunia yang tidak berbentuk. Demikian juga jiwa yang bertempat didalam dunia yang tidak bertubuh yang dikatakan dunia idea. Ajaran yang menjadi karaktersistik idealisme adalah seperti apa yang banyak dibicarakan Plato sebagai bapak idealisme itu sendiri adalah teori tentang forma dan keabadian jiwa manusia. Ajarannya tentang forma ini mengacu pada pengetahuan tentang suatu benda yang tidak berada di dunia empiris, tetapi lebih merupakan eidos yang bersifat abadi, dan konstan yang telah dibawa manusia sejak ia muncul ke dunia. Kaum idealisme menyakini, bahwa pengetahuan yang sesungguhnya adalah produk akal an sich. Akal baginya merupakan kemampuan seseorang dalam melihat secara tajam bentuk-bentuk spiritual murni dari sesuatu yang melampaui bentuk materialnya. Pengetahuan indra tidak akan dapat menjadi pengetahuan yang sebenarnya tanpa membiarkan akalnya bekerja untuk menyusun pengetahuan yang memadai tentang apa yang ia lihat. Sedemikian rupa, sehingga kaum idealis pun percaya bahwa apa pun yang tampak secara nyata dan ditangkap sebagai suatu kebenaran oleh indra manusia tidak lain adalah pantulan nyata dari apa yang sesungguhnya ada dan dirumuskan dalam dunia idea manusia yang ada bersamaan dengan adanya manusia di dunia. Idea dalam epistemologi idealisme ini merupakan sesuatu yang memiliki relasi penting dalam alam kosmos. Idea di sini lebih berarti sebagai wilayah mental semata. Secara esensial idea-lah yang memberikan bentuk bagi dunia kosmos. Dunia kosmos tidak akan berarti apa-apa, tanpa dibangun oleh dunia idea manusia. Jadi, sesuatu yang riil adalah sesuatu yang berada di dunia idea yang secara riil pula menyatu dengan diri manusia sejati. Apa yang ada di luar diri manusia adlah gambaran nyata dari apa-apa yang terhimpun dalam alam idea manusia. Konsep Platonik ini kemudian dielaborasi secara metodologis oleh Hegel dengan mengatakan, bahwa pengetahuan itu hanya valid sepanjang pengetahuan itu membentuk sebuah sistem. Hal ini mengingat bahwa realitas yang sesungguhnya tidak lain adalah bersifat rasional dan sistematis. Berdasarkan tesis ini pula, selanjutnya Hegel dengan tegas mengatakan, bahwa pengetahuan kita tentang realitas adalah benar jika sesuai dengan sistematika rasio kita untuk itu. Semakin komprehensif sistem pengetahuan kita dan semakin konsisten ide-ide yang melingkupi tentang pengetahuan itu, maka dapat dikatakan pengetahuan itu semakin benar. Prinsip ini secara epistemis, biasanya merujuk kepada teori kebenaran koherensi yang dalam keseluruhan bangunannya didasari pada pandangan bahwa ilmu pengetahuan tertentu akan selalu menjadi signifikan kepada ilmu yang lainnya ketika ia menunjukkan dalam konteks totalitasnya. Hal ini tidak lain adalah karena memang semua ide dan teori mesti menjadi valid sesuai menurut koherensinya di dalam suatu sistem pengetahuan yang terus berkembang. Tesis ini meniscayakan pengakuan idealisme tentang adanya keterikatan kebenaran ilmu dengan ruang dan waktu. Ajaran idealisme tentang antologi ilmu, ilmu menjadi dasar bagi pengembangan teori pendidikannya. Teori pendidikan Plato sebagai tokoh penting dalam idealisme mengarahkan perhatiannya pada empat fakta utama, yaitu : 1. Ajarannya yang berkenaan dengan jiwa dan segala unsur yang menyangkut kesemua varian personality manusia. 2. Ajaran pokoknya tentang masyarakat. 3. Ajaran filsafatnya tentang hubungan individu dan masyarakat. 4. Pendasaran pendidikan pada ha-hal sebelumnya. Dalam ajaran filsafat idealisme, penegatahuan merupakan suatu bagian dari pemikiran manusia yang dikategorisasikan melalui alam objektif yang ditangkap melalui indra manusia. Oleh karena itu, objek pengetahuan mestilah melalui idea-idea yang keseluruhan koneksitasnya bersifat sistematis. Menurut Plato, pengetahuan adalah suatu keadaan yang berhubungan dengan pikiran individu yang ditandai dengan suatu kepastian seperti yang ditunjukkan oleh alam dan objek-objeknya. Bagi Plato, dunia observasi adalah suatu sistem komperhensif dari dunia ide yang akan menjelaskan dunia itu. Hasil pandangan inilah yang seacar nyata membawa perubahan bagi duania partikular. Pengetahuan dalam bentuk ini adalah ketika imaji-imaji ide membatasi lingkupnya dan menghubung-hubungkan bahagian yang satu dengan yang lainnya sehingga ia masuk pada dunia nyata yang observasi lewat indra. Idealisme dalam konteks ini meyakini akan adanya dua macam realitas, yaitu apa yang tampak dan yang dialami oleh manusia sebagai makhluk hidup ; dan apa yang tampil dalam bentuk realitas sejati yang berada dalam alam idea yang memiliki sifat sempurna. Yang terakhir ini akan tampak dalam bentuk gagasan dan pikiran yang utuh yang didalamnya terdapat nilai-nilai yang murni dan asli yang bersifat abadi dan hakiki sehingga kedudukannya pun lebih tinggi dari dunia riil yang bersifat materi dan indrawi. Berdasarkan ini semua, maka akhirnya Plato menyimpulkan bahwa pengetahuan berada dalam dua tingkatan, yaitu hipotesis dan kepastian absolut. Plato berpendapat bahwa pengetahuan adalah kesadaran dunia idea manusia bahwa pengetahuan yang diajukan dan kesadarannya memiliki hubungan sistematis dengan keseluruhan ideanya tentang kebaikan yang mutlak sebagai prinsip tertinggi dan kehidupan manusia. Plato menulis bahwa teori tentang forma manapun baru bisa di benarkan, jika argumentnya koheren dengan prinsip kebaikan tertinggi yang disebut dengan The Beutiful (yang indah): ini merupakan sumber dari segala eidos. Ia adalah sumber segala pengetahuan manusia dan kebenaran . analisisnya yang sedemikian, akhirnya memberikan suatu tesis bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia meski selalu dilandasi oleh idea-ideanya kebaikan tertinggi sebagai somum bomum kehidupannya di dunia. Oleh karena itu, menurutnya, tidak ada seorang anak manusia pun yang berkeinginan bahwa pengetahuannya bertentangan dengan tujuan hidupnya, yakni meraih kebahagian (eudamonistik) sejati. Plato dalam hal ini menempatkan konsep the idea of yhe good ini sebagai orientasi pendidikan dan mesti menjadi sesuatu yang sangat penting dan strategis dalam mengembangkan konsep dasarnya tentang pendidikan. Ajaran filsafat plato tentang idea ini memberikan keyakinan bahwa idea dapat meningkatkan kemampuan rasio manusia. Idea memiliki hubungan langsung dengan putusan-putusan rasio yang mengarah pada pembentukan sikap. Fakta empiris dan tingkah laku manusia tidak lain adalah refleksi dari dunia internet idea ini. sedemikian rupa, sehingga metode pembelajaran apa pun dalam keseluruhan variasi nilainya mesti pula selalu berorientasi pada upaya. Memampukan subjek-subjek didik berkontemplasi dan memosisikan pengetahuan hipotesis sebagai awal gerak pengembangan keilmuan mereka. Secara implisit terlihat, Plato cenderung untuk mengatakan bahwa belajar bukanlah didasarkan pada pengetahuan empiris, tetapi hendaklah melalui pembinaan rasio. Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa rasio manusia adalah sesuatu yang laten dalam tahun-tahun pertama kehidupan manusia bahkan selama perjalanan kehidupan manusia di dunia. Oleh karena itu, bagi idealisme pembinaan rasio merupakan tugas utama dan pertama dalam dunia pendidikan. Hal ini penting mengingat aspek kematangan rasio ini merupakan titik tolak beragam aktivitas intelek manusia seperti aspek imajinasi, kretivitas, inisiatif pengetahuan, dan bahkan semua aktivitas yang bermuara pada lahirnya beragam inovasi dalam keseluruhan ini kehidupan tidak dapat terhindar dari kematangannya. Hampir semua kelompok idealisme di jerman termasuk Immanuel Kant sebagai tokoh yang dianggap sebagai pemuncak idealisme di jerman menyebutkan, bahwa esensi pengetahuan adalah imposisi maknawi dan bentuk yang dikumpulkan melalui informasi yang diambil melalui informasi yang diambil melalui indrawi. Bagi mereka, inti pendidikan terletak pada pengajaran dan pelatihan, terutama yang diperlihatkan melalui contoh-contoh yang diberikan oleh orang dewasa terhadap subjek didiknya. Dalam ajaran filsafat idealisme dikatakan, bahwa tujuan mengajar bukanlah sekedar menghadirkan sebanyak-banyaknya informasi atau pengetahuan kepada subjek didik yang dapat membantunya memahami bentuk dan arti tentang hal itu. Beberapa kaum idealisme yang dikenal sebagai kaum personalis menyebutkan bahwa subjek didik mesti diarahkan agar mampu mengaitkan informasi yang diberikan pada pengalaman yang mereka miliki sebelumnya sehingga apa yang mereka pelajari memiliki arti baginya secara personal. Plato sebagai tokoh idealisme ternama berpendapat bahwa belajar tidak dapat dimaknai hanya dalam pengertian pemberian pengetahuan seluas-luasnya kepada subjek didik. Bagi Plato, perkembangan normal belajar anak manusia selalu diawali dengan penyempurnaan wilayah persepsi, terus melalaui konveksi dan pemahaman maka akan diperoleh pemenuhan aktivitas akal. Plato berpandang semua orang dapat membentuk pemahaman yang benar tentand dunia dan moral. Oleh karena itu belajar mestilah juga dipahami sebagai pembiasaan dan pelatihan. Semua manusia memiliki kemampuan untuk mencapai nilai moral, karena memang ia lahir untuk merealisasikan nilai moral itu. Namun mengingat pada tahap pertama dan kedua perkembangan psikologi anak selalu menunjukkan kontemplasinya hanya sebatas apa yang dapat ia observasi dan yang ia dengar dari alam sekitarnya, maka semua aspek pembelajaran pada masa ini mesti diarahkan pada wilayah pembiasaan nilai-nilai moral. Pembinaan moralitas dikatakan idealisme sebagai identitas pembelajaran dalam maknanya yang luas. Hal ini mengingat bahwa orang yang bermoral adalah orang-orang yang dapat memformulasikan ragam realitas empiris kedalam tata hukum yang dapat diekspresikan dalam kehidupan. Atas dasar epistemik diatas, maka dunia pendidikan dalam konteks idealisme lebih ditunjukkan untuk pembentukan kepribadian individual yang memiliki kehidupan bermakna yang ditandai dengan munculnya kepribadian yang harmonis dan penuh yang sarat dengan nilai kebahagiaan (eudamonistik), mampu menahan berbagai ragam tekanan hidup, yang pada akhirnya diharapkan ia mampu membantu individu lainnya untuk hidup lebih baik. Dalam hidup bersosial pun ditunjukkan dengan sikap persaudaraan yang tinggi sesama manusia yang terbingkai dalam bentuk hubungan kemanusiaanyang saling pengertian, kepedulian dan rasa saling menyayangi satu dengan yang lain. Kepribadian seperti inilah yang menjadi sasaran dunia pendidikan. Oleh karena itu pula, maka guru di samping sebagai seorang spesialis dalam suatu ilmu pengetahuan dengan penguasaan teknik mengajar secara baik; guru juga mesti berfungsi sebagai subjek yang mampu menjadi sosok teladan dan personofikasi dari kenyataan si anak didik. Guru dalam hal ini selain mesti menjadi pribadi terbaik yang akan dicontoh muridnya, juga m esti dapat menjadi teman bagi para muridnya dalam gerak membangkitkan gairah dan semangat belajar mereka. Guru pun mesti menghargai kebebasan berpikir muridnya agar berkembang menuju ke arah yang diinginkan. Dengan memberikan kondisi sedemikian, akan memberikan peluang yang luas bagi anak didik untuk memunculkan ragam ekpresi jiwanya atas apa yang dilihatnya dalam lingkungannya. Sedemikian rupa mereka akan berjiwa kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab. Hal ini merupakan suatu kemestian dalam aktivitas pendidikan terutama mengingat bahwa dalam semua proses pengembangannya rasio memerlukan keleluasaan dalam gerak perhatian dan analisisnya untuk dapat mencerna dan memahami realitas sesuai dengan konteks keabadian. Epistemologi idealisme ini meniscayakan kurikulum yang digunakan dalam pendidikan pun lebih berfokus pada isi yang secara objektif menyediakan beragam pengalaman belajar sebanyak-banyaknya pada subjek didik untuk mampu menggerakkan jiwanya pada ragam realitas yang akan memperkukuh cara berpikir dan analisisnya terhadap keseluruhan realitas pengalamannya. Pribadi idealisme adalah pribadi yang peka terhadap realitas disekitarnya, sehingga tidak satu pun kejadian yang dilihat dan didengarnya luput darin pikirannya. Sedemikian rupa sehingga memunculkan kepribadian yang cermat dan tangkas dalam mencerna keseluruhan realitas yang terbangun dari ruang ideanya. 1. Pendidik ideal Di dalam masyarakat, ada guru yang hanya menyampaikan pelajaran di kelas tanpa memerhatikan sikap dan prilaku anak didiknya. Bahkan ada guru yang terhadap dirinya sendiri tidak peduli, sehingga tidak patut diteladani. Guru ini hanya peduli pada kemampuan intelektual. Ada juga, di samping mengajar karena memiliki kompetensi intelektual, juga perhatian terhadap sikap dan perilaku anak didiknya. Ia sadar, sebagai guru yang layak di gugu dan ditiru. Guru ini memiliki kemampuan moral. Ada guru yang lebih baik lagi. Di samping berprilaku seperti yang kedua, juga mau berkorban waktu dan tenaganya bahkan sebagai harta untuk keberhasilan anak didiknya, karena dia memiliki kemampuan sosial. Ada juga yang memiliki lebih dari itu, yaitu guru ideal yang berciri sebagaimana di atas ditambah keikhlasan berdoa, riyadhah, dan berkorban untuk anak didiknya agar tidak saja berhasil dalam menuntut ilmu tapi juga menjadi anak yang saleh dan memiliki ilmu yang bermanfaat. Terhadap muridnya, dia bersikap sebagaimana kepada anak kandungnya sendiri. Dia guru yang memiliki kemampuan spiritual. Pendidikan ideal adalah yang memiliki empat kompetensi sebagaimana di atas (intelektual, moral, sosial, dan spiritual). Secara panjang-lebar Imam al-Ghazali (t.th.:55-56) menjabarkan kompetensi-kompetensi diatas menurut pemikirannya yang luas dan mendalam, yaitu : 1. Kasih sayang guru kepada muridnya seperti halnya orangtua menyayangi anak kandungnya. Ini didasarkan pada Hadis, “Semata-mata aku (kata Nabi) terhadap kamu (para murid-sahabat) bagaikan orangtua terhadap anak kandungnya” (H.R. an-Nasai, Abu Daud, Ibn Majah, dan Ibn Hibban). Dalam matan yang lain, “Semata-mata aku terhadap kamu sekalian (murid dari para sahabat) berkedudukan sebagai orangtua yang akan mengajarimu” (H.R. Ahmad, Abu Daud, an-Nasai, Ibn Majah, dan Ibn Hibban, dalam ash-Shuyuthy, I:103). Ini adalah sikap dan perilaku pendidik yang luar biasa. Dapat dibayangkan betapa besar tanggung jawab guru terhadap pendidikan muridnya. Secara lahir ia mengajar dengan profesional dan secara batin dia berdoa, sanggup berkorban untuk keberhasilan muridnya, dan pantang menyerah karena tidak rela anak didiknya yang dihayati sebagai anak kandungnya gagal. 2. Mendidik tidak karena motif materi (upah), walaupun materi harus didapat melalui sistem tertentu, tapi karena tugas dan tanggung jawab. “Aku tidak minta harta benda kepada kamu (sebagai upah) dari seruanku, upahku hanyalah dari Allah”(Q.S. Hud/11:29). Materi harus diperoleh berdasarkan sistem yang dibangun, diantaranya dari komitmen antara lembaga dan orangtua, masyarakat, pemerintah dan sebagainya. Ini agar materi dapat diperoleh secara otomatis, sedangkan guru denagn murid hanya berhubungan secara akademik, tanpa disibukkan urusan materi agar keikhlasan terjaga. “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat” (Q.S. asy-Syura/42:20). 3. Tidak meninggalkan nasihat pada muridnya bahwa keberhasilan menuntut ilmu adalah kebahagian dunia dan akhirat secara integral. Ini sejalan dengan prinsip tujuan hidup sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”(Q.S> al-Baqarah/2:201). Didalam Q.S. al-A’shr : 1-3 secara tegas dinyatakan bahwa keberhasilan hidup ditentukan oleh iman dan amal saleh serta saling menasehati untuk melakukan kebenaran dan bersikap sabar. 4. Mencegah anak dari akhlak tercela tanpa menyinggung perasaan, yakni dengan kasih sayang dan tidak dengan terang-terangan, apa lagi dengan celaan atau cemoohan. Cemoohan akan mengoyak atau merendahkan harga diri dan menimbulkan perlawanan. Ini termasuk yang sulit dan rumit dalam proses mengajar. Semua ini membutuhkan kematangan jiwa, dan itulah akhlak mulia, moralitas yang tinggi. 5. Antara satu guru dan guru yang lain tidak boleh saling merendah-kan dan menghinakan, karena hal itu merupakan akhlak tercela bagi guru. Hal itu akan merusak kewibawaan guru yang berdampak rusaknya proses pembelajaran. Di samping merupakan ghibah (gosip) dan berpotensi fitnah yang menyerang kawan secara sembunyi dan menikam dari belakang, guru yang digosipkan dan difitnah akan hancur secara perlahan. Oleh karena itu, fitnah bukan saja dilarang tapi diharamkan. 6. Mampu menjelaskan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan taraf berpikir murid, sebab bila suatu penjelasan atau pelajaran diatas kemampuan, akan menyusahkan mereka dan akhirnya ditinggalkan. “Kami para nabi diperintahkan untuk menempatkan diri sesuai dengan kedudukan manusia dan berbicara sesuai dengan kadar pemikiran mereka" (H.R. Abu Daud). Dalam hadis lain disebutkan, “Tidaklah seseorang yang berbicara kepada masyarakat suatu yang tidak dapat dipahami oleh mereka melainkan akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka itu. “untuk itu, tidak sepatutnya guru menyampaikan semua yang diketahui, karena jika dapat dipahami oleh murid bisa jadi tidak mampu dia jalankan. Apalagi bila tidak dapat dipahami, akan semakin tidak baik. 7. Bagi anak yang lemah, sepatutnya diberikan penjelasan yang lebih sesuai dengan kemampuannya, tanpa menyebutkan bahwa di balik penjelasan ity ada keterangan yang lebih detail dan mendalam, karena justru akan menimbulkan keraguan dan kebingungan bagi mereka, sehingga berbalik tidak menyukainya. 8. Guru harus dapat menyesuaikan antara ucapan dan perilaku, antara ilmu dan praktik, dan tidak boleh berbohong. Hal itu akan merusak kepercayaan murid kepadanya. Dampak buruk yang ditimbulkan oleh kejahatan orang pandai jauh lebih besar dari dampak buruk darin kejahatan orang bodoh, karena kejahatan orang pandai akan diikuti oleh banyak orang. Di samping itu, Alquran mengkritik dengan pertanyaan, “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri? (Q.S al-Baqarah/2:44). Mengacu sebagian proses Muhammad menjadi nabi dan rasul, yang dia menyatakan “semata-mata aku diutus sebagai guru” (innama bu’itstu mualliman), ada beberapa tahapan yang mesti dilewati oleh calon guru menuju guru ideal : 1. Terpercaya. Dalam berucap, bersikap, dan berprilaku, calon guru melatih diri menjadi manusia yang obyektif dan jujur, sehingga terpercaya (al-amin) di mata orang lain. Kalau dipercaya, apapun yang diucapkan dan diperbuat dipercaya orang lain. Inilah sosok calon guru ideal, sebagaimana Nabi Muhammad. Guru yang jujur dan terpercaya adalah guru yang mudah mendidik dan mengajar muridnya, karena sebelum menyampaikan pelajaran, dia telah dipercaya dan disukai serta dirindukan terus kehadirannya. Ini salah satu kompetensi guru, yaitu kompetensi moral (amanah). 2. Pandai membaca. Isyarat yang jelas dan nyata anjuran membaca adalah ayat pertama yang turun kepada Muhammad merupakan perintah membaca baik yang tertulis maupun tidak. Bekal wawasan dan pengetahuan yang cukup menjadi syarat untuk menjadi apapun, termasuk menjadi guru. Dan ilmu itu hanya bisa diperoleh melalui belajar (innama al-ilmu bi at-ta’allum). Guru harus berilmu cukup, agar ada yang bisa diberikan kepada murid. Kata pepatah, “Orang yang tidak punya sesuatu tidak akan bisa memberi” (faqidu asy-syai’i la yu’thy). Ini juga salah satu dari kompetensi guru, yaitu kompetensi keilmuan atau inlektual (fathanah). 3. Menjadi teladan. Untuk menjadi teladan, guru harus berakhlak mulia atau beradab. 4. Jujur dan tegas. 5. Pengasih. 6. Demokratis. 7. Ikhlas. Pendidik ideal adalah guru yang beruntung, bernsib baik, dan mulia. Dia beruntung karena terkadang mendapat hadiah atau hibah tanpa dimintai dan diduga. Jumlahnya kadang tak terhitung, datangnya tidak dikira, karena merupakan bukti kebenran janji Allah “Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas” (Q.S. al-Baqarah/2 : 212). Dia bernasib baik di antaranya sering berhasil dan selamat dalam banyak hal bukan semata kemampuan dan usahanya, tapi nasibnya yang baik. Di saat orang lain sulit mencari sesuatu, orang yang bernasib baik bisa memerolehnya karena ditawari atau diberi tanpa usaha. Namun demikian, hal ini tidak boleh mematikan kesungguhan usaha dan kerja keras, melainkan tanda keberkahan hidup, yaitu mendapat tambahan nikmat karena sikap dan perilaku yang baik. Dia mulia dan dimuliakan, yang tidak hanya disegani dan dihargai saat hidup di dunia, tapi setelah meninggal pun masih dihormati (“dikeramatkan”). Hal ini ditandai seringnya didoakan oleh masyarakat yang merasa telah mendapat jasa darinya, disebut-sebut jasanya, petuahnya diikuti, peninggalannya dikenang. Ini sejalan dengan janji Allah, “Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan” (Q.S. Yasin/36 : 12). Menurut kacamata sistem pendidikan Islam, di samping memiliki empat kompetensi di atas, guru ideal adalah pendidik yang secara integral dalam mengemban tugas berupaya meraih keberhsilan di dunia dan akhirat. Keberhasilan dunia ditandai oleh prestasi dalam pendidikan dan pengajaran, yakni nilai akademik dan moralitas anak didiknya tinggi serta dia ditempatkan di posisi terhormat di mata masyarakat luas. Sedangkan keberhasilan di akhirat adalah adanya harapan yang jelas dan optimis karena upaya nyata dari guru yang bersangkutan, di mana tugas atau kerja mendidik itu menjadi amal saleh. Ilmu yang dia ajarkan dapat diamalkan dalam mempersiapkan hidup layak di dunia dan hidup bahagia di akhirat. Pendidik ideal selalu berorientasi pada upaya mewujudkan cita-cita manusia ideal pula. Walau sudah meninggal, dia sesungguhnya tetap hidup sepanjang masa, karena jasa ilmu yang diajarakan tetap diamalkan oleh muridnya. Berkat pendidikannya itu, lahir anak saleh yang kelak mendoakannya, dan ilmu yang diberikan juga menjadi sedekah jariyah yang terus-menerus membantu anak muridnya. Ini sama dengan janji Nabi Muhammad, “Jika anak Adam telah meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga perkara : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang akan mendoakan” (H.R. al-Bukhari, at-Tarmidzi, an-Nasai, dan Abu Daud; dalam al-Ajluny I,1351 H.: 99) karena itu, berbahagialah orangtua dan guru yang berhasil mendidik anak dan peserta didiknya sehingga sukses di masyarakat dan ilmunya bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, memiliki harta yang lebih dari cukup, dan saleh secara pribadi dan sosial. Dengan begitu para orangtua dan guru dapat melestarikan amal kebajikan mereka berupa pendidikan dan pengajaran yang telah diberikan. Pendiikan ideal adalah guru yang moralis. Contohnya dapat dilihat pada sosok Nabi Muhammad sebagai pendidik, “Buitstu mu’alliman” (aku diutus sebagai pendidik). Sebelum menjadi pendidik, moral Nabi dibina oleh Allah, “Tuhanku telah mendidikku memperbaiki adabku, maka ia memperbaiki pendidikanku, moralku (H.R. Ibn as-Sam’any, dalam as-Suyuthy I, th.). Sebagai pujian kepadanya, Allah menyatakan, “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar pekerti agung” (Q.S. al-Qalam/68:4). Budi pekerti merupakan tujuan rasul dalam mendidik, “Aku diutus untuk memperbaiki akhlak mulia” (H.R. al-Bukhary, dalam as-Suyuthy I, t.th.). Wacana di atas harus mengilhami semua pendidik bahwa para guru mesti bermoral. Bila tidak, ia tidak menjadi guru idola dan figur sentral bagi peserta didiknya. Bila tidak bermoral, guru akan diremehkan bahkan mungkin dihina, sehingga perintah dan anjurannya tidak dipatuhi anak didiknya. Walhasil, proses pembelajaran tidak berjalan optimal. Wibawa guru dimata peserta didik, dalam ilmu pendidikan, sangat penting, karena membantu proses pengajaran. Untuk itu, tidak cukup bagi guru bila hanya memiliki kompetensi profesional atau akademik dan kompetensi pedagogik. Guru juga harus memiliki kompetensi sosial menyangkut moral dan akhlak mulia. Demi menjaga kewibawaan itu, sesama guru tidak dibolehkan saling merendahkan di depan anak didik, tetapi harus saling menjaga kewibawaan dan kehormatan diri dan sesama. B. Epistemologi Pragmatisme tentang pendidikan Kaum pragmatisme meyakini bahwa pikiran manusia bersifat aktif dan berhubungan langsung dengan upaya penyelidikan dan penemuan. Pikiran manusia tidak mengonfrontasikan dunia yang ianya terpisah dari aktivitas penyelidikan dan penemuan itu. Pengetahuan dunia dibentuk melalui pikiran subjek yang mengetahuinya. Kebenaran tidak tergantung sepenuhnya melulu pada korespondensi ide manusia dengan realitas eksternal, karena realitas bagi manusia tergantung pada bagian dalam ide yang menjelaskannya. Pengetahuan adalah suatu proferti bagi pengetahuan. Lantas, apakah nilai kebenaran suatu pengetahuan itu sama? Kelompok pragmatisme mengklaim bahwa suatu ide katakan benar jika ia benar-benar bisa diterapkan. Hanya William James yang menyebutkan, bahwa ide itu dikatakan benar jika memberikan konsekuensi bernilai dan atau fungsional bagi personnya. Sedangkan Peirce dan Jhon Dewey memberikan klaim bahwa suatu ide itu dikatakan benar hanya jika memiliki konsekuensi yang memuaskan ketika secara objektif dan saintifik ide itu dapat dipraktikkan secara memuaskan. Jadi, kaum pragmatisme memandang kebenaran suatu ide tergantung pada konsekuensi yang muncul ketika ide itu dioperasikan di alam empiris. John Dewey menyebutkan, bahwa pikiran manusia bukanlah suatu yang ultimate dan absolut, tetapi lebih merupakan suatu bentuk proses alamiah di mana ia muncul sebagai hasil dari hubungan aktif antara organisme yang hidup dengan lingkungannya. Pikiran manusia selalu berawal dari dunia pengalaman dan untuk akan kembali ke dunia pengalaman. Ada hubungan interdependensi anatar pikiran dan pengalaman empiris yang meniscayakan perubahan-perubahan. Tidaklah dikatakan pengetahuan jika tidak membawa pada perubahan bagi kehidupan manusia. Jadi, nilai pengetahuan dilihat dari kadar instrumentalisnya yang akan membawa pada akibat-akibat baik yang telah atau yang akan dihasilkan oleh ide pikiran dalam dunia pengalaman nyata. Pragmatisme juga mengatakan bahwa method of intellegence merupakan cara yang ideal untuk mendapatkan pengetahuan. Kita menangkap sesuatu yang terbaik menurut kaum pragmatis mestilah melalui melokalisasi problem sedemikian rupa dan memecahkannya. Menghadapi sebuah problem, intellegence mengajukan hipotesis tentang problem itu. Hipotesis sebagai suatu kesimpulan yang diajukan untuk memecahkan suatu problem, secara sukses merupakan hipotesis yang menjelaskan fakta-fakta dari problem itu. Jhon Dewey mengklaim, bahwa dalam proses pengetahuan diperlukan adanya konsep yang dikonfirmasi secara objektif dan operasional dan dapat bekerja sebagai dasar bagi pengetahuan hipotesis yang diajukan yang selanjutnya akan menjadi bahan pertimbangan untuk pemecahan problem berikutnya. Menurut kaum pragmatisme, guru harus mengonstruksi situasi belajar dengan menempatkan problem tertentu yang pemecahannya akan membawa siswa kepada pemahaman yang lebih baik akan lingkungan sosial dan fisik mereka. Konsekuensinya, mengantikan struktur tradisional tentang subjek matters baik guru maupun kelas harus meramalkan apakah pengetahuan itu memberikan manfaat dalam pemecahan problem tertentu yang sedang mereka diskusikan seperti transfortasi sepanjang sejarah, persoala-persoalan seksual saat ini ataupun persoalan kehidupan di kampung orang indian. Prosedur yang sama juga diikuti dalam pembelajaran skill reading, writing, dan aritmatik. Semua materi pelajaran ini menjadi lebih bermakna bagi subjek didik dan akan semakin mudah dikuasai ketika mereka dapat memanfaatkannya sebagai alat yang dapat memuaskan kebutuhan dan kepentingan mereka dalam menghadapi realitas. Menurut kaum pragmatisme, seorang anak selalu belajar secara alamiah karena memang ia adalah makhluk yang secara natural selalu ingin tahu tentang sesuatu. Ia senantiasa akan mempelajari apa pun yang ia rasakan dan atau apa yang ia pikirkan. Oleh karena itu, guru harus menghidupkan spirit inquiri ini agar tampil dalam realitas pembelajaran. Mengajar subjek didik dari subjek matters telah jelas baginya merupakan suatu kebutuhan nyata bagi subjek didik dalam melaksanakan kegiatan belajar. Tugas penting guru adalah menolong para subjek didiknya agar mempelajari apa yang ia rasakan dan merangsang jiwa ingin tahunya selalu tumbuh, seperti sains, sastra, sejarah, dan lain sebagainya. Kaum pragmatisme meyakini bahw subjek didik harus belajar dari keingintahuan, sementara guru mesti merangsang keingintahuan itu tampil dalam proses inquiry. 1. Etika Pragmatis dalam Pendidikan Islam Etika dalam kajian filsafat merupakan bagian dari aksiologi karena etika berbicara tentang tujuan yang hendak dicapai dalam segala sesuatu. Jika didalam ontologi dipertanyakan bagaimana sesuatu itu terjadi dan dari mana sesuatu itu ada, maka dalam aksiologi dipertanyakan mengenai tujuan dari hakikat sesuatu. Misalnya, tentang pendidikan Islam maka muncul pertanyaan, apa itu pendidikan Islam?Bagaimana dan dari mana sumber pendidikan Islam? Mengapa pendidikan Islam diperlukan? Untuk apa ada pendidikan Islam? Berbicara tentang keilmuan, apabila digunakan perspektif pragmatisme, etika keilmuan diatur menurut nilai-nilai dan etika pragmatisme. Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa yunani) yang berarti tindakan, perbuatan. Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata. Pragmatisme berpandangan bahwa subtansi kebenaran adalah jika segala sesuatu memiliki fungsi dan manfaat bagi kehidupan. Misalnya, beragama dikatakan sebagai kebenaran jika agama memberikan kebahagiaan. Pendidikan agama Islam merupakan kebenaran. Pragmatisme juga menilai manfaat sesuatu perbuatan dari nampak materiil yang ditimbulkannya, misalnya lembaga pendidikan dibangun dengan tujuan memperoleh keuntungan materiil dari sumbangan orang tua murid dan dari pemerintah. Filsuf yang terkenal sebagai tokoh filsafat pragmatisme adalah William James dan Jhon Dewey. William James lahir di New York City pada tahun 1842 M. Ayahnya, Henry James, Sr., adalah seorang yang terkenal, berkebudayaan tinggi, pemikir yang kreatif. Sang ayah merupakan kepala rumah tangga yang memang menekankan kemajuan intelektual kepada anaknya. Pendidikan formalnya mula-mula tidak teratur, lalu ia mendapat tutor berkebangsaan Inggris, Prancis, Swiss, Jerman, dan Amerika. Akhirnya ia memasuki Harvard Medical School pada tahun 1864 dan memperoleh M.D.nya pada tahun 1869. Akan tetapi, ia kurang tertarik pada praktik pengobatan; ia lebih menyenangi fungsi alat-alat tubuh. Oleh karena itu, ia menggabungkan diri dengan peirce, Chauncy Wright, Oliver Wendel Holmes, Jr., dan tokoh lain dalam Metaphysical Clab untuk berdiskusi dalam measalah-masalah filsafat dengan topik-topik metode ilmiah agama dan evolusi. Disinilah, ia mula-mula mendapat pengaruh Peirce dalam metode pragmatisme. Pandangan filsafatnya, diantaranya menyatakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri lepas dari akal yang mengenal. Sebab, pengalaman kita berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah karena didalam praktik, apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Nilai Konsep atau pertimbangan kita bergantung pada akibatnya, kepada kerjanya. Artinya bergantung pada keberhasilan perbuatan yang disiapkan oleh pertimbangan itu. Pertimbangan itu benar bila bermanfaat bagi pelakunya, memperkaya hidup dan kemungkinan-kemungkinannya. Menurut James, dunia tidak dapat diterangkan dengan barpangkal pada satu asas saja. Dunia adalah dunia yang terdiri dari banyak hal yang saling bertentangan tentang kepercayaan agama dikatakan, bagi orang per orang, kepercayaan adanya suatu realitas kosmis lebih tinggi itu merupakan nilai subjektif yang relatif, sepanjang kepercayaan itu memberikan kepadanya suatu hiburan rohani, penguatan keberanian hidup, perasaan damai, keamanan dan sebagainya . Segala macam pengalaman keagamaan mempunyai nilai yang sama, jika akibatnya sama-sama memberikan kepuasan kepada kebutuhan keagamaan. James membawakan pragmatisme. Isme ini diturunkan kepada Dewey yang mempraktikkannya dalam pendidikan. Dalam filsafat pendidikan Islam, pragmatisme tentu ada karena tujuan pendidikan Islam adalah membentuk anak didik yang bertakwa kepada Allah, berkpribadian luhur, berilmu pengetahuan yang luas, terampil dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Denagn tujuan itulah, pragmatisme menegaskan bahwa pendidikan Islam diberikan kepada anak didik agar memiliki keahlian duniawi dan ukhrawi. Keduanya harus memberikan keuntungan. Tokoh pragmatisme kedua adalah John Dewey. Sebagai pengikut filsafat pragmatisme, John Dewey menyatakan bahwa tugas filsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata. Filsafat tidak boleh larut dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang kurang praktis, tidak ada faedahnya. Oleh karena itu, filsafat harus berpijak pada pengalaman dan mengolahnya secara kritis. Menurutnya, tak ada sesuatu yang tetap. Manusia senantiasa bergerak dan berubah. Jika mengalami kesulitan, segera berpikir untuk mengatasi kesulitan itu. Oleh karena itu, berpikir tidak lain dari alat (instrumen) untuk bertindak. Kebenaran dari pengertian dapat ditinjau dari berhasil tidaknya memengaruhi kenyataan. Satu-satunya cara yang dapat dipercaya untuk mengatur pengalaman dan untuk mengetahui artinya yang sebenarnya adalah metode induktif. Metode ini tidak hanya berlaku bagi ilmu pengetahuan fisika, melainkan juga bagi persoalan-persoalan sosial dan moral. Secara umum, pragmatisme berarti hanya idea yang dapat dipraktikkan yang benar dan berguna. Idea-idea yang hanya ada di dalam idea (seperti idea pada Plato, pengertian umum pada Socrates, defenisi pada Aristoteles), juga kebimbangan terhadap realitas objek indra (pada Descrates), semua itu nonsense bagi pragmatisme. Yang ada ialah apa yang real ada, demikian kata James tatkala ia membantah Zeno yang mengaburkan arti gerak. Apabila filsafat pendidikan Islam berkiblat pada pandangan pragmatisme Jhon Dewey, tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan adalah sesgala sesuatu yang sifatnya nyata, bukan hal yang diluar jangkauan pancaindra. Sebagaimana pendidikan Islam yang dikembangkan oleh Fakultas Tarbiyah, tujuannya harus nyata, yaitu melahirkan sarjana pendidikan yang mampu menerapkan ilmu pendidikan agama Islam dalam dunia pendidikan. Adapun aspek di luar tujuan yang real dapat dikembangkan secara individual, misalnya pendidikan yang berbudi luhur. Tujuan ini untuk semua manusia, bukan hanya untuk pendidik, tetapi bagi pendidik sangat diperlukan sikap dan mental yang berbudi luhur. Etika keilmuan berkaitan pula dengan kode etik bagi para pendidik. Akan tetapi, dalam perspektif filsafat, pendidikan etika pendidikan itu membahas pula masalah yang berkaitan dengan subtansi etika yang dimiliki oleh dunia pendidikan Islam, terutama berkaitan dengan hal-hal dibawah ini : 1. Keilmuan yang bersumber kepada wahyu Al-Qur’an dan As-Sunnah, 2. Keilmuan yang berbasis kepada pola pendidikan tradisional Islam; seperti Pondok Pesantren Salafiyah; 3. Keilmuan sebagai alat yang merumuskan prinsip-prinsip pendidikan dengan mempertimbangkan istilah-istilah terminologi dalam Islam ; 4. Keilmuan yang mengarahkan pendidikan kepada tujuan umum dalam beragama Islam, yaitu tujuan utama pendidikan Islam adalah membentuk anak didik yang beriman dan bertakwa. Tujuan ini merupakan tujuan umum dalam Islam ; 5. Keilmuan yang mengacu kepada doktrin agama Islam dan kebergantungan kepada tokoh agama, kebesaran seorang pengasuh pondok pesantren dan kharismatik kyai. Etika dalam keilmuan dalam pendidikan islam di atas jumlahnya masih banyak karena etika yang dipertahankan tidak akan mudah runtuh, apalagi pendidikan yang demikian sebagai salah satu karakteristik mutlak dalam pendidikan Islam. BAB III Kesimpulan 1. Tokoh utama aliran idealisme ini adalah Plato (427-374) dengan ajaran filosofisnya yang fundamental dengan mengatakan bahwa sesuatu yang riil adalah sesuatu yang berada diruang idea, menurutnya, idea merupakan gambaran jelas tentang dunia realita yang ditangkap oleh panca indra manusia. Bagi aliran ini, idea itu sendiri bersifat tetap,tidak mengalami perubahan dan pergeseran. Apa yang terlihat oleh kita sebagai sesuatu yang mengalami perubahan atau pergerakan sesungguhnya hanyalah karena ketidak kesempurnaan dunia idea dalam menampakkan dirinya di dunia. 2. Kaum idealisme menyakini, bahwa pengetahuan yang sesungguhnya adalah produk akal an sich. Akal baginya merupakan kemampuan seseorang dalam melihat secara tajam bentuk-bentuk spiritual murni dari sesuatu yang melampaui bentuk materialnya 3. Kaum pragmatisme meyakini bahwa pikiran manusia bersifat aktif dan berhubungan langsung dengan upaya penyelidikan dan penemuan. Pikiran manusia tidak mengonfrontasikan dunia yang ianya terpisah dari aktivitas penyelidikan dan penemuan itu. Pengetahuan dunia dibentuk melalui pikiran subjek yang mengetahuinya. Kebenaran tidak tergantung sepenuhnya melulu pada korespondensi ide manusia dengan realitas eksternal, karena realitas bagi manusia tergantung pada bagian dalam ide yang menjelaskannya. 4. Pragmatisme juga mengatakan bahwa method of intellegence merupakan cara yang ideal untuk mendapatkan pengetahuan. Kita menangkap sesuatu yang terbaik menurut kaum pragmatis mestilah melalui melokalisasi problem sedemikian rupa dan memecahkannya. Menghadapi sebuah problem, intellegence mengajukan hipotesis tentang problem itu. 5. Pragmatisme berpandangan bahwa subtansi kebenaran adalah jika segala sesuatu memiliki fungsi dan manfaat bagi kehidupan. Misalnya, beragama dikatakan sebagai kebenaran jika agama memberikan kebahagiaan. Pendidikan agama Islam merupakan kebenaran. Pragmatisme juga menilai manfaat sesuatu perbuatan dari nampak materiil yang ditimbulkannya, misalnya lembaga pendidikan dibangun dengan tujuan memperoleh keuntungan materiil dari sumbangan orang tua murid dan dari pemerintah. Daftar Pustaka Drs Basri Hasan,M.Ag., Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2009. Marwazi, Filsafat Pendidikan Islam, : Pusaka, 2012
Terima kasih atas waktunya untuk membaca Konsep Pendidikan Idealisme dan Pragmatisme ini, dengan harapan semoga artikel Konsep Pendidikan Idealisme dan Pragmatisme ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Konsep Pendidikan Idealisme dan Pragmatisme terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke eMakalah.com pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Konsep Pendidikan Idealisme dan Pragmatisme » Makalah

eMakalah.com